
#Arya Dharma
Baru saja aku keluar dari Masjid, awan mendung mulai merayap. Pastilah, setelah ini hujan akan turun. Lekas aku beranjak, mengganti pakaian olah raga lagi. Tidak mungkin juga aku memakai baju olah raga yang sudah basah akan keringat, sengaja aku menyiapkan dua kaos untuk aku gunakan untuk pertandingan ini.
"Kang Dharma?!" Panggil Ning Nada, dia sudah selesai menunaikan sholat juga ternyata.
"Sudah selesai sholatnya? Aku mau balik tanding. Kamu?" tanyaku
"Ikutlah..." Balasnya sumringah.
"Tapi, ini mau hujan. Gak takut nanti tiba-tiba hujan, terus gak bisa pulang?"
"Gak apa-apa,nanti juga ada yang ngantar payung kalau hujan." Balasnya.
Ku hela nafas panjang. Sepertinya dugaan Sarip memang benar. Ning Nada menaruh rasa lebih terhadapku. Bagaimana aku akan menjelaskan, jika saat ini aku tidak ingin menjadi Dharma yang suka bermain hati lagi. Bagaimana juga menjelaskan, jika saat ini berpaling memandang orang lain saja tidak bisa aku lakukan. Bagaimana, membuatnya sadar, jika ada hati yang ingin aku jaga keutuhannya.
Layla saja tidak pernah sekalipun menghianati ku, meskipun dia mampu. Dia tetap menjaga keutuhan kehormatannya untuk di berikan kepada pasangannya kelak. Saat aku berbicara, dan memandangi paras ayunya saja, dia langsung menundukkan kepala.
Benar, aku dan dia belum terikat apapun. Benar, jika saat ini hanya aku yang menganggapnya kekasih, sedang dia masih biasa saja. Tapi bukankah, sayyidina Ali juga pernah melakukan hal yang sama, menyimpan rasa terhadap putri Rasulullah Fatimah az Zahra dengan tetap mendekapnya, tanpa berani mengutarakannya. Dan lebih membanggakan lagi, ketika ternyata Putri Fatimah Az-Zahra juga menyimpan rasa yang sama.
"Kang, kok bengong?" tanya Ning Nada.
"Anu, Ning... Saya gak enek dari tadi di lihatin terus sama orang-orang. Barangkali, mereka sedang mengejek saya kerena telah berani mengajak kamu jalan berdua." Jawab ku, mengungkapkan alasan juga. Aku harap setelah ini dia akan mengurungkan niatnya untuk terus bersamaku.
''Haha, ya gaklah kang! Mereka juga tahu, kalau kita masih saudara." Ujar Ning Nada.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Alasan apa lagi, agar dia mau meninggalkan aku.
''Tapi, gak semua orang yang tahu." Balasku.
__ADS_1
"Masak? Siapa yang tidak tahu? Semua santri juga tahu kalau kamu masih sepupuku." Katanya
"Ada, kok yang gak tahu. Contohnya, lay_ emm... Anak-anak dari pondok lain." Jawabku gugup.
Hampir saja aku menyebut nama Layla. Yang aku tahu, hanya dia yang tidak tahu sebenarnya siapa diriku. Nyatanya, dia tetap bersikap biasa saja, setelah aku terang-terangan menunjukkan perhatianku. Berbeda, dengan gadis lainnya, yang akan kerap sungkan jika aku dekati dan sudah langsung menyodorkan hati.
"Eh... Itu bukannya Albi, dengan Andre?"
Ku edarkan pandanganku ke arah tujuan mata Ning Nada. Mas Albi sedang berjalan menuju tenda Layla, masih bersama laki-laki tadi yang dia akui sebagai saudara.
Awan hitam sepertinya mulai memporak-porandakan keadaan, sehingga membuat sebagian tenda di bersihkan.
"Laki-laki yang bersama Mas Albi itu siapa?" tanyaku masih terpaku dengan tingkah laku keduanya. Kali ini mereka mengantikan posisiku untuk membantu Layla melepas atribut tenda.
"Maksudmu, Andre? Dia teman Albi, dia juga satu angkatan dengan kami dulu. Kalau gak salah dengar, dia cukup terkenal di kampusnya sekarang. Kemampuan mereka berdua cukup terkesan, di atas rata-rata. Apalagi, Andre yang berlatar keluarga terpandang juga." Jawab Ning Nada.
"Kabarnya." Jawab Ning Nada dengan mengangkat kedua bahunya. Tanda kurang memastikan.
"Hah! Belum juga berperang, tapi sudah mendapatkan saingan." Ujarku tanpa sadar.
"Eh... Apa yang barusan kamu bilang?" tanya Ning Nada. Penasaran.
"Ti_Tidak ada. Hahaha... Hanya semakin gerah rasanya." Jawabku terbata. Menyeringai memastikan jika baik-baik saja.
Syukurlah, dia tidak lagi bertanya. Aku segera keluar dari serambi masjid. Melangkah kembali ke arah area pertandingan. Saat melewati tenda Layla, ingin rasanya mampir walau sekejap saja. Namun, nyatanya aku sedang di kawal oleh wanita pemilik wilayah saat ini. Ning Nada masih saja membayangi kemana langkah kakiku pergi.
Mendung tidak jera menampakan kegarangannya. Dia semakin memastikan tumpahan airnya. Sedang pertandingan masih menyisakan dua babak selanjutnya.
Mendapatkan konfirmasi dari panitia jika pertandingan tetap berjalan sampai benar hujan nyata jatuhnya. Aku pun segera mengambil ancang-ancang untuk langsung bergabung dan menyelesaikan pertandingan ini.
__ADS_1
Waktu kurang sepuluh menit lagi. Syukurlah saat aku tinggalkan tim masih bisa mempertahankan kemenangan. Butuh satu gol lagi dan kami akan masuk final.
Lawan kali ini cukup pintar dalam memecah strategi. Mereka langsung tahu, jika bola di kakiku tak mesti akan aku masukan sendiri nantinya. Mereka mulai merenggangkan penjagaan terhadapku. Terus fokus pada bola di kakiku, dengan berusaha merebutnya. Pemain lainnya berjaga di setiap pemain inti tim kami. Membuatku kuwalahan untuk memastikan ke mana aku harus mengoper bola ini.
Detik jam terus berlanjut. Tinggal dua menit lagi. Jika terus begini, yang ada hanya seri dan kami akan menambah waktu bertanding lagi. Akhirnya, aku putuskan untuk mengambil alih sendiri, menerobos semua pemain lawan, menuju gawang. Tidak segan-segan aku menendang bola itu langsung ke gawang.
"Golll Golll Goll!"
Teriakkan dari semua seporter terdengar nyaring ke dalam gendang telinga. Pandangan tak tentu arah seketika, karena timku langsung membopongku ke awan-awan. Menyoraki kemenangan dan memberikan pujian kemenangan. Padahal kami masih akan bertanding final esok harinya.
" Jenengan Joss tenan, Gus!" Puji Sarip seraya menyodorkan botol air minum kepadaku.
"Wes mujine (Sudah mininya) Aku mau lihat Layla dulu." Kataku. Menyerahkan botol air yang barusan aku teguk airnya setengah itu pada Sarip lagi.
"Eh... Jangan!" Seru Sarip. Dia menarik lenganku ketika langkahku sudah mantap ingin menemui Layla. Segera ku tepis tangan Sarip karena banyak yang melihat hal itu. Bisa jadi mereka sedang menatap aneh, ketika sesama pria sedang tarik-menarik seperti itu.
"Tadi sudah saya pantau. Masih ada kakaknya, laki-laki tadi juga masih bersama mereka. Jenengan jangan ke sana dulu. Ingat Gus, tarik ulur." Ujar Sarip.
"Tarik ulur- tarik ulur aja kamu. Laki-laki tadi juga naksir Layla. Jelas-jelas tadi di depanku dia berani gombalin Layla. Kalau aku gak gerak cepat, bisa-bisa Layla lebih memilih dia. Dia juga sama sepertiku, Lo... Malah udah sarjana. Kamu ini, tarik ulur- tarik ulur!" Marahku.
Mana tahu, apa yang sedang aku rasakan sekarang? Bagaimana aku bisa tenang jika yang bersama Layla sekarang terang-terangan menunjukkan perhatian. Secara akal tidak akan ada laki-laki yang datang dengan membawa persahabatan dengan tatapan mengemaskan. Ingatanku kembali pada beberapa waktu lalu, saat Andre_ nama lelaki yang mereka akui sebagai saudara. Dengan jahilnya menatap Layla dengan godaan penuh cinta. Kemana langkah kaki Layla pergi, dia pun siap di belakangnya. Meskipun aku tahu juga, jika mereka tidak sedang berdua saja. Tapi tetap saja, itu sudah memicu kecemburuan dalam dada.
"Maaf, Gus. Bukannya tidak mengizinkan, tapi..." Sarip berhenti berkata, matanya mengisyaratkan untuk aku ikuti arahnya. Dan dia berhenti pada sosok Ning Nada, dan sudah melambaikan tangannya.
"Gimana, tho, caranya biar wanita gak ngejar-ngejar kita?" tanyaku pada Sarip dengan nelangsa. Aku lelah berpura-pura.
"Kalau itu saya kurang tahu, Gus. Apalagi konsepnya wanitanya, Ning Nada." Jawab Sarip.
Hah. Aku hela nafas dalam. Barangkali sosok itu cukup sulit di hindari karena menyandang barokah kyai kita. Lalu bagaimana aku harus menghadapinya?
__ADS_1