
# Layla Najwa Fathurrohman
Aku kira keputusanku untuk menerima jamuan tersebut akan membuatku menambah waktuku bersama Mas Albi. Barangkali kita akan menghabis waktu semalaman untuk berbincang melepas kerinduan.
Namun ternyata, itu hanya hayalan. Menjadi bumerang sebab Salwa ada di antara kami semua. Dia hadir mencuri perhatian.
Salwa tidak salah. Aku yang salah, sebab merasa tersaingi sebab kesempurnaannya. Mata mas Albi akan sering ku lihat berbagi pandang dengannya. Perhatikan akan terpecah sebab ada pesona yang indah di depan matanya.
Laki-laki mana yang tidak tergoda akan kecantikan Salwa, Budi pekertinya dan juga nasabnya. Dia sempurna sebagai wanita. Sedang aku hanya rempahan yang sama sekali bukan apa-apa.
Mas Albi memperhatikan Salwa. Dia bahkan memberikan air minumnya untu Salwa saat dia tersedak. Hal itu terjadi di depan mataku.
Rasa lapar yang tadinya menguasai tiba-tiba hilang seketika.
Saat di meja makan aku sudah merasakan gelagat tak wajar. Suasana yang membuat hati terbakar.
Hatiku kembali dingin di saat Mas Albi datang. Menemui di dapur, menyuguhkan cerita jika dia bisa memasak makanan yang aku suka. Aku kembali tenang, sebab merasai kasih sayang. Percaya bahwa Mas Albi hanya memberikan perhatian itu kepadaku.
Belum lagi di saat kami melihat film di ruang tengah. Aku yang tidak terlalu menyukai filmya akhirnya merasakan bosan dan tanpa sadar tertidur di sofa.
Saat membuka mata, aku sudah ada di atas ranjang. Di tatap oleh Aisyah yang masih mengunakan mukenah.
"Jam berapa, Ais?" tanyaku setengah tersadar.
"Setengah empat," jawab Aisyah
Berlahan aku bangkit dari ranjang. Masih mengumpulkan kesadaran. Rasanya ingin kembali berbaring dan tidur pulas lagi. Akan tetapi mengingat jika hari ini kami harus menjaga stand lagi aku berusaha semangat kembali.
Entah bagaimana bisa Aisyah tetap mengistiqomah kan sholat malamnya meskipun di saat kami sedang tidak ada di pondok. Dia pun tetap bangun lebih awal seperti kebiasaannya. Padahal yang aku ingat kami menonton film lumayan larut malam. Eh, menonton film?
"Loh, aku kok di sini!'' seruku teringat jika tadi malam aku ketiduran.
"Melayang ... di atas awan. Terus berbaring di atas ranjang sendirian," balas Aisyah.
"Jangan bercanda, ah! Gimana ceritanya aku bisa sampai di sini? Kamu menggendongku?" tanyaku sambil berseru
"Gak mungkin kuat kali, berat badanmu hampir sama denganku. Belum lagi jalanan ke kamar harus menaiki tangga,"
__ADS_1
"La terus?"
"Coba pikirkan, atau ingat-ingat kembali. Barangkali kamu terbangun saat kamu di bawa ke kamar,"
"Ck! Masih pagi ini, kamu suruh aku berpikir."
Kesal karena Aisyah tidak langsung menjawab pertanyaanku. Malah bertele-tele meminta aku memikirkan sendiri.
"Aku gak sadar sama sekali, sumpah dah!''
Yang aku ingat adalah film yang tadi kami putar. Tentang hantu yang jatuh cinta pada manusia. Di saat akan selesai misi kekasih manusia itu sang hantu perempuan malah memperlambat pencarian tulang tengkoraknya. Tujuannya agar sang kekasih manusianya tidak jadi menemukannya dan mereka akan terus bersama. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
"Mas Albi ya menggendongku ke kamar?" tanyaku
Hanya satu orang yang berpotensi melakukan hal itu. Hanya satu orang saja yang memiliki hak akan itu juga.
Aisyah mengangguk. Aku lega. Sebuah senyuman menyala di bibirku.
"Kamu kok biasa saja, wa ..." Kata Aisyah
"Biasa gimana? Memang ada apa?" Tanyaku
"Nggak. Kan kamu juga tahu aku lagi tidur,"
"Bukan itu maksudku, tapi perasaanmu setelah tahu Mas Albi gendong kamu,"
"Perasaan? Ya legalah, biasa!''
"Padahal semalam aku lihat kalian berdua kayak suami istri yang mau malam pertama, Lo... Aku deg degan minta ampun!"
"Husst! Ngawur ngomongnya!'' bantahku.
"La gimana, ini pertama kalinya aku lihat adegan yang biasa di film-film terlihat nyata di depan mata. Mana Mas Albi manis banget saat gendong kamu, Ah! Mantap! Jadi pengen cepat nikah!"
"Apa hubungannya, Aisyah!"
"La paling aku di gituin pas nikah aja. Sama suami aku nanti. Aku kan gak punya Mas seperti Mas mu itu. So sweetnya, Masya Alloh..."
__ADS_1
Aku geleng-geleng seraya tersenyum.
"Mas Albi biasa gituain kamu ya, Wa?''
"Gak juga. Pas aku ketiduran aja palingan. Toh sejak kecil Mas Albi yang sering gendong aku," jawabku.
"So sweet banget kalian. Pantas aja kamu sayang banget sama Mas mu itu,'
Kembali aku layangkan senyum tanda persetujuan. Bukan hanya sayang Aisyah, aku bahkan cinta dengan mas ku itu. Tapi aku tidak bisa membangun perasaaan tersebut menjadi istana megah nantinya. Sebab itu mungkin bukan menjadi takdir kami nantinya.
"Aku mandi dulu, ya... Habis itu jama'ah subuh. Kita juga harus ke pulang ke pondok. Ngurusin bazar lagi," kataku.
"Andai hari ini bukan bazar pasti aku sudah memilih tinggal di sini lebih lama lagi," keluh Aisyah.
"Kalau bukan bazar, kita juga belum tentu ada di sini, Ais..." Balasku seraya bangkit dari dudukku. Beranjak ke kamar mandi.
Untungnya di sini ada dua shower yang bisa aku pilih. Air hangat dan air dingin. Mumpung ada disini pasti aku memilih air hangat. Berendam sebentar menikmati hangatnya air. Bermain dengan busa-busa sabun yang menggembul banyak sampai menutupi seluruh tubuhku.
Teringat ucapan Aisyah tadi jika aku dan Mas Albi seperti sepasang kekasih. Andai itu benar pastilah aku bahagia. Namun kenyataannya aku malah adik yang selalu ingin ia jaga.
Sering aku di gendong oleh Mas Albi. Meskipun aku sudah besar seperti ini. Sangking seringnya aku tidak merasa apa-apa dan bagaimana. Toh saat itu aku selalu tertidur, tidak mengingat apa-apa.
Adzan subuh terdengar. Lekas aku menyelesaikan ritual mandiku. Aisyah pasti mengomel sebab aku terlalu lama ada di kamar mandi.
Selesai mandi aku mengganti pakaian yang kemarin aku bawa. Lepas itu barulah aku dan Aisyah jama'ah. Jika berjama'ah dengan Aisyah aku selalu meminta dia yang menjadi imamnya. Sebab aku merasa tak pantas. Aisyah lebih baik dariku. Ke imanannya jauh di atas ku.
"Aku tadi barusan keluar, Ning Nada ada di kamar paling ujung dekat balkon utama." Kata Aisyah setelah kami selesai jama'ah.
"Oh iya? Jam berapa beliau datang? Dia juga tahu kemarin aku ketiduran?" tanyaku. Rasanya malu jika tahu aku kemarin malam menonton film sampai ketiduran. Lebih lagi sampai di gendong oleh Mas Albi ke kamar.
"Aku juga gak tahu. Yang pasti saat kita selesai nonton film beliau belum datang," jawab Aisyah. Aku bernafas lega.
"Alhamdulillah, bakalan malu aku kalau Ning Nada tahu aku di gendong Mas Albi kemarin,"
"Ning Nada enggak. Tapi kang Dharma sama Sarip iya,"
Aku melongo sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Berdoa sajalah, semoga dua orang itu tidak suka gosip yang aneh-aneh. Takutnya nanti di ceritakan ke teman-teman pondok, dan menyebar."
"Iya! Ya Alloh! Malunya aku,"