
#Albifardzan
Kami memasuki rumah yang mereka sebut Dhalem Timur. Rumah berukuran besar dengan di kelilingi i pepohonan hijau.
Datang langsung di sambut oleh seorang santri membuat aku sungkan. Terlebih baru kali ini kami di jamu secara mandiri. Hampir tiga tahun Layla mondok, baru kali ini Nada mengadakan jamuan seperti ini.
Bagus. Aku bisa lebih memiliki waktu bersama Layla. Nanti aku juga bisa bercerita waktu malamnya. Menelpon ayah dan ibu lagi, agar rindunya lebih terbalaskan. Andai tahu akan di jamu, pasti aku memilih berangkat dengan Ayah dan Ibu. Tapi akan lebih sungkan lagi. Sebab kami bukan dari keluarga priyayi.
Dharma mengatakan jika alasan kami di jamu sebab aku dan Andre adalah teman dari Nada. Barangkali,Andre sedikit menjadi alasan kami di jamu seperti ini. Tapi masih saja seperti ada yang menjanggal tentang jamuan ini.
Lebih janggal lagi sebab ada Salwa yang ikut serta bersama kami. Was-was sebab sejak pertama kali kita bertemu tadi. Dia terus saja memasang wajah malu. Hal itu membuatku tidak leluasa dalam bertindak. Sebab aku tahu betul, bagaimana perasaannya kepadaku.
Jujur. Aku belum memikirkan apapun meskipun kita sempat berkomunikasi lewat WhatsApp. Tidak pernah juga ingin tahu lebih lanjut tentang dirinya.
Sebagai laki-laki waras. Salwa memang sempurna. Andre saja langsung terpesona sejak awal melihat fotonya. Dia pun seorang putri raja dari kerajaan pesantren seperti Nada. Pastilah terjamin segalanya, tentang nasab, ilmu dan Akhlak-nya. Tapi entah mengapa, hati ku masih belum bergetar layaknya orang jatuh cinta.
Malah saat ini aku memikirkan Layla yang ingin makan 'Oseng pepaya'.
Baru saja sampai, Layla dan temannya di ajak oleh Salwa menuju kamar di lantai dua. Mungkin Salwa sadar jika saat itu Layla sama sekali belum berganti pakaian. Apalagi pakainya yang sudah sebagian basah.
"Ini milikmu, NAD?'' tanya Andre
Matanya sudah bergerilya melihat seisi ruangan.
"Iya. Milik keluarga," jawab Nadia.
Dia menyuguhkan minuman hangat yang di bawakan oleh seorang santri Qodam-nya. Mempersilahkan kami untuk segera meminumnya.
Hawa dingin memang pas di temani secangkir teh yang masih mengepul hawa panasnya. Itu akan membuat badan kita akan berangsur hangat.
Seorang Qodam mengatakan jika makanan juga sudah siap. Ada di ruang makan.
"Makan nanti atau sekarang?" tanya Nada.
"Nanti saja. Sebentar lagi sudah magrib. Sekalian saja sehabis magrib. Biar lebih menikmati,"
"Ok, deh."
"Biasanya kamu juga jamu Albi kamu ini, NAD?" tanya Andre
__ADS_1
"Tidak! Kebetulan saja hari ini. Lagi pula, biasanya Albi ke sini ya buat jenguk adiknya saja. Gak pernah tuh, pengen ketemu aku," Jawab Nada.
"Lah, kan ya sungkan. Kamu di sini, Ning. Putri kerajaan. Aku siapa, Lo" Bantahku
"Kayak apa aja kamu," balas Nada.
"Biasanya padahal juga blusak-blusuk, kalau di rumahku," tambah Andre. Dia malah tidak membela ku.
Salwa turun dari lantai dua. Dia tidak kembali ke ruang tamu yang ada kami berada. Tapi menuju ruang lain yang entah apa. Sebab aku tidak tahu di balik tembok itu ruangan apa.
"Cie... Yang curi-curi pandang!" Seru Nada.
Ketahuan sebab aku melihat kehadiran Salwa. Aku hanya membalas godaan itu dengan senyum nyengir saja.
"Ada apa Antara Albi dan gadis itu. Sejak tadi aku melihat ada gesture yang tidak biasa?" tanya Andre
"Loh, kamu belum di ceritain tentang Salwa?" Nada terkejut sebab Andre belum mengetahui soal Salwa.
"Belum. Memangnya ada apa?'' tanya Andre. Dia mulai menatap ku lalu berganti menatap Nada. Mencari tahu apa yang di sembunyikan olehku dan Nada.
"Gak ada apa-apa,"balasku.
Nada malah menatap menggoda. Membuat Andre semakin curiga.
"Gak ada apa-apa," balasku.
Andre semakin mendesak. Dia bahkan mulai menunjuk ke arahku agar aku jujur dengan apa yang di sembunyikan.
"Atau jangan-jangan, kamu pacaran sama gadis itu?" Tebak Andre.
"Nggak! Bukan! Ngawur! Memangnya aku kayak kamu. Sekali dapat signal langsung di embat saja," balasku tidak terima.
"Tapi aku tadi juga lihat Nomer gadis itu di ponselmu? Gak usah bohong!" Andre masih tetap tidak percaya.
"Wah! Udah Wa-nan ternyata," gantian Nada yang menyahut dengan nada menggoda.
Andre semakin tidak percaya jika aku dan Salwa tidak ada hubungan apa-apa.
"Astaghfirullah... Billahi, aku gak pacaran sama Salwa!" Akhirnya kalimat itu cukup membuat Andre berhenti mencerca. Sebab jika aku sudah menyambung dengan Alloh dia percaya.
__ADS_1
Perbincangan kami terhenti saat Salwa datang. Aku melotot ke arah Andre agar dia bersikap biasa. Sebab malu, jika ketahuan sejak tadi kami membicarakan dirinya.
Dia langsung mendekati Nada. Membisikkan sesuatu di dekat telinganya.
"Kalian ke kamar saja dulu. Istirahat. Aku ke dapur dulu," katanya setelah Salwa berhenti membisikkan sesuatu di telinga Nada.
Salwa jika dekat seperti ini. Dia sama sekali tidak berani melihat ke arahku. Menunduk, menyembunyikan wajahnya dari tatapan ku dan juga Andre.
"Kamarnya yang mana?" tanya Andre.
Dia pasti yang paling gak sabar menuju kamar. Sebab badannya sudah di sangat kelelahan.
Nada mengarah, menunjuk pada salah satu kamar tengah yang terlihat di lantai dua. Itu artinya sebelahan dengan kamar yang di masukin Layla tadi.
Nada sepenuhnya percaya dengan kami berdua. Sebab tidak memberikan sekat pada santrinya untuk berinteraksi dengan tamunya. Iya, walaupun aku adalah kakaknya Layla, tetap saja ada Andre yang bukan siapa-siapa.
"Ok. Baiklah," balas Andre.
Aku berdiri,Andre melakukan hal yang sama.
"Nanti turun lagi pas jama'ah sholat magrib ya..." Pesan Nada.
Kami mengangguk. Lalu barulah setelah itu kami beranjak ke kamar yang telah mereka tunjuk.
Sesampainya di lantai dua aku di suguhi kamar yang ternyata berjajar banyak. Sudah seperti kos-kosan saja. Bedanya itu lebih seperti kamar hotel.
Kami memasuki kamar yang tadi di maksud Nada. Lebih takjub lagi, sebab ruangannya lebih besar dari kamarku di rumah.
"Ini mah, hotel bukan kamar," kata Andre.
Dia langsung merebahkan diri di atas ranjang berukuran besar.
Jika Andre saja yang laki-laki suka dengan kamar ini, apalagi Layla saat ini. Pantas saja dia betah di dalam kamar. Lawong kamarnya senyaman ini.
"Betah aku, mah kalau lama kayak gini," kata Andre.
Aku meletakkan tas ransel yang sedari aku bawa. Mengeluarkan baju ganti. Men-charge ponsel lalu beranjak ke kamar mandi.
Di kamar mandi lebih mengejutkan lagi. Sebab semua lengkap dengan shower air dingin dan panas. Pastilah, Layla betah di sini. Sedang apa dia? Nanti aku akan tanyakan bagaimana perasaannya saat ada di sini?
__ADS_1
Mungkinkah salah satu mimpinya adalah memiliki kamar seperti ini?
Haduh! Aku mau mandi, tapi pikiranku tentang Layla saja. Adikku satu itu, sama sekali tidak memberikan celah sedikitpun untuk aku memikirkan yang lainya. Layla!Layla!