(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 2


__ADS_3

Setelah aku rasa semua beres . Aku baru beranjak mandi . Mungkin aku gila , berharap saat mandi nanti aku terpeleset dan bisa membuat ku mengulur waktu untuk tidak berangkat ke pondok . Rasanya masih ingin di rumah , bersama ayah , ibu dan juga Mas Albi . Ah , tapi harapanku gagal . Aku selamat saat mandi dan menyelesaikan mandi ku dengan sangat cepat karena ibu sudah menggedor-gedor pintu kamar ku . Menyuruhku agar lekas ke bawah .


Di bawah semua sudah menunggu . Melihatku kesusahan membawa koper dengan cekatan Mas Albi menghampiri ku dan langsung mengambil alih dan mengangkat koperku .


“ Budal kaleh Mas Albi ae ya nduk . Ayah awak e kurang sehat ( Berangkat sama Mas Albi saja ya Nduk . Ayah kurang sehat ) . “ Kata Ayah membuatku langsung menghampiri beliau . Duduk bersimpuh di depannya dan mengelus kaki nya .


Dialah ayah ku . Pak Abdurrahman , masyarakat biasa memanggilnya pak Rahman . Seperti namanya dia begitu penuh kasih sayang dan belas kasihan.


Dialah , tulang punggung keluarga kami . Beliau lah yang tidak henti-hentinya berjuang untuk membahagiakan keluarga kecil ini .


“ Capek ? Nopo Layla balik besok mawon yah ( Apa Layla kembali besok saja ) “ Kata ku . Aku tidak tega melihat ayah , sudah beberapa hari beliau mengeluh jika badannya sakit . Beliau bersandar pada kursi ruang tamu , seperti menahan rasa sakit . Tapi, tetap saja tersenyum untuk mengalihkan ke khawatiran ku.


“ Ndak usah . Kamu berangkat ae. “ Sahut ibu . Beliau terlihat dari arah dapur berjalan membawa bekal untuk kami bawa . Dia menyerahkan bekal itu kepada Mas Albi untuk di masukan ke dalam mobil .


Dan itu ibu ku. Ibu Fatmawati Wanita paling ku sayangi di dunia ini . Kasih sayang , dan perhatian tidak akan pernah berbanding dengan apapun . Meskipun dia sedikit keras , tapi tidak pernah berhenti untuk selalu memberikan yang terbaik untuk putra putrinya.


Ibu ku Fatmawati , namanya mengingatkan akan seorang pahlawan wanita , istri dari presiden pertama kita Soekarno. Beliau pejuang wanita garda terdepan pada masanya . Beliau juga perempuan pertama yang menjahit bendera merah putih . Mungkin karena itulah eyang ku menamai ibu ku Fatmawati . Beliau ingin anaknya seperti ibu Fatmawati , yang gigih dan juga berbudi pekerti.


“ Ya sudah . Tapi Ayah sehat nggeh . Kalau ada apa-apa kabari Layla . “ Kata ku . Kali ini bukan alasan ku untuk mengulur waktu untuk tidak kembali ke pondok . Tapi benar karena rasa khawatir kepada Ayah .


Ayah dan ibu ku , mereka mendapatkan aku sebagai anak setelah 10 tahun pernikahan . Bukan waktu yang singkat , dan bahkan terlampau lama. Keluarga lain sudah mengira bahwa mereka tidak akan mempunyai anak .Tapi entah , kegigihan seperti apa yang mereka miliki hingga mereka tetap berusaha untuk mendapatkan seorang momongan .


Cerita Eyang . Ayah dan ibu ku mewarisi cerita nabi Zakaria , yang mendapat ujian untuk tidak segera mendapatkan putra .


Pada masa itu semua hal yang bisa memberikan harapan untuk bisa mendapatkan keturunan telah di lakukan mereka


Progam yang di ikuti pun beragam . Setiap kali mendengar ada dokter yang 'Ampuh ' soal kehamilan mereka akan datang. Pengobatan alternatif , dan terapi pijat pun juga di lakukan .


Meskipun begitu , berkali-kali mereka harus pupus harapan . Hingga akhirnya mu'jizat itu datang . Ibu di beri kesempatan untuk mengandung ku , meskipun setelah itu beliau tidak bisa mengandung lagi . Dan mengadopsi Mas Albi.


“ Belajar sing mempeng . Ojo pacaran .( Belajar yang benar . Jangan pacaran ) “ Pesan Ayah .

__ADS_1


Beliau sudah terlihat sepuh tapi masih saja keras dalam mendidik ku .Ibu duduk berjajar dengan bapak , dia mengelus kepala ku . Beliau seperti memberiku kekuatan , semangat dan juga restu .


Aku mencium punggung tangan mereka bergantian , memeluk dan mencium satu persatu pipi kanan kiri , dan juga kening mereka .


“ Layla pamit . Jaga kesehatan Ayah sama ibu , Assalamualaikum . “ Pamit ku .


“ Waalaikumsalam . “ Jawab beliau berdua.


Mas Albi bergiliran pamitan . Dia melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan tadi. Tidak ada perbedaan yang kentara antara aku dan Mas Albi . Orang tua ku , juga menyayangi dia . Persis seperti kasih sayang mereka kepada ku .


“ Hati-hati Yo Le " pesan Ibu sebelum kami berdua berangkat .


'' Nggeh buk . Kami berangkat . " Balas Mas Albi sebelum mobil kami benar-benar meninggalkan halaman rumah .


Jalanan siang memang kerap ramai . Alasan itu lah yang membuat ku tidak menyukai perjalanan waktu siang . Terik matahari , rasa panas dan juga padatnya kendaraan ,belum lagi dengan asap polusi yang tersebar kemana-mana . Aku tidak suka keramaian .


“ Bapak sama ibu jangan di pikirankan . Ono aku sing nang Umah ( Ada aku yang di rumah ) . “ kata Mas Albi tiba-tiba .


Aku menoleh ke arahnya , meliahatnya yang konsentrasi menyetir tapi juga masih menebak isi pikiran ku .


“ Tidurlah , saat kita berhenti nanti aku akan membangunkanmu . “ Kata Mas Albi .


Dia selalu begitu . Menyuruhku ku tidur atau melakukan hal sesuatu yang bisa membuat ku melupakan masalah ku .


“ Tidak bisa “ Kata ku .


Aku tidak mengantuk dan bahkan ini belum setengah dari perjalanan kami . Baru saja kita keluar dari kota Kediri , dan masih 4 jam lagi perjalanan kami . Aku memalingkan muka ku ke arah jendela mobil . Melihat lalu lalang kendaraan di sekita kami .


“ Tidur Nduk “ Ujar Mas Albi.


Tanpa meminta izin , Mas Albi mengelus pelan kepala ku yang terlapis hijab . Hal yang selalu dia lakukan saat aku susah tidur . Tangan satunya masih memegang setir . Aku menghempaskan , mengalihkan tanganya dari kepala ku .

__ADS_1


Mungkin dia biasa , tapi aku tidak . Sejak dia mulai menjaga jarak dengan ku aku merasakan hal aneh dalam diri ku. Aku tidak ingin dia jauh , tapi aku juga tidak ingin dia terlalu dekat .


Mas Albi , dia sudah menjadi laki-laki dewasa dan aku baru saja genap 17 tahun . Ada rasa yang tidak bisa aku utarakan saat dia begitu saja menyentuhku.


“ Ya weslah . Udah besar Adek Mase Saiki " Ujar Mas Albin


Dia melirikku , tersenyum setengah terkekeh . Tidak tersinggung dengan tangannya yang aku hempaskan , membuat ku kesal . Mungkin dia pikir aku tidak ingin di perlakukan seperti ketika aku masih kecil dulu .


“ Belajar . Katanya aku udah gede “ sewot ku.


Mas Albi tertawa . Apa yang lucu aku juga tidak tahu , tadi saat menata barang dia bilang aku sudah dewasa . Aku sudah harus memikirkan semua sendiri . Itu yang aku lakukan sekarang .


“ La emang udah dewasa . Kalau masih kecil tambah tak peluk sini . “ Goda Mas Albi .


Aku cemberut . Dia selalu menggoda , tapi saat aku benar ingin dia memeluk ku dia tidak mempunyai keberanian . Aku tahu , kita dekat . Tapi kita juga jauh .


" Palingan gak berani ! '' Tantang ku dengan menjulurkan lidah . Mengoloknya dan menguji kegigihannya.


'' Hahaha .Nduk nduk kamu itu kok gemesin to. " Lontarnya dengan mengacak-acak rambut hijab ku.


Aku kesal . Aku kesal bukan karena dia mengacak-acak hijab ku . Tapi aku kesal karena dia bersikukuh dengan pendiriannya.


Aku membuang muka . Tak lagi ingin menatapnya . Ku alihkan pandangan ku di kaca mobil yang memperlihatkan jalannya yang tetap sama padatnya .


'' Tidur Nduk . Capek mengke (Nanti ) .'' Katanya lagi . Kali ini tangan ku yang ia elus - elus lembut. Membuatku sempat terkejut. Hal yang biasa jika itu memang yang di lakukan kakak untuk adiknya . Tapi aku merasa berbeda .


Dia tidak tahu , tidak hanya tubuh ku yang bergetar seketika . Tapi juga hati ku. Ah ..


***


Mohon dukungan kakak .

__ADS_1


Vote , comen dan Like ya kak .


Dukungan kalian sangat berarti untuk Author . Terimakasih 🙏😁


__ADS_2