(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 18


__ADS_3

''Sampun, Nduk?''


Karena sudah cukup lama, aku membubarkan doa-doanya. Dia tersentak kaget melihat ku sudah menghadap, di depannya.


''Aku ketiduran, ya?" Ucapnya sambil nyengir.


Alasan, jelas - jelas aku bisa melihat jika dia sedang khusuk dengan lantunan doa-doanya. Tapi aku tidak ingin membahas hal tersebut, dia sudah berdiri dan keluar dari makam. Aku mengikuti dari belakang.


''Jalan kaki saja, Mas. Nanti tambah lama kalau ambil mobil, toh beli baju di Madinah, kan?"


Madinah adalah salah satu toko baju muslim yang cukup besar di daerah Dhoho. Tidak jauh dari Masjid dan Makam memang terdapat pusat perbelanjaan, di sana. terdapat berjajar toko-toko besar dengan berbagai macam keperluan.


''Nggak capek?'' tanya ku


''Kalau capek, nanti gendong!" Jawabnya dengan senyum lebar.


''Haha... Jadi godong, dong, Mas mu!''


Dia mengerutkan dahinya tanda tidak faham apa yang aku maksudkan.


''Godong, Gojek gendong!'' Kata ku menjelaskan.


''Haha...Mahal gak Mas biayanya?"


''Mahal, lima langkah seratus ribu.''


''Waduh, la nanti kalau seribu langkah berapa mas jadinya?"


''Seribu langkah? Berapa, ya, Nduk?'' Jawab ku pura-pura berpikir dan menghitung.


''Kalau di bayar seumur hidup dengan ku, mau?'' tanya nya dengan mengapit tangan ku. Senyumnya lebar tanpa ragu.


''Haha...Dapat kata-kata dari mana kamu itu. Kok bisa gombal sekarang?'' jawab ku. Aku terkekeh dengan perkataannya.


''Jawab aja mau apa Ndak?" Wajahnya berubah masam. Bibir mengerucut, kayak kue cubit.


Tidak langsung aku jawab. Aku berlagak seolah sedang berfikir keras. Menatap langit dan memainkan tangan di dagu ku. Sedang Layla seperti sedang menanti jawaban ku dengan serius.


''Tak pikir-pikir, emoh (Tidak mau), Nduk.'' Jawab ku menggoda.


Sontak dia melepaskan tangan ku Dan berjalan marah di depan ku. Sudah seperti pasangan yang merajuk. Aku tertawa melihatnya.


''Walah...Nesu tenan (Marah beneran)?'' Dia mempercepat langkahnya, wajahnya mulai merah padam. Aku pun berusaha mengimbangi langkahnya. Ku raih tangannya dan ku gandeng. Dia berjalan asal, tanoa melihat banyak orang yang berlalu lalang, dan juga kendaraan yang berseliweran.


''Mbok kamu minta, Mas mu ini nemenin kamu sampai ke Akhirat, Mas tetep gelem (Mau). Mas mu kan satu-satunya, yang paling setia sama kamu.'' Kata ku sambil mencubit pipinya yang gembul.


Baru setelah itu dia kembali tersenyum dan meraih tangan ku lagi. Dasar, anak manja. Tak apa, asal dia bahagia.


Sesampainya di Toko Madinah. Layla langsung memilih gamis, dan selalu menanyakan apakah gamis itu cocok dengannya?


Aku juga menyarankan untuk membeli baju atasan dan bawahan. Dia masih muda, tak pantas jika semua bajunya gamis. Meskipun memakai apapun akan terlihat cocok dengannya.


''Mas, kamu gak beli baju?'' tanya Layla

__ADS_1


Dia menyenderkan tubuhnya di etalase, nafasnya terengah-engah. Tidak bisa ku hitung, berapa kali dia memutari seisi toko.Lelah, karena memilih baju bukan hal mudah bagi seorang perempuan.


''Mboten, Nduk. Baju ne Mas masih buanyak yang belum kepakai.'' Jawab ku


Bukan karena tidak punya cukup uang. Tapi sebelum ini aku mendapatkan beberapa baju dari Maba yang mengatakan ngefens, itupun tidak hanya satu.


Belum lagi, dari organisasi yang aku pimpin di kampus. Lainnya dari madrasah yang setiap sore aku isi.


''Pasti dari cewek-cewek di kampus!'' Tebak Layla


Aku hanya nyengir. Karena tembakan benar. Dia berkacak pinggang seperti tidak senang dengan hal tersebut. Tapi kemudian di melengos dan ngeloyor pergi.


''Ya udahlah!''


Dia menuju kasir dan memberikan kartu nomer pesanan. Setelah itu kasir tersebut mengambil barang sesuai dengan nomer kartu tersebut.


''Berapa, Mas?'' tanya ku, saat ingin membayarnya.


''Aku bayar sendiri!'' Sahut Layla. Dia mengeluarkan dompet dari tas ransel yang sedari tadi dia bawa.


''Gak usah, ini juga dari Ibu kok."


Aku menyela, dan langsung melihat struk belanjaan dan langsung menyodorkan uangnya ke kasir.


''Aku bisa bayar sendiri!'' Seru Layla marah. Dia mengambil uang yang aku berikan pada kasir dan menggantinya dengan uang nya.


''Ndak usah, Nduk. Uang mu kamu tabung aja!'' Ujar ku kesal. Dia keras kepala.


''Aku mau di bayarin tapi dengan satu syarat!'' Ucapnya dengan menunjukkan jari telunjuknya kepadaku.


''Mas, beli baju sekarang!'' Tegasnya


Aku gak habis pikir dengan apa yang di pikirannya. Biasanya orang akan lebih suka jika di belanjain. Ini malah mau beli sendiri, dan meminta ku untuk ikutan beli.


''Ok! Aku beli baju.''


Akhirnya aku mengalah. Setelah itu baru dia meminta uangnya lagi ke kasir. Dan menunggu kami memilih baju lagi untuk ku.


Kasir itu sempat bingung. Tapi akhirnya menuruti apa yang di mau Layla. Baru setelah itu di Kembali ke dalam, memilih beberapa baju untuk ku.


''Jangan lama-lama, Nduk. Di tunggu Ayah sama Ibu di rumah!'' Seru ku


Dia memasangkan dan mencocokkan beberapa baju di badan ku. Aku hanya diam dan mengamatinya. Sudah sedari dulu, apa yang aku kenakan sering dia pilihlah. Tak masalah, aku pun tidak terlalu peduli soal penampilan. Tapi terkadang seperti boneka saja, dia menyuruh ku memakai ini, memakai itu. Jangan pakai itu, jangan pakai ini. Ah, mungkin karena dia perempuan.


''Suka yang mana, Mas?" tanya Layla


Dia bingung dengan dua Koko yang menurutnya cocok untuk ku. Hanya soal warnanya saja, motif nya sama. Dia sudah mendapatkan dua kemeja dan kali ini dia bingung dengan Koko.


''Terserahlah, Nduk."


Jujur, aku tidak terlalu suka jika harus memilih. Cukuplah di pilihkan dan aku akan mengekangnya.


''Ini deh, biar samaan sama warna baju ku juga." Katanya.

__ADS_1


Dia memilih Koko dengan renda zig zag di dada. Warna dasar coklat susu dan bordiran emas. Warnanya senada dengan gamis yang dia beli tadi.


''Ya udah. Nanti biar di kira kita anak panti asuhan." Ceplos ku.


''Biarin!"


Dia nyelonong pergi ke kasir. Memberikan tiga setel baju ke waiters lengkap dengan sarung dan celana.


''Berapa Mas?'' tanya ku


''Sudah di bayar Mas sama mbaknya tadi." Jawabnya.


Kasir tersebut memberikan hasil belanjaan tadi. Aku mencari sosok Layla yang setelah ke kasir langsung pergi begitu saja. Pantas, dia menyuruhku mengambil barang nya di tempat penitipan.


Dia langsung membayar, dan menyuruh ku mengambil sendiri barangnya.


''Sudah, Puas!'' Seru ku.


Dia tersenyum puas. Tak ingin berdebat lagi karena waktu semakin malam. Aku menyuruhnya untuk tunggu di depan toko dan aku mengambil mobil . Dan dia menurut.


Kami pulang lebih malam dari perkiraan. Ayah dan Ibu menunggu kami di ruang tamu, menyambut kami datang.


''Assalamualaikum....'' Salam kami berdua.


Berjabat tangan dan memberikan pelukan.Itu yang di lakukan Layla. Sedang aku mengambil barang belanjaan dan juga barang bawaan Layla.


Sudah larut , ibu langsung meminta dia untuk istirahat. Ak juga lelah, besok pun harus bangun lebih dini.


''Dia gak bertingkah aneh, Le?" tanya Ayah setelah Layla masuk kamar.


''Tidak Pak. Sudah Waras!'' Jawab ku


''Haha....''


Ayah tertawa, Ibu tersenyum setelah mendengar jawaban ku. Mereka pasti sudah mengerti bahwa Layla baik-baik saja, dan sudah normal seperti sedia kala.


''Kamu di kerjain apa lagi?" tanya Ibu


''Suruh beli baju, kayak boneka Bu. Di sana aku di pasangin banyak baju!" Ku luapkan amarah ku.


''Lah, kui berarti Layla wes waras tenan. Biasane yo ngunu tho? Lek mok Jak belonjo (Itu berarti, Layla sudah waras. Biasanya, ya gitu? kalau kamu ajak belanja).'' Sahut Bapak


Aku melengos. Mereka berdua malah tertawa. Syukurlah, semua sudah baik-baik saja.Mungkin ke khawatiran ku tentang perubahan sikap Layla hanya perasaan ku saja.


''Ya sudah. Cepat istirahat. Sudah sholat, kan?''


''Sudah, yah...."


Setelah perbincangan selesai aku menuju kamar ku. Membersihkan tubuh ku, mengganti pakaian ku dan kemudian berbaring di tempat tidur.


Sebelum itu, aku nyalakan ponselku. Melihat apakah ada chat yang harus di balas atau tidak. Dan ternyata, banyak pesan masuk salah satunya dari Nada.


Nada

__ADS_1


Bi...Aku boleh minta No wa Adik mu?


Tanpa berfikir panjang aku langsung mengirimi nomer Layla, kemudian tidur.


__ADS_2