
Muhammad Arya Dharma
Aku menemukan dia, di saat hari itu. Dia seperti, kancil. Cepat sekali lari, dan bersembunyi. Beberapa kali, aku harus susah payah untuk menemukan sosoknya. Beberapa kali, juga aku mati kutu di buatnya.
Aku Arya Dharma, yang katanya memiliki ke tampan bak bulan purnama. Lesung pipi tipis, penambah pesona, dan juga jambang tipis, seorang kesatria. Mata teduh ku, bahkan bisa bisa menyejukkan hati lawan bicara. Hahaha, itu kata orang. Tapi, kataku, ya... mungkin seperti itu. Bukankah, pepatah mengatakan, jika seseorang ingin mengetahui bagaimana dirinya, maka tanyakan kepada mereka yang hidup bersamanya?
Jika yang menyukai ku, mereka akan berkata aku itu baik. Dan, jika mereka tidak menyukai ku, sebaik apapun aku. Tetap saja, batu, alias krikil yang menggangu. Namun, setahu ku selama kita berusaha baik kepada semua orang, maka orang itu juga akan baik kepada kita.
Bahkan, dalam Al Qur'an yang aku ingat ada enam ayat Al Qur'an yang menganjurkan kita untuk selalu berbuat baik. Salah satunya adalah di surah Al Baqarah ayat 195 " Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". Di surah Ar Rahman ayat 60 Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)".
Namun, di hari itu aku mengetahui, jika tidak semua kebaikan di indahkan. Bahwa, niat yang tulus pun butuh proses yang sulit juga. Hah, atau mungkin, karena yang menolak adalah seorang gadis. Atau mungkin, aku yang selama ini tidak pernah merasakan penolakan oleh kaum hawa, hingga membuat satu hawa saja yang tidak berpengaruh pada ku, itu seperti ancaman untuk diriku.
"Kang, aku titip santriwati, ya? Dia adik teman ku," kata Ning Nada, sebelum satu hari rombongan kepulangan santri bagian Jawa timur di berangkatkan.
"Wah, Ning... Apa dia istimewa? sampai jenengan sendiri yang meminta untuk menjaganya." Ledek ku.
Aku dan Ning Nada masih sepupu. Abah dan Kyai Mustofa adik kakak, jadi wajar jika aku dengan Ning kyai ku, bertingkah biasa saja. Kerena selain, kita saudara, umur kami tidak terpaut jauh. Kita satu server, sedari kecil kita berteman.
"Hahaha. Yah, itu karena teman ku yang mewanti-wanti, agar adiknya bisa pulang dengan selamat. Dia ngeyel, untuk menjemput adiknya waktu liburan kemarin, tapi adiknya gak mau, katanya mau puasanan di sini, Full." Cerita Ning Nada.
"Baiklah, anaknya pasti manja? Siapa namanya?" tanya ku.
"Layla, eh Najwa...." Ning Nada sepertinya menimbang-nimbang dua nama itu.
"Layla atau Najwa?," tanya ku memastikannya.
"Dua, duanya...." Jawabnya. Membuat ku semakin bingung.
__ADS_1
"Dua orang?," ku pastikan lagi. Aku mengira hanya satu orang saja, tapi Ning Nada menyebutkan dua nama. Atau mungkin, dia lupa siapa nama gadis tersebut.
"Tidak... Satu orang. Namanya, Layla, tapi di sini biasanya anak-anak manggilnya Najwa." Jelas Ning Nada.
"Oh...." Aku hanya ber' Oh ' ria.
Tibalah, saat dimana aku harus menemukan gadis itu. Aku bertanya pada panitia santriwati, dan langsung mendapatkan keberadaannya saat itu.
Ku langkahkan kaki ku, langsung mendekati dirinya.
"Mbak Layla, atau Mbak Najwa?," tanya ku.
Tidak hanya dia yang terkejut, tapi aku juga. Tidak hanya dia yang langsung menatap ku, namun mataku juga seakan hilang kendali saat melihat sorotnya.
"Dua-duanya, nama,ku." Jawabannya membuat ku langsung tersadar. Begitu ketus, dan juga lantang.
"Oh...Terus, saya harus memanggil apa?," tanya ku lagi. Ku samai langkahnya. Namun, ternyata dia langsung meninggalkan aku begitu saja, itupun tanpa menjawab pertanyaan ku.
Menjadi panitia rombongan pulangnya santri tidak semudah yang di bayangkan. Harus mengecek, satu persatu santri yang ikut di rombongan tersebut. Tidak hanya anaknya, tapi barangnya juga. Menyiapkan keperluan P3K untuk bersiap-siap, jika nanti saat di perjalanan ada yang mengalami sakit mendadak, atau mabuk perjalanan. Dan lain, sebagiannya.
Bis mulai melaju, setelah ku pimpinan berdoa bersama. Semua penumpang, sudah aman dan tenang.
Sudah setengah perjalanan, dan bis kami berhenti di rest area. Banyak santri yang turun, untuk sekedar melepas letih karena terlalu lama duduk. Ada juga yang menyempatkan diri untuk ke toilet dan membeli makan.
Ku lihat bangku gadis itu, terlihat dua ubun-ubun kepala. Berarti, dia tidak beranjak dari tempatnya. Ku beranikan diri untuk menghampirinya, lagi.
"Mbak, wonten sing di perlukne, mboten (Ada, yang di perlukan,kan)?," tanya ku, langsung menatapnya.
__ADS_1
Bukannya, langsung menjawab ku, dia malah memalingkan mukanya. Dia malu, atau tidak suka dengan kedatangan ku?
"Mboten, Kang." Setelah sekian detik, lirih namun bisa ku dengar jelas.
"Walah, putri malu...." Kataku.
Setelah itu aku langsung pergi, karena beberapa santri mulai berdatangan. Aku tidak mau membuat fitnah yang macam-macam. Apalagi, dia sepertinya risih saat orang mulai membicarakan dirinya.
Tidak berhenti, di saat itu juga. Entah, bagaimana awal kejadiannya, bangku yang persis di belakangnya, yang awalnya di duduki oleh santri putri juga, mereka meminta pindah di depan, karena salah satu dari mereka mabuk, dan tidak biasa, duduk di belakang. Jadi, tempat duduk ku, yang awalnya ada di belakang sopir, akhirnya aku serahkan kepada mereka, kami bertukar tempat duduk. Suasana saat itu sangat hening, karena hampir semua penumpang tertidur pulas.
Perjalanan, memang sangat memakan waktu yang panjang, apalagi hari ini, hari min satu lebaran. Banyaknya, kendaraan yang berlalu lalang, padat merayap. Hampir, di setiap kota kami mengalami kemacetan.
Ku lirik, bangku Layla sebelum aku duduk. Dia sedang tertidur, pulas. Menyandarkan, sisi kepalanya, di kaca Bus. Jalanan tidak jarang yang terjal, tapi di tetap terlelap. Mungkin, dia sangat lelah.
"Ayo, kang!" Aku sampai harus di tepuk untuk menyadarkan diri ku, yang begitu betah memandang wajah ayunya itu.
Ku geser tubuh ku dan duduk, tepat di belakangnya. Di sela-sela kursi itu, aku melihat belakang kepalanya. Rasanya aku ingin berteriak. Entahlah, tiba-tiba hatiku berbunga-bunga. Rasa lelah, dan kantukku yang tadi menyergap ku, tiba-tiba hilang seketika.
Beberapa detik, aku hanya menatap punggung kepalanya itu. Sedang, teman duduk ku sudah terlelap lagi.
Hah... Apa yang terjadi kepada ku? kenapa jantungku tidak bisa berhenti berdetak kencang? bahkan deru bis ini, kalah cepatnya dengan detak jantungku.
Beberapa kali, jalanan melewati tanjakan, entah di daerah mana kali saat ini. Kenapa juga jalan utama, bisa sekejam ini. Menyiapkan banyak tanjakan, dan juga lubang. Untung saja, saat malam, jika siang aku akan lihat keluar, dan mencatat daerah yang saat ini kami lewati. Agar nanti, jika di izinkan aku akan laporkan pada pemerintah kota tersebut. Tenanglah, Dharma... kau hanya sedang berhalusinasi. Jangankan, pemerintah kota, ketua RT rumah mu saja, aku tidak tahu.
Perasaan kesal itu tiba-tiba meletup-letup di dadaku. Entah karena jalannya, atau karena hal itu, dia melihat kepala Layla berkali-kali terbentur, di kaca yang ia buat sandaran.
Dia melihat dirinya tersadar sebentar, melihat ke luar jendela. Mungkin, dia memiliki pemikiran yang sama dengan ku, ingin tahu di mana keberadaan kami sekarang. Dan, juga berpikir untuk mencatat jalan yang membuatnya terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Hah! Ayolah, Dharma...Jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia hanya melihat keluar sebentar, kemudian melipat gorden kaca bis. Aku kira, dia akan mengantungkan gorden itu pada pasak besi bis. Tapi, tidak...Dia membuatnya untuk bantalan kepalanya, yang kemudian kembali ia sandarkan lagi di kaca Bis. Setelah itu, dia tidak bergerak lagi, mungkin melanjutkan lelapnya.
Ingin rasanya, memberikan telapak tanganku untuk dirinya. Namun, apalah aku. Hanya berhalusinasi saja, membayangkan adegan itu sama seperti di film yang pernah aku tonton di laptop temanku.