
"Mbok Nur!!!" Teriak ku ketika sampai di depan warung. Wanita paruh baya itu, langsung keluar dari dalam warung. Hari ini memang sepi pengunjung. Pantai pun, terlihat tidak berpenghuni.
"Ada apa, tho Gus?" tanya tergopoh-gopoh. Beberapa hari ini aku memang sudah merepotkan Mbok Nur. Itu semua karena siapa, kalau bukan Layla. Hari ini pun, aku juga ingin merepotkan Mbok Nur lagi.
"Masakin, cumi pedas manis, sama ikan bakar Mbok." jawab ku. Langkah ku menuju dapur, melihat bahan masak dan juga makanan. Karena hari Jumat, Mbok Nur tidak banyak menyiapkan banyak bahan.
"Semuanya, lah Mbok." Kata ku, sambil Wira wiri ke depan dan belakang warung.
"Yang ada di masak semua? Tadi, kan si Mbok sudah ngasih bekal buat nanti balik ke pondok. Masih kurang?" tanya Mbok Nur.
Dengan memasang senyum manis, dan menyipitkan mata ku. Aku bilang, "Demi calon mantu, Mbok."
"Maksud, mu Layla?" tanya Mbok Nur penasaran
Aku menganggukkan kepala. Begitu mendengar nama Layla. Mbok Nur langsung memasang telemek masaknya.
"Emang, Mau langsung lamaran, Gus?" tanya Mbok Nur.
Aku duduk di kursi plastik yang ada di dapur, mengamati Mbok Nur meracik bumbu-bumbu yang akan di buat memasak. Tangannya lihai dalam mengambil bahan, yang sudah dia hafal porsinya. Bahkan terkadang, tanpa melihat dia bisa mengira-ira, berapa banyak garam yang harus di tuangkan. Atau berapa cabai, yang sudah di haluskan.
"Maunya, sih begitu Mbok. Doakan, ya Mbok. Aku di terima." Jawab ku menyeringai. Membicarakan Layla membuat suasana hati ku bahagia.
Sampai saat ini, hanya Mbok Nur yang bisa aku ajak bicara tentang Layla. Menyebut namanya, akan memancing dialog-dialog lain dia antara kami. Pernah sekali, saat aku menceritakan Layla, Mbok Nur lupa mematikan kompor, dan membuat masakannya gosong. Entah, karena dia penasaran dengan sosok Layla, atau kerena cerita ku yang selalu menggebu, dan menarik telinga untuk terus mendengarkannya.
Aku pernah membaca dalam sebuah feed Instragram milik teman ku, di sana di tuliskan. Jika candu cinta seseorang itu, ketika dia tidak lelah menyebut nama kekasihnya. Saat itu, aku hanya mesem, dan mengatakan jika itu hanyalah gombalan saja. Tapi, rasanya karma sedang terjadi kepada ku. Aku merasakan hal itu. Aku tidak berhenti menyebut nama Layla.
"Berarti, umi Aisyah sudah tahu tentang Layla Gus?" tanya Mbok Nur.
__ADS_1
Seketika rasa bahagia redup. Selama ini aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari Umi ku. Bahkan, saat aku melakukan kenakalan pun, aku akan meminta izin kepada beliau. Bagi ku, doanya, adalah restu. Namun, saat ini aku takut untuk memulai membicarakan rahasia ku pada beliau.
Andai aku adalah putra dari seorang ibu seperti Mbok Nur, pasti dengan bangganya aku akan langsung mengatakan jika aku sedang jatuh cinta pada sosok Layla. Aku akan langsung meminta beliau untuk melamarnya. Memintanya, ikut merayu Layla untuk menerima lamaranku.
Tapi, aku adalah putra dari Umi ku, istri dari Abah Umar Al Faruq. Bahkan namanya saja bisa membuat setan takut mendekatinya. Apalagi, aku anaknya. Sampai saat ini, orang pertama di dunia yang aku takuti adalah Abah ku sendiri.
Pernah singgah dalam pikiran ku, kenapa umi ku tidak menikah dengan seseorang yang bernama Muhammad. Bukankah, dulu Sayyidah Siti Aisyah istri dari Nabi Muhammad Saw? Dan bagaimana bisa seorang Umar Al Faruq yang bisa menjadi jodohnya.
Tapi, andai Umi ku menikah dengan seseorang yang bernama Muhammad, apakah aku bisa terlahir dari hasil cinta mereka? Apakah aku, akan menjadi aku yang sekarang? Atau mungkin, nama ku bukan Dharma?
"Gus, kok ngelamun, tho?" Sutil panas dari penggorengan langsung di kibaskan di depan ku. Membuat, cairan minyak sedikit mengenai tangan ku.
"Ya Alloh, Mbok. Lengan ku melepuh, nih? Tanggung jawab." Ujar ku dengan memperlihatkan satu titik percikan minyak panas di tangan ku.
"Halah, Wong Lanang kui kudu kuat! Ngunu tok, wes sambat (Laki-laki itu harus kuat! Gitu saja, kok ngeluh)!" Semprot Mbok Nur. Aku nyengir.
"Jadi gimana? Bu nyai, sudah tahu belum tentang Layla?" tanya Mbok Nur mengulangi pertanyaannya.
Ku angkat wajah ku, ku lihat Mbok Nur ikut menghela nafas berat. Tubuh beratnya seketika, ikut pupus bersama nafas yang baru saja dia keluarkan. Beliau juga menelan kekecewaan.
"Kenapa, Ndak cerita? Jika belum meminta restu sama Umi dan Abah mu, bagaimana kamu bisa ngelamar Layla?"
Meskipun Mbok Nur tahu apa jawabannya. Kenapa dia masih menanyakan soal itu? Apakah, dia ingin memastikan dugaannya dengan bertanya langsung seperti itu?
"Belum berani, Mbok. Jenengan, kan tahu sendiri bagaimana Umi dan Abah." Jawab ku.
Meskipun begitu, beliau tetap melanjutkan memasak dan menyiapkan makanan yang aku pesan. Dia tidak bertanya lagi tentang orang tua ku.
__ADS_1
"Ini buat Layla dan keluarganya. Nanti, jika ketemu dia, Si Mbok nitip salam. Katakan, jika Si Mbok menunggunya untuk berkunjung lagi ke Trenggalek." Pesan Mbok Nur.
Dia memerankan sosok ibu yang saat ini, ingin aku dapatkan. Restu, dari seorang ibu untuk putranya yang akan berjuang mendapatkan cintanya. Beliau melupakan pertanyaan yang tadi sempat membuat ku lemah.
"Siap, Mbok! Laksanakan!" Seru ku.
Aku membawa paper bag berukuran besar di kedua belah tangan ku. Setelah mendapat apa yang aku mau, aku berpamitan dengan Mbok Nur. Ba'da sholat Jum'at nanti, aku kembali ke pondok. Aku yang biasanya molor, tiba-tiba bersemangat untuk lekas kembali. Itu semua karena, pesan singkat yang aku kirim di nomer Layla tadi malam.
Dengan alasan, agenda bis rombongan yang akan menjemput para santri dan santriwati. Aku mendapatkan balasan, yang mengejutkan. Dia mendaftar menjadi salah satu yang akan ikut dalam rombongan tersebut.
Saat itu juga, aku langsung mengemas barang-barang ku. Dan meminta Sarif, untuk memajukan jadwal keberangkatan bis kami.
"Jenengan ikut rombongan, Gus?" tanya Sarif, dia tidak menduga jika aku akan ikut dengan rombongan tersebut. Karena biasanya, aku hanya mengurusi keberangkatannya saja dan tidak ikut dalam rombongan tersebut. Tidak seperti saat rombongan pulang kemarin.
"Iya. Aku ikut, aku balik sama kamu." Jawab ku.
Masih dengan terheran, dia langsung menghubungkan beberapa panitia rombongan jika jadwal keberangkatan akan di majukan lebih awal. Aku juga meminta bis dari Trenggalek lah yang akan berhenti ke Kediri untuk menjemput santri dari Kediri.
"Tapi Gus, selama ini yang berhenti di Kediri bis dari Tulungagung. Itu yang dekat, dan tidak akan memakan waktu yang lama. Tapi, kalau dari Trenggalek yang berhenti, nanti akan memakan waktu lama." Bantah Sarip.
Sarip masih memegang ha-penya yang masih tersambung dalam panggilan. Aku menduga jika panitia yang dia telpon sekarang, tidak setuju dengan perubahan jadwal dan ketentuan yang aku buat.
Aku langsung meminta ponselnya. Dengan ragu, dia memberikan gawannya itu kepada ku.
"Bis Trenggalek yang akan mampir ke kediri. Jika masalahnya, adalah waktu. Aku sudah meminta Sarip untuk memajukan jadwal keberangkatannya. Jadi tenang saja. Gak akan ada yang balik terlambat." Terang ku.
Aku tidak mendapatkan bantahan dari seseorang di balik telpon tersebut. Dia hanya menjawab dengan nada rendah, dan menyanggupi untuk menuruti kemauan ku.
__ADS_1
Notes:
Jenengan, sampean \= Kamu