
#Albifardzan
Aku masuk kamar. Langsung pergi ke kamar mandi. Mengambil wudhu setelah itu mengelar sajadah di samping ranjang.
"Gak sholat, Ndre?" tanyaku
"Iya. Tunggu bentar," Jawabnya.
Selagi dia mengambil wudhu aku melaksanakan sholat Sunnah Qobliyah isya'. Tepat saat Andre sudah datang, kami mulai sholat jama'ah.
Kami berdua terbiasa sholat jama'ah di saat berpergian. Tidak ada gurauan siapa yang jadi imam. Siapapun bisa, yang siap duluan. Tidak ada pertentangan atau dalih miskin iman dan ilmu. Sholat ya jama'ah, menetapkan hati pada Alloh.
Ku lipat kembali sajadah dan meletakkan di atas nakas. Melepaskan kopyah lalu merebahkan tubuhku di kasur yang super nyaman. Barangkali tidak membutuhkan waktu lama aku akan terpejam.
"Bi," panggil Andre dia juga sudah di sampingku. Menyandarkan punggungnya dan mengelontorkan dan menyilangkan kakinya. Tangannya bersendekap dada. Matanya menatap ke arahku. Penuh tanya.
"Ada apa? Aku ngantuk,"
Dia tidak langsung menjawab. Masih terus menatap penuh makna.
"Layla itu, bagimu apa?" tanya Andre tiba-tiba
"Lah, kenapa tanya soal itu. Jangan mentang-mentang aku sahabatmu terus kamu mau dapatin dia lewat aku,"
"Ck! Bukan. Aku pengen tahu, Layla itu bagimu seperti apa?"
Andre mempertanyakan hal yang sama.
"Seperti apa, gimana? Dia ya adikku, Layla ku. Seperti apa lagi?''
Andre menghela nafas.
"Andai ya Bi... Kalau Layla bukan adikmu. Apa kamu juga akan menyukainya?" tanya Andre penuh selidik
Aku masih mencerna pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu?
"Saat ini saja aku sayang sama dia, apalagi sekedar suka. Gak faham aku sama arah pembicaraanmu,"
__ADS_1
"Jadi, andaikan kamu bisa menikahi Layla, kamu juga akan berusaha mendapatkannya?''
Deg deg deg
"Pemikiran seperti apa itu, Ndre? Menikah? Aku kok aneh-aneh to ngomongnya,"
"Gak aneh, Bi. Tapi sumpah, Bi... Tadi saat kamu gendong Layla. Hatiku, Mak jleb.... Sakit buanget! Aku gak pernah secemburu itu sama orang."
"Kamu cemburu lihat aku gendong, Layla?" Aku tertawa mendengarnya.
"Sumpah sakit banget. Apalagi kamu gendong udah kayak di film-film horor tadi,"
"Hahaha.... Halusinasi mu bener-bener dah,"
Memang benar film horor yang barusan kami tonton ada beberapa yang menunjukkan adegan yang sama seperti yang aku lakukan. Akan tetapi hal itu bukanlah sebab aku ingin membuat adegan yang sama. Ya, sebab tidak ada cara lain selain menggendong Layla ke kamar. Akan tidak tega jika dia tidur sendiri di ruang tengah. Apalagi, rumah ini bukan milik kami.
Pun jika aku menemani itu akan lebih tidak baik lagi.
"Aku cowok, Bi. Aku biasa juga lihat orang gendong-gendongan kayak gitu. Tapi lihat kamu sama Layla tadi, sumpah! Lemas banget aku. Terserah, Lo mau bilang aku lebay atau kayak apa! Tapi aku benar-benar speechless. Pandangan Lo ke Layla itu dalam banget,"
"Ck! Loe cowok, kan?! Kita sama-sama cowok! Pasti Lo faham, apa yang aku maksudkan?!''
"Iya, Faham! Tapi pikiran yang kayak gitu gak ada dalam pikiranku, Ooonn!" Seruku
Andre diam. Dia masih terus memandang. Seakan aku tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Memangnya, kalau bukan aku siapa yang akan gendong, Layla?" tanyaku
"Aku bisa,"
"Tambah ngawur!"
"Lah, kenapa? Kalau loe aja bisa, kenapa aku gak?"
"La kan aku kakaknya. Lagian aku juga terbiasa gendong Layla. Sejak kecil yang gendong Layla kalau ketiduran seperti itu ya aku,"
"Masak sejak kecil?" Selidik Andre
__ADS_1
"Ya, dulu bisanya gendong belakang. La sekarang udah besar, tidur juga kondisinya ya gak mungkin aku gendong belakang. Adanya dia malah terbangun,"
"Selama dari kecil ke dewasa, pernah gak loe deg degan saat gendong Layla?"
Aku memancing mata. Pertanyaan Andre semakin aneh saja. Aku geleng-geleng kepala.
"Sekalipun?" tanya Andre memastikan
"Gak ada yang seperti itu," jawabku.
"Padahal kan, kalian bukan saudara kandung, ya?"
Deg! Aku terpaku seketika saat Andre mengatakan hal itu. Rasanya jantungku terhantam batu besar hingga menciptakan sesak tak tertahankan.
"Sempat aku berpikir, kalau kamu itu sayangnya sama Layla lebih dari sayangnya adik ke kakak. Sebab sikapmu yang overprotektif terhadap Layla. Kamu melakukan apapun untuk adikmu itu. Belum lagi, sekali saja kamu gak pernah tu kayak kakak lainya yang ngeluhin adiknya. Lihat kalian berdua, udah kayak bukan adik kakak tapi sepasang kekasih. Hah! Tapi syukurlah, kalau kamu benar-benar tahu batasanmu."
Andre berbicara panjang lebar. Pandangan dia tidak hampir sama dengan pandangan orang pada umumnya. Tidak jarang memang, aku dan Layla dia anggap pasang sebab mungkin wajah kita tidak memiliki kemiripan layaknya saudara. Hal itu pun sebab kami memang bukan saudara kandung.
Aku kira hanya orang asing saja yang merasakan hubungan kami berbeda, tapi ternyata Andre sahabatku juga merasakan hal yang sama. Apa benar, aku terlalu mengekang Layla? Hingga membuat aku ataupun Layla terikat satu sama lainya? Sehingga kami terbiasa melakukan hal berdua, tanpa ingin ada orang lain di dalamnya.
"Layla udah dewasa sekarang, bi. Lambat laun dia akan jatuh cinta pada lawan jenisnya. Sebagai kakak yang baik jangan terlalu mengekangnya, biarkan dia tumbuh kayaknya gadis pada umumnya." Kata Andre
Aku tersenyum. Hatiku terasa panas. Aku ingin membantah. Namun apa yang Andre katakan memang ada benarnya.
"Itu aku katakan bukan berarti aku tidak membenarkan tindakan mu. Toh, Layla pasti bangga punya kakak seperti dirimu, yang begitu menjaganya." Lanjut Andre
"Barangkali, aku masih menganggapnya anak kecil, ya Ndre. Mangakanya aku biasa saja," ujarku dengan senyum tipis.
"Mungkin,"
Malam itu pun aku tidak kunjung menemukan kantukku. Pembicaraan dengan Andre sedikit membuka pikiranku. Perubahan sikap Layla yang akhir-akhir ini mungkin juga di karenakan sikapku yang terlalu overprotektif.
Saat di meja makan tadi. Dia terlihat sekali jika tidak suka aku memperhatikan Salwa. Barangkali itu karena aku tidak pernah menampakkan perhatian ku pada orang lain di depan Layla. Mungkin itulah yang membuat dia kesal. Apalagi Salwa memiliki umur yang sama dengan dirinya. Mungkinkah dia cemburu, sebab takut aku akan menganggap Salwa adik seperti dirinya?
Aku menggelengkan kepala. Lucu juga saat di cemburu seperti itu. Mengemaskan. Akan tetapi aku belum bisa memastikan apa benar layla seperti itu kerena cemburu, atau mungkin ada sebab lainya?
***
__ADS_1