(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 67


__ADS_3

#Arya Dharma


{Yang aku tahu, aku harus menjaganya. Meskipun itu harus menurunkan harga diriku}


Ning Nada menghampiriku. Senyumnya mengembang tanda senang yang tak terhalang.


"Selamat! Kamu hebat, Kang!" Serunya


"Terimakasih, Ning," balasku dengan tersenyum.


"Pulang, yuk. Mau hujan kayaknya," ajak Ning Nada.


"Hah!" Aku melongo.


"Ada apa? Kok kaget?'' tanya Ning Nada.


Aku cepat-cepat menggelengkan kepala. Sedikit saja aku terkecoh, itu akan membuat dia sadar jika aku menyadari perhatiannya.


"Itu, Ning saya masih harus kumpul dengan teman futsal lainya. Gak enak kalau pulang duluan," kataku. Mencari alasan.


"Oh... Ya sudah kalau begitu," terdengar nada kecewa dari perkataannya.


Aku hanya cengengesan.


"Ning Nada pulang dulu saja, takut nanti kehujanan kalau di tunda," ujarku.


"Ya sudah, aku pulang duluan."


Saat dia mau pulang, mata kami tertuju pada tenda Layla yang usai di bereskan. Ternyata Mas Albi dan laki-laki bersamanya membantu Layla dan teman-temannya membereskan tenda bazar.


Ah! Jika bukan karena pertandingan, aku pun akan melakukan hal yang sama.


"Albi sama Andre kayaknya mau nginap di sini," kata Ning Nada tiba-tiba


Deg!


Jika itu benar, itu artinya Layla dan laki-laki itu akan lebih banyak waktu nantinya. Aku tidak bisa membiarkannya.


"Ning, kamu gak pengen menjamu mereka?" tanyaku.


"Menjamu?"


"Iya, kan kalian teman satu pondok dulu. Lagipula tidak salahnya, menjalin silaturahmi."


"Tapi, bagaimana?"


Aku tersenyum. Padahal saat itu aku tidak terlalu yakin jika Mas Albi akan bermalam di sini atau tidak. Tapi, jamuan itu akan menahan mereka. Setidaknya jika iya, aku bisa ada di antara mereka nanti.


"Di Dhalem timur, boleh kan?''


"Boleh saja. Bagus juga, aku juga bisa mengajak Salwa,"


"Salwa?" Aku tidak mengerti, kenapa dengan Salwa.


"Cerita Abah, ayah Salwa sempat menanyakan tentang status Albi yang masih jomblo. Katanya, Albi mau di minta untuk jadi suami Salwa,"


"Hah! Serius Ning?" Aku terkejut mendengarnya.


Rasanya kabar ini terlalu mengejutkan sekali. Aku tidak menyangka jika takdir begitu dekat denganku saat ini. Kenapa kebetulan sekali?


Salwa, sepupu perempuan jauh ku itu akan di jodohkan dengan Mas Albi? Dan saat ini aku sedang mengincar Layla, adiknya Mas Albi. Haduh! Rencana Alloh memang tidak bisa di tebak.


"Iya... Salwa sepertinya juga menyukai Albi,"

__ADS_1


balas Ning Nada.


"Wah... Kebetulan sekali," ujarku


"Iya. Tapi sampai saat ini Albi belum bisa di hubungi lagi. Dia tidak memberikan kepastian. Wajar sih, barang kali memang di anggap tidak serius,"


"Belum tahu kepastiannya berarti?"


"Iya... Kasihan Salwa. Dia kayaknya sudah suka sekali sama Albi,"


"Mas Albi keren, wajar kalau Salwa suka,"


"Hahaha... Geli Banget mendengar kamu bilang Albi keren. Mana pakai 'Mas' lagi,"


Aku tertawa. Sebab Layla memanggil seperti itu aku pun kebiasaan mengikutinya. Lagi pula, harus sopan sama calon kakak ipar, hehehe.


"Kok senyum-semyum sih," kata Ning Nada


Aku kelepasan mengexpresikan diri. Ku garuk tengkukku sebab salah tingkah.


"Ya sudah Ning, rencana seperti itu. Kita jamu mereka di Ndalem timur,"


"Iya... Iya... Aku pulang dulu. Minta orang dulu buat nyiapin semuanya,"


Aku memberikan jempol dua ku. Tanda mantap. Ning Nada sumringah.


"Assalamualaikum,"


"Waaikumsalam,"


Akhirnya Ning Nada hilang dari pandanganku. Setelah ia hilang, hujan turun dengan derasnya.


Pertandingan terus berjalan meskipun hujan. Untungnya tim kami sudah selesai bertanding. Tinggal menunggu final, itu pun di laksanakan besok siang.


Aku menuju ke dalam kelas yang memang menjadi bascame sementara kami. Dia sana semua anak sedang beristirahat. Mau balik ke pondok pun sepertinya akan kehujanan. Sebab hujan terlalu lebat.


Aku mengambilnya. Ikut bergabung dengan yang lainya.


Baru saja ingin bersandar mataku tiba-tiba terhenti melihat sebuah pemandangan. Membuat tubuhku menghentikan aktifitasnya.


"Duduk, Gus. Kenapa jongkok gitu!" Seru Sarip


"Di lantai atas kosong?" tanyaku, menggubris perkataannya.


"Kosong, Gus. Semua ada di lantai dasar,"


Tanpa menunggu lama aku pergi keluar kelas. Membawa makananku, ransel dan semua barangku. Menuju lantai dua.


"Gus?!" panggil Sarip dia pun tanpa di minta ikut denganku.


Di lantai dua, aku memilih kelas tengah. Aku memasukinya.


"Ada apa to, Gus? Ngapain di sini?'' tanya Sarip.


"Noh, bidadariku sedang neduh," jawabku.


Aku duduk di atas meja, menghadap kaca jendela. Di depan ku, di depan gedung yang sedang aku tempati ada sosok Layla dengan Mas Albi. Dia berdiri memandang lapangan.


"Ya Alloh, Gus... astaghfirullah!'' sebut Sarip


"Kenapa sih, Rip. Kamu gak pernah jatuh cinta aja," elakku.


"Pernah, Gus. Tapi gak kayak gini juga. Bucin sekali jenengan, Gus. Apapun tentang Layla, bisa jenengan lakukan."

__ADS_1


"Namanya juga suka! Cinta!''


Sarip geleng-geleng. Aku memang sudah keterlaluan. Seperti anak kecil yang tidak ingin melepaskan mainan.


Meskipun saat ini aku melihat dengan jelas ada laki-laki yang sedang bersama Layla, tapi tetap saja aku tidak memiliki rasa menyerah.


"Sabar, ya Gus. Jodoh gak akan kemana-mana, kok." Sarip menepuk-nepuk pundak ku.


Aku melengos melihatnya. Tadi baca istiqfar, sekarang malah nyabarin.


"Nanti kamu ikut aku, ya... Mereka bakal di jamu di Ndalem Timur," kataku


"Hah! Serius, Gus? Kok bisa? Apa gak apa-apa? Gak bakal mencolok nantinya?"


Aku geleng-geleng, sambil menikmati makananku. Lapar juga ternyata setelah seharian bertarung. Mana hujan, di tambah pemandangan di luar sana membuat energi luluh rentan.


"Aku sudah bilang ke Ning Nada, dia setuju aja,"


"Walah... Itu namanya jenengan mencari kesempatan dalam kesempitan, Gus. Udah tahu, Ning Nada suka eh, di permainkan. Hati-hati, Gus. Kualat!"


Rasanya ingin menerkam Sarip aja. Dia banyak bicara sekali.


"Kamu gak tahu ceritanya. Aku ngelakuin semua bukan cuma aku aja yang untung. Ning Nada juga, Salwa tambah untung,"


"Salwa? Kok bisa? Ning Salwa, anak agama itu?"


"Iya. Abahnya mau jodohin dia sama Mas Albi, kebetulan sekali, kan?''


"Hah! Patah hati aku!" Seru histeris Sarip


"Patah hati, ndasmu!"


"Salwa primadona, Gus. Siapa yang gak masu sama Salwa,"


"Iya. Tapi Salwa yang gak mau sama kamu,"


"Apes. Kenapa Gusti Alloh, gak jadiin aku lebih ganteng dikit, cerdas, berkharisma dan nasab yang baik. Beh, jangankan Salwa, mungkin Najwa akan klepek-klepek sama aku,"


Sukses aku menjitak kepala Sarip.


"Aduh! Sakit, Gus,"


"Layla paten buat aku. Mau kamu berubah kayak apa, gak bakal mempan buat Layla terpesona," ujarku


"Sama jenengan saja, dia gak goyah,"


Aku melototinya.


"Bukan 'Gak' tapi belum!" Seruku.


"Najwa itu, kayaknya sukanya yang seperti kakaknya sendiri, Gus. Tuh, lihat... Mereka seperti bukan adik kakak, tapi sepasang kekasih. Rukun banget," Sarip memperlihatkan posisi Layla yang sudah ada di lantai atas.


Laki-laki yang bernama Andre di tinggal sendiri di lantai bawah. Entah kenapa mereka berdua saja yang ada di lantai atas sekarang? Jika aku tidak salah, barang kali tujuan mereka adalah kelas Layla.


Benar saja, mereka berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam menuju kelas Layla.


Apesnya setelah itu mereka menutup pintu kelas tersebut. Jadi aku tidak bisa mengetahui apa yang mereka lakukan.


"Kayaknya sih, Mas Albi laki-laki yang baik. Wajar kalau adiknya sayang. Layla kalau sudah ada Mas Albi, matanya gak bisa di pecah selain ke arah mas-nya itu. Udah kayak di depannya cuman ada, Mas Albi aja, lainya gak ada,"


"Tuh, kan... Kalau biasanya anak perempuan menjadikan ayahnya sebagai cinta pertanyaan. Tapi, Najwa mengganti posisi itu pada Mas-nya itu,"


"Sok tau, Lo!'' sewotku.

__ADS_1


Tapi dalam hati aku mengiyakan perkataan Sarip. Layla memang terlihat jelas menyayangi Mas Albi. Begitu pun Mas Albi. Hubungan kakak-adik yang harmonis. Aku dan adik perempuanku sepertinya tidak sampai seperti itu. Bahkan lebih sering berantemnya saat bertemu.


***


__ADS_2