(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 20


__ADS_3

"Assalamualaikum..." salam Albi, Ayah dan Ibu hampir bersamaan.


''Waalaikumsalam...."


Aku segera bergegas menyambut mereka.


Seperti tradisi kami. Setiap sepulang dari sholat Ied kami akan bergantian sungkeman. Mulai dari Ibu ke Ayah, dan kemudian Mas Albi, terakhir aku.


Ibu pernah bilang, bahwa sungkeman bukanlah tentang saling memaafkan saja. Tapi juga tentang kerendahan hati, wujud terima kasih dan juga yang paling utama adalah penyadaran diri pada jiwa-jiwa muda untuk selalu menghormati orang yang lebih muda.


Tidak asing lagi, jika saat sungkeman dia antara kita pasti ada yang menangis. Terutama ibu, beliau selalu menangis saat meminta maaf pada Ayah. Entah, padahal ibu termasuk istri yang Sholehah. Yang tak pernah mengeluh, ataupun membebani Ayah.


Namun tetep saja, saat sungkeman beliau selalu meminta beribu maaf dan keikhlasan kepada suaminya. Saat itulah, kadang air mata ku turun tanpa di sadari. Begitu bersyukurnya aku di lahirkan oleh mereka. Berada dia antara keluarga yang saling menjaga dan mengasihi satu sama lainnya.


Setelah ibu selesai sungkem, giliran Mas Albi dan kemudian aku. Kita tidak banyak berbicara, masih seperti anak lainya yang meminta maaf dan kemudian meminta doa. Kemudian meminta jatah lebaran.


Meski sudah dewasa aku tetap mendapatkan pesangon dari orang tua ku. Tidak lupa juga, beberapa tahun terakhir Mas Albi juga memberikan jatah lebaran kepada ku.


''Alhamdulillah, tidak sia-sia aku shodaqoh beliin baju Mas Albi kemarin!'' Ujar ku senang. Melihat jumlah isi amplop lebih banyak daripada tahun kemarin.


''Ooo....Jadi niat nya biar dapat banyak gitu? Alasan awalnya beliin, biar mas sama ibu kasihan terus lebihin jatah lebarannya, gitu?"


"Haha....Ketahuan, ya?'' Balas ku. Meski aku sebenarnya tak memiliki niat seperti itu.


Mas Albi langsung gemas memeluk ku. Mengacak-acak hijab ku. Hal kecil, namun sukses membuat ku bahagia. Menjadi alasannya bahagia saja, itu sudah membuat ku berarti.

__ADS_1


''Sudah-sudah. Ayo kita makan!" Ajak Ibu. Beliau sudah berada di meja makan, menyiapkan piring-piring untuk kita buat makan.


Dengan berlari kecil aku langsung menuju meja makan. Di susul mas Albi yang masih ingin menggelitik ku. Kami masih saja ramai dengan saling membenturkan sendok dan garpu kami, juga bermain injak-injak kaki. Kedewasaan kami hilang seketika, saat bersama.


Orang tua kami, tidak ambil pusing dengan tingkah kali. Hal itu biasa terjadi saat kami sedang bersama, apalagi setelah bertengkar. Dengan sabarnya ibu menyajikan nasi di piring kami satu persatu.


''Kamu mau pakai apa, Nduk?'' tanya Ibu. Beliau sedang membawa piring ku dan tangan satunya membawa sendok besar untuk mengambil lauk yang akan ku pilih.


''Nasi aja Bu, biar diet. Kayaknya gendutan, dia!'' Sahut Mas Albi.


Aku cemberut, melototinya ''Pakai ayam sama sambel goreng aja Bu, acarnya sekalian.'' Jawab ku.


''Anak gadis makannya banyak. Gak takut gendut?!" Ejek Mas Albi. Dia masih saja menggoda ku. Dia masih saja ingin mencubit pipi ku. Aku berusaha mencegah tangan-tangannya itu, untuk tidak berhasil mencapai pipi gembul ku


''Kamu, Bi. Lauk mu apa?'' tanya Ibu


''Sudah-sudah guyonannya. Makan dulu, baru setelah itu kita silaturahmi ke tetangga. Nanti keburu siang.'' Kata Ayah. Melerai kami berdua. Baru lah setelah itu kami diam dan mulai makan.


''Waw! Masakan ibu sangat lezat! Aku benar-benar rindu masakan rumah.'' Puji ku. Aroma, dan cita rasanya sungguh menagih lidah untuk terus menikmatinya.


Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa merasakan hidangan yang di buat ibunya. Masakan yang ia selalu rindukan saat di pondok. Masakan yang tiada bandingannya.


Tapi bukan berarti masakan pondok tidak lezat . Hanya, pasti ada beberapa resep yang berbeda yang digunakan oleh tukang masak dengan ibunya. Karena itulah, masakannya terasa berbeda. Lagipula, seorang anak pasti menyukai masakan ibunya. Karena beliaulah, manusia pertama yang menyuapinya sesaat setelah mereka di lahirkan.


''Masakan ibu selalu terbaik sejagat raya, kata Ayah." Sahut Albi sambil melirik ayah.

__ADS_1


''Yo mesti, tho. Istri ku!" Puji Ayah. Sambil mesem-mesem melirik ibu. Aku dan Mas Albi sontak tertawa melihat beliau berdua.


Memuji makan saat sedang makan adalah wujud rasa syukur dari hamba kepada sang pencipta. Apalagi memuji makanan di depan orang yang sudah memasaknya, itu kan membuat dia yang memasaknya merasa senang. Dan itu adalah ladang pahala yang kadang orang tidak sadari.


Selesai makan kami melanjutkan kegiatan untuk bersilaturahmi ke tentanga. Baru saja akan keluar beberapa tetangga datang untuk bersilaturahmi. Membuat kami mengurungkan niat, dan lebih memilih mengutamakan tamu-tamu yang datang.


Aku bergantian menyalami para tamu, ikut menemui mereka dan berbincang-bincang. Sebagian dari mereka bertanya tentang sekolah ku, dan juga kegiatan di pondok yang aku tempati. Sebagian lagi, menanyakan kelanjutan ku setelah nanti lulus dari Aliyah.


Sudah hal biasa jika para tetangga menanyakan hal tersebut. Karena memang anak pondok, jarang mereka temui. Sekalinya bertemu akan menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan mereka yang sekolah di rumah. Tanpa harus di tanya mereka sudah tahu kegiatan apa saja yang lakukan selama ini. Hal tersebut, bukan hal yang membuat orang ingin mengetahuinya.


''Lanjut kuliah atau tetap di pondok nanti, Mbak?" tanya Bu Eko.


Setahu ku dia istri dari pak RT kompleks kami . Namun yang, pernah ku dengar, terkadang Bu Eko suka mengurusi kehidupan para tetangganya. Entahlah, aku pun hanya mendengar dari teman-teman ku di sekitar sini. Itupun mereka tahu dari ibu-ibu mereka.


Aku tidak bisa ikut membenarkan hal itu, karena memang selama di pondok aku tidak mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di sekitar rumah ku. Ibu pun juga tidak pernah membicarakan hal tersebut .


''Belum tahu Bu. Kalau pinginnya, sih kuliah." Jawab ku dengan senyum tipis.


''Mau kuliah di mana? Jaman sekarang anak setelah mondok terus kuliah, mondok nya bertahun-tahun gak ada artinya Lo. La piye? di pondok pakaiannya brukut dari atas sama bawah. Mbasan di kampus, pakai celana legging, kelihatan semua aurat nya. Bukannya itu namanya percuma?!'' Ujar Bu Eko menggebu-gebu.


''Tapi Insya Alloh, Layla gak akan seperti itu, kok Bu.'' Sahut Mas Albi


Ah! dia penyelamatan ku. Aku memandangnya dengan tatapan haru. Apa yang di katakan mas Albi itu juga jawaban ku. Meskipun nanti aku kuliah, aku akan tetap menjadi aurat ku. Tetap memakai pakaian yang akan menutup aurat ku dan bentuk tubuh ku .


''Mugo-mogo tenan koyok ngunu. Bocah saiki, kadang anggel di percoyo. (Semoga seperti itu. Anak sekarang susah di percaya).'' Ujar Bu Eko.

__ADS_1


Aku hanya mesem saja menanggapinya. Setelah itu orang tua ku, langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kegiatan apa saja yang akan di perbarui di lingkungan mereka. Itu jauh bermanfaat menurut ku, dari pada harus membicarakan permasalahan pribadi.


Tapi apalah daya? Terkadang kita kalah tua dengan mereka yang sudah lebih banyak usianya. Tidak baik juga, jika membantah perkataan mereka.


__ADS_2