
#Arya Dharma
"Assalamualaikum, Gus Farhan?!" Salamku ketika aku menemuinya di salah satu gazebo yang ada di samping kolam renang.
Melihat ketegangan dariku. Santri yang tadinya bersama Farhan langsung berinisiatif pergi. Farhan seperti faham, dia hanya mengangguk saat temannya meninggalkan dirinya sendiri bersamaku.
"Ada apa, Gus? Kok tumben?" tanya Farhan. Dia mempersilahkan aku untuk ikut duduk di gazebo.
Aku membuang muka sejenak. Dia sama sekali tidak mengetahui tujuanku atau sedang menguji kesabaranku.
"Aku tidak ingin basa-basi, Gus. Ini masalah anak-anak yang sedang kamu incar untuk disidang." Kataku langsung.
Farhan tersenyum. Dari wajahnya aku bisa melihat jika dia faham arah pembicaraanku.
"Sudah mau magrib, Gus. Kita ke masjid dulu." Ajaknya pelan. Dia bangkit dari duduknya lalu mengeser tubuhnya hingga di tepian. Tanpa menunggu lama dia sudah memakai sandalnya.
"Masih ada waktu lima menit. Kita bahas ini sekarang?!'' Kataku sambil melihat ke arahnya. Aku sedang tidak ingin mengulur waktu.
"Kita ke masjid juga butuh waktu, Gus. Kalau kita menundanya, kita akan jadi makmum masbuk nantinya."
"Jangan menguji kesabaranku, Gus?! Kita bicara dan jangan lari dari permasalahan!"
"Bukankah kita memang harus sabar, ya Gus. Sabar dengan apa yang ketentuan Alloh yang kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sabar, dengan sesuatu yang indah namun tidak bisa kita dapatkan. Dan terus sabar, saat ada orang yang terang-terangan menikung kita dalam mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit!"
"Apa masuk saya? Saya hanya menjelaskan. Saya tidak sedang menceritakan."
Satu hal yang aku tidak suka adalah bertemu dengan orang yang jalan bicaranya tidak langsung terus terang. Dia berdalih, namun dia memanfaatkan keadaan. Menjadikan suasana runyam dan tidak terkendalikan.
Mau dia apa coba?
"Apa tujuanmu sebenernya, Gus Farhan? Kenapa kamu menjadikan Layla target keamanan?!"
Langsung saja aku ke pokok permasalahan.
"Layla... Siapa dia Gus?" tanya Farhan dengan sok tidak tahu menahu siapa yang aku maksudkan.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu. Jika aku kehabisan kesabaran aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa orang lain bayangkan?!" Ancam ku.
"Gus Dharma?!" Teriak Sarip. Dia sudah ada di ambang pintu menuju kolam ikan. Berjalan cepat kearah ku.
"Seorang pangeran yang tidak pernah lepas dari pengawasan. Ada dua hal yang membuatnya seperti itu. Dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri dan yang kedua dia tidak bisa berdiri sendiri." Kata Farhan.
"Jaga bicara!" Aku kehilangan kesabaran. Sudah akan aku tonjok dia, namun tanganku di tahan oleh Sarip.
"Assalamualaikum... Sudah adzan," kata Farhan dengan senyum meremehkan. Dia berjalan meninggalkan kami berdua.
"Hai! Kita belum selesai!" Aku mengejar langkahnya. Menghadangnya.
"Nanti malam pukul sebelas malam. Dia belakang gudang pondok ini." Katanya dengan tatapan keseriusan.
"Kami akan kesana," kata Sarip.
Dia menahan tanganku yang sudah tak sabar ingin merengkuh Farhan yang sok jagoan.
"Assalamualaikum..." Salam Farhan
Adzan magrib baru saja selesai dikumandangkan. Aku meraup wajahku yang ku rasakan panas dan pening tiada tanding. Dadaku bergemuruh hebat sebab menahan amarah yang tidak bisa aku lepaskan.
"Ambil nafas dulu, gus ..."
Aku melakukan apa yang dikatakan Sarip. Ku ambil nafas dalam lalu pelan-pelan melepaskan.
"Setidaknya kita sudah tahu, yang di incar bukan hanya Najwa. Tapi juga kita, Gus." Kata Sarip.
Aku mengangguk. Sarip benar, tujuan utama Farhan bukan hanya Layla. Tapi juga aku.
Selama ini kami sering dibandingkan. Tapi, aku tidak pernah mempersembahkan hal tersebut. Karena pada dasarnya, kita berbeda dan tidak memiliki kesamaan yang harus diperdebatkan.
Farhan, sebenarnya baik. Dia Gus yang mumpuni. Bisa diandalkan dan bisa dianggap panglima perangnya pondok ini. Namanya panglima perang pastilah garang.
Banyak Gus di sini. Namun jarang sekali ada yang mau menduduki tahta kepemerintahan di pondok. Mereka berniat menuntut ilmu tanpa embel-embel jabatan. Jika memang dibutuhkan, mereka siap, langsung jadi Kodam. Hanya beberapa Gus yang dijadikan pengurus, dan salah satunya adalah Farhan. Pas sekali dia ada di bagian keamanan.
Dari pihak Dhalem langsung memilih dia. Sebab memiliki kejujuran dan juga keganasan dalam berdedikasi. Jangankan berdebat dengan seseorang, basaul masa'il dia libas sendirian.
__ADS_1
Jika benar mas Albi bukan saudara kandung Layla. Itu artinya aku dalam pihak yang salah. Aku sedang mendukung syetan dalam melakukan kemaksiatan.
Aku harus bagaimana, Ya Alloh?
Disisi lain aku tidak ingin Layla tertimpa musibah. Di sisi lain lagi, aku juga tidak ingin mengkhianati peraturan pondok?
Kali ini Layla dalam masalah besar. Jika persoalan ini tidak aku tanggapi maka Layla akan terpecah fokusnya. Kurang seminggu lagi dia ujian nasional. Ujian penentuan kelulusan. Dan aku tidak ingin dia jatuh sebab masalah yang bisa menguras emosi seperti ini.
"Kita jama'ah dulu, Gus." Kata Sarip menepuk pundakku.
Aku mengangguk. Sekali lagi aku usap wajahku kasar. Lalu berjalan meninggalkan area kolam ikan disusul Sarip di berjalan di belakang.
Sholat jama'ah ini aku akan meminta petunjuk. Apa yang harus aku lakukan. Apa yang aku pilih nantinya.
Dalam lubuk yang paling dalam, ada goresan yang tiba-tiba datang. Bayangan tentang kebersamaan Layla dan Mas Albi terus berputar di benakku. Aku melihat betul, bagaimana perlakuan mereka satu sama lain.
Sebab itulah, tingkah mereka berbeda dari persaudaraan kakak dan adik pada umumnya. Jika persaudaraan lebih sulit mengungkapkan rasa kasih sayangnya. Sedang antara Mas Albi dan Layla, keduanya begitu kentara memperlihatkan kasih sayangnya.
Lebih menusuk adalah saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mas Albi menemani Layla di depan kamar mandi saat mereka baru saja bermain di pantai. Layla yang selalu berjalan di samping dengan menggandeng tangan kakaknya tersebut. Pandang Layla yang tidak pernah teralihkan saat ada mas Albi. Dan tentunya, pelukan nyaman saat mas Albi mengendong Layla menuju kamar.
Benarkah mereka hanya memiliki rasa persaudaraan atau bahkan lebih?
Apakah aku sedang mencintai gadis yang salah? Apakah persepsi ku tentang Layla begitu tinggi. Hingga saat aibnya terlihat oleh mataku aku merasa dihianati?
"Gus, jangan terlalu di pikirkan ya ... Ingatlah Najwa masih bukan siapa-siapa, jenengan (kamu)." Kata Sarip.
Kami sudah ada di depan tempat wudhu. Mengantri di depan deretan santri lainya yang juga sedang ingin berwudhu.
Aku ingin menyanggah Sarip, namun waktunya tidak tepat. Itu akan membuat banyak mata dan telinga tertuju pada obrolan kami nanti.
Aku ambil wudhu. Ku basuh wajah dan anggota tubuh lainya yang disyaratkan oleh rukun wudhu. Lalu setelah itu aku membaca doa dengan khusus. Bukan hanya untuk memberikan kesucian akan wudhu yang baru saja aku lakukan. Namun juga aku berharap hatiku ikut terbasuh suci.
Aku kembali melihat Farhan. Dia sudah ada di dalam masjid. Ada di shof paling depan, sudah khusu' dengan Qur'an di tangannya.
Aku berada dalam satu barisan dengan orang yang sedang mencari kesalahan denganku. Orang yang mungkin menjadikan aku sebagai tokoh antagonis dalam hidupnya. Namun atas kuasa Alloh, hati kita sama-sama terpaut pada Alloh semata. Kita meminta pada sang pencipta yang sama. Dan kita memohon pada dzat yang sama pula.
Sebagai manusia harta dan tahta bisa berbeda, namun di hadapan Alloh SWT. Semua sama rata.
__ADS_1