
Aku menuju kamar Layla langsung. Tidak di sangka dia sedang fokus dengan buku yang entah apa itu. Dia duduk di tepian ranjang dengan handset yang menempel di telinganya, dia asyik dengan MP 3 nya. Aku melihat Ha-pe nya tergeletak begitu saja di nakas.
“Nduk!’’ Panggil ku.
Dia tersentak ketika tiba-tiba melihat ku. Dengan wajah ku rasa gugup dia segera menyembunyikan buku yang sedari dia baca. Membuat ku curiga.
‘’Ada apa,Mas?,‘’ tanya dia seraya melepas headset di telinganya.
‘’Ayah, mau pinjam he-pe, boleh?"
.
‘’Oalah...Iya, Mas, gak papa." Jawabnya.
Aku segera mengambil hape itu di nakas. Dan segera kembali ke ruang tengah, menemui ayah. Sebelum aku benar pergi aku berbalik lagi.
‘’Kamu, baca apa, Nduk?,‘’ tanya ku penasaran.
‘’ Hah! Bu_bukan apa-apa....‘’ Jawabnya gugup. Semakin membuat ku curiga.
Aku mengurungkan niat untuk segera kembali, menemui Ayah. Ku langkahkan kembali, untuk mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan.
‘’Loh, kenapa, Mas?,‘’ tanya nya bertambah gugup, mendapati diri ku, kembali berjalan ke arahnya. Mataku langsung mencari buku yang ia sembunyikan, tadi. Dan aku menemukannya di balik bantal, yang dia dekap.
‘’Oalah...Novel?‘’ Kata ku, yang langsung mengambilnya, tanpa meminta persetujuannya dulu.
‘’Sini!‘’
Layla langsung merebut lagi Novel tersebut. Dia seakan takut aku akan membawanya pergi.
‘’Gak papa, Nduk...Mas Cuma pengen tahu, apa yang kami baca? Kalau cuman Novel ya gak popo tho. Pokok Ojo Novel dewasa....‘’ Kata ku dengan menyeringai.
Aku tidak sesensitif itu sampai tidak mengizinkan dia membaca Novel. Toh memang dia sudah remaja. Wajar, masih puber-pubernya.
Aku gemas saat melihatnya begitu melindungi novel tersebut. Begitu takutnya, seakan aku mengambilnya lagi. Tidak akan aku lakukan, aku hanya akan menggodanya. Tersenyum untuk melegakan hatinya, dan ku ucel-ucel ujung kepalanya.
‘’Adikku, udah dewasa.'’ Ejek ku sebelum aku pergi.
‘’Ah! Mas Albi mesti godo!'’ Geramnya.
Aku tertawa renyah, sebelum ada barang yang melayang mengenai ku, ku sempatkan untuk segera pergi.
__ADS_1
Dia memang sedang sensitif, atau gimana aku sendiri tidak tahu? Tapi aku juga suka melihat ketika marah manjanya. Semakin membuat ku ingin menjahilinya.
Ayah sudah menunggu. Aku duduk bersama Ayah ketika Beliau mengecek Hape Layla. Aku lihat perubahan mimik wajah baruh baya itu, seketika membuat ku penasaran.
‘’Ya Alloh Le ...Adik mu sing Wa ni bocah Lanang-lanang tok !‘’ Kata Ayah saat itu.
Aku shock seketika dan langsung merebut Hape Layla dan melihatnya sendiri.
‘’Pantesan, Mosok Layla duwe pacar (Masak Layla punya pacar)?‘’
Aku masih terfokus dengan layar ponsel. Aku melihat setiap chat yang masuk. Tidak aku sangka ternyata adik ku itu banyak yang suka. Walaupun tidak bernama, tapi aku bisa memastikan dengan bahasa chat nya bahwa itu semua adalah laki-laki.
Rasa khawatir tiba-tiba merasuk dalam diri ku lagi. Apa mungkin dari sekian banyak laki-laki ini adalah pacar Layla. Tapi, sampai saat ini aku tidak menemukan chat yang tidak wajar. Bahkan aku bisa melihat jika Layla jarang membalas Chat tersebut. Tapi, tetap saja itu membuat ku khawatir.
‘’Tapi niki Layla mboten balesi kok, Yah (Tapi ini Layla tidak membalas kok, Yah)."
Aku tidak ingin Layla di marahi Ayah hanya karena banyaknya chat yang masuk adalah laki-laki . Mungkin saja dia juga risih dengan semua chat tersebut. Tapi aku juga khawatir jika membiarkan ini terus, dia akan terjerumus.
“Tetep ae, lek di jarno suwi-suwi ko tuman. Panggil Layla, bapak pengen ngomong (Tetap saja, kalau di biarkan nanti lama-lama keseringan)."
Aku tidak bisa membantah perintah Ayah. Langsung ku panggil Layla dia untuk menghadap ayah. Dia tidak takut saat Ayah memanggilnya. Dia biasa saja, seaka tidak menyembunyikan sesuatu. Berbeda saat aku ingin mengetahui Novelnya tadi. Itu membuat ku bingung.
Aku diam. Melihat wajah Layla terkejut, dan pandangan tidak mengerti.
‘’Pacaran? Pripun to, Pak?,”
‘’La, ini Wa ne, kabeh bocah Lanang!" Ayah menyodorkan Hape ke hadapan Layla.
Layla mengambil dan melihat lagi hape nya. Dia biasa saja. Tidak takut dan begitu santai.
‘’Bukan aku yang Wa, mereka! Tapi mereka! Aku juga gak tahu, mereka dapat nomor ku dari mana m?." Katanya santai.
‘’Kok Iso (Kok bisa)?,"
‘’Mboten semerep, Pak. Pun tho, Layla gak bakalan pacaran kayak begini. Tenang, mawon!‘’ Jawab Layla.
Mungkin ini bukan salah Layla. Tapi Bapak sama Ibu, yang sudah membesarkan dia hingga seperti ini. Salah mereka, yang melahirkan dia penuh dengan pesona dan kecantikan yang luar biasa. Hingga membuat banyak lelaki yang ingin mendekatinya.
Aku semakin gemas melihatnya. Melihat tingkahnya dan melihat dia membela dirinya. Dia sudah mulai tumbuh dewasa, dengan segala pesonanya .
‘’Mas kok malah senyum-senyum, tho? Aku di marahi ayah, sampean malah seneng! ‘’. Gerutunya merajuk.
__ADS_1
‘’Haha. La, habis kami udah dewasa. Masak Mas terus yang ngadepin masalah mu.'’ Jawab ku.
Dia tidak marah saat di marahi bapak. Tapi dia langsung marah saat aku mengatakan hal tersebut. Apa salah ku? Tapi yang aku tahu, marahnya tak pernah lama . Dia selalu menjadikan aku tempat amarah, tidak apa-apa. Asal apa yang menjadi unek-unek nya tertumpahkan. Tidak terpendam sendirian.
‘’Adek mu, itu jan ok (Adik mu, itu menang terlalu)‘’ Lontar Ayah, sambil geleng-geleng kepala.
Aku hanya tersenyum. Tidak ingin menumpahkan prasangka lainya.
‘Mboten, npo-npo, Pak. Layla sampun gede. Wajar pun katah sing seneng.'’ Kata ku.
‘’Iya. Gak kroso wes gede bocah e. Kurang pirang tahun engkas aku mantu!‘’ Kata Ayah.
Aku terkejut dengan perkataan bapak . Sudah sedekat itukah? Aku tidak pernah memikirkan bahwa Layla nanti akan menikah. Aku juga tidak pernah membayangkan bahwa dia nantinya akan di ambil oleh seseorang. Pergi, dan kemudian meninggalkan kami.
‘’Npo mboten kuliah, Layla, yah? Emen larene pinter ( Apa tidak kuliah, Layla, Yah. Eman, anaknya pintar)?,"
‘’Ya kuliah...Tapi lek jodoh ne wes teko, ya gak papa. Ibu mu biyen tak nikahi jik pas kuliah kok Le (Tapiz nanti kalau jodohnya sudah datang, ya gak papa. Ibu kamu, dulu, aku nikahin waktu kuliah juga,kok)." Jawab Ayah.
“Walah... Ayahk Iki. Madan Madani. La lek Kulo pripun, Yah (Ayah ini. Mirip-miripin, La, kalau saya gimana, Yah)? “ tanyaku dengan meringis.
‘’Kamu? Ya sak karep mu kapan nikahe. Saiki ya gak papa. Tak lamar ke bocah sing Endi sing mok senengi (Ya, Terserah kamu, kapan nikahnya? Sekarang pun gak papa. Aku lamarkan, anak mana yang kamu sukai)?" tantang Ayahmembuat ku ciut.
‘’Hehehe...Dereng, pak. Ampun!'’ Jawab ku kalah.
Jangan untuk pernikahan Layla. Aku sendiri tidak pernah memikirkan pernikahan ku. Aku sama sekali belum memiliki niat ke sana.
‘’ Bentar lagi kami umur dua puluh lima Lo, Le , Ndang golek. Ojo tuwek-tuwek lek nikah kui . Ibadah kok di tunda-tunda!"’
‘’Nggeh, Yah. Tapi sinten to pak sing purun kaleh Albi ( Tapi, siapa, sih? Yang mau sama aku)?‘’
‘’Akeh Lo bi. Awak mu ae sing gak kroso (Banyak Bi . Kamu saja yang tidak merasa). Ayah tiap ketemu koncone bapak mesti mereka nanyain kamu. Tinggal kamunya bagaimana?"
‘’Hehehe dereng pak, Ampun riyen. Kersane Albi lulus kuliah riyenm . Kaleh usahane Albi maju riyen.(Jangan dulu . Nunggu Albi lulus dulu . Sama usahanya Albi maju ).‘’ Kata ku meminta.
‘’Ya wes gak papa tenang ae. Bapak gak mekso.'’
Hatiku lega saat Ayah masih memberikan aku kebebasan. Aku sungguh belum memikirkan hal tersebut. Pertanyaan nikah lebih kejam dari pada pertanyaan kapan lulus.
Aku juga sedang membangun usaha ku sendiri. Meskipun masih kecil, tapi setidaknya aku bisa membantu keuangan keluarga dan juga bisa membiayai kuliah ku sendiri.
Aku juga tidak ingin terus-menerus membebani keluarga ini. Sudah saatnya aku membalas Budi. Walaupun sebesar apapun aku membalasnya itu tidak akan cukup. Mereka bagaikan malaikat yang di kirim Alloh untuk ku.
__ADS_1