
# Layla Najwa Fathurrohman
"Kamu masih mikirin itu? Ngapain? Ya biarin lah. Ya, kalau ada. Kalau memang kang Dharma asli mau bantu kita, gimana? Mending saranku, gak usah menerka-nerka deh."
"Ck. Kamu mah, gak asik. Di ajak gosip, lempeng aja."
"Ya lagian, kang Sarip juga bilang kan. Mereka mau bantu kita gak ada maksud apa-apa. Ya udah, ngapain juga nyari sesuatu yang ujung-ujungnya nambah pikiran aja. Mana gak ada untungnya."
"Iih... Ngomongnya..."
"Apa? Ada yang salah?"
"Ya gak sih, cuman ya... Namanya juga penasaran mau gimana lagi. Tapi bayangin, kalau memang ada berarti cewek itu beruntung ya... Di cintai secara diam-diam."
"Ngapain di bayangin? Udah ah, makan! Keburu dingin lagi, ni...,"
"Kamu mah, iih... Kalau gak mau bahas ya udah. Tapi dengerin aja Napa, kan aku mau berimajinasi."
"Iya... Iya... Terserah."
Aku mulai menikmati makanan di depanku. Aisyah terus membayangkan hal yang ia paksakan ada.
Kang Dharma dengan tiba-tiba datang sebagai pengawas. Padahal dari tahun-tahun yang lalu sama sekali dia tidak pernah turut andil dalam perkara sekolah formal. Ya, kecuali saat dia masih menjadi siswa.
Kemunculan dia di tengah-tengah kita cukup memicu perhatian dari kelas lainya. Tidak berhenti menjadi pengawas, dia tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu mempersiapkan stand bazar kami, walaupun itu lewat kang Sarip tapi tetap saja, semua juga tahu jika kang Sarip adalah kaki tangannya.
Namun sampai saat ini, tidak ada yang tahu apa yang menjadi penyebab dia melakukan hal itu semua.
"Cinta memang gila, ya... Semua bisa di tebas. Meskipun itu harus menaruhkan harga dirinya."
Aku ngakak mendengar ungkapan spontan dari Aisyah.
"Kok ketawa?"
"Haha, lucu aja. Aneh juga, kamu bukan siapa-siapanya Kang Dharma tapi keponya sampai segitunya."
"Ya kali, Najwa! Siapa sih, yang gak kenal Arya Dharma! Dia masih saudara dari Ning Nada. Seorang Arya Dharma, menjadi pembantu kita."
Aku semakin ngakak, saat Aisyah menurun nadanya saat menyebut kang Dharma sebagai pembantu kami.
"Faktor keberuntungan kali ya.... Jadi ya, kita nikmati saja. Kalaupun memang ada yang dia incar, semoga ceweknya peka dan menghargai pengorbanannya."
__ADS_1
"Yaps... Dan kita harus berterima kasih dengan cewek itu. Berkat dia, separuh dagangan kita sudah sold out!"
"Eh, kok bisa?"
"Ya kan besok kita yang nyediain makanan buat anak futsal. Kang Dharma yang pesan khusus buat teman-temannya besok."
"Ooh...Aku baru tahu, jadi penasaran siapa yang dia incar sebenarnya."
"Nah, kan! Mana ada undang di balik gorengan. Kalah pun ada pasti udah di makan."
"Hahaha... Apa-apa itu, peri bahasa dari mana?"
"Dari Aisyah!"
Gara-gara ngobrol ngelantur mie yang seharusnya habis dengan waktu lima detik sampai setengah jam masih sisa aja. Awalnya medidih menjadi mengembang lagi.
Tentang cinta yang saat ini kang Dharma perjuangan. Iri juga, setidaknya dia bisa berjuang untuk mendapatkan cintanya. Tapi bagaimana dengan aku? Berjuang pun aku sudah tau pasti akhirnya. Tidak akan bersama. Rasanya sia-sia. Namun masih saja, aku tidak ingin kehilangan rasa cinta yang saat ini mendera.
Qois, mungkin ini yang Layla rasakan. Perempuan bisa saja menunggu selama apapun itu, namun bisakan laki-laki memastikan jika penantiannya tidak sia-sia.
Jadi kangen sama Mas Albi, dia sedang apa ya... Mungkin gak dia juga memikirkan aku? Ah! Mas Albi, dia adalah bentuk nyata yang terasa fatamorgana.
"Habis, Lo... Kamu tiba-tiba ngelamun apa?"
"Gak apa-apa. Tiba-tiba kangen rumah. Lama gak di jenguk masku,"
"Oalah... Kangen Mas Albi? Besok kalau kesini, nyambang kamu boleh lah aku di kenalin."
"Halah, kamu sama saja kayak yang lainya."
Aisyah meringis sambil tertawa renyah.
"Kali aja, aku bisa daftar jadi kakak iparmu."
"Idih... Ogah!"
"Loh... Loh... Kurang apa aku ini! Banyak yang bilang, aku ini cantik dan manis Lo... Juara kelas terus. Pastinya kamu juga sudah klop sama aku. Jadi nanti, kalau jadi keluarga gak harus adaptasi lagi. Udah pas! Klop!"
"Haduh... Udah ngomongnya. Kok ngelantur. Ayo, tidur. Besok kerja kita."
Entah mengapa aku masih belum terbiasa membicarakan tentang mas Albi dengan siapapun. Meskipun dia adalah Aisyah, sahabatku sendiri. Rasa takut selalu tiba-tiba menyergap, takut tiba-tiba kehilangan Mas Albi. Posesifku inilah, yang kadang selalu menghalangi siapapun yang dekat dengan Mas Albi mundur secara berlahan.
__ADS_1
Bahkan teman kampus Mas Albi yang berusaha pedekate lewat aku langsung putar balik, sebab aku sama sekali tidak mengindahkan keinginan mereka.
"Kamu itu, posesif banget sama Mas mu. Biasanya, normalnya adik perempuan akan jeli memilihkan pasangan untuk kakak laki-lakinya. Bahkan dia mencarikan jodoh untuk kakaknya yang satu frekuensi sama dia."
"Aku beda. Aku gak seperti itu. Lagian mas Albi masih belum mikirin nikah."
"Yah... Kamu aja kali yang gak peka. Mana ada laki-laki yang gak mikirin nikah? Apalagi umur mas Albi udah sepantasnya untuk menikah. Kita aja, kadang udah mikir nikah."
"Ck. Gak! Mas ku belum mau nikah! Buktinya kemarin di tawarin Salwa, mas ku lempeng-lempeng aja. Gak mikirin sama sekali."
Aku membantah keras.
"Eh! Beneran? Jadi ada kesempatan doang, aku."
"Udahlah... Cari yang lain. Jangan mas ku! Atau kamu sama kang Sarip. Cocok tuh, kalian. Klop!''
"Kok ya nyambungnya ke kang Sarip. Jauh banget."
"Kali aja nyambung. Kalian kan sering ngobrol bareng."
"Boro-boro ngobrol, berantem iya!"
"Lah, itu... Kadang suka lewatnya pertengkaran dulu, nanti lama-lama candu."
"Ogah ah! Nauzubillah..." Aisyah sampai bergidik.
"Jangan gitu, kualat entar."
"Ih.. apaan! Ogah ya ogah. Masa aku yang se begitu lumayan sempurna bersanding sama Kang Sarip itu. Ke enakan dialah!''
"Ssstt... Ngegas banget kamu. Ya santai aja, kali kalau gak suka. Jangan ngegas gitu."
"Tuh, kan... Salah lagi."
Aku cengengesan. Hilangkan pikirannya tentang Mas Albi.
Maafkan aku ya Aisyah, kamu memang teman baikku. Tapi, aku belum siap jika harus memberikan Mas Albi, andai kamu tahu bagaimana perasaanku. Barang kali kamu tidak akan menawarkan diri seperti itu.
Kadang aku ingin menjadi orang lain sepertimu, yang bisa berharap kepada Mas Albi. Yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Namun aku pun tak kuasa mengubah takdirku. Jika aku adalah adik tirinya.
Barangkali inilah yang terbaik. Andai aku bukan siapa-siapa Mas Albi, mungkin aku juga belum tentu mendapatkan hatinya. Setidaknya saat aku menjadi adiknya, aku sudah mendapatkan separuh perhatian, hatin dan prioritasnya.
__ADS_1
Sekarang tugasku adalah belajar, memahami lagi bahwa Alloh selalu memberikan kebaikan kepada umatnya melebihi apa yang umat itu inginkan dan rencanakan.
Berlahan aku sendirilah yang nanti melepaskan pegangan tangannya. Membagi senyum manisnya untuk yang lain. Mempersilahkan waktu untuk yang nanti menjadi tanggungjawabnya. Hingga saat itu tiba, aku berdoa semoga aku diberikan ruang yang bisa membuatku tidak lagi mengharapkannya. Semoga saat itu tiba, ada seseorang yang bisa menenangkan jiwa.