
****
Di Mushola , Neng Nada dengan penuh khidmat sedang membacakan kitab Wasiatul Musthofa . Para santri , termasuk aku yang ada di hadapannya , khusuk mema'nai.
Hari ini adalah hari pertama puasa. Semua kegiatan pondok di rubah . Selama 5 waktu sehabis sholat semua santri wajib ngaji kitab.
Mereka berhak memilih sendiri , kitab , waktu yang sudah di jadwalkan . Banyak pilihan kitab kuning, dan terbagi 5 waktu salam sehari . Itu semua juga menjadi syarat untuk pulang nanti liburan puasa dan lebaran .
Tahun lalu aku sudah ngaji kitab Wasiatul Musthofa . Kali ini aku juga mengulanginya . Karena Neng Nada yang membacakan . selain itu , aku menyukai kitab tersebut .
Nasihat sahabat Ali dari Rasulullah , ya itulah isi dari kitab tersebut . Dalam Mukoddimah , Rasulullah bersabda bahwa dirinya dan Ali ibarat Nabi Harun A.S dan Musa A.S .
Awal dari yang di terangkan adalah tentang haram dan halal. Jika seseorang memakan barang halal maka dia , agamanya , dan hatinya akan selalu bersih . Dan yang paling penting adalah doa-doa mereka akan terijabah . Tidak ada penghalang akan semua yang mereka panjatkan . Sebaliknya , saat seseorang memakan barang haram , dia akan terhalang akan semua keberkahan . Untuk doanya , dan agamanya .
Neng Nada menceritakan seorang yang alim dan Sholeh . Beliau bernama Tsabit bin Zutho , dia lahir di era akhir tabi’in . Di kisahkan ia sedang berjalan di pinggiran Kota Kufah, Irak. Terdapat sungai yang jernih dan menyejukkan di sana. Tiba-tiba, sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu. Saat itu ia juga sedang menahan lapar , tanpa berfikir panjang dia memungut apel tersebut lalu memakannya .
Baru saja satu gigitan , dia tersentak. Bukan karena rasa dari apel tersebut , tapi tentang siapa pemilik apel itu . Dia merasa bersalah karena telah memakan apel yang di anggap bukan miliknya , walau dia menemukan nya begitu saja. Akhirnya ia menyusuri anak sungai tersebut , berharap dia bisa menemukan kebun apel dan meminta ke ikhlas kepada pemiliknya .
__ADS_1
Setelah bersusah payah akhirnya ia menemukan kebun apel tersebut . Di lihatnya pohon apel tumbuh dengan suburnya , hingga ada beberapa yang menjalar ke sungai . Tak heran jika ada buah yang ikut hanyut ke sungai .
Dengan harap dan rasa gembira dia menuju kebun apel , dan menemui seorang di sana . Dia mengira mungkin beliau adalah pemilik kebun tersebut . Dengan ketulusan hati dia berkata " Wahai tuan , apakah ini kebun apel mu ? Aku tadi menemukan apel yang hanyut ke sungai dan tanpa sadar langsung menggigitnya . Mohon keikhlasan hati tuan untuk apel yang sudah saya makan ini . “ Seraya memperhatikan apel yang sudah ia makan tadi . Tapi sayang , ternyata orang yang dia temui bukanlah pemilik kebun , dia hanya penjaga kebun apel saja . Dia tidak bisa memutuskan untuk merelakan atau tidak . Walaupun itu hanya sebuah apel , yang bahkan belum sepenuhnya Tsabit makan .
Dengan hati gusar , Tsabit meminta penjaga tersebut mengantarnya ke rumah pemilik kebun tersebut . Jarak antara kebun dan rumah pemilik kebun sangat jauh , mereka harus berjalan sekitar delapan kilometer.
Sesampai di sana , penjaga kebun meninggalkan dirinya dan meminta dirinya untuk meminta maaf sendiri kepada pemilik kebun tersebut . Hati gelisah , was-was akan tindakannya yang ceroboh membuatnya takut . Dia takut , jika pemilik apel tersebut tidak meridhoinya .
Setelah meyakinkan hatinya ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut . Selang beberapa saat laki-laki tua menemuinya , dengan tatapan tanda tanya , karena itu pertemuan mereka pertama kali . Tsabit dengan penuh hormat menyalaminya dan langsung memberitahukan maksud kedatangan . Ia meminta ke ikhkasan beliau untuk apel yang sudah ia makan .
Tapi , sungguh di luar dugaan . Pemilik apel tersebut tidak merelakan. Bahkan dia menyebut Nama Alloh untuk perkataan agar tidak di anggap bercanda . Tsabit meminta penjelasan , kenapa beliau tidak mengikhlaskan. Setelah lama terdiam , pemilik kebun tersebut mengatakan jika dia ingin ke ikhkasan apel tersebut , maka dia harus rela menikahi putrinya .
Akhirnya setelah meneguhkan hati , Tsabit menerima syarat tersebut . Tanpa ingin tahu bagaimana keadaan putri si pemilik kebun tersebut terlebih dahulu ia menunaikan Ijab Qobul .
Sang mertua meminta dia menemui istrinya setelan Ijab Qobul Tersebut selesai . Perasaan debat dan tak menentu menghantuinya . Tidak menyangka , jika jalan hidupnya akan seperti ini .
Pertama ia masuk ke kamar , dia terkejut . Di depannya seorang wanita dengan paras cantik , menawan bak bidadari berdiri tersenyum malu menyambutnya . Tapi Tsabit mengira bahwa dia salah kamar , tidak mungkin wanita di depannya itu adalah istrinya . Dia begitu sempurna tidak di temukan cacat sedikitpun . Tapi wanita tersebut berkata , bahwa dia adalah putri dari pemilik kebun . Dan dia adalah wanita yang baru saja ia sebut dalam Ijab Qobil barusan .
__ADS_1
Begitu bahagia Tsabit saat itu , ternyata istrinya tidaklah cacat yang seperti ayahnya katakan . Sang istri menceritakan bahwa ayahnya mengatakan kecacatan itu memiliki maksud . Buta , karena dia tidak pernah melihat hal yang di murkai Alloh . Bisu , karena dia tidak pernah mengatakan hal buruk yang di larang oleh Alloh . Tuli , karena dia tidak pernah mendengar hal buruk kecuali dari Ridho Alloh kepada NYA . Dan lumpuh , karena dia tidak pernah berjalan ke jalan yang di larang oleh Alloh .
“ Wallohua'lambissowab wasslamualaikum warahmatullahi wabarokatuh “
Neng Nada mengakhiri pertemuan pertama mengaji kami . Sebelum ia beranjak dari duduknya tidak ada seorang santri yang berani meninggalkan tempat . Batu setelah Beliau pergi , kami semua berhamburan meninggalkan tempat .
"Panggilan di tunjukkan kepada Saudari Najwa Layla Fathurrohman ditunggu keluarga nya di sambang . "
Pangilan dari pengeras suara pondok mengejutkan ku , aku bangkit dari duduk . Dan segera ke kamar untuk menyimpan kitabku .
“ Mbak sambang ! “ Kata salah satu santriwati kepada ku , mungkin mengira aku tidak mendengar panggilan tadi .
“ Iya . Terima kasih . “ Balas ku . Aku segera merapikan pakaian dan hijab ku . Dan segera kebawah lagi menuju tempat sambangan .
Saat aku melewati mushola dhalem aku berpapasan dengan Salwa dan juga Ais yang saat itu baru saja mengaji kitab wasoya di di bacakan oleh Bu Nyai Nur . Aku sedikit melambaikan tangan ke arah Ais , tapi Salwa yang ada di belakangnya juga melambaikan tangannya kepada ku . Dengan sadar aku balas dengan senyuman . Aku ingat , dia pasti menangih untuk menyampaikan salamnya kepada Mas Albi .
Ku langkahkan kaki ku segera ke arah depan ndalem . Di sana ada bangunan berjajar seperti kamar . Tapi kami menyebutnya tempat sambangan .Aku cekingak celingukan saat mencari di mana keluarga ku menunggu , hingga aku terkejut dengan sentuhan tangan di bahuku .
__ADS_1
“ Nduk “
Aku menoleh . Mas Albi , dengan senyum dan mata berbinar di depan ku . Hah , jika bukan karena kami ada di depan ndalem dan banyak santri yang berseliweran aku pasti akan memeluk nya langsung .