
***
Rasanya percuma saja aku menggerutu. Pada akhirnya aku hanya akan kesal sendiri, dan lelah dengan sendirinya. Ku rampas langkah ku untuk segera sampai di lokasi tujuan ku.
Gedung dengan cat hijau tosca itu berdiri megah dia antar gedung lainya. Berhiaskan tiga pilar raksasa yang menjulang tinggi hingga lantai tiga, dan juga tangga bersilang berlantaikan marmer yang menjadikan penghubung antara lantai dasar dan lantai dua. Di sisi sebelah kanan dan kiri lantai dua, berdiri kokoh lagi tangga yang akan mengantarkan kita pada lantai paling atas gedung tersebut. Sebelum itu, kita akan melewati masing-masing dua ruangan kanan dan kiri.
Sesampainya di lantai paling atas kita akan di suguhkan langsung pemandangan rel kereta api yang terletak tidak jauh dari sekolah kami. Beberapa ladang, dan juga lahan yang bertumbuh pohon jati dan pohon lainya. Namun, sebelum itu kau akan melihat juga bangunan lantai dua milik kelas tiga dengan berbagai macam jurusan. Saat ini kelas itu, di gunakan oleh kelas satu dan dua, dan kami kelas tiga harus mengulang ruangan yang duluan pernah menjadi kelas kami, saat masih kelas satu. Bahasa enaknya, kita sedang bertukar kelas.
"Hah... Bisa-bisa aku langsing kalau begini terus setiap hari." Keluh ku setelah sampai di lantai paling atas. Baru saja aku melewati tangga paling akhir, dan langsung rukuk karena nafas ku yang ngos-ngosan. Memang dasar Ais, aku di tinggal sendiri. Dia sudah lebih dulu, menuju ruangan kami. Setelah mengetahui siapa pengawasan kami, dia menjadi tidak sabaran untuk cepat sampai ruangan.
"Lelah, Mbak? Perlu bantuan?" tanya seseorang yang tepat berada di belakang ku, ku lihat kakinya sudah menginjak satu lantai dasar dan satunya lagi masih terjaga di lantai tangga. Aku segera beralih dari posisi ku, dia terhenti karena aku menghalangi langkahnya. Setelah tubuh ku menoleh sempurna, ku lihat sosok itu leluasa.
"Pantas saja Ais mengajak ku cepat sampai ruangan. Pengawasannya saja, rajin seperti ini. Jam pertama belum juga di mulai, tapi dia sudah hampir sampai di ruangan kami." Gerutu ku dalam hati.
Kang Dharma menebar senyum sekali, lalu kemudian berlalu mendahului ku berjalan ke ruang paling ujung. Syukurlah, setidaknya tidak ada percakapan lagi di antara kami.
Setelah langkahnya agak jauh dari posisi ku, aku mulai melanjutkan langkah ku. Tidak mungkin, dia akan menghukum ku. Masih ada lima menit lagi untuk jam pertama. Tapi, anehnya tidak satupun siswa yang ada di luar kelas saat ini. Jalanan menuju ruangan hanya terlihat aku dan kang Dharma yang sudah ada di depan ku.
Baru sadar, setelah aku melihat ke arah jendela ruangan yang baru saja aku lewati. Jendela itu tidak kasat mata, tapi saat di perhatikan akan memperlihatkan banyak pasang mata yang sedang mengawasi kami, eh bukan hanya Kang Dharma yang sedang mereka awasi.
"Begitu antusiasnya mereka, hingga sampai seperti itu." Ujar ku dalam hati.
Aku sampai pada ruangan ku, dan kulihat semua teman ku sudah rapi duduk di tempatnya masing-masing. Tinggal satu bangku kosong yang berada di tengah-tengah kelas, dan itu punya ku. Kang Dharma juga sudah duduk di kursi guru. Dia sudah membuka lembaran-lembaran soal ujian di mejanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum.'' Salam ku seraya masuk ke dalam kelas.
"Waaikumsalam." Beberapa teman ku menjawab salam ku, tidak lupa satu suara laki-laki di ruang ini juga menjawabnya. Aku bisa merasakan dari ekor mata ku, jika dia sedang menatap ku.
"Mbak, yang telat bisa bantu saya?"
Deg. Baru juga aku mau duduk di bangku ku, tapi kang Dharma sudah memanggil ku. Dengan sebutan 'Mbak yang telat' pula. Rasanya ingin sekali menjitak kepalanya, jika dia bukan pengawasan ku saat ini.
Tanpa dosa dia tersenyum simpul dan akhirnya aku paksa untuk membalas senyum itu walau satu seperempat senti.
"Apa yang bisa saya bantu, Bapak?" tanya ku dengan mempertegas kata 'Bapak'.
Semua mata di ruang itu tertuju pada kami. Ulah apa yang akan di perbuatan sekarang?
"Wooo!!!"
Sontak membuat semua yang ada di ruangan bersorak menggoda. Aku tidak menyangka jika dia akan menjawab seperti itu, secara spontan pula. Wajah ku terasa panas, pastilah sudah berubah warna merah di sana. Antara menahan malu, dan juga amarah.
"Maaf_Maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kesan panggilan Bapak terlalu berlebihan. Aku hanya pengawasan di sini, bukan seorang Bapak Guru. Panggil sewajarnya saja." Tutur Kang Dharma dengan mata berseliweran dari mata satu ke mata satunya yang ada di depannya. Tuh kan, dia sangat menyebalkan.
"Tapi, jika tetap mau manggil 'Bapak' juga tidak apa-apa. Kesannya seperti di panggil istri sendiri saja." Tambahannya dengan fokus menatap ku.
Mendengar hal itu sontak membuat teman-teman ku berjingkrak-jikrangkrak. Mereka seperti ikan kepantasan yang kelebakan.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Maaf ya Mbak, saya hanya bercanda. Biar kalian gak tegang saja." Ujar Kang Dharma.
Semua kembali tenang seperti sediakala. Aku melangkah maju untuk mengambil kertas ujian itu dan langsung membagikan satu persatu pada teman-teman ku. Termasuk menyisakan satu soal untuk ku juga. Setelah selesai semua, aku beranjak duduk kembali di bangku ku.
Kang Dharma memimpin doa sebelum kami mengerjakan soal ujian. Memberikan wejangan jika kita harus teliti dalam membaca soal. Mengisi nama dan nomer ujian dengan benar dan tidak lupa tanggalnya. Hal itu juga akan melatih kita untuk terbiasa, agar saat ujian nasional tiba. Kita tidak lupa akan hal itu.
Ujian berlangsung tenang. Semua fokus dengan lebaran putih berisikan soal-soal. Tryout memang bukan ujian akhir tapi di sini kita di latih untuk mengenal satu persatu soal yang ada di dalamnya. Itu semua juga akan ada di saat Ujian Nasional.
Tidak ragu-ragu, Selama empat bulan ini kita akan terus di gembleng dengan ujian macam ini. Jika Minggu pertama untuk ujian tulis, minggu ke dua untuk praktek. Seterusnya begitu, hingga sampai kita menghadapi Ujian Nasional kami.
Lelah, pasti. Tapi, itu harus di jalani.
Detik terus berlalu, menyisakan beberapa soal yang belum bertemu jawabnya. Sedang Dharma berkali-kali memecah konsentrasi ku, karena dia berseliweran ke dalam dan keluar ruangan. Mungkin sedang mengusir bosan. Kadang juga berjalan mengitari kami dari depan ke belakang. Atau sengaja berdiri lama di belakang ruangan, bersandar tembok mengawasi.
Tidak aku sangka, hal itu membuat teman-teman kuwalahan untuk meminta contekan dari teman lainnya.
"Kurang sepuluh menit. Periksa lagi, jawaban dan juga data kalian. Pastikan semua sudah benar dan terisi semua." Suara Kang Dharma memecah sunyi.
Aku pun mulai mengecek satu persatu soal jawaban ku. Mulai dari nama panjang, nomer ujian dan juga tanggal. Kemudian barulah, meneliti kembali satu persatu jawaban yang aku anggap benar.
Bel berbunyi, tanda waktu berakhir. Semua kertas mulai di kumpulan di atas meja pengawas. Kang Dharma sudah duduk menata kertas jawaban kami, dan kertas soal di persilahkan untuk di bawa. Barang kali, bisa untuk mencari jawaban yang benar, dan untuk menambah pelajaran.
"Baiklah, silahkan istirahat. Kita bertemu lagi di jam ke dua. Assalamualaikum." Pamit Kang Dharma. Barulah setelah kami menjawab salamnya, dia keluar dari ruangan. Itu hal terlega ku hari ini. Entah mengapa, setelah dia tidak ada, seakan aku terlepas dari pasung yang sedari tadi menyiksa.
__ADS_1