(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 55


__ADS_3

Esok hari, adalah hari pertama Porseni dan Bazar. Aku memberikan kewajiban kelas Layla, untuk semua keperluan atlit futsal yang akan aku pimpinan. Dengan hal itu juga aku bisa lebih dekat dengan Layla.


Pagi-pagi sekali aku sudah ada di lapangan, mengatur keperluan perlombaan yang masih kurang. Berharap semua lancar, karena kami menjadi tuan rumah selama tiga tahun berturut-turut. Itu karena, tiga madrasah dari sepuluh anggota masih dalam proses pembangunan.


Acara di mulai dengan upacara pembukaan, berisikan sambutan dari pihak-pihak yang berwenang. Terutama, kami tuan rumah.


Ku lihat, tenda bazar kelas Layla sudah ramai pengunjung. Padahal masih terbilang pagi, tapi antrian dari Mie Ongklok pak de Jen membuat semua rela mengantri.


Aku sama sekali belum melihat kekasihku hari ini. Tapi, jika aku ke sana saat ini, akan mengundang curiga.


Kemarin saat aku tawarkan menjadi relawan untuk membantu mendirikan tenda saja, mereka sudah bertanya-tanya, apa sebab tawaran itu ada. Hingga aku harus memutar otak, agar semua terlihat biasa saja, tanpa niat terselubung lainnya.


Aku katakan pada mereka, jika sebagai mantan pengawas mereka, aku ikut andil dalam bazar mereka kali ini.


"Beneran, gak ada udang di balik bakwan!" Sudut Aisyah saat itu. Dia menatapku menyelidiki.


Aku tidak langsung mengutarakan niatku pada Layla. Kerena pastinya dia akan curiga dengan pendekatan ku yang secara tiba-tiba. Aku menemui Aisyah, saat mereka sedang memanggil santri putra yang biasa mereka mintai tolong untuk mendirikan tenda. Diapun tidak bersama Layla, dia bersama satu temannya, yang mengatakan jika dia wakil kelas mereka.


"Adanya jagung, Mbak yang di balik bakwan." Sahut Sarip. Dia juru bicaraku yang selalu setia menemaniku.


"Bukan, gitu kang! Saya malah senang-senang saja sama tawarannya. Tapi, nanti takutnya, setelah semua selesai kalian minta sesuatu kepada kami." Terang Aisyah.


"Tidak. Saya dan kang Sarip, murni mau membantu. Tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa." Ucapku.


"Sebenarnya, mau bantu gak sih, kok malah kita yang di desak." Adu Aisyah.


"Ya, mangkanya, mau apa gak?!" tanya Sarip dengan lebih menekan.


"Kalau gak mau, kami tinggal, nih!" Tambah Sarip mengancam. Membuat keduanya tidak bisa berkutik dan tidak lagi bisa berpikir panjang.

__ADS_1


"Iya sudah. Kami pasrahkan semua kepada kalian. Tapi, benar ya? Gak ada imbalannya?" Aisyah masih belum sepenuhnya mempercayai tawaran kami.


Apa semua perempuan begitu sulit untuk di taklukkan, haruskah ada sebuah pembutian terlebih dahulu agar mereka percaya akan ketulusan kita?


Meyakinkan Aisyah saja sulit, apalagi Layla. Bukan lagi, ini hanya urusan tenda. Bagaimana nanti, kalau soal hati?


Mentari mulai menyingsing ke peradabannya. Membentangkan langit biru, berhiaskan awan putih menggebu.


"Gus, jenengan main di pertengahan pertandingan mawon (Kamu main di pertengahan saja)." Kata Sarip.


"Kenapa memangnya?" tanyaku.


" Wau jenengan di timbali ning Nada. Kadose penting (Tadi, kamu di panggil Ning Nada. Sepertinya penting)." Jawab Sarip.


"Oh, iya? Ada perlu apa Ning Nada memanggilku. Akhir-akhir ini dia selalu membuatku repot." Ucapku


"Hehehe... Kadose kok Ning Nada mulai ada sesuatu ngoten, tho Gus (Sepertinya kok ning Nada mulai ada sesuatu, Gus)." Lontar Sarip.


"Ngapunten, Gus. Kadose, kok ning Nada remen kalihan jenengan." Ungkap Sarip.


"He?" Aku tercengang dengan apa yang barusan Sarip ungkapkan.


"Ya, gak mungkin, tho! Kami saudara, kok." Seruku menolak keras.


Aku jadi teringat beberapa hari setelah permintaanku progam pengawas waktu itu. Ning Nada sering memanggilku tanpa adanya keperluan penting. Dia hanya mengajakku berbincang, terkadang juga membahas beberapa progam pesantren yang semestinya dia bicarakan dengan pengurus lainya. Mengesalkan, saat dia hanya memanggilku hanya menanyakan warna baju yang harus dia pilih untuk dia berpergian. Hah! Kami memang saudara, aku pun kadang tidak menyandang sungkan. Tapi, hal kecil seperti itu, barulah terulang beberapa waktu terakhir ini.


"Tapi Gus, jenengan kaleh ning Nada pun mboten mahrom." Ujar Sarip.


"Sudahlah, aku urusin lomba saja. Lagipula, aku belum menjenguk Layla." Elak ku.

__ADS_1


"Ingat, Gus. Kedah tarik ulur... Ampun sering-sering nemuin Najwa. Bisa timbul gosip nantinya. Kalau udah ada gosip, jenengan malah bakalan sulit cari alasan ketemu Najwa." Terang Sarip.


"Iya... Iya..." Jawabku asal sambil meninggalkan dia.


Setelah upacara pembukaan, aku mengecek satu persatu kelas yang akan menjadi tempat singgah peserta Porseni dari sekolah lain. Memastikan jika semua sudah tertata rapi, dan tersedia semua keperluannya.


Saat aku sampai di lantai tiga, tidak sengaja aku melihat kekasih ku. Di bawah sana, dia sedang keruwetan melayani berbagai macam pesanan. Dia mondar-mandir tanpa jeda tunggu. Sedang teman lainya, selalu memberikan tambahan pekerjaan.


Ingin rasanya membiarkan dia duduk bersamaku. Tanpa harus mati-matian membantu. Dialah, kekasihku yang hanya ingin aku bahagiakan selalu. Namun jarak ku, belum sedekat itu. Aku harus bersabar menunggu, hingga dia yang akan menatapku.


Aku lihat posisinya saat ini ada di bawah lantai dua perpustakaan. Segera ku larikan kaki ku, menuruni tangga hingga kelantai dasar. Terus berjalan cepat ke arah tangga bangunan perpustakaan di samping kantor. Ku pilih lantai dua, dan teras perpustakaan tersebut.


Tepat di tepi pagar lantai itu, aku bisa melihat Layla kalang kabut menyiapkan pesanan es. Saat ini aku tidak bisa membantu apapun, namun setidaknya aku bisa mengurangi kadar terik matahari yang menyengat tubuhnya. Ku ambil buku, ku sandarkan kedua tanganku dia pagar pembatas, menyangga buku bacaan yang ku ambil asal. Sudah ku pastikan, jika posisiku saat ini tepat di atas tubuh Layla berdiri, ku pastikan juga terik matahari akan melewati ku terlebih dahulu sebelum dia bertemu dengan tubuh Layla.


Entahlah, dia yang terluka, namun mengapa aku juga yang merasakan sakitnya?


"Kang Dharma!" Panggil Layla dari bawah sana. Dia tidak perlu tangganya lagi untuk menghalau sinar matahari. Wajahnya yang memberikan senyum seperti saat itu membuat hatiku tentram.


"Layla, Ada apa? Apa aku menggangumu saat aku di sini?'' tanyaku memastikan.


Dia menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak. Terimakasih, aku jadi gak kepanasan." Ujarnya sambil tersenyum renyah. Hah! Jantungku, sampai ingin lepas dari posisinya saat lihat senyumannya.


"Wah, jadi payung, dong?'' Ujarku


"Hehe..." Dia hanya membalas tawa sesaat. Kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Aku akan terus menjadi payungnya hingga waktu pertandinganku tiba. Setidaknya, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.


Bagiku, memandangi Layla dari balik buku cukup untuk penyemangat ku nantinya. Jika dia saat ini berjuang, makan aku pun akan berjuang nantinya.

__ADS_1


Tidak perlu banyak cara untuk membuat seseorang yang kita suka memandang kita. Cukup, luangkan waktu dan menyadarkan dia tentang kita yang selalu ada untuk dirinya.


Tidak perlu menjadi siapapun untuk mencuri perhatiannya, cukup menjadi kita dan semua rasa yang ada.


__ADS_2