(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 28


__ADS_3

Setelah seharian perjalanan, aku mengira bahwa dia gadis jutek, dan tidak memiliki rasa manis sekali. Selama perjalanan, aku selalu berusaha untuk membuatnya, nyaman dengan banyak bertanya soal kepadanya. Tapi, dia hanya menjawab dua kalimat saja, antara 'Nggeh dan Mboten. Aku sampai gidik-gidik kepala, di buatnya.


Bis berhenti di Aula Muktamar. Aula pondok pesantren Lirboyo ini menjadi, pusat pemberhentian untuk rombongan santri kota Kediri. Dan, menjadi pemberhentian sementara untuk santri, kota lainya. Seperti, Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar.


Aku yang dari tadi, nongkrong dengan panitia lainya, di kejutkan dengan panggilan nomer yang tidak di kenal. Tanpa basa-basi, aku langsung mengangkat. Barulah, aku tahu, jika nomer itu milik wali dari Layla.


Suara dari seorang laki-laki, mungkin dia yang di maksud Ning Nada. Teman, satu pondoknya, dan teman yang telah mewanti-wanti dirinya untuk menjaga adiknya.


Jiwa iseng ku, bergejolak seketika. Aku meminta dia langsung mengambil Layla, dan sempat mengatakan jika dia ada di bagasi. Saat dia bertanya, di mana Layla sekarang?


Selang beberapa menit kemudian, aku melihat sosok itu. Dia berjalan, di antara kerumunan orang tua lainya. Dia yang paling muda, bahkan umurnya sepadan dengan ku. Langsung, ku hampiri dirinya, dan ku tebak siapa dirinya.


"Masnya, Layla?," tebak ku.


Dia terkejut dengan kehadiran ku yang tiba-tiba. Itu terlihat jelas dari mimik wajahnya. Aku tersenyum, untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Eh, kita sama-sama laki-laki. Tapi, aku bisa mengatakan jika dia ternyata tidak kalah tampannya dengan ku. Dan lagi, dia terlihat modis dengan hodie dan celana jinsnya. Cukup berkharisma, namun aku merasa bahwa wajah kakak adik itu sangatlah berbeda.


Dia langsung menanyakan adiknya itu. Seakan dia tidak sabar untuk bertemu dengan dirinya. Dengan segera, aku langsung menuju tempat Layla berada. Mengatakan bahwa kakaknya sudah menjemput dirinya.


"Di mana, Kang?" tanya antusias.


Wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat celsius, eh salah gak ada celsiusnya. Binar wajahnya langsung terpancar, bola matanya membulat sempurna, bibirnya merekah bak bunga menemukan musim kembangnya.


Ini untuk pertama kalinya, dia bertanya pada ku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat senyum di wajahnya. Ku rasakan, detik itu dunia seakan berhenti. Mataku pun, tak dapat teralih saat bibir merahnya tertarik sempurna, dia berpamitan dengan temannya, tapi seakan dia sedang mengungkapkan kebahagiaannya.


"Assalamualaikum,"


Tubunnya pergi, di hadapan ku. Sontak membuat ku tersadar, dan langsung membawakan barang bawaan.


"Tidak usah, Kang. Saya bisa sendiri." Sergahnya, saat aku mulai mengambil barangnya.

__ADS_1


"Kamu itu, titipan. Jadi, saya harus menjaga mu, sampai pada kakak mu di sana." Ujar ku, sontak membuat santri lainya yang ada di sekitar tempat kami, bersorak ria.


Dia hanya diam, dan lalu menundukkan wajahnya. Sungguh, manis bukan?


Ku antar dia sampai pada kakaknya. Dia langsung, mencium telapak punggung kakaknya, dan wajah berbinar itu terlihat lebih sempurna. Mungkin, itu pancaran kerinduan akan keluarganya.


Setelah itu mereka berpamitan, laki-laki yang bersamanya mengucapkan terimakasih kepada ku, karena telah menjaga adiknya.


Andai bisa ku ucap, bahkan selamanya aku siap menjaga dirinya. Tapi, aku hanya menelan kata itu sendiri. Hingga bayangan kakak beradik itu hilang, di antara banyaknya orang.


"Gus, sampun di tenggo kaleh rencang-rencang (Sudah di tunggu sama teman-teman)."


Tepukan tangan Sarip membuyarkan lamunanku. Aku langsung melihat beberapa santri putra sudah menunggu ku.


Setiap tahun, kami ke sini tidak hanya untuk mengantar para santri. Tapi, juga menyempatkan diri untuk berziarah pada makam pendiri pondok pesantren Lirboyo.


Letak makam ada di dalam pondok, perlu berjalan kaki lagi untuk sampai di sana. Karena waktu sangat mepet, dan kami harus melanjutkan perjalanan lagi, aku meminta mereka untuk naik becak.


"Kang, aku kok tiba-tiba pengen ke makamnya Mbah Wasil, ya?" Ujar ku, entah mengapa ada panggilan di dalam hatiku untuk sowan pada Mbah Wasil.


Sudah lama, aku tidak ziarah kubur di Setono gedong. Biasanya, setiap pulang dari pondok, atau mau berangkat dari pondok aku menyempatkan diri untuk mampir ke sana. Tapi, tahun ini entah karena kesibukan apa, aku sampai tidak sempat untuk berziarah. Dan malam itu, tiba-tiba aku ingin ke sana. Seperti ada dorongan, di dalam hati.


"Tapi, Gus. Ini sudah mau berangkat lagi, bisnya," bantah Sarip.


"Bilangin, ke umi ya...Aku pulang telat. Nanti, biar panitia lainya yang urus rombongan. Aku dapat wangsit kayak e, suruh sowan Mbah Wasil dulu." Ujar ku dengan nyengir.


Sarip memelas, dia sebenarnya santri pondok ku, tapi sama umi di suruh ikut aku mondok bersamaku. Dia juga sudah menjadi teman, sejak dulu.


Sebenarnya, kasihan. Pasti saat sampai di rumah nanti, dia pasti di marahi sama umi karena membiarkan aku pulang sendiri. Tapi, entahlah... Tiba-tiba hati ku bergerak untuk segera sowan ke Mbah Wasil. Dan itu tidak bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


Setelah bernegosiasi, akhirnya Sarip nurut juga. Dia pulang dulu, ke rumah, dan aku tinggal dulu di sini, aku pastikan jika malam ini aku pasti pulang. Tapi, nanti setelah aku berziarah ke makam Mbah Wasil.


Jalannya malam itu sangat ramai, dan hampir semua titik jalan macet. Namun, entah bagaimana, aku yang tadi hanya bisa menyewa sepeda ontel di Lirboyo, bisa dengan cepatnya mengayuh sepeda ku melewati jalanan malam itu. Melewati banyak jalan sempit, yang biasa di sebut jalan tembusan.


Sesampainya di sana, langsung aku letakkan sepeda ontel ku di parkiran.


"Pak, titip sepedah ku, ya!" Seru ku pada tukang parkir yang masih terbilang bapak muda. Dia melihat sepeda ontel ku , dengan tatapan rendah. Mungkin, itu tidak ada artinya, barang kali tidak akan ada yang mau mengambilnya juga.


"Titip, ya pak."Sekali lagi aku katakan, dengan menepuk bahunya. Sambil meminta karcis parkir, dia memberikannya dengan biasa.


Ku rogoh, isi sakuku dan kebetulan uang jajan ku masih ada. Ku berikan satu lembar uang seratus ribu, dia langsung mendongak kepala, melihat ku heran.


"Gak ada kembaliannya," Katanya


"Ambil saja, pak. Itung-itung, sebagai tanda terima kasih saya, sudah mau menjaga sepeda saya itu. Soalnya, itu juga bukan milik saya." Ucapku sambil menyeringai.


"Wah! Terima kasih, Mas. Aman pokoknya," Balasnya. Kini dengan wajah yang tidak lagi masam.


Aku tersenyum, dan kemudian melambaikan tangan. Ku lanjutkan perjalanan, menuju Makam. Langkah ku, agak lambat karena pengunjung membeludak, itu pertama kalinya aku ke Setono Gedong pada malam hari raya. Dan baru aku tahu, jika di saat malam ini, pengunjung lebih banyak, dari hari-hari biasanya.


Mencari tempat saja sulit, akhirnya aku menemukan satu tempat saja, untuk diri ku sendiri. Di pojokan makam, bersanding dengan kotak amal. Untuk, mencapai tempat itu, aku harus bejalan dengan lutut, karena banyaknya jama'ah yang sudah memulai tahlilan, dan yasinan.


Rasanya lega, saat aku bisa duduk. Aura makam, cukuplah hangat, bahkan dia katakan gerah. Namun, tidak lagi aku hiraukan, karena waktu ku sangat mepet. Ku mulai, bertawasul, membaca Al Fatihah seratus kali, dan setelah itu mulai membaca tahlil dan Yasin.


Meskipun, suara jama'ah saling bersahutan-sahutan tidak menjadi penghalang bagiku untuk Hidmat, dan menikmati setiap dzikir ku. Ku panjatkan, segala hajat dan juga memohon ampunan dari setiap titik dosa yang aku lakukan.


Baru saja, aku membuka mata ku. Baru saja, aku menghela nafasku setelah menyelesaikan dzikir ku. Mata ku, kembali terpaku. Pada sosok di seberang ku, terduduk dengan mengatupkan ke dua tangannya, bersamaan dengan kedua matanya yang tertutup. Tidak jemu, mulutnya komat-kamit entah mengucap doa, apa?


"Ya Robb...Baru saja, aku meminta ampunan, karena dosa-dosa ku, tapi saat membuka mata, kau hadirkan dia, tepat di depan mataku. Astaghfirullah...." Keluhku, ku usap wajah ku, dan ku tutup mata ku dengan ke dua telapak tanganku.

__ADS_1


Di hari itu, tepatnya di malam itu. Entah, sejak kapan? Hati ku mulai berdetak, dengan menyebutkan nama baru di dalamnya. Ya, nama yang tiba-tiba melekat begitu saja, Layla. Entah, apa yang sedang di negoisasi dengan Rabb-nya. Namun, semoga pencipta ku, bisa mengabulkannya. Amin.


__ADS_2