
Terik matahari tidak melunturkan semangat ku. Sorak riuh sporter mengundang ricuh. Bukannya mendukung timnya, tetapi mereka sedang berebut menyebutkan namaku secara terang-terangan.
"Arya! Arya! Arya!" Begitu menggema, mengundang dahaga.
Konsentrasi berkali-kali terpecah kerena teriakan mereka. Bukan apa-apa, tidaklah mereka malu, datang ke sini membawa semangat untuk pesantrennya, tapi malah yang di dukung tim lawannya. Apalagi mereka sedang menyandang status santriwati.
Untunglah, pondok kami tidak memperolehkan santriwati untuk menjadi suporter Porseni. Jika tidak mungkin saat ini mereka sudah bertanding dengan suporter dari pondok lain.
Prriiittt....
Wasit memberikan tanda jika waktu telah habis. Ku lihat skor di papan tulis kecil di sebelah barat lapangan. Untuk sementara, kami unggul satu nomer. Namun masih ada pertandingan babak kedua untuk bisa lolos ke pertandingan final.
"Gus mau kemana?'' teriak Sarip setelah semua pemain di perbolehkan istirahat sebentar.
"Biasa..." Jawabku. Sudah pasti Sarip tahu kemana arah tujuanku.
"Auwww... Mas Arya, boleh minta foto?!!" Seru beberapa gadis yang tadi menyoraki ku saat bertanding. Mereka melebarkan mata dan senyum pengharapan kepadaku.
Aku tersenyum, lalu mengatupkan kedua tanganku.
"Maaf, ya... Lain kali waktu saja." Balasku, dengan tidak menghentikan langkahku.
"YAH... Sombong sekali, dia." Sesal salah satu dari mereka.
Tidak peduli, mau bagaimana mereka mengatakan apapun kepada ku, aku tidak peduli.
Bukankah sudah hal lumrah, banyak orang yang juga melakukan hal yang sama seperti gadis-gadis itu. Menilai seseorang dengan mudah, baru saja tadi mereka memuji, lalu beberapa menit kemudian membully.
"Layla, apa es ku sudah jadi?!!" Teriakku setelah langkah kaki ku sampai pada bibir pintu tenda Layla.
Entah mengapa aku terbiasa menyebutkan nama Layla. Padahal aku tahu, jika di sini dia di panggil Najwa. Aku merasa menjadi orang istimewa saat tidak ada lagi orang yang memanggilnya Layla, selain diriku saat ini.
"Dharma?" Aku menoleh ke arah suara yang menyebutkan namaku.
"Mas Albi, kok di sini?" tanyaku setengah terkejut. Bagaimana tidak, aku ketahuan menyebut nama Layla lantang di depan kakaknya itu.
Ku ulurkan tanganku, menyalami dirinya, dan satu lagi, seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Siapa dia, kenapa dia bisa ada disini? Bersama Mas Albi pula." Selidik ku. Mataku tidak lepas menatap sosok asing yang cukup mengganggu mataku. Pun mengancam posisiku.
Aku ingin menanyakan langsung siapa dia, tapi Layla datang dengan membawa nampan.
__ADS_1
"Ini esnya tadinya buat Kang Dharma, Mas. Aku buatin lagi, ya...Sabar." Kata Layla.
Aku memang meminta Layla untuk menyiapkan semua keperluan untuk tim futsal ku. Aku sengaja melarisi dagangannya saat ini. Mentraktir timku untuk makan dan minum di kedai Layla. Andaikan ada yang ingin makan di tenda lainya aku persilahkan, namun bukan lagi menjadi tanggungjawab ku.
"Nanti saja, buat Mas Albi saja. Aku nanti saja gak apa-apa." Bantahku seraya mengambilkan dua mangkuk berisikan es buah serut tersebut.
"Kang Dharma, sebentar ya... Aku buatin." Ujar Layla, wajahnya penuh welas kasih, dan rasa bersalah.
Ku lempar senyum untuk membunuh prasangka khawatirnya. Lalu kemudian dia kembali menghilangkan di balik papan kayu, tempat pembuatan es buah serut tersebut.
Pemandangan yang menyejukkan. Kami seperti pasangan suami istri yang sedang menjamu tamu.
Mata Mas Albi terus memandangi tingkah kami. Mungkin saja, dia mendapatkan perubahan sikap Layla kepadaku.
"Mas Albi sudah lama, disini?" tanya ku, sambil menjelojorkan kakiku yang mulai kebas.
"Barusan. Tadi langsung ke sini, karena pasti Layla juga di sini." Jawab Mas Albi.
Layla datang membawa nampan berisikan mangkok es buah serut untuk diriku. Dia mempersilahkan untuk aku menikmatinya juga.
"Terima kasih, Oh iya... Yang lainya ada di luar, apa sudah di buatkan juga?'' tanyaku. Sudah pasti mereka adalah tim futsal ku.
"Sebagian sudah mendapatkan bagian. Lainnya, masih di buatkan." Jawab Layla, sambil menunjuk ke arah balik papan bambu di belakangnya.
Pasti kerena aku sedang memakai kaos berlumuran keringat saat ini. Apalagi sepatu dan kaos kaki yang masih aku
"Saya? Saya gak ikut, Mas. Dari tadi saya cuma lari-lari saja. Angkat galon." Jawabku. Es dalam mangkok sedikit demi sedikit mulai aku cicipi.
"Memangnya, ada lomba angkat galon?" sahut seseorang yang belum sempat aku ketahui namanya itu. Aku ingin tertawa, karena dia begitu lugunya percaya dengan ucapan asal ku.
"Hehehe, nanti coba deh, saya tambahankan dalam list perlombaan." Balasku.
"Jangan percaya sama omongannya, di cuma bercanda." Sahut Mas Albi.
"Oh." Laki-laki itu mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Layla meminta izin untuk membantu teman-temannya. Barangkali dia sungkan, jika terus berada di antara kami, para lelaki.
Kami bertiga lalu menikmati es buah serut buatan Layla ini. Aku tidak tahu, dia yang benar membuatnya sendiri atau tidak. Tapi yang pasti, aku akan menghabiskan es itu tanpa tersisa. Sudah pasti, itu adalah sesuatu hal yang pertama yang di berikan Layla padaku, yah... Walaupun nanti aku pun harus membayarnya. Namun, apapun itu aku akan menghargainya.
Ku lihat Mas Albi dan laki-laki itu juga sedang menikmati es tersebut. Mereka meresapi setiap cipta rasa di dalamnya.
__ADS_1
Menit berlalu, aku harus kembali ke lapangan untuk bertanding lagi. Masih mempunyai sedikit waktu. Ku lihat di balik papan bambu, Layla tidak kunjung temu. Apakah tadi pertemuan terakhir kami hari ini?
Pucuk di cinta ulampun tiba. Baru saja aku mengharapkan dia datang, dan kemudian dia benar datang. Dia duduk pada kursi plastik yang ada di tenda tersebut. Tidak berani duduk lesehan, karena telah penuh di isi oleh kami para lelaki.
Mas Albi membuka percakapan dengan menanyakan tentang ide dan konsep yang di buat untuk tenda bazar ini. Dia juga menanyakan siapa yang memberikan ide untuk menjual es buah serut tersebut.
Akhirnya, Layla pun bercerita jika temannya yang bernama Aisyah yang membuat ide tersebut.
"Di mana, dia?" tanya laki-laki di sebelah Mas Albi. Sejak tadi aku tidak mendapatkan jeda waktu untuk berkenalan dengan dirinya. Aku semakin penasaran, siapa dirinya sebenarnya?
"Itu, di belakang. Mau aku panggilin?" tawar Layla.
"Hehehehe, tidak. Kan sudah ada, ka_"
Belum juga selesai dia berbicara, Mas Albi membungkam mulutnya. Lalu melotot ke arahnya. Melihat hal itu, aku semakin penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan.
"Maksud ku, sudah ada es nya...Orangnya gak usah saja." Tambah laki-laki itu, seakan sedang menerangkan ketidak wajaranya.
"Mas Albi, mau nambah?" tanya Layla.
Dia hanya menanyakan itu pada kakaknya, padahal aku pun juga mau.
"Tidak, perut ku masih penuh." Jawab Mas Albi sambil menggelengkan kepalanya.
"Layla, aku saja. Buatin lagi, ya tapi jangan manis-manis. Soalnya, sudah manis kalau sambil memandang kamu,"
Ukhuk Ukhuk Ukhuk
Aku tersentak dengan omongan laki-laki itu, sampai membuatku tersedak. Satu buah kolang-kaling meluncur begitu saja, tanpa terlebih dahulu aku kunyah.
"Kamu, tidak apa-apa?" tanya Mas Albi. Dia yang paling sigap menolongku.
Karena belum bisa aku menjawabnya, aku gunakan tangan ku untuk memberikan isyarat, bahwa aku baik-baik saja.
"Air putih, Kang." Layla menyodorkan air putih. Segera aku meneguk air putih tersebut. Layla memang obat dari segala penyakit ku.
"Oh, iya...Mas siapa, ya?" tanya ku langsung tanpa jeda, setelah tenggorokan ku kembali baik-baik saja. Ku tatap matanya, sedikitpun tidak ku izinkan dia berdusta.
"Dia saudara kami juga. Sudah lama tidak bertemu, jadi aku ajak saja. Lagipula, bisa untuk teman berbicara." Jawab Mas Albi, sambil menepuk pundak laki-laki yang tadi di perkenalkan sebagai saudaranya itu.
"Iya, kami saudara." Tambah laki-laki itu. Aku semakin tidak yakin dengan hal itu.
__ADS_1
"Oh, iya. Soalnya, di sini tidak di perbolehkan di jenguk oleh orang yang bukan mahramnya." Ujar ku tegas.
Mereka hanya diam, tanpa berani berbicara. Itu cukup membuktikan jika saat ini tidak sedang baik-baik saja.