
# Qois Albifardzan
"Mas mau pulang saja," tiba-tiba itu yang keluar dari mulutku.
"Kenapa? Kok cepat sekali? Kita belum sempat menghabiskan waktu berdua," bantah Layla.
"Jangan pulang dulu. Aku pengen jalan-jalan sama mas dulu," rengek Layla.
Dia saat merengek seperti itu hatiku tidaklah tahan untuk menolaknya.
"Gak. Ngapain di sini, kalau di cuekin." Bantahku.
Aku mencoba untuk tidak langsung takluk pada dirinya. Biar dia tahu bahwa tidak semua hal busa ia lakukan seenaknya.
"Siapa yang nyuekin?"
"Ya ada! Tiba-tiba aku jadi orang asing saat ini,"
Kali ini aku berperan layaknya anak kecil yang ngambek pada orang dewasa. Yang tidak bisa menerima keberadaan ku di asingkan begitu saja.
Layla menyudahi makanannya. Dia sudah mencuci tangannya. Mengelapnya dengan tisu lalu mendekat ke arahku.
"Kalau Layla salah... Layla minta maaf. Jangan marah." Ungkapan namun masih ku acuhkan.
"Gak ada yang seperti itu. Mas Albi jangan marah," tambahnya lagi.
Sekian detik aku belum mengeluarkan suaraku. Masih aku lihat sampai mana penyesalannya. Dia mulai terisak.
"Kamu kenapa, to Nduk? Kok sekarang berubah?"
"Siapa yang berubah. Gak ada yang berubah. Perasaan mas saja,"
Dia belum benar-benar faham kesalahannya. Dia tidak menyadari sikapnya.
"Laylanya mas sudah gak peduli dengan mas lagi. Sudah mulai merasa dewasa, dan gak memerlukan mas lagi!"
"Gak gitu. Aku minta maaf,"
"Gak ada maaf," tegas ku.
Layla mulai meneteskan air mata. Tetesan air mata itu tidak hanya melukai Layla tapi juga pada ku. Namun Layla tidak faham akan hal itu. Dia tidak mengerti bagaimana berharganya dia di dalam hidupku.
__ADS_1
"Albi, Layla kenapa? Jangan terlalu keras," Andre mendengar tangisan Layla. Tidak hanya dia, semua temannya pun mengetahuinya. Hanya saja mereka tidak ingin ikut campur dalam permasalahannya.
"Ini bukan urusan mu, Ndre. Ini urusanku dengan adikku!" Seruku.
Andre mungkin tidak tega melihat Layla menangis. Dia menyukai Layla, pasti juga tidak tega melihat Layla aku perlakuan seperti ini. Tapi kali ini aku tidak ingin orang lain ikut campur dalam urusan ku dan Layla.
Ini kali pertama aku menumpahkan amarah pada Layla. Bagiku ini keterlaluan. Jika aku tidak tegas, dia akan melakukan hal yang sama di lain waktu. Aku tidak ingin itu terjadi.
"Maaf, aku gak akan mengulangi lagi," ucap Layla berulang kali.
"Maaf tidak cukup Layla. Sekarang kamu mulai ingin bertindak semau mu. Iya, Mas tahu kamu sudah dewasa. Tetapi tidak seharusnya kamu menghiraukan orang di sekitar mu yang menyayangi mu."
Sakit rasanya di buat kecewa oleh orang yang kita anggap berharap. Aku berusaha menasihati meskipun dia dalam keadaan menangis seperti itu.
"Albi, Layla sudah minta maaf. Toh, dia pasti sedang terburu-buru tadi," bela Mas Andre.
"Kenapa? Apa lima menit saja begitu menguras waktunya? Dia bisa datang kok, meminta izin. Setidaknya jika memang dia ingin balik sendiri ke pondok tidak apa-apa. Toh, dia sudah biasa pulang dan pergi ke pondok sendirian sekarang! Tetapi dia tidak melakukan. Dia bertindak sendirian, tanpa memikirkan kecemasanku,"
"Maaf, Mas Albi... Aku memotong. Tetapi Najwa tadi pergi ke dapur, kok. Dia juga bilang jika dia sudah menemuimu di sana," Aisyah akhirnya angkat bicara. Dia mengatakan semuanya. Tetapi dia tidak tahu jika aku hanya datang di depan pintu dapur saja. Melihat Mas Albi dan Salwa bersama. Lalu aku pergi begitu saja.
"Apa Salwa membuatmu terganggu?"
Aku menggelengkan kepala. Merutuki jiwaku yang menolak untuk menganggukkan kepala.
Kembali aku menggelengkan kepala cepat. Dia tidak salah. Aku yang salah. Aku yang membencinya sebab dia mencintainya. Aku lah yang salah di sini. Aku saja!
"Lalu kenapa?"
"Barangkali Layla tidak ingin mengganggu mu dengan Salwa. Karena itulah, dia pergi begitu saja," sahut Mas Andre.
"Diamlah Dre! Aku sedang berbicara dengan adikku," meskipun nada bicara masih normal. Tetapi tekanannya membuat Mas Andre diam seketika.
Aku menghela nafas. Berusaha menetralisir nafasku yang mulai tak karuan.
"Maaf... Maaf...Maaf... Layla salah. Layla gak akan mengulangi lagi. Maaf jika Layla membuat Mas Albi dan Mas Andre khawatir. Layla tadi hanya tidak ingin mengganggu Mas Albi dan Salwa. Itu saja, maaf jika hal itu salah," aku meminta maaf.
Kali ini mas Albi yang menarik nafas dalam. Dia pun pasti tidak tega memperlakukan hal itu kepadaku.
"Layla, entah itu siapapun nanti yang bersamamu. Jangan pergi seperti itu lagi. Mereka semua tidak sama berartinya ketimbang kamu. Kamu gak tahu, gimana khawatirannya mas tadi saat tiba-tiba kamu gak ada," Ujarku.
"Maaf...Layla gak akan seperti itu lagi,"
__ADS_1
Rasa khawatir memang selalu membuat manusia kehilangan akal. Saat dia pergi tadi, bayangan ketakutan menghantui ku. Takut jika tidak lagi melihatnya dan takut akan tiba-tiba kehilangan dia selamanya.
Aku menarik lengannya. Cukup butuh satu tarikan sehingga tubuh Layla bisa aku dekap sempurna. Ku sandarkan kepalaku pada ubun-ubunnya. Mengelus lembut punggungnya dan belakang kepalanya.
Biarkan dia mengetahui detak jantungku yang tak karuan cepatnya sebab rasa cemasku tidak kunjung hilang meskipun aku sudah menemukannya. Tangisnya berlahan mereda. Dia diam dalam dekapan.
"Jangan seperti itu lagi, Layla. Kamu tidak tahu, bagaimana khawatirnya mas tadi kepadamu," kataku pelan.
Layla tidak menjawab. Namun tangannya membalas pelukanku. Ku rasakan dia mempererat dekapanku.
Manis sekali adik kecilku ini. Pasti dia ketakutan sebab amarahku yang jarang sekali aku perlihatkan.
"Oe...oe... Apa kalian akan terus seperti itu. Lihatlah sekeliling," tiba-tiba Andre mengisyaratkan pada kami untuk melihat sekeliling.
Berlahan aku melepaskan pelukanku. Layla pun beranjak mundur dariku. Mengusap air matanya. Membenarkan hijabnya yang sempat bermatakan. Mengerjakan matanya berkali-kali untuk mengaturnya kembali.
"Untung saja, kalian saudara. Jika tidak, aku sudah menghajar mu, Bi!" seru Andre.
Aku hiraukan omong kosong Andre barusan. Lagipula tidak mungkin juga aku memeluk perempuan jika dia bukan siapa-siapa ku.
"Layla, sudah tidak apa-apa?" Aisyah datang. Dia baru berani menghampiri setelah kami terlihat baik-baik saja.
Layla mengangguk dan tersenyum tipis.
"Syukurlah... Jadi tadi Salwa bersama Mas mu di dapur. Mangkanya kamu tidak izin pada Masmu,"
Jadi itu kebenarannya. Layla enggan izin padaku sebab tadi dia melihatku bersama Salwa. Hanya karena itu, dia bisa pergi tanpa izin? Apa yang Layla pikirkan. Apakah dia menyangka jika Salwa sudah begitu berharga sekarang sehingga aku akan tidak lagi peduli dengan dirinya lagi?
Jika memang begitu kamu salah Layla. Tidak ada yang seperti itu. Bahkan sampai kapan pun kamu akan tetap berharga tanpa ada yang menandinginya.
"Sebaiknya, kamu pergi saja dengan Mas mu. Di sini biar aku dan teman-teman lainya yang mengurusnya," ucap Aisyah.
Lega. Sebab aku tahu Layla memiliki sahabat seperti Aisyah. Dia sangat mengerti Layla.
Setelah Layla berbicara dengan Aisyah sebentar dia pun sudah siapa. Dia sudah kembali dengan senyum manisnya.
"Ayo, kita pergi!" Serunya.
"Kau kakak yang baik, Bi... Terimakasih sudah menjaga Layla selama ini," kata Andre dia pun ikut lega mendapatkan Layla tersenyum lagi.
"Itu tugasku. Dan aku tidak akan membaginya pada siapapun. Apalagi kamu!"
__ADS_1
"Hehehe... Kita lihat sajalah nanti."
Aku membuang muka. Muak sekali melihat Andre sangat percaya diri akan mendapatkan Layla dengan mudah.