(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 50


__ADS_3

"Mas Albi sudah lama, disini?" tanya Dharma.


"Barusan. Tadi langsung ke sini, karena pasti Layla juga di sini." Jawab ku.


Layla datang membawa nampan berisikan mangkok es buah serut untuk Dharma. Dia mempersilahkan untuk menikmatinya.


"Terima kasih, Oh iya... Yang lainya ada di luar, apa sudah di buatkan juga?'' tanya Dharma. Mungkin yang dia maksud adalah teman timnya.


"Sebagian sudah mendapatkan bagian. Lainnya, masih di buatkan." Jawab Layla, sambil menunjuk ke arah balik papan bambu di belakangnya. Di sana mungkin, menjadi tempat dapur mereka.


"Kau ikut, lomba apa, Dharma?" tanya ku.


"Saya? Saya gak ikut, Mas. Dari tadi saya cuma lari-lari saja. Angkat galon." Jawab Dharma sambil menyeruput es di depannya.


"Memangnya, ada lomba angkat galon?" sahut Andre bertanya. Dia seolah percaya dengan jawaban asal Dharma.


"Hehehe, nanti coba deh, saya tambahankan dalam list perlombaan." Balas Dharma.


"Jangan percaya sama omongannya, di cuma bercanda." Kata ku menengahi.


"Oh." Andre mengangguk. Lalu meneruskan menikmati es buah serut tersebut. Belum ada lima menit, es dalam mangkuknya sudah tandas separuh.


Layla meminta izin untuk membantu teman-temannya. Dia tidak enak jika terus menunggui kami. Saat dimana, di belakang para temannya sedang sibuk dengan banyak pesanan.


Es buat ini membuat kami terdiam menikmatinya. Paduan antara banyak rasa, semakin menggetarkan lidah. Jika di daerah Kediri, es ini cukup di sebut Es pelangi.


Ada empat jenis buah di dalamnya, nanas, pepaya, semangka, melon di tambah agar-agar kotak, kolang-kaling dan juga biji selasih. Aroma daun pandan juga terasa.


"Nduk, siapa yang buat ide es ini?" tanya ku. Dia baru saja datang lagi, setelah selesai membantu teman-temannya. Tidak berani duduk lesehan, karena semua penuh dengan pria.


"Idenya Ais. Dia yang cerewet pengen buat es itu, katanya biar beda dari yang lainnya." Jawab Layla.


Aku pernah mendengar nama Ais. Kalau seingat ku, nama aslinya Aisyah, teman sebangku Layla. Kerap sekali dia bercerita soal teman perempuannya itu, kadang kali dia juga menimpali kalau hanya Aisyah yang menjadi sahabatnya saat ini.


"Di mana, dia?" tanya Andre.


Aku memutar bola mata ku. Menatap Andre dengan mata penasaran. Barangkalu telinganya langsung mendengun seketika mendengar nama perempuan yang belum dia kenalnya. Aku bisa jamin, jiwa buayanya sedang merajalela ingin mengetahui gadis seperti apa Aisyah tersebut.


"Itu, di belakang. Mau aku panggilin?" tawar Layla.


"Hehehehe, tidak. Kan sudah ada, ka_"

__ADS_1


Sebelum Andre keceplosan lagi. Aku sudah langsung mengikutinya. Menatap mengancam, dan mengisyaratkan jika ada orang lain di antara kita juga__Dharma.


"Maksud ku, sudah ada es nya...Orangnya gak usah saja." Ralat Andre.


Syukurlah, Dharma tidak menyadari perubahan mimik wajah Andre dan juga obrolan kami. Dia khusuk menelan es tersebut. Mungkin, hawa panas dalam tubuhnya berangsur dingin setelah menikmati es tersebut.


"Mas Albi, mau nambah?" tanya Layla. Dia menatap mangkok es ku sudah tandas semua.


Aku menggeleng, "Tidak, perut ku masih penuh." Jawab ku.


"Layla, aku saja. Buatin lagi, ya tapi jangan manis-manis. Soalnya, sudah manis kalau sambil memandang kamu," Lolos sudah gombalan Andre untuk Layla.


Ukhuk Ukhuk Ukhuk


Tiba-tiba, Dharma tersedak. Aku segera membantunya dengan memijat tengkuknya.


"Kamu, tidak apa-apa?" tanya ku.


Dia menjawab dengan menggoyangkan telapaknya. Setelah tertunduk, dia mulai mengelus dadanya. Buah yang ada di es tersebut mungkin, lolos begitu saja tanpa di kunyahnya.


"Air putih, Kang." Layla menyodorkan air putih. Dharma langsung menerimanya dan langsung meneguknya.


"Oh, iya...Mas siapa, ya?" tanya Dharma kepada Andre. Mata Dharma tiba-tiba menatap Andre lekat, pun tidak bersahabat.


"Iya, kami saudara." Tambah Andre. Dia memperlihatkan gigi putih sambil menarik bibirnya. Nyengir.


"Oh, iya. Soalnya, di sini tidak di perbolehkan di jenguk oleh orang yang bukan mahramnya." Ujar Dharma. Dia menegaskan itu, dengan tidak melepaskan tatapannya kepada Andre.


Tiba-tiba, suasana menjadi suram. Layla sampai mengigit bibir bawahnya, karena takut ketahuan.


Untung saja setelah itu, ada teman Dharma memanggil dirinya. Mungkin saja, pertandingan berikutnya akan di mulai.


"Saya, pamit dulu ya! Barangkali, kalau nanti tidak langsung pulang, kita bisa bertemu kembali.'' Pamit Dharma, dia menyalami ku. Kemudian, bersalaman juga dengan Andre. Dia juga melempar senyum untuk Layla, lalu di jawab simpul olehnya.


"Mbok ya, kalau ngomong di rem, tho (Kalau ngomong, di rem)!" Seru ku sambil menepuk paha Andre setelah Dharma tidak pergi.


"Sorry, keceplosan." Sungut Andre.


"Kebiasaan!'' Balas ku kesal.


Untung saja, tadi Dharma tidak bertanya apapun lagi. Kalau tidak bisa saja ketahuan, jika saat ini kami sedang membohongi dirinya.

__ADS_1


"Sudah, gak papa. Kang Dharma juga gak gimana-gimana." Lerai Layla.


Andre tersenyum menang, kerena mendapatkan pembelaan dari Layla. Tetep saja, kami harus waspada. Tempat ini menjadi penjara suci, yang memberikan peraturan untuk penghuninya agar terjaga suci. Entah itu, hati ataupun pribadi.


Merasa berdosa sendiri, karena telah membohongi Dharma, tapi tidak tahu lagi harus berkata bagaimana. Andai tadi, Andre langsung nyeplos bilang jika Andre teman ku, dan mengaku mencintai Layla. Pastilah ceritanya, tidak akan semudah ini.


Jam sudah menunjukkan pukul dua tiga puluh. Aku mengajak Layla bersama ku untuk berjamaah. Nantinya aku juga akan mengajak berkeliling ke semua tenda bazar. Melihat pertandingan, dan juga menyisihkan waktu bersama yang akan hilang.


Layla mengajak temannya__Aisyah yang di panggil Ais itu untuk bersama kami. Tidak enak di pandang, jika hanya dirinya yang berjalan di antara dua laki-laki, yang semua orang tidak kenal.


Tadi saja, saat kaki kami melangkah di belakang Salwa sudah banyak pasangan mata yang menatap heran dan penasaran. Bisikan demi bisikan mulai terdengar samar. Namun, aku acuh untuk mendengarkan.


Sehabis sholat dhuhur, langit menumpahkan awan hitam. Membuat suasana mulai mencekam. Beberapa tenda mulai di bereskan, mewanti-wanti jika nanti turun hujan.


"Aku balik ke tenda ya, Mas. Kasihan teman-teman, pasti pada beresin tendanya." Kata Layla, dia masih menggenggam mukena di dadanya. Wajah bolak balik menatap ku dan menatap awan hitam.


"Iya, gak papa. Aku bantu kamu, ya?''


"Gak usah. Nanti malah ngerepotin. Teman-teman pasti juga sungkan, jika Mas Albi di sana." Tolak Layla.


"Ya udah kalau gitu, kami saja yang beresin tendanya. Kamu dan teman-temanmu, cukup lihat doang. Sama ngatur barang mau di taruh mana!"


"Gak usah, Mas. Beneran, dah." Layla mengeluarkan keras kepalanya. Tapi, bukan aku jika tidak bisa mengalahkan keras kepalanya itu.


"Ayo!" Ajak ku.


Tanpa banyak bicara, aku langsung kembali ke tenda bazar Layla lagi. Membantu teman-temannya membersihkan beberapa peralatan di sana. Mencopoti hiasan tenda yang di rasa rentan akan hujan.


Andre juga ikut sibuk membantu. Saat aku naik, untuk mencopot hiasan tenda di atas kursi. Aku sempat melihat jika di lapangan, yang tidak jauh di depan kami, masih berlangsung perlombaan futsal. Lapangan itu masih penuh dengan kerumunan orang yang sedang asyik melihat dan menyemangati. Mereka tidak peduli dengan datangannya, aba-aba awan hitam yang akan mengguyurkan hujan.


Pantas sajalah ramai. Karena saat itu pertandingan sangat seru. Aku sampai berhenti mencongkel paku, dan melihat ke arah lapangan itu. Saat itulah, aku tahu. Jika ada Dharma yang menjadi salah satu pemainnya. Dia sedang menggiring bola dengan lincahnya, melindungi bola itu dengan kakinya, sambil mencari celah untuk menendang ke gawang lawan.


"Mas, kok lama, tho?" Layla menarik baju ku, sambil mendongakkan kepala.


"Iya, sudah ini!" Jawab ku sambil mencongkel paku yang membenamkan ujung hiasan dinding itu. Setelah lepas, aku kembali turun.


Gooolllll!!!!


Suara teriakan dari lapangan terdengar lantang. Membaur dengan banyak teriakan. Seseorang melipir jalan di depan tenda, sambil tersenyum kemenangan. Mereka mengabarkan, jika Dharma telah sukses membawa kemenangan untuk pondok mereka.


"Hebat, ya Dharma." Kata ku, sambil tersenyum kepada Layla.

__ADS_1


Layla tersenyum, lalu mengangguk.


__ADS_2