
''Le , kapan nyusul adik mu ( Kapan, jemput adik,mu),?
Ayah datang ke kamar. Dia sudah lima kali dalam sehari ini menanyakan hal yang sama . Beliau sudah kangen dengan Layla.
''Ini, Albi mau berangkat, Yah.''
Baru saja aku selesai ganti baju, dan berbenah. Ku hampiri Bapak dan menjabat tangannya untuk berpamitan.
''Nanti, jangan langsung di tanya macem-macem, Layla nya...Biar dia pulang, istirahat dulu."
Ibu, beliau juga tidak sabar menunggu. Aku tersenyum untuk mengiyakan.
''Nggeh,Buk.''
Aku juga menyalami ibu sebelum berangkat.
Hari ini ramadhan terakhir tahun ini. Tidak seperti Ramadhan tahun-tahun kemarin. Biasanya setelah magrib kita sudah bisa kumpul - kumpul di rumah, atau menyaksikan Festival takbir di masjid. Tapi kali ini aku masih akan menjemput Layla di Muktamar.
Yah, perubahan sikap Layla tidak berhenti sejak malam itu. Namun berlanjut hingga saat dia mengabari tidak ingin di jemput di malam Nuzulul Qur'an
Malam di mana sudah menjadi tradisi pondok yang di tempati Layla mulai meliburkan santrinya. Liburan yang paling panjang dari liburan lainya . Biasanya, tiga Minggu lamanya. Pernah juga satu bulan.
Saat itu dia hanya mengirim pesan lewat nomor pondok agar tidak menjemputnya. Dan dia akan pulang bersama rombongan pada akhir Ramadhan.
Aku yang di beritahu isi chat tersebut juga kaget. Dan langsung menghubungi nomer pondok tersebut. Beberapa kali aku menelpon, tapi tetap tidak di sambungkan. Entah karena sibuk, atau alasan lainya.
Hingga akhirnya aku menghubungi Nada. Dia satu-satunya yang bisa membantu ku menghubungkan langsung dengan Layla.
Berharap mendapat sedikit kabar keadaannya dan juga bisa meyakinkan untuk aku jemput saat liburan besok.
Dan benar, Layla tunduk takdzim dengan Nada. Dia terlihat sungkan dan malu saat mengetahui aku menelponnya lewat Neng nya itu. Membuat ku yakin, jika nanti aku akan sukses membuatnya menurut.
Namun ternyata tetap. Di kekeh dalam pendiriannya, Nada yang aku harapkan malah berbanding berbalik melawan ku. Memihak Layla, yang ingin pulang malam lebaran.
''Kalau Adek mu mau pulang malam lebaran ya gak papa Bi. Nanti aku pasrah ne Kang Dharma wes.'’ Kata Nada saat itu.
Dia menyela di tengah-tengah pembicaraan ku dengan Layla. Padahal kurang sedikit lagi aku merayu adik ku, pasti dia akan manut. Tapi, Hah, Nada menambah keteguhannya.
Dan siapa kang Dharma?
Aku akan mengetahuinya nanti. Nada memasrahkan begitu saja pada santri yang bernama Dharma. Tanpa aku tahu siapa, dan bagaimana dia.
Aku harap dia laki-laki baik. Aku langsung meminta nomer ponselnya Kang Dharma, untuk mewanti-wanti jika ada apa-apa dengan Layla nantinya.
Jalanan raya sangat riuh. Kendaraan begitu padat. Banyaknya orang keluar merayakan takbiran. Truk dengan sound system' cukup besar berjajar memenuhi jalanan.
__ADS_1
Sayangnya, hal tersebut malah membuat hati miris. Mereka menyetel kaset takbiran. Tapi yang berada di atas truk sama sekali tidak mengindahkan gema takbir tersebut. Banyak dari mereka hanya menikmati keramaian dan menjadikan seolah itu pesta atau kebebasan. Berpakaian dengan hanya pakai kaos oblong, atau bahkan sampai melepas pakainya dan memutar-mutar pakainya dia atas kepala mereka.
Gaya musik jaman sekarang pun di padu-padannya kan dengan kalimat takbir. Ada yang dengan nada Rock, Remix, dangdut, kroncong, dan lain sebagainya.
Dreeett Dreeeett Dreeeett
Ponsel di atas dasbor bergetar. Tanda ada panggilan masuk.
Nomer tanpa nama, tanpa mengambil pusing aku langsung mengangkat panggilan tersebut.
''Mas, Layla pun dugi muktamar. Sampean teng pundi ( Mas, Layla sudah sampai di Muktamar. Kamu, di mana)?,''
Hati ku seketika berembun. Mendengar suara di balik ponsel. Alhamdulillah dia baik-baik saja.
''Sudah hampir sampai, Nduk. Tunggu sebentar nggeh....''
'' Nggeh. Layla tunggu di lapangan sebelah timur, Nggeh? ''
''Siap!''
''Nggeh, pun. Ngoten mawon, Niki hape ne rencang'' ( Ya sudah. Sampai di sini dulu, ini hape, punya teman). Wassalamu'alaikum...''
''Waalaikumsalam.''
Karena kemacetan yang tak terduga. Aku baru sampai di Muktamar lima belas menit setelah di telpon Layla.
Mobil yang datang menjemput juga ternyata juga cukup banyak. Tidak heran, Muktamar tempat strategis untuk menjadi terminal pemberhentian atau tempat berkumpulnya rombongan.
Muktamar sendiri sebenarnya sebuah Aula. Milik pondok pesantren terbesar di Kediri. Di sana juga memiliki lapangan yang sangat luas. Setiap tahunnya menjadi tempat pemberangkatan rombongan jamaah haji dari kota Kediri.
Setelah memarkir mobil aku mencari Layla. Karena banyaknya rombongan membuat ku sedikit kesulitan. Dan dia hanya bilang ada di sebelah timur lapangan.
Aku mengecek ponsel ku mencari nama Kang Dharma pada kontaknya dan langsung menyambungkan dalam panggilan. Nomer yang di buat nelpon Layla sudah tidak tersambung, mungkin saja temannya sudah tidak bersama Layla.
''Assalamualaikum, Kang. Saya, Masnya Layla''
''Waalaikumsalam, Nggeh Mas."
''Kang Dharma, Nggeh? Maaf, apa Layla kaleh sampean Mas?,''
''Oalh, Masnya Putri malu, eh...Layla?''
Aku terdiam sejenak, barusan dia menyebut Putri malu. Apa maksudnya?
''Wonteh, Mas. Alhamdulillah aman Adek nya. Monggo Enggal di Pendet (Silahkan, cepat di ambil)!"
__ADS_1
Aku sedikit terkekeh mendengar jawabannya. Memangnya Layla barang apa?
"Teng, pundi (Di mana)?,''
''Bagasi, Mas!. La, enggeh teng Pos tho, Mas. Niki, adik e sampun saget di pendet. Selak nangis mengke ( La, ya di Pos, Mas. Ini adiknya, sudah bisa di ambil. Cepat, keburu nangis)."
Sebelum panggilan itu di akhiri. Dia mengatakan jika, Layla ada di pos nomer tiga.
Aku celinguk - celinguk. Baru sadar jika ada beberapa pos di pasang. Karena ini pertama kalinya menjemput Layla seperti ini jadi aku kurang faham. Layla sendiri tadi hanya mengatakan sebelah timur saja.
Aku berjalan ke arah pos tiga, yang ternyata sudah tadi ku lewati. Cukup ramai, ada beberapa sudah bersama wali santrinya.
Samar-samar ku lihat Layla sedang duduk bersila dengan teman-temannya di dalam Pos. Dia belum melihat ku, sedang asyik bercanda dengan temannya.
''Masnya, Layla?"
Aku di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba di depan ku. Dia kang santri dengan kaos Hitam lengkap dengan jas almamater. Sarung yang dominan warna gelap dan juga jam tangan melingkar di tangannya.
Senyumnya mengembang . Membuat ku bergidik saja. Andai dia pakai kerudung, mungkin banyak yang mengira kalau dia seorang wanita.
Kulitnya putih bersih, wajah dengan jambang tipis, di samping pipi dan juga lesung pipi.
''Iya,"
"Alhamdulillah, gak salah saya.''
''Laylanya, mana?," tanya ku langsung.
''Saya panggilkan dulu. Jenengan rantos kedap (Kamu, tunggu sebentar)."
Sebelum juga aku jawab. Dia sudah ngeloyor pergi menghampiri Layla. Dia berbicara sebentar, setelah kemudian Layla melihat ke arah ku. Dia melambaikan tangannya dengan senyum manis khas-nya.
"Syukurlah, dia baik-baik saja. Sepertinya suasana hatinya juga membaik juga." Batin ku.
Beberapa saat kemudian, Kang tadi yang menemui ku membantu membawakan barang-barang Layla. Meski tadi ku lihat Layla sempat menolaknya, tapi kang tersebut tetap membawanya. Membuat teman-teman lainya menggoda mereka berdua. Terdengar riuh sorakan 'Cie-Cie' dia sekitar mereka.
Gemas melihat mimik Layla saat di goda teman-temannya. Dia hanya menunduk malu, dan kemudian melangkah terlebih dahulu menghampiri ku.
''Assalamualaikum, Mas.''
Layla menjabat tangan ku dan mencium punggung tangan ku.
''Waalaikumsalam, Nduk.''
Balas ku dengan mengelus kepalanya. Dia tersenyum segar setelah kami bertemu. Pipinya yang gembul semakin mengembang saat seperti itu. Membuatku ku ingin mencubitnya.
__ADS_1