
#Najwa Layla Fathurrohman
Malam itu kami membuat hiasan untuk stand di bazar. Mulai mendesain, mengunting, dan merakit beberapa hiasan lainya.
Selain kami bisa melakukan hal itu di waktu jam belajar, kami tidak perlu aba-aba untuk berkumpul sesama teman sekelas. Karena tanpa di minta pun setiap hari berkumpul bersama.
Jika mungkin di sekolah di luar, kita akan membutuhkan waktu dan tempat untuk berkumpul bersama teman, di tambah harus meminta izin kepada orang tua. Di pesantren semua sudah di lakukan bersama-sama. Kadang Pr pun di kerjakan bersama. Parahnya, yang mikir kadang satu orang saja. Meskipun begitu, kita tetap saling menjaga satu sama lainya.
"Kita beruntung Lo, di bantu sama Kang Dharma. Tumben-tumbenan banget," ujar Ais.
Dia sedang menempel huruf-huruf dari kertas lipat di atas karton besar. Menyusunnya terlebih dahulu hingga membentuk kalimat 'Menu'.
"Aku juga kaget saat kang Sarip nawarin diri. Dia kan,kaki tangan kang Dharma," sahut teman lainya.
"Jangan-jangan ada yang membuat dia nyaman sekarang," lontar Ais
"Wah... Bisa jadi itu,"
Mereka sedang mempermasalahkan kang Dharma yang tiba-tiba ingin ikut andil dalam pelaksanaan bazar kami besok. Memang sulit di prediksi apa yang sedang ia cari. Apakah murni karena dia ingin membantu, sebab pernah menjadi penjaga tryout kami atau memang seperti yang teman lainya pikirkan. Jika ada seseorang yang membuatnya nyaman. Tapi siapa, jika di ingat satu kelas sepertinya nyaman semua dengan kang Dharma, malah kegirangan. Kang Dharma pun tidak terlihat kami secara berbeda, rasanya sama saja.
"Menurutmu, gimana?" Lenganku di senggol hingga hampir menumpahkan lem di tanganku. Satu teman sedang menatapku.
"Apanya?" tanyaku tidak tahu alur pertanyaannya.
"Haduh! Dia fokus sendiri dari tadi!" Ujarnya kesal karena aku loading dengan apa yang mereka maksudkan.
"Kang Dharma?" tanyaku menyela, aku mendengarkan. Tapi, memang tidak ikut bicara.
"Iya, siapa lagi?!"
Aku mengangkat bahu, "Mana aku tahu, dia nyaman sama siapa," balasku.
Ais menatapku.
__ADS_1
"Apa?" tanyaku
"Kayaknya kamu deh," ujarnya.
Semua mata kemudian tertuju padaku.
"Apanya?"
"Ya, yang di incar kang Dharma," jelas Ais.
"Bukan ah! Ngawur," elakku.
"Eh, iya... Paling kamu! Gosip soal kang Dharma yang di utus Ning Nada jagain kamu pas pulang kemarin benar, kan?" tambah lainya.
"Kok aku? Gak ah! Ngawur kalian! Aku siapa?" Bantahku.
"Ya...Itu sih, benar! Kamu alasan kang Dharma mau bantu kita!" Kini Ais semakin yakin.
"Lah iya... Barang kali mas mu minta lagi, buat bantuin ngurusin bazar ini.
"Ke kang Dharma lagi?" tanyaku meyakinkan
"Lagi? Emang setelah pulang kemarin ada lagi?" balik tanya Ais.
Aku lekas menarik bibirku. "Tidak ada, cuma itu.'' Jawabku semoga bisa menutupi kegugupanku.
"Lalu siapa, anak di kelas kita yang sedang di incar oleh kang Dharma?" Pertanyaan itu kembali melambung di antara keruwetan kami.
Beberapa ada yang mengacungkan diri, ada pula yang kemudian menimpali jika mereka hanya berhalusinasi saja. Entah itu benar atau tidak, aku tidak terlalu peduli. Yang terpenting bukan aku yang menjadi pelaku utama dia ada di antara kami semua saat ini.
Larut malam kita rampung menyelesaikan hasil karya seni kami. Walau dengan bahan seadanya, dan apa adanya tapi tetap puas karena di lakukan bersama-sama. Esok mungkin akan menjadi bazar terakhir kami, menjadi kenangan yang indah sebelum nantinya kami akan terpisah.
Aula yang menjadi tempat kami sudah mulai sepi. Kelas lain sudah berangsur kembali ke kawasan pondok. Ada beberapa juga yang memutuskan untuk lembur, sebab masih ada yang belum terselesaikan.
__ADS_1
Sedang pembahasan kang Dharma sudah terhenti sejak tidak ada yang mengetahui jawaban atas pertanyaan mereka sendiri. Adanya malah mereka yang saling mengaku yang akhirnya menjadikan hiburan di antara kami.
Ku lihat langit malam lewat jendela aula. Terbentang luas penuh taburan bintang. Purnama sepertinya sedang menawarkan setengah sinarnya, hingga membuat langit tak segelap biasanya.
"Udah di bawa semua, kan? Ayo kita balik!" Ais sudah menenteng kardus berisi karton-karton yang sudah selesai di hias untuk besok. Sedang aku juga membawa satu kardus yang berisi peralatan lainya.
"Sudah, ayo!" Balasku.
Teman lainnya ikut bangkit. Meskipun terlihat ringan tapi ternyata membuat badan kita merasakan pegal juga.
Semua sudah bersih dan di bawa semua. Kita sama-sama kembali ke pondok.
"Udah ngantuk belum, aku lapar, nih," ungkap Ais.
"Buat mie, yuk..." tawarku.
"Ayok!"
Sesampainya di kawasan dapur aku menitipkan barangku ke salah satu teman. Untuk meletakkan di kamar. Aisyah juga melakukan hal yang sama.
Barulah kami menuju dapur. Membeli dua mie instan di koprasi kantin setelah itu memasak di dapur.
Maklum, santri hanya bisa memasak mie instan. Sebab adanya hanya itu. Di sediakannya juga cuma itu. Untuk makanan lainya sudah ada mbak dhalem atau ibu-ibu masak. Dapur pun boleh di gunakan santri pada saat semua aktifitas lainnya selesai. Itu artinya pada waktu malam seperti ini atau waktu liburan.
Santri sekarang lebih terjaga makanannya. Berbeda dengan santri jaman dulu. Kalau dulu untuk makan saja mereka harus memasak sendiri. Tidak ada kompor, adanya pawonan. Sejenis batu bata, yang di tumpuk membentuk persegi panjang dan dia atasanya di biarkan berlubang untuk tumpuan.
Tidak jarang kalau dulu orang tua santri banyak membekali mereka bahan-bahan untuk memasak. Seperti beras, gula, bumbu-bumbu dapur dan lain sebagainya. Mungkin sebab itulah, santri zaman dulu saat keluar dari pondok mereka bisa langsung mengamalkan ilmunya. Sebab tirakat mereka, menjadikan barokah ilmunya.
Tapi bukan berarti santri saat ini kurang tirakat. Tetaplah, meskipun tidak sepadan. Hanya saja saat ini tirakatnya tidak bisa mengetahui berita dunia luar, tidak bisa main sosmed, kuper, dan pastinya mereka kurang mengetahui perkembangan zaman.
Zaman semakin berkembang, tingkah manusia pun berangsur berubah pemikirannya. Pada waktu dulu, tidak ada listrik orang bisa masih bisa tenang.
Bahkan masih bisa menyempatkan untuk mengaji Al Qur'an di bawah lampion kecil. Sedang sekarang, listrik di mana-mana. Mati sebentar saja, kadang bisa membuat satu hari ngaji di liburkan. Aktifitas di istirahat. Itu masih soal listrik, bagaimana dengan yang lainya. Seperti sosial media terutama. Anak SD sudah faham betul cara mengangkat telpon, sudah faham betul jika kita mengetik Google apa yang kita ingin tahu terjawab semua di sana. Tidak ada lagi yang namanya permainan lompat tali, atau kelereng adanya mobil legend, game dengan banyak varian dan daya tarik hingga membuat anak betah dengan ponselnya.
__ADS_1