
#Qois Albifardzan
"Assalamualaikum..." Salam Bagas.
Rumah tua dengan ukuran hampir sama dengan kantor menjadi tujuan kami.
Pintu langsung dibuka oleh Bagas. Kami dipersilahkan masuk kedalam. Meskipun Bagas laki-laki dia termasuk tapi dalam menata rumahnya.
Selama ku edarkan pandang tidak ada kotoran yang dibiarkan berserakan.
Baru saja duduk di ruang tamu, suara adzan magrib berkumandang.
"Dimana ibumu?" tanya Andre tidak sabar.
"Ada didalam, bos." Jawab Bagas
"Ndre kita lebih baik sholat dulu. Biar nanti ngobrolnya enak," usulku.
"Iya, bos. Kebetulan ada mushola di dekat sini. Tapi, kalau mau sholat disini tidak apa-apa." Kata Bagas menawarkan.
"Kita ke mushola ya, bos." Usul Adnan.
"Ok. Biarkan ibumu Sholat dulu juga," sahut Andre.
Kami kembali keluar rumah. Berjalan kaki menuju mushola yang memang dekat dengan rumah Bagas. Hanya berjarak tiga rumah saja.
Setelah mengambil wudhu kami bergegas ikut jama'ah di mushola. Setelah selesai kita kembali ke rumah Bagas.
"Assalamualaikum..." Salam kami serentak.
"Waaikumsalam," balas Bagas dan ibunya.
Bagas terlah membuat ibunya hadir di ruang tamu. Beliau duduk di kursi roda. Wajahnya yang teduh menyambut kedatangan kami
"Ibu kok disini, istirahat saja dikamar." Kata Andre yang langsung menghampiri.
"Tidak. Dikamar sempit. Kasihan kalau kalian enggap," balas ibu Bagas
Belum sudah sepuh. Umurnya sepertinya hampir Eman puluhan.
"Apa Bu yang dikeluhkan?" tanyaku.
"Hanya meriang. Tidak apa-apa. Ibu sehat,"
"Tidak apa-apa tapi jawabnya meriang. Bagaimana sih Bu," hehehe.
Ibu Bagas tertawa. Sendu diwajahnya mulai pudar.
Bagas yang tadi permisi kebelakang datang lagi dengan membawa nampan berisikan gelas-gelas dan juga satu teko bening yang sudah terisi teh hangat.
Dia akan menuangkan teh tersebut pada gelas kosong yang juga ia bawa sekalian. Lalu aku mencegah.
__ADS_1
"Nanti, biar kita ambil sendiri." Kataku lirih.
Saat ini kami ingin menghibur ibu Bagas. Andre sedang bercengkrama dengan ibu Bagas. Dia tidak membiarkan ibu karyawannya itu melepas senyum sejak pertama bertemu.
Kamu pun ikut di kehangatan leluconnya yang kadang ia sangkutkan juga pada kami.
"Buk, Bagas kalau kerja cekatan. Dia karyawan dan teman yang bisa diandalkan. Saya mohon izin ya buk, mau merekrut dia jadi karyawan saya seterusnya. Insya Alloh, nanti kalau usaha kami lebih maju, Bagas juga akan naik jabatannya. Doakan ya, buk..." Kata Andre.
Ibu itu lalu memandang anak bujangnya. Matanya berkaca-kaca.
"Syukurlah, kalau bagas bisa membantu. Walau dia kadang nakal, tapi Insya Alloh dia bisa dipercaya. Mungkin anak ibu masih banyak kurangnya, tapi Alhamdulillah sampai saat ini dia tidak pernah sengaja membuat hati saya_ibunya merasakan cemas. Titip Bagas, ya Nak..." Ujar Ibu Bagas.
Kami pun yang ada di ruangan tersebut terdiam. Menyaksikan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah lekang dari sosok putra yang kini menunduk dalam.
Aku merangkul pundak Bagas, memberikan kekuatan. Sebab aku tahu, dia pun saat ini sedang menahan tangis sebab melihat ibunya yang saat ini sedang sakit.
"Saya malah yang berterima kasih pada ibu. Bagas yang seharusnya menjaga ibu, tapi masih mau menyelesaikan tanggungjawab kepada kami. Mohon maaf sekali, sebab tidak memberikan waktu libur Bagas untuk ibu. Bukannya tidak mau, hanya saja kami baru tahu jika ibu sakit."
"Tidak apa-apa. Sudah kewajiban Bagas sebagai karyawan kalian. Toh, ibu kalau Bagas kerja juga tidak sendirian. Masih ada saudara, yang mau menunggu."
"Alhamdulillah..." Ucap Andre lega.
Andre melihat kearahku. Dia mengisyaratkan sesuatu dari matanya. Sangking dekatnya kami, satu kedipan mata dari dia saja aku faham. Aku pun mengangguk untuk menyetujui keinginannya.
"Kami mau pamit, Bu. Jaga kesehatan ya, buk. Semoga lekas sembuh, dan untuk sementara Bagas tidak usah masuk kerja dulu." Kata Andre sambil mengarahkan matanya pada Bagas yang didampingku.
"Tapi, bos? Nanti siapa yang packing. Saya gak mau makan gaji buta,"
"Aku kan cuma nyuruh kamu gak masuk. Bukan gak kerja," bantah Andre.
"Kamu bisa packing semua pesanan dirumah. Sama saja, kan. Bedanya kamu gak ketemu Adit sama Adnan aja. Di rumah kamu juga bisa jaga ibumu," sahutku.
Andre mengangguk. Entah mengapa batinku dan Andre kuat sekali.
"Gak apa-apa, bos?" tanya Bagas tidak percaya.
"Tidak apa-apa. Sama saja, tenang saja. Gak apa-apa kan buk, rumahnya buat tempat kerja?" tanya Andre
Ibu Bagas menggelengkan kepalanya.
"Ibu malah senang," jawabnya
Kami semua pun tenang.
"Ya sudah, kami pamit ya buk." Kata Andre, dia berdiri lalu meraih tangan rentang milik ibu Bagas. Menciumnya lalu tersenyum kepadanya.
Setelah Andre, aku dan dia karyawan kami berganti bersalaman sekaligus berpamitan pada orangtua Bagas.
"Assalamualaikum..." Salam kami
"Waaikumsalam..." Balas ibu Bagas dan Bagas.
__ADS_1
Sebelum benar pergi, Andre sudah menyelipkan amplop putih di tangan Bagas.
"Tapi, bos..." Dia tidak ingin menerimanya.
"Ini bukan buat kamu, tapi ibumu. Amanat dari Alloh," kataku menyakinkan saat dia akan mengembalikan amplop tersebut.
Setelah itu baru dia mau menerimanya. Aku yakin dihatinya menyimpan sungkan. Tapi, hal itu sudah menjadi kewajiban seorang kawan kepada kawannya. Saling membantu seadanya, sebisanya.
Dua karyawan kami pamitan langsung ingin pulang. Akhirnya aku dan Andre boncengan.
"Aku mau beli martabak dulu, Dre? Kamu aku antar ke kantor atau ikut sama aku dulu," tanyaku.
"Ikut kamu aja. Toh, tempat martabak jalan menuju kantor kan?"
Aku mengangguk.
Martabak kesukaan keluargaku ada di dekat lokasi kantor. Biasanya saat pulang dari kantor, kalau ada waktu aku mampir untuk membelikan orang rumah martabak tersebut. Dan hari ini, secara langsung ayah ingin martabak itu.
Sampai di tempat penjualan martabak, aku memarkirkan motor di pinggir jalan. Dekat dengan gerobak martabak. Lalu martabak dan juga terang bulan. Masing-masing dua porsi. Satunya nanti untuk orangtua Andre.
Aku diminta untuk menunggu sebentar, sebab antri juga pembelinya.
Lalu aku dan Andre duduk disalah satu kursi plastik yang disediakan.
"Kasihan ya, ibu Bagas tadi sudah sangat renta." Kata Andre membuka pembicaraan.
"Iya. Untungnya beliau memiliki Bagas sebagai anaknya,"
"Sama-sama beruntung. Ibunya pun terlihat sekali jika dia menyayangi Bagas."
Aku tersenyum simpul.
"Beruntung, sebab bisa saling melengkapi satu sama lainya. Saling menyayangi dan berbagi perasaan." Kataku getir.
Andre melihat kearahku dengan tatapan nanar.
"Aku tidak bermaksud, BI..."
Aku menggelengkan kepala.
"Sudah jalan takdirku. Tidak apa-apa, aku sudah ikhlas..."
Hal yang tidak bisa aku rasakan adalah dekap seorang ibu kandung. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa orang tua kandungku. Aku iri pada Bagas yang bisa berbakat pada ibunya. Aku pun iri dengan Bagas yang mendapatkan kasih sayang yang tak terhingga dari orangtuanya.
Selama ini aku mungkin terlihat tegar dan baik-baik saja. Tidak sedikitpun aku keluhkan rasa rindu yang mendalam pada sosok keluarga. Sebab aku sudah mendapatkan keluarga yang menerimaku apa adanya. Namun tetap saja, di hati yang paling dalam ada kerinduan pada sosok orangtua yang telah menjadi perantara aku hidup di dunia.
"Apa kamu ingat orangtuamu?" Tanya Andre hati-hati.
Aku tersenyum aneh.
"Bagaimana aku bisa ingat, jika aku saja tidak pernah melihat." Jawabku.
__ADS_1
Andre terdiam. Ada yang menancap tajam didalam. Entah sebuah rasa sakit atau hati yang hambar.
Andre masih menatapku penuh belas kasihan. Sejujurnya, aku tidak ingin ditatap seperti itu. Itu menunjukkan bahwa aku tidak memiliki daya apapun saat ini.