(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 31


__ADS_3

Sudah dewasa tapi masih saja ceroboh. Bisa-bisanya, dia jatuh dari batu besar, padahal sama sekali tidak ada lumutnya.


Aku sudah seperti ayah, yang khawatir akan anak yang baru saja jatuh. Membawa barang-batangnya, dan juga baju ganti yang nantinya untuk bersalin.


Selama di pantai, hampir setiap hari aku membeli sarung pantai untuk Layla. Setiap kali bermain air, dia akan dengan percaya dirinya pergi ke kamar mandi tanpa memakai penutup tubuh. Padahal, bentuk tubuhnya terlihat jelas saat baju yang ia gunakan basah kuyup. Akhirnya, aku lah yang harus berinsiatif menutupi tubuhnya itu dengan sarung pantai yang aku beli.


Saat ini juga, aku sedang menangkupkan kain sarung di tubuhnya. Setelah itu mengajaknya ke salah satu kamar mandi, untuk mensucikan diri.


Untuk kembali ke tempat keluarga kami berada, itu akan terlalu jauh. Jadi, aku menyarankan untuk pergi ke kamar mandi yang dekat lokasi kami saat ini.


"Ke Mushola aja, Mas." katanya.


Mushola memang tidak terlalu jauh, tapi kamar mandi di sana tidak di perbolehkan untuk pengunjung pantai. Kecuali, jika memang untuk sholat saja.


"Ke warung itu saja, Nduk. Jangan di Mushola, gak boleh mandi di sana." Usul ku.


Aku melihat satu warung yang tidak jauh dari Mushola, dan di sana di tuliskan juga menyediakan kamar mandi dan mushola.


"Ya sudah. Kayaknya tempatnya, bersih juga."


Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju warung tersebut. Warung dengan bangunanan bambu itu cukup ramai, tapi juga nyaman untuk sekedar nongkrong dan menunggu antrian.


Sama seperti warung lainnya, di belakang warung itu terdapat juga beberapa kamar mandi untuk di sewakan dan sebuah latar bangunan untuk di jadikan istirahat, atau bisa juga untuk sholat.


"Buk, kamar mandinya ada yang kosong?" tanya ku.


"Oh, riyen Mas, Kulo incenge riyen (Saya intipnya dulu)." Jawab ibu itu, sambil tergopoh-gopoh ke belakang. Aku terkekeh melihat beliau berlari ke belakang, badannya yang cukup besar membuat dirinya seakan seperti boneka besar yang sedang berjalan.


"Mas, banyak cowoknya di sini, pindah, Yuk?" Ajak Layla tiba-tiba. Wajahnya merenggut, matanya menyipit, bibirnya cemberut.


"Sebentar, tho. Terlanjur di tanyain ibunya, kok. Gak enak, kalau tiba-tiba pergi. Nanti kalau memang gak ada, baru kita pergi." Elak ku.


"Dingin, Mas." Ujarnya mengeluh.


Wajahnya bertambah masam, setelah mendengar penolakan ku. Aku menghela nafas, ku raih tangannya, dan ku usap-usap untuk sedikit menghangatkan tubuhnya.


Kulihat ibu warung itu sudah kembali, dia langsung menghampiri kami. Masih dengan tergopoh-gopoh, namun senyuman di wajahnya bisa menandakan jika ada kamar mandi kosong saat ini.


"Monggo, Mas. Kamar mandinya, ada yang kosong." Ibu itu mempersilahkan.


Aku segera bangkit, mengambil tas ransel yang berisikan baju Layla.


"Ayo!" Seru ku,


"Temenin, nanti kalau banyak cowok gimana?" rengeknya.

__ADS_1


"Iya...iya... Aku tunggu di Musholla." Jawabku.


Aku harus menarik tangannya, agar dia bangkit dari duduknya juga.


"Jauh banget, Mushola di sana, aku pengennya Mas nunggu di depan kamar mandi!"


"Di belakang, ada Mushola, kan Bu?" tanya ku pada ibu pemilik warung tersebut.


"Nggeh, Mas. Wonten, Monggo. Gak usah khawatir Mbak, Musholahnya tepat di depan kamar mandi, Kok. Jadi Masnya gak bakal jauh-jauh dari Mbaknya." Terang Ibu itu sambil menyeringai.


Setelah mendengar hal itu, Layla baru mau bangkit dari duduknya,dan berjalan menuju belakang warung tersebut. Tepat, di belakang warung itu ada lima kamar mandi, berjajar dan diantaranya kosong.


"Aku tunggu, di situ. Kamu mandi, dulu." Kata ku, dan menyerahkan tas itu pada Layla. Dia mengambil barang yang di perlukan, setelah itu dia masuk ke dalam salah satu kamar mandi, dan aku menuju Musholah yang ada di depannya.


Mushola tidak terlalu luas, jika di kisar mungkin berukuran 6 x 6 persegi. Cukup bersih, dan juga rapi. Ku lihat, ada lemari kaca berisikan sajadah, mukena dan juga Al Qur'an di dalamnya. Dia atas lemari kaca tersebut, ada sebuah kotak amal.


Aku menghampiri kotak tersebut, karena tertarik dengan kata-kata yang di tempel pada pada bagian luarnya. Sebuah kata yang menggugah jiwa, "Bersedekahlah, sebelum kamu di sedekahi".


Membaca tulisan itu, sontak membuat ku langsung mencari dompet ku, dan memasukannya sebagian uang ke dalam kotak amal tersebut.


"Mbok!!! Kopi, satu ya, Mbok!! Aku di Musholah!" teriak seseorang dari arah dalam warung. Aku menoleh, ke arah suara tersebut. Seorang lelaki memasuki lorong, menuju ke arah tempat ku berada. Samar-samar, aku belum mengenali sosok tersebut karena lorong itu cukup gelap, namun saat dia keluar, barulah aku mengetahui siapa dirinya.


"Dharma, kan?" tanya ku saat dia juga berhenti berjalan setelah melihat ku.


Aku tersenyum, dan kemudian mengajaknya salaman. Dia menjabat tangan ku, namun matanya seakan sedang mencari sesuatu di sekitar ku.


"Kok, ada di sini, Mas?" tanyanya lagi


Aku menyuruhnya untuk duduk bersama ku, toh dia sebenarnya juga ingin ke sini.


"Ya, hampir tiap hari aku ke sini. La, kamu?" tanya ku balik. Dia sudah bersila di depan ku.


"Masak, tho, Mas? Aku tiap hari di sini. Tapi baru hari ini, lihat Mas."


"Maksudnya, aku tiap hari ke pantai. Kalau soal warung ini, aku pertama kali ke sini." Jelas ku.


"Oalah...kirain. Soalnya, kan baru hari ini kita ketemu lagi di sini. Tiap hari aku di sini, Mas. Bantu Si Mbok Nur..." Ungkapnya lagi.


Aku manggut-manggut. Mungkin yang di maksud Si Mbok Nur adalah, wanita pemilik warung ini.


"Masih saudara?" tanya ku


"Masih, Mas. Saudara dari Nabi Adam." Jawabnya. Sambil tertawa kecil.


Aku ikut tersenyum. Pemuda yang humoris, sejak pertama kali bertemu dia selalu mencairkan suasana dengan dagelannya.

__ADS_1


"Mas!! Mas Albi!! Tolong, ambilkan handuk ku, dong! Lupa tadi, masih di ransel!" Teriak Layla. Aku menarik nafas dalam. Bisa-bisanya, dia berteriak seperti itu, seperti kami sedang ada di rumah saja. Aku melirik, ke arah Dharma yang juga pasti kaget, dengan teriakan Layla.


"Bentar, ya." Ucap ku, seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamar mandi.


Kamar mandi yang di tempati Layla masih tertutup. Aku segera ambil handuk dari dalam ransel yang dia gantung di depan kamar mandinya. Lalu mengetuk pelan pintu kamar mandinya. Beberapa saat kemudian, tangan sampai sikunya keluar dari kamar mandi. Aku menyerahkan handuk itu kepadanya.


"Jangan ngintip! Awas saja!" Serunya. Aku terpingkal-pingkal, bisa-bisanya dia aku berpikir aku akan mengintip dirinya.


"Mangkanya, cepetan!" Ujar ku.


Dia sudah menutup kembali pintu kamar mandinya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara air kran di nyalakan. Tidak tau, apalagi yang dia lakukan sekarang.


Aku segera kembali lagi ke mushola. Duduk bersama Dharma lagi. Dia sedang bersandar, mendelosorkan kakinya satu, dan menekuk kaki satunya lagi. Tangannya sedang memegang ponsel. Sepertinya dia sedang menelusuri gawannya itu.


Menyadari kedatangan ku, dia langsung menekuk lagi kakinya. Bersila lagi, seperti sebelumnya.


"Dia...Layla?" tanyanya.


"Iya...Maaf, ya menganggu. Dia memang seperti anak kecil." jawab ku.


"Haha... Gak apa-apa, Mas." Balasnya dengan senyum yang mengembang.


Pembicaraan kami terhenti, saat Si Mbok Nur datang membawa kopi. Pastilah itu pesanan Dharma.


"Mbok, buatkan kopi satu lagi, ya!" Pinta Dharma.


"Ini belum juga di minum, Gu_


"Buat, Masnya ini. Dia teman ku, Mbok." Sela Dharma sebelum Si Mbok Nur menyelesaikan bicaranya.


"Oalah. Iya...Iya...Siap!"


"Eh, dua lagi ding, Mbok." Ralat Dharma.


"Gak usah, satu saja. Gak usah repot-repot." Sela ku. Kami memang sering bertemu, tapi tidak enak jika langsung merepotkan. Lagipula, kami belum terlalu kenal.


"Buat, Layla?" Ucapnya.


"Gak usah. Satu saja, nanti Layla kalau mau, biar minta punya ku." terang ku.


Dharma seakan tercekat sebentar, saat aku mengutarakan omongan ku. Lalu kemudian, dia kembali lagi melihat ke arah Si Mbok Nur.


"Ya sudah, Mbok. Satu lagi saja." Katanya.


Si Mbok Nur, langsung pergi ke dalam warung lagi. Menyelesaikan pesanan Dharma.

__ADS_1


__ADS_2