(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 71


__ADS_3

#Arya Dharma


Selesai makam malam. Kami di perbolehkan istirahat di kamar-kamar yang telah di sediakan.


Masih terlalu awal untuk tidur. Biasanya santri baru tidur paling awal jam sepuluh malam. Sedang saat ini masih pukul delapan malam.


Ning Nada pamitan untuk pulang duluan ke pondok. Sebab dia memiliki kewajiban untuk mengajar para Santri. Salwa pun ikut kembali. Sebab tidak pantas jika di biarkan sendiri. Meskipun iya, ada Layla dan Aisyah di sini.


Sepertinya Salwa belum menemukan kecocokan pada calon adik iparnya dulu. Padahal mereka seumur. Apa mungkin karena jarangnya berinteraksi? Sebab beda kufu. Dia di kamar khusus Bil Ghoib dan Layla dia ada di kamar Bin Nadhor.


Memang pesantren yang kita tempati memiliki dua wilayah. Bin Nadhor, untuk santri yang tidak menghafal Al Qur'an dan Bil Ghoib untuk santri khusus penghafal Al Qur'an. Salah satu penghuni wilayah Bil Ghoib adalah Salwa sendiri. Apalagi dia seorang Ning juga di rumahnya, pastilah teman satu kamarnya sama-sama yang setara.


Tujuan pembedaan tersebut agar para santri bisa mudah berkonsentrasi. Jika di Bin Nadhor, para santri lebih mendalam kitab-kitab mereka. Sedang di Bil Ghoib mereka sudah pasti berkonsentrasi di hafalan Al Qur'an.


Bin Nadhor, di sana mereka tidak memiliki tuntutan menghafal kecuali juz tiga puluh dan surat-surat penting seperti, Yasin, Al Mulk, Al Kahfi,dan Ad Dhukhon.


Sedang Bil Ghoib setiap hari mereka harus memiliki hafalan yang nantinya untuk di setorankan pada Bu Nyai dan penyimak lainya. Lingkungan khusus di perlukan, agar mereka terpacu dan terbiasa dengan sesama pejuang Al Qur'an.


Aku dan Sarip sedang menikmati semilir angin di balkon lantai dua. Di bawah ada halaman belakang yang kolam renang dan juga taman.


View di Dhalem timur memang serupa Villa. Mungkin karena pemilik sebelumnya adalah orang Belanda yang suka sekali dengan keindahan rumah. Terlebih mereka orang paling kaya pada masanya.


"Gus, kita nanti juga menginap di sini?"


"Iyalah... Kapan lagi aku bisa seatap dengan Layla,"


"Jangan nyuri kesempatan tapi, Gus"


"Tidaklah. Aku hanya ingin menjaganya,"

__ADS_1


"Mereka kok ya gak keluar sejak tadi dari kamar. Ngapain aja?''


Seusai makam memang Layla dan Aisyah ada di kamar. Entah apa saja yang mereka lakukan di dalam sana. Sedangkan Mas Albi dia juga melakukan hal yang sama. Jika dia wajar saja. Pasti lelah seharian di perjalanan, Sampai di sini langsung membantu Layla membereskan Bazar.


"Aku tidak tahu, palingan istirahat. Lelah seharian jualan," balasku menerka.


"Aku kira bakalan ngabisin waktu bersama-sama tadi," kata Sarip. Dia seakan kecewa sebab keadaannya tidak sama seperti yang di bayangkan. Aku pun sebenarnya sama seperti itu juga.


"Nonton Film yuk Gus. Boleh, gak?'' tanya Sarip. Matanya berbinar penuh harap. Kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini.


Walaupun kita termasuk santri yang di bebaskan. Tetap saja kami tidak boleh sembarang. Menginap di Dhalem Timur seperti ini saja sebenarnya kami tidak pernah lakukan. Jika bukan karena ada acara keluarga dan keluarga juga ikut ada di sana.


"Ayo! Aku juga gak bawa kitab e. Tadinya mau matlaah kitab e. Besok aku jadwal ngajar," jawabku.


Seminggu empat hari aku mendapatkan jadwal mengajar di Diniyah pondok. Di niatkan untuk mengabdi, menambah nyali, dan juga pengalaman mengajar yang nantinya juga pasti di aku perlu setelah aku pulang nanti.


Mendalami kitab pun sama seperti menghafal Al Qur'an. Di murojaah setiap hari agar di terus terpatri dan menetap di nurani.


Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî atau tersohor dengan sebutan Ibnu Malik, merupakan pakar gramatika Arab ternama dari Andalusia (Spanyol). Alfiyah yang merupakan ringkasan karya sebelumnya, al-Kafiyah asy-Syafiyah, pun dipuji banyak cendekiawan, dan melahirkan berjilid-jilid kitab syarah dan karya komentar yang sudah tak terbilang.


Di balik pengarang kitab Alfiyah. Syech Ibnu Malik, sebutan akrabnya sempat mengalami kendala. Ada cerita menarik di sela proses penulisan muqaddimah nadham luar biasa yang masih dilantunkan di berbagai pesantren dan madrasah ini.


Yaitu, saat beliau hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa kitabnya lebih unggul dan komprehensif dari kitab karya ulama sebelumnya, yakni Yahya ibn Abdil Mu’thî ibn Abdin, Nur Az-Zawâwi al-Maghribi atau Ibnu Mu'thi. Tiba-tiba saja Imam Ibnu Malik terhenti. Inspirasinya lenyap, tak mampu menulis apa yang hendak dilanjutkan. Suasana pikiran kosong semacam ini bahkan berlangsung sampai beberapa hari.


Hingga suatu saat beliau berziarah ke makam Imam Ibnu Mu’thi. Imam Ibnu Mu’thi ini merupakan guru dari Imam Ibnu Malik. Beliau juga memiliki kitab susunan yang berisi 1000 nazam, yaitu lebih dikenal dengan Alfiyyah Ibnu Mu’thi. Sebagai penghilang kesedihannya, beliau (Imam Ibnu Malik) membaca tahlil, tahmid, dan takbir di makam guru beliau tersebut. Tanpa sadar beliau tertidur disana.


Di dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitab Alfiyyah ini, terdapat suatu kesalahan. Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku apakah kamu lupa siapakah aku ini? Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah nazam terakhir yang beliau tulis. “Ya di situlah akar permasalahanya,” pikir beliau.


Selanjutnya untuk menebus kesalahan dan sebagai rasa permintaan maaf dan ampunan dari Allah Swt serta guru beliau tersebut, maka beliau pun menulis dua Nadhom lagi.

__ADS_1


Berisikan tentang pujian kepada guru beliau, Imam Ibnu Muthi. Bahwa gurunya tersebut telah lebih dulu mengarang kitab Alfiyah dari pada dirinya.


Satu bait Nadhom lagi, bertuliskan doa untuk sang Guru dan dirinya. Agar Alloh senantiasa melipatgandakan pahalanya di akhirat nanti.


Setelah beliau menyusun dua nazam di atas yang menjadi ungkapan hati beliau, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 nazam yang semula hilang dari ingatan memori beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab Alfiyyahnya.


Ulama besar saja mendapatkan ujian sedemikian rupa. Apalagi kita yang sangat minim ilmu dan hanya bisa meminta Barokah para kyai kami.


Sarip sudah mengajak ke ruang tengah. Di mana ada sofa besar dan juga tivi berukuran besar di sana lengkap dengan DVD dan segala macamnya.


"Nonton apa, Gus?" tanya Sarip


Dia sudah ada di depan bufet Tv. Memilah beberapa kaset DVD. Sedang aku sudah duduk di sofa dengan santainya.


"Kebanyakan drama Korea, Gus," kata Sarip lagi sambil menunjukkan beberapa keping DVD.


"Wah! Itu pasti milik Ning Nada. Dia mungkin biasa ngajak teman-temannya kesini buat nobar, DraKor,"


Sarip mengangguk setuju. Dia masih melihat-lihat kaset lainya.


Aku tidak tahu, kenapa para wanita suka sekali dengan DraKor. Padahal jelas-jelas mereka adalah orang luar yang kadang drama percintaannya hanya itu-itu saja. Dari pada itu lebih baik menonton Dragon Ball.


"Ada judul lainya, Gus"


"Apa?"


"Detektif Conan,"


Mata ku melebar. Tidaklah ada yang lainya? Sarip menyeringai lebar.

__ADS_1


Sekalinya ada anime yang membuat kita berpikir.


*****


__ADS_2