(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 73


__ADS_3

Albifardzan


Setelah semua sholat jama'ah. Nada memberikan isyarat untuk langsung berkumpul di ruang makan.


Rasa lapar mulai mengusik setelah melihat banyaknya menu di meja makan. Semua terlihat lezat sebab perut lapar.


Layla berjalan paling depan. Dia pasti sungkan sebab Ning-nya yang menjamu langsung. Teman yang bernama Aisyah sejak tadi pun terlihat tidak enak sebab dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami semua.


Aku pun masih heran. Kenapa tiba-tiba Nada menjamu kami seperti ini. Aku harap ini semua bukan sebab Salwa. Aku harap jamuan ini murni sebab pertemanan.


Nada duduk paling ujung, di susul Salwa di sampingnya. Lalu Aisyah dan Layla mulai bertengkar sebab berebut tidak mau bersanding dengan Salwa. Tidak mungkin juga aku meminta Andre untuk duduk di sebelahnya.


Akhirnya aku memberikan isyarat pada Layla agar mau duduk di sebelah Salwa. Dia cemberut. Mengerucutkan bibirnya sebab aku paksa. Tapi tetap saja, kan dia mau melakukannya. Sampai saat ini, Layla tidak pernah membantah. Hanya saat kepulangan dan kembalinya ke pondok kemarin saja. Sampai saat ini aku juga tidak tahu, alasannya apa.


"Silahkan makan, ya ... Jangan sungkan," kata Nada mempersilahkan.


Laki-laki awalnya hanya aku dan Andre. Dharma dan temannya tidak kelihatan ada. Hingga saat mereka lewat di persimpangan ruang makan. Nada memanggil Dharma. Mengajak dia bergabung bersama kami.


Aku rasa, Nada dan Dharma ada hubungan. Aku perhatikan sejak tadi Nada begitu antusias dengan kehadiran Dharma. Setiap Dharma tidak terlihat, langsung dia bertanya pada Qodam-nya.


Aku yang saat itu memilih duduk di depan Salwa bergeser ke kursi sebelah ku yang kosong. Memberikan tempat ku pada Andre yang awalnya berhadapan dengan Nada. Lantas dengan senyum Nada yang mengisyaratkan. Dharma langsung duduk di posisi pertama Andre.


Teman yang bersama Dharma tidak ikut serta. Barangkali memang sungkan jika dia ada di antara kami. Apalagi Nada tidak memanggilnya tadi. Hanya Dharma saja.


Semua mulai makan. Terlihat tentang. Tidak ada guyonan. Andre yang biasa ceriwis tiba-tiba khidmat sekali menyantap makanannya. Jadilah kita makan dengan sangat sopan.


Layla sepertinya tidak leluasa makan. Dia mengambil nasi sedikit pun lauk sekedarnya. Padahal dia pasti lapar. Seharian dia bekerja keras. Sejak pertama bertemu pun aku tidak melihat dia minum atau makan.


Aku melihat ke arahnya, memberikan isyarat agar dia bisa lebih banyak makan. Tapi dia acuh dan berpura-pura tidak sadar dengan kode yang aku berikan.


Dasar Layla, di saat seperti ini. Dia terlihat kalem sekali.


"Sehabis ini aku pulang dulu. Kalian istirahatlah di sini, anggap saja rumah sendiri," Nada yang mengerti keheningan langsung memecahkan kesunyian.


"Kamu ada acara, NAD?'' tanya Andre.


"Biasa lah... jadwal," jawab Nada.


Wajar saja. Menyempatkan diri bersama kali pasti meluangkan waktu juga. Dia putri kyai yang jarang memiliki banyak waktu untuk orang-orang biasa seperti kami. Meskipun begitu dia rela meluangkan waktu sedikitnya untuk kami


.


"Nanti nginep juga di sini?'' tanyaku


"Nginep gak Wa?" tanya Nada pada Salwa.


Gadis yang tadinya anteng makan tiba-tiba langsung tersedak mendengar pertanyaan itu.


Reflek aku langsung memberikan air minum ku pada dirinya. Dengan agak malu dan menundukkan wajahnya dia menerima lalu meminumnya teguk demi teguk.


"Aku cuma tanya, Wa. Kenapa kamu kok kaget, gitu? Grogi, ya?'' ledek Nada.


Bukannya menenangkan saudara sepupunya itu. Nada malah membuatnya salah tingkah.


"Ning! Jangan gitu, lah!'' Rengeknya malu.

__ADS_1


Mau tidak mau hal itu membuat yang lainnya tersenyum lucu.


Tidak lagi aku tanggapi. Kasihan juga Salwa jika merasa tertekan sebab kehadiranku. Tapi bukankah, dia ikut ke sini sebab ada aku juga? Hah! Aku jadi ke pe-de an gini. Tidak sadar sebab pikiran itu aku senyum sendiri.


"Wah! Ada yang diam-diam curi kesempatan, ini! Haduh!" Seru Andre sambil melirik ke arahku.


Aku diamkan. Sebab akan memicu hal-hal yang tidak di inginkan.


"Layla, mau nambah lagi?'' tanya Dharma tiba-tiba.


Aku langsung melihat ke arah Layla. Makanannya hampir habis, tapi dia masih memasukkan sedikit makan itu kedalam mulutnya.


Kelakuannya sama seperti sambangan puasa waktu itu. Bedanya dia tidak berhenti makan gorengan, sedang sekarang dia memakan nasi yang tinggal sedikit tapi berusaha ia habiskan segera.


Layla tersenyum pada Dharma.


"Tidak, kang"


"Tidak apa-apa, jika ingin nambah. Ini nasinya,"


Dharma menyodorkan mangkok besar berisikan nasi putih kepada Layla.


"Layla mau nambah?" tanyaku


Dia menggeleng cepat.


"Tidak. Alhamdulillah sudah kenyang," jawab Layla bukan melihat ke arahku tapi pada Dharma yang masih menenteng mangkuk nasinya.


"Bukannya di pondok Layla di panggil Najwa, ya?'' tanya Nada.


"Iya, Ning," jawab Layla mulai tidak enak.


"Kenapa, Lo?" tanya Nada penasaran.


"Aku tanyanya ke orang-orang Layla. Layla dari Kediri, tapi mereka mengarahkan pada orang yang salah. Katanya gak ada Layla dari Kediri," cerita Andre.


Dia menceritakan awal kedatangan kami tadi. Sebab panggilan yang berbeda, Andre berkali-kali salah orang.


"Untung ada Mbak Salwa ini. Andai gak ada pasti kita gak tahu Layla ada di mana," tambah Andre.


Lagi-lagi suasana menjadi canggung sebab aku dan Salwa dia ceengin lagi.


"Mohon maaf, saya permisi kebelakang dulu, ya..." Tiba-tiba Layla berdiri. Membawa piringnya yang kosong.


Tanpa menunggu persetujuan dia langsung pergi ke arah dapur. Sepertinya dia tidak enak berada di satu ruangan bersama Ning-nya itu.


Ingat betul bagaimana dia begitu sungkan saat aku menelponnya lewat Nada dulu. Dia marah sebab aku tidak berpikir jika nada yang menjadi temanku itu adalah Ning-nya yang harus dia hormati.


Selepas kepergian Layla semua melanjutkan makan. Andre masih bercerita panjang lebar tentang pencarian Layla tadi siang. Antusias hingga lupa jika saat ini di berhadapan dengan siapa.


Andai Nada bukan temanku pasti dia sudah menjadi Layla salah satu santriwati buronan. Sebab dia di sambang oleh pria yang bukan muhrimnya. Apalagi prianya seperti Andre yang memperlihatkan dengan jelas rasa sukanya pada Layla.


Selesai makan aku langsung mengumpulkan piring-piring mereka. Membawanya ke dapur untuk langsung aku cucu.


Nada dan Salwa berpamitan. Mereka pulang ke pondok. Meninggalkan kami bersama Dharma sebagai pengawasnya. Nada memberikan hak paten pada Dharma. Jika kami membutuhkan apa-apa, maka kami bisa meminta itu pada Dharma.

__ADS_1


Di dapur aku langsung menghampiri Layla yang baru saja mencuci piringnya.


"Kamu masih lapar, Nduk?" tanya ku


Aku meminta Layla untuk bergeser. Sebab posisinya tepat di depan wastafel pencucian piring.


"Mas Albi mau ngapain?" tanyanya


"Ya nyuci piring. Masak mau makan," jawabku asal


Dia celingukan. Melihat ke arah belakang dari ruang dapur.


"Kok sudah sepi, yang lain mana?" tanyanya


Barangkali dia baru saja menengok ke arah rumah makan.


"Sudah bubar. Sudah selesai makan semua," jawab ku.


"Sini, biar Layla saja yang nyuci." Ujarnya sambil mengambil alih piring yang aku pegang.


"Gak usah. Biasanya juga mas sendiri yang nyuci piring,"


"Itu kalau di rumah."


"Apa bedanya?"


"Bedalah, di sini kan Mas tamu,"


"La memangnya kamu bukan tamu,"


"Aku tamu. Tapi juga bisa jadi pembantu,"


"Husst! Ngomongnya,"


"Enggak maksud aku. Kita di sini kan gara-gara ada mas. Kalau cuman aku, gak mungkin di buat jamuan seperti ini. Mangakanya, Mas gak usah cuci piring. Biar aku aja, kan mas tamu." Dia mengulangi mengingat posisiku saat ini


"Udah! Udah selesai!" Kataku


Aku menteng piring-piring itu dan meletakkan pada rak piring.


Layla mengikuti dengan ekor matanya.


"Kamu masih lapar, ya Nduk?'' pertama pertama ku aku ulangi lagi.


"Ndak! Udah kenyang kok,"


"Bohong! Makam mu tadi, Lo sedikit."


"Tapi sudah kenyang, Mas Albi!'' Bantahnya dengan menekan perkataan.


Melihat Layla seperti itu membuat aku lega. Dia kembali seperti semula. Tidak seperti saat di meja makan tadi, seperti orang kesurupan. Makan tidak wajar.


"Padahal kalau kamu masih lapar, mas mau masakin kamu oseng pepaya,"


"Hahaha! Emang bisa?" Sontak saja Layla tertawa.

__ADS_1


"Ngenyek kamu! Kalau ibu masak, Mas sering bantu. Jangankan masakan kesukaan kamu, masak apa saja mas bisa, kok!'' Seru ku.


Layla bersendekap dada. Memandangku dengan memicingkan mata. Tanda dia tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.


__ADS_2