(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 12


__ADS_3

" Albi, ke kamu emang seperti itu Mbak?'’ Tanya Neng Nada setelah mengakhiri panggilan.


‘’Nggeh Neng.” Jawab ku.


‘’Sayang sama kamu, ya, Mbak...." Kata Neng Nada dengan senyum khasnya. Aku tidak tahu, apa itu pernyataan atau Pertanyaan.


“Alhamdulillah, Neng....‘’ Jawab ku akhirnya.


Karena itulah aku tidak ingin kehilangannya. Namun, karena itu juga aku harus sedikit menjauh darinya. Rasa sayang hanya akan berlahan hilang, jika ada rentangnya jarak yang membentang. Namun, aku pun harus melatih rinduku. Agar sekuat baja, hingga ledakan kata sayang saja, tidak akan mampu merobohkan.


‘’Aku pikir dia orangnya cuek. Pas di pondok dulu Mas mu termasuk Santri Putra yang banyak banget Fans nya. Tapi dia terlihat biasa saja. Bicara sama aku saja awalnya hanya bahas soal kerjaan tok. Jarang bahas topik lainya," kata Neng Nada. Aku suka mendengar, beliau bercerita tentang Mas Albi. Dari sini aku tahu, bagaimana Mas Albi di pondok dulu.


Ning Nada, tersenyum sesaat. Matanya menerawang, seakan mengingatkan sesuatu. Beliau sedang bernostalgia saat-saat mereka sedang di pondok dulu.


‘’Tapi, semenjak kamu di pondok sini. Dia sering hubungi aku, gak sering ding. Hanya kadang pas apa gitu, nanyain kegiatan di pondok apa, kapan ujiannya." Lanjut Ning Nada lagi.


Aku juga tidak tahu maksud Mas Albi bertanya seperti itu, untuk apa? Bahkan, aku baru mengetahuinya sekarang.


Hanya saja, saat ada ujian entah itu semester atau harian jika sempat aku menelpon Bapak sama ibu. Untuk meminta doa, semoga ujian ku lancar. Itu saja.


"Kulo, nembe ngertos Ning. Ngapunten, kalau Mas Albi ngerepotin jenengan (Maaf, jika Mas Albi merepotkan)." Balas ku.


"Tidak, apa-apa. Santai saja, lagian mas mu, teman yang baik, kok!"


“Nggeh, Ning. Terimakasih banyak. Saya, pamit dulu...." Ucapku. Tidak sopan, jika harus lama-lama aku di sini. Apalagi, setelah merepotkan beliau.


Selepas dari Ndalem aku menuju kamar. Di tengah jalan aku berpapasan dengan Salwa dan beberapa temannya. Dia tersenyum kepada ku, tanda menyapa. Dengan segera aku membalasnya dengan senyuman juga, dan melambaikan tangan.


Meskipun aku tidak menyukai gosip tentang dia dan Mas Albi. Tapi bukan berarti aku akan memusuhinya, kan? Toh, bukan salah dia. Bukan salah siapa-siapa. Itu terjadi begitu saja.


Setelah aku tidak terlihat oleh Salwa dan teman-temanya sontak terdengar bahwa santri di kawasan tadi menyoraki Salwa.


‘’Calon adik ipar!!!'’ Sorak mereka bersamaan. Begitu jelas, walaupun aku sudah beda tempat dengan mereka.


Sudah berkali-kali mereka melakukan hal konyol seperti itu. Jujur, membuat ku risih. Seakan kita yang dulunya biasa saja, kini takut untuk sekedar menyapa apalagi berbicara.


Bukan lagi saat sampai di kamar. Anak-anak lainya siap menyidangkan ku dengan banyak pertanyaan. Wajar, santri sebanyak ini pasti ada yang kepo kejadian tadi.


Gonjang-ganjing pembicaraan sampai kemana-mana.


‘’Perseteruan merebutkan masnya Najwa ini!‘’ Kata Mbak Tika setelah aku datang.


‘’Iya ta, Mbak? Neng Nada lagi pdkt sama Mas mu?‘’ Tanya Afi. Dia kecil tapi rasa kepo nya besar.


‘’Nggak....Nggak ada yang kayak gitu. Masak Neng Nada mau sama mas ku." Jawab ku merendah.


‘’Loh? La, terus tadi ngapain mbak?‘’ Tanya Rayya . Dia juga ikut nimbrung, kepo dengan apa yang terjadi.


‘’Mas, ku telpon, itu saja. Gak ada yang spesial.‘’ Jawab ku.

__ADS_1


‘’Wah ! Mas mu telpon dirimu lewat Neng Nada? Berarti punya nomornya Neng Nada?"' Afi terlihat antusias. Seakan itu adalah hal yang luar biasa.


‘’Wah! pengen punya nomornya Neng Nada juga! Mintain mas mu,gih!'’ Kata Mbak Tika. Ternyata dia juga menganggap itu adalah hal yang luar biasa.


‘’Iya mbak...Insya Alloh, pas pulang, ya?'’ Kata ku.


Tidak tahu, apakah baik atau tidak menyebarkan Nomer Neng Nada untuk teman – teman.


Setahuku Neng Nada baik, mungkin dia tidak akan marah jika ada beberapa Santrinya yang menghubungi dia.


‘’Mas mu kayak apa, sih? Sekarang jadi trending topik Lo di pondok.‘’ Kata Mbak Tika penasaran.


Tidak biasanya dia menanyakan soal keluarga santri lainya. Apalagi aku yang sama sekali tidak pernah menceritakan soal keluarga .


‘’Mas ku, ya biasa aja Mbak. Gak ada istimewanya. Biasa Poll!‘’


Mendengar jawaban ku Mbak Tika dan teman lainnya seakan tidak mempercayainya . Dia menatapku tajam, mencari kejujuran dalam perkataan ku.


‘’Masak? Gak percaya aku. Kalau biasa aja mana mungkin Salwa mau sama mas mu. Neng Nada juga sampai menyimpan nomer Mas mu.‘’


Mbak Tika seperti sedang mengintrogasi. Aku sampai menelan ludah untuk menyembuhkan kegugupan ku.


“Beneran, Mbak!‘’ Seru ku lagi meyakinkan.


Aku mengalihkan pandanganku dari sorot mata yang menatap . Mereka seakan siap menerkam ketika aku terlihat membohongi mereka.


‘’Ah! Kalau gitu mungkin dia ganteng. Coba mbak lihatin foto mas mu? Aku penasaran....'’ Kata Afi semakin memojokkan. Mata mereka seakan menodong jawaban.


Mana mungkin aku memperhatikan foto Mas Albi pada mereka.


‘’Pasti ganteng. Banyak Lo mbak-mbak khufadz yang lihat pas Mbak Najwa di sambang. Dan mereka bilang kalau Mas mu ganteng.'’ Kata salah satu teman lainya.


Aku semakin terpojok. Semua orang semakin penasaran. Semua mata, tertuju pada ku.


‘’Aku gak bawa fotonya.‘’ Kata ku masih mencoba meyakinkan.


‘'Masak, sih? Coba aku lihat lemari mu.‘’ Kata Mbak Tika.


Kesal. Dia selalu seperti itu. Melakukan hal yang dia inginkan. Tanpa menunggu persetujuan siapapun.


Aku berusaha mencegah Mbak Tika membuka lemari ku. Tapi gagal, dia lebih dulu sampai dan langsung menggeledah lemari ku.


Ingin aku marah. Dia tidak menghargai privasi seseorang sama sekali. Tapi apa daya, hingga saat ini. Di kamar ini, dialah penguasanya. Tidak sekata dengan dirinya, itu sama saja mengundang musuh dari semua teman lainya.


‘’Ini, aku dapat!" Seru Mbak Tika.


Hatiku seketika lunglai. Mendapati foto Mas Albi yang terpampang jelas di tangan Mbak Tika. Dia mengangkat tinggi foto itu seakan piagam.


Membuat sorak – sorak teman lainnya yang ingin melihatnya.

__ADS_1


Hati ku geram. Tiba-tiba ada rasa tersayat-sayat saat foto itu menjadi rebutan banyak orang. Tubuh ku panas dingin, mendengar setiap mulut membicarakan rasa takjubnya. Dengan mudahnya mereka langsung mengatakan '’Aku jatuh cinta". Merengek meminta di kenalkan, meminta nomer telpon dan seketika bersikap manis.


Aku tahu tidak semuanya serius mereka katakan . Tapi jika saat ini aku mengiyakan mereka pun akan terus menagihnya.


‘’Udah! Sini Fotonya." Kata ku tanpa keindahan, wajah ku datar, tatapan ku tajam. Aku sudah tidak bisa menahan rasa kekesalan.


Melihat amarah ku. Salah seorang yang sedang memegang foto Mas Albi langsung memberikan foto tersebut kepada ku . Dengan cepat aku merebutnya dan kemudian menaruhnya lagi pada tempatnya. Dengan kasar juga aku mengunci lemari ku dan kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pergi meninggalkan kamar .


Tidak ada yang berani bersuara, baru setelah aku pergi . Mereka semua mulai menanyakan tingkah ku yang tidak wajar .


Mungkin aku keterlaluan. Aku menyadari itu. Tapi mereka juga keterlaluan, aku mengatakan tidak tapi mereka masih tetap memaksanya.


Tidaklah mereka mengerti bahwa setiap orang mempunyai privasi. Tidak semua hal bisa di bagi. Apalagi tentang Mas Albi.


Aku tahu, jika aku terlalu overprotektif. Tapi apa salahnya jika seperti itu. Aku tidak suka banyak orang memuji Mas Albi.


Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Ku ambil antrian untuk mengambil wudhu. Setelah itu mengambil mukena dan pergi ke Mushola.


‘’Mbak?"


Aku menoleh ke arah siapa yang memanggil ku. Rayya, dengan rasa bersalahnya menghampiri aku.


‘’Aku minta maaf,ya. Teman-teman juga. Tadi beneran bercanda, teman-teman lainya juga gak maksud apa-apa. Maaf jika keterlaluan, mbak Tika tadi juga nitip salam, buat minta maaf.'’ Kata Rayya.


Aku tidak bersuara. Aku masih sibuk menggelar sajadah untuk sholat dhuhur.


‘’Mbak....'’ Panggil Rayya lagi, dia meminta perhatian ku.


Ku hela nafas dalam-dalam. Ku pejamkan mataku sejenak. Menata hati yang tadinya panas.


‘’Ndak papa. Aku udah gak marah kok. Aku juga minta maaf. Udah bersikap kasar sama yang lainnya."


Tiba-tiba Rayya memeluk ku. Aku terpaku, terdiam.


‘’Mas Albi tetap milik mu, Mbak!‘’ Kata Rayya pelan namun penuh ketegasan.


Aku melepaskan pelukannya. Tersenyum kepadanya. Aku tidak akan menanyakan apapun. Aku tidak ingin pembicaraan kami nanti semakin menyudutkan diri ku sendiri.


‘’Dia tidak akan pergi, Mbak. Kecuali Mbak sendiri yang menyuruhnya untuk pergi. Percaya, deh." Kata nya dengan senyum penuh arti.


Kata-kata itu sontak memaku ku. Rayya seperti mengerti isi hati ku. Dia memenangkan hati ku. Dia juga meyakinkan ku.


‘’Aku udah gak papa,kok. Sampaikan juga untuk lainya."


‘’Siap Bos!" Seru Rayya dengan memberi hormat. Membuat ku tertawa.


‘’Terima kasih ya.‘’ kata ku sebelum dia beranjak.


‘’Kembali kasih. Hehehehe'’ Balas nya.

__ADS_1


Rayya bengkit dari duduknya dan kemudian pergi dengan senyum mengembang.


Setelah dia pergi aku melaksanakan Sholat berjamaah. Hari ini, aku sholat lebih awal. Pelarian ku hanya kepada Alloh. Dan aku tahu, pelarian ku tidak akan sia-sia jika kepada NYA.


__ADS_2