(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 114


__ADS_3

Qois Albifardzan


Aku membuka pintu itu. Biasanya saat aku rindu, kamar yang harum khasnya yang akan membimbingku terlelap di pusaran tempat tidurnya.


Kali ini pun aku melakukan hal yang sama. Hanya saja, mataku tidak kunjung terlelap. Lebih tepatnya, aku sudah tidak bisa tidur setelah hari pernyataan itu. Hatiku gusar, dadaku sesak saat mengingat pengakuan ayah dan ibu tentang status ku dan Layla.


Sekali pun aku tidak pernah memikirkan bahwa akan ada waktu, dimana aku memisah hubungan ku dengan Layla dan perasaan yang tiba-tiba ada.


Lebih gelisah saat aku tidak menemukan cara untuk mengobati rindu di dalam dada. Aku seperti kehilangan nafas, saat sehari saja tidak melihat senyum manisnya. Meskipun hanya selembar foto, itu sudah seperti asupan nafas kehidupan yang aku perlukan.


Ada apa denganku, Ya Rabb ... Rasa apa yang sedang melandaku. Di sisi lain aku merindukan adik perempuanku, sangat merindu. Namun di sisi lain, aku takut bertemu dengannya, entah ketakutan apa yang ada di dalam hatiku.


Tubuhku tidak bisa terkontrol saat senyum manisnya terbayang dalam benak. Tanganku langsung mengepak bak sayap yang ingin merengkuhnya. Hal itu biasa, namun ada sesuatu yang entah bagaimana aku takut untuk melakukannya. Rasa yang tiba-tiba takut untuk aku ungkapkan, rasa yang tiba-tiba takut kehilangan, dan rasa takut akan penolakan yang berujung sakit yang tak akan bisa aku bayangkan.


Aku mengelus samping tempat berrebah, bantal yang bisa di gunakan layla aku ambil dan aku cium dalam. Sungguh, aku sangat ingin mendekapnya. Dan sungguh hal itu juga ingin aku hilangkan dalam benakku.


Ku rengkuh bantal itu, aku dekap erat. Harum khasnya masih bisa aku rasakan di sana. Ada kalanya aku juga mencari baju di lemari. Memandanginya, dan aku ajak dia berbaring di sampingku.


Ya Rabb... Rasa apa ini, kenapa begitu memilukan. Ingin namun tak ingin. Meskipun pertanyaan orang tua hanya sekedar bertanya, namun hasrat yang mengendap di dada tidak bisa terbendung lagi rasanya.


"Kamu beneran, gak pernah suka sama Layla dalam artian lebih, bi?"pertanyaan itu menggema di ingatan. Saat itu, Andre lah yang menayangkan hal itu. Berapa kali dia bertanya, seakan hal itu juga sebagai penjelasan. Namun beberapa kali juga aku mematahkan dengan haluan yang tidak pernah akan ada.


Akan tetapi kenyataannya, saat ini berbeda. Aku takut mengakui rasa, aku takut salah dan berdosa. Sungguh, hal ini cukup membuat hari-hari berantakan. Tidak memiliki selera macam-macam.


"Layla ... Layla ... Layla ..."


Menyebut namanya menjadi hembusan nafas yang menetralkan jiwa. Aku mungkin sudah gila. Gila jika tidak menyebutkan namanya.


Dering ponsel berbunyi, aku segera melihat siapa yang sedang menganggu merinduku.


Nomer yang tidak aku kenal. Tanpa basa-basi aku langsung menantikan panggilan. Namun beberapa saat kemudian panggilan itu kembali hadir, sekaligus dengan satu pesan yang membuat mataku melebar.


[Mas, aku Layla. Angkat telponnya]


Dengan tangan bergetar aku langsung menekan tombol hijau. Panggilan itu tersambung. Beberapa menit tubuh ku kaku.


Ya Rabb, ada apa denganku? kenapa perasaan ku tidak karuan seperti ini.

__ADS_1


"Mas Albi, Assalamualaikum ... " suara nyaringnya langsung menghunus ke ulu hati.


Aku masih terpaku, tidak sadarkan diri. Suara Layla begitu candu.


"Mas, Mas Albi ... " panggilnya lagi.


"Iya, Layla," aku baru bisa membalasnya.


Sungguh aku tidak bisa menakan tubuh ku untuk diam. Tangan ku dengan kuat menakan dadaku yang terasa sakit tak karuan.


"Apa kabar, Mas. Kapan nyambang?" tanyanya.


"Mas baik, Layla. Kamu bagaimana?" tanyanya.


Dia terdiam sejenak.


"Mas Albi sakit?" tanyanya. Rasa dalam dadaku menguras tenaga hingga membuat suaraku parau.


"Ti-tidak Layla. Mas hanya sedang merindukanmu," kata itu lolos begitu saja. Air mataku mengalir tanpa hentinya. Benarkah aku sudah jatuh cinta padanya, hingga hatiku tidak bisa menerima kebungkamnya.


"Layla juga merindukan, Mas Albi," jawabnya lirih.


Dia sudah merusak segala porsi hubungan kita. Dia bahkan akan mengubah mataku untuk tunduk tidak lagi bisa menatapmu. Sebab pandangan ku sudah tidak layak lagi kau terima. Sebab di dalam mataku sudah ada nafsu didalamnya. Duh, Layla ... aku sudah tersadar akan perasaan yang tidak seharusnya ada.


"Ayah dan ibu mana, Mas. Layla pengen bicara,"


"Ayah dan ibu sedang keluar, Layla. Bicara denganku saja,"


Saat inipun aku menjadi egois. Aku menipu mu, Layla. Orangtua mu ada di luar. Mereka mungkin juga senang mendapat kabar darimu. Tapi aku, tidak mengizinkan untuk kamu menghindariku.


Bagiamana layla. Bagiamana aku bisa lari darimu saat ini? Bagiamana aku bisa kembali tenang saat kamu sendiri datang kepadaku.


"Oh, gitu. Salam saja nanti mas untuk ayah dan ibu. Layla mau mengabarkan jika Layla lulus. Alhamdulillah semua lulus seratus persen. Dan untuk tamatan, akan diajukan akhir bulan," terang Layla.


"Jadi kalau ke sini, sekalian waktu acara tersebut aja, Mas. Mas bisa datang kan?" tanyanya.


"Pasti, Layla."

__ADS_1


"Hahaha, Mas kenapa sih? Kok tiba-tiba aneh gitu? Kayak orang menggebu-gebu? Lagi dimana memangnya, mas sekarang?" tanyanya.


"Aku? Aku sedang dikamar mu, Layla. Mas sedang merindukanmu," jawabku.


Dia terdiam lagi. Diamnya itu menyakitkan sekali.


"Mas gak lagi sedang geledah kamarku, kan? Jangan buat kamarku berantakan, Mas?!" Serunya menduga.


"Tidak, mas bahkan tidak merubah posisi barang milikmu. Masih sama, bahkan hantalmu pun masih menyimpan harum mu, Layla."


Aku kelepasan. Otakku sudah tidak singkron dengan keadaan. Apa yang dipikirkan Layla sekarang? Apakah dia curiga dengan hasrat ku padanya.


"Mas albi keterlaluan sekali!" Serunya.


Deg! dia menyadari kah?


Tidak ... Tidak ... aku tidak mau dia pergi! aku tidak mau dia menjauh dari kehidupanku.


"Tidak, Layla! Tidak! Bukan seperti itu," ralatku. Entah bagaimana aku menjelaskan nanti. Rasanya ingin langsung pergi dimana keberadaannya saat ini.


"Mbok ya dicuci, ta Mas. Nanti kalau aku pulang, seprainya sudah harum. Sudah tidak bau lagi," runtuknya.


Nafasku yang tersengal seketika lolos melegakan. Sadar Albi...Sadar ... Dia adikmu. Dia tidak akan bisa menjadi seperti yang ada dipikiranmu.


Aku diam. Berusaha mengembalikan kewasarasan. Kembali menjadi Albi, sosok kakak laki-laki.


"Iya, Nduk. Ini juga mau aku cuci," akhirnya aku meloloskan nada yang kembali normal seperti biasa.


"Hehehe, aku pulang dua Minggu lagi. Kamar harus sudah rapi! gak boleh ada debu menempel di sana!" Serunya.


"Siap tuan putri,"


Jangankan debu, Layla. Apapun yang menghalangimu aku siap menyingkirkan untukmu.


"Mas, nanti kalau Layla pulang. Jalan-jalan, ya ..." ajaknya mendayu.


"Iya," mana bisa aku menolak hal itu.

__ADS_1


Hari ini Allah telah menyelamatkan rinduku. Dia meniupkan luka dalam hati, membuat dia sedikit kehilangan lara-nya.


__ADS_2