(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 69


__ADS_3

#Arya Dharma


"Jangan meminta di cintai, tapi pandai lah mencintai. Jangan takut untuk di caci, tapi jangan pernah memaki. Jangan pernah khawatir untuk di benci, tapi jangan jadi pembenci. Sebab kewajiban mu mencintai setiap pembenci".


Petuah itu datang dari salah satu habaib tersohor saat ini. Aku banyak memetik pesan singkat tersebut. Banyak pembelajaran di dalamnya, jika kita mau lebih mendalaminya.


Salah satunya, pada kalimat pertama. Jangan meminta di cintai, tapi pandai lah mencintai. Di sana kita di minta untuk bisa mencintai, tanpa harus meminta di cintai. Di minta memberikan keindahan, tanpa harus meminta keindahan. Di minta untuk mengulurkan tangan, tanpa takut tak mendapatkan balasan.


Ikhlas adalah wujud dari keridhoan. Saat kita ikhlas menjalankan sesuatu, maka Alloh sendiri lah yang akan memberikan kasih sayangnya kepada kita semua. Entah bagaimana wujudnya itu, yakin jika Alloh tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian.


Saat ini pun itu yang aku jalani, mencintai tanpa takut di benci.


Aku sadar jika terlalu terobsesi dengan Layla. Aku pun mengerti jika doaku mungkin terlalu memaksa. Tapi tetap saja, aku yakin jika Alloh menitipkan rasa pun juga dengan balasannya. Entah itu akhirnya bagaimana, tapi aku yakin cerita cintaku tidak akan menemukan kekecewaan di dalamnya. Sebab aku selalu menjadikan Alloh sebagai perantara setiap rasaku. Setiap pintaku, dan setiap langkah yang aku ambil untuk meminta hamba-NYA yaitu Layla_Najwa Layla Fathurrohman.


Menyebut namanya dalam hati saja membuat tubuhku berdesir tak karuan.


Di saat yang sama, mataku melihat sosok yang baru saja aku sebutkan. Layla, dia berlari kecil di kawal oleh kedua laki-laki di belakangnya. Dia menembus lalu lalang kendaraan.


Bajunya basah akan rintik hujan yang kembali jatuh. Meskipun begitu, dia tetap seperti bidadari yang baru saja turun dari langit.


Ya Alloh, kenapa mataku tidak bisa berpaling saat melihat makhluk mu satu itu. Dia begitu sempurna dalam pandangan ku, pun dalam hatiku.


"Gus, Layla datang! Ayo kita hampir mereka," ujar Sarip


"Sebentar, biarkan dulu," cegah ku.


Sarip kembali duduk di samping ku. Tidak etis jika tiba-tiba menghampiri mereka.


Aku harus tahu diri, jika posisi ku saat ini masih bukan siapa-siapa. Masih orang asing, yang berusaha menyelinap di antara mereka.


Mereka_Layla, mas Albi dan cowok itu sedang saling berbicara. Entah apa itu, aku tidak bisa memahaminya. Beberapa menit mereka seakan bertanya-tanya, detik berikutnya wajah Layla seakan tertekan saja.


Tanpa menunggu lama, aku langsung berjalan ke arah mereka. Melihat Expresi Layla, seakan itu adalah hal yang berbeda dari kebiasaannya.


"Mas Albi, Layla!" Aku berseru untuk menandakan kedatangan ku.


Dan benar mata mereka langsung tertuju padaku. Kini kehadiran ku seakan menjadi tanda tanya besar untuk mereka.


Mas Albi lah yang pertama kali menayangkan ke datangan ku. Dia memang paling humble, bahkan Layla hanya menatapku saja.


"Kalian mau kemana?" tanyaku basa basi

__ADS_1


Lebih baik aku menanyakan perihal rencana mereka terlebih dahulu. Mendengar pertanyaan ku saja, mereka langsung saling bertukar pandang.


Aku seperti seseorang yang tidak di inginkan saja. Sebab kehadiran ku membuat perbincangan mereka terhenti.


"Kami mau kesambangan. Rencana hari ini mau nginep di sini saja," jawab Mas Albi akhirnya.


Kebetulan sekali. Entah bagaimana Alloh mengaturnya. Tapi dengan rencana mereka, rencana ku akan berjalan dengan lancar nantinya.


"Oh! Kebetulan sekali. Jika tidak keberatan, menginap saja di dhalem Utara. Di sana lagi kosong," balasku.


"Hah!" Layla seakan tidak percaya dengan omonganku. Dia terkejut, seakan itu bukan hal biasa.


Aku lupa. Dia santri biasa, tidak pernah ada yang datang di jamu di Dhalem timur kecuali tamu-tamu istimewa.


Pastilah dia mulai curiga, kenapa bisa dengan entengnya aku mengajak mereka ke sana.


"Kang, gak usah. Di sini saja, sungkan..." Tolak Layla.


Dia tahu persis, jika itu adalah hal yang berbeda. Tugasku saat meyakinkannya.


"Tidak apa-apa, Layla. Aku sudah meminta izin Ning Nada, lagi pula mereka berdua kan teman Ning Nada juga, kan?"


Aku membuat alasan yang sama. Sebab itulah yang akan menjadi tali penghubungnya.


Tenanglah, Layla aku akan menjagamu. Tidak mungkin aku melaporkan hal itu pada keamanan pondok, jangankan hal itu melihat keadaan mu saat ini saja, aku merasakan dinginnya. Sebab hujan telah membuat mu badan mu basah sebagian.


"Layla juga bisa ikut ke sana. Nanti aku ijinkan ke Ning Nada," tambah ku.


Layla masih terlihat was-was. Dia seakan tidak percaya. Mungkin hal ini adalah untuk pertama kalinya terjadi pada dirinya.


Aku sampai lupa, jika dia sudah mondok di sini bertahun-tahun. Aku lupa, jika sebelumnya Ning Nada tidak pernah menjamu mereka.


Iya, mungkin benar Mas Albi dan Ning Nada berteman baik, tapi tidak sampai seperti saudara. Yang saat keluarga mereka datang, langsung di sambut dengan jamuan.


"Ke sana saja, toh Layla juga bisa ikut ke sana kan nantinya. Bakalan banyak waktu ngobrol nantinya," sahut Andre.


Baru detik ini aku merasa di berguna ada di sini. Dia menambah keyakinan Layla.


"Iya, tidak apa-apa. Tidak perlu izin ke keamanan. Nanti langsung ke Ning Nada saja," sahutku.


Mendengar pendapat yang hampir bersamaan, Layla seakan mencari jawaban dengan melihat ke arah Mas Albi.

__ADS_1


Mas Albi seakan menjadi satu-satunya kunci untuk dirinya dalam menentukan jawab untuk hidupnya.


"Terserah Layla, maunya bagaimana. Kalau mas mah, di mana-mana ok aja."


Mas Albi mengatakan hal itu. Mereka biasa saling mengerti meski hanya dengan berpandangan saja. Ah! Suatu saat semoga aku bisa seperti itu denganmu, Layla.


"Aku boleh mengajak teman kan?" tanya Layla.


"Iya, ajak temanmu," jawab ku langsung tanpa jeda.


Saat ini, mata ku penuh binar harapan. Sebab jawabnya akan menjadi kunci ke suksesan rencanaku saat ini.


"Ya sudah, kita ke dhalem Utara. Aku ke pondok dulu. Ngajak Ais, ya..." Akhirnya Layla. memberikan keputusan.


Aku bernafas lega.


.


"Ya sudah. Mas tunggu di sini," kata Mas Albi.


Setelah itu, dia berjalan menuju pondok.


Meninggalkan kami bertiga, eh ber empat. Aku tidak sadar jika ada Sarip juga.


Sarip mengajak Mas Albi dah Andre ke pos keamanan. Barang kali, biar tidak terlalu lelah berdiri. Tapi sepertinya, ke dua lelaki tersebut tidak mengindahkan ajakan Sarip.


Mau tidak mau aku pun ikut menunggu Layla bersama mereka.


Duh, Layla... Kamu kenapa mempesona sekali, hingga membuat lelaki siap untuk menunggu mu tanpa kamu minta.


Bak putri yang di kelilingi kesatria. Bak berlian yang selalu di jaga. Dia memang pantas mendapatkan itu semua.


Barang kali, bukan hanya sebab parasnya saja yang menyejukkan jika. Namun juga caranya menjaga dirinya lah yang membuat yakin para lelaki ini jika kamu itu patut untuk di perjuangkan dan mendapatkan perhatian.


"Layla lama gak nanti, kasihan dia tadi bajunya basah," kata Andre.


"Aku juga tidak tahu. Semoga saja lekas balik ke sini," balas Mas Albi.


Ke dua laki-laki itu masih saja memandang arah jalan yang di Layla tadi. Baru saja Layla hilang dari pandangan mereka, tapi mereka sudah seperti merindukan dia.


Jika aku ingin mendapatkan Layla, maka aku pun harus bisa menaklukkan mereka. Bukan sebagai lawan, tapi kawan. Sebab ke ikhlasan mereka nanti juga aku butuhkan untuk kehidupan ku dan Layla mendatang.

__ADS_1


***


__ADS_2