
Aku dan Ais pulang bersama . Menyusuri jalan menuju pondok dengan santri lainya .
Sekolah kami memang terletak di luar pondok , hanya berjarak 300 meter . Tidak ada yang bersepeda apalagi bermobil seperti sekolah lain pada umumnya . Kami semua jalan kaki untuk pulang ke pondok .
Sesampai di pondok banyak santri yang berjubel mengambil makan siang dengan mengantri di dapur . Kantin yang sudah ramai dengan para pembeli , hingga membuat penjaga kantin kuwalahan .
“ Najwa , “
Langkah ku terhenti di tengah tangga yang akan menuju kamar . Salwa dengan senyum mengembang sedang mendongakkan kepala melihatku .
“ Eh . Salwa , ada apa ? “
“ Bisa bicara sebentar . “
Aku tersenyum , dan mengurungkan niat untuk menuju kamar , kemudian turun mengikuti langkah Salwa yang ringan menuju depan Mushola .
Tidak ada tempat yang sepi , di manapun kita akan tetap menemukan orang di dalam pondok ini . Terutama Mushola ini , di dalamnya sudah banyak santri yang menunaikan jama'ah sholat dhuhur . Saat Dhuhur memang tidak di wajibkan berjama'ah , tapi Bu nyai Nur juga tetap melakukan jama'ah di mushola , Walaupun hanya dengan beberapa santri saja .
“ Duduk sini aja ya . “
Salwa seperti mencari tempat yang cocok untuk kami berbicara . Seakan topik kami nanti adalah sesuatu yang rahasia. Aku duduk di samping , mendelosorkan kaki , dia melakukan hal yang sama .
“ Ada apa to , kok empane penting ? “ tanya ku . Pura-pura bodoh dan tidak tahu. Padahal sudah pasti , ini tentang Mas Albi .
“ Isin aku ngomong nya . Hehehe . “ dia menyeringai , memamerkan giginya yang padat berjajar .
“ Bilang saja . “ Ujar ku .
Salwa terlihat salting , tidak seperti biasanya . Padahal dalam segala hal dia selalu percaya diri , tapi kali ini dia seakan berat untuk memulai bicara.
“ Sebenarnya ini soal Mas mu . Bagaimana dia ? ,” Tanya Salwa .
Setelah dia berusaha meyakinkan dirinya , akhirnya pertanyaan itu keluar juga .
“ Maksudnya ? Bagaimana apanya ? ,” Tanya ku berlagak nego .
“ Pasti kamu tahu kan soal tawaran Abah ku untuk Mas mu , jadi bagaimana ? ,” Tanya Salwa memperjelas.
“ Oalah . Gak gimana-gimana . Mas Albi juga tidak mengatakan apapun kepada ku . “ Jawab ku .
Seketika aku melihat perubahan mimik di wajah Salwa . Pasti dia kecewa dengan jawaban Ku.
“ Oh . Gitu ya . “ Kata itu yang terlontar setelah mendengar jawaban ku .
“ Lagian itu hanya guyonan kan ? Gak mungkin juga kamu mau sama Mas ku . “ Ujar ku , semakin menambah remuk hati Salwa . Aku sadar , tapi aku juga tidak tahu kenapa aku mengatakan itu semua kepada Salwa . Bahkan berharap dia tidak lagi memikirkan Mas Albi .
__ADS_1
“ Sebenarnya malam itu aku melihat Mas Albi mu . Hehehehe , tapi kalau Abah ku di anggap bercanda gak papa . Memang terlihat cuman guyonan. “
“ Tapi Salwa , kita masih sekolah . Karena itulah aku anggap semua itu adalah candaan . Lamaran , menikah . Itu terlalu dini . “
“ Dalam keluarga ku setelah lulus SMA , semua anak perempuan harus sudah siap menikah . Dan sekarang aku kelas 3 . Jadi tinggal satu tahun lagi . ‘’
Aku terperanjat mendengar penjelasan Salwa. Kenapa begitu mudahnya dia menerimanya . Bahkan dia belum mengenal Mas Albi . Dia hanya sepintas melihatnya. Apakah Mas Albi sungguh sangat mempesona hingga bisa membuatnya jatuh cinta ? Dan mas Albi juga ? Malam itu dia juga langsung tertarik dengan Salwa , padahal hanya sekali mendengar namanya . Apakah benar mereka bisa saling jatuh cinta tanpa saling bertutur kata bahkan bertatap muka .
“ Tapi kenapa harus Mas Albi ?,” Tanya ku .
Rasanya aku ingin meneriakinya . Kenapa harus Mas ku ? Masih ada banyak lelaki yang ingin bersanding dengannya . Kenapa harus Mas ku yang mencuri perhatiannya ? . Rasa kehilangan sudah ada dalam diriku , bagaimana bisa aku membiarkan perasaan itu semakin melebar .
Saat aku tidak lagi leluasa bersamanya , mana mungkin aku membiarkan orang lain yang bahkan belum ia kenalnya menguasai hatinya .
Bagaimana dengan diriku ? Yang selama ini bersamanya ?
“ Aku tidak tahu , mungkin ini yang namanya cinta ? , “ Jawab Salwa dengan senyum menerawang . Dia seakan menerka apa yang sedang dia rasakan . Perasaan senang mungkin , atau bahkan perasaan yang sama yang selama ini aku pendam .
Aku tidak bertanya apalagi menjawab . Semua terasa panas dan dingin , entah itu di badan ku , kepala ku atau hati ku . Sedikit aku ulur bibir ku , agar terkesan aku sedang tersenyum kepadanya . Agar ia tidak tahu , keadaanku yang sebenarnya .
“ Sal , ayo makan ! Udah aku ambil semua jatah makanya . “ Seru seorang dari lantai dua , kamar para khufadz .
Salwa melambaikan tangannya dan mengambil isyarat “Ok “ atau “ Sip “ pada jemari jempolnya . Entahlah , tapi aku lega . Sebentar lagi dia akan pergi dari hadapan ku , bukan karena tidak suka . Tapi jujur aku belum siap mendengarkan pernyataan cintanya kepada Mas Albi .
Sudah hampir jam 2 aku masih duduk terdiam Tubuhku masih belum ingin beranjak . Semestinya aku sudah makan dan sholat dhuhur .
“ Mbak , dengaren belum ganti seragam ? ,” tanya Afi , dia sudah berganti pakaian dan akan beranjak sholat . Aku tersenyum simpul , dan aku paksakan untuk beranjak dari tempat ku tanpa menjawab pertanyaan Afi .
Ku langkahkan kaki ku ke kamar , mengganti pakaian dan mengambil mukenah . Riuh teman-teman di kamar tidak aku rasakan . Mungkin karena terbiasa , atau karena diriku yang sedang membisu .
“ Najwa , kamu gak makan ?! “ seru salah satu teman kamar ku , mereka sedang bergerombol melingkar menikmati makan siang mereka yang di jadikan satu pada wadah talaman .
“ Ndak , jatahku makan saja gak papa . Daripada mubadhir .” Kataku ,
Dengan segera salah satu dari mereka mengambil kotak makan ku . Dan langsung mencampur nya di dengan makanan mereka . Melihat senyum mereka , sedikit melegakan . Indahnya kebersamaan , dan penerimaan yang sederhana , itulah yang biasa kami lakukan. Santri terbiasa dengan hal kecil , tapi mereka selalu mengganggap nya keberkahan .
Aku menuju mushola , mulai ikut berjamaah dengan santri lainya yang kebetulan juga baru saja akan Sholat .
Saat hawa panas , dan gerah seperti ini . Mungkin berdoa dengan hati tidaklah pas . Mungkin kerena suasana yang begitu terang . Ke khusu'an doa datang saat malam , saat sunyi dan saat kita sendiri. Itu hal wajar. Tapi saat ini aku ingin meminta ketenangan hati . Bukankah doa seperti mengayuh sepeda. Jika terus menerus dia akan sampai pada tujuannya. Tidak perlu menunggu malam atau waktu mustajab , karena kapan pun , bagaimanapun , di manapun Alloh pasti mendengar doa-doa ku.
‘’ Galau ta Mbak ? ,” Tanya Rayya , dia adik kelas tingkat Ku. Tapi dia seperti sahabat . Kami memiliki persamaan dalam pemikiran , tindakan dan juga sudut pandang.
Aku melipat mukenah dan kemudian dia datang . Mungkin dia tahu aku begitu lama saat mengatupkan tangan , mengadahkan pandangan ke awan-awan .
“ Gak . Galau apa Lo , hehehe . “ Elak Ku.
__ADS_1
“ Halah . Pasti soal mbak Salwa ya ? , Semua udah dengar gosip nya , tapi kenapa kok malah galau sampean ? ,”
“ Lah iya. Mangkanya aku bilang gak galau.”
“ Tapi terlihat Lo Mbak ? , Galau mikirin Mas Albi ya. “
Seketika aku menatap matanya yang memandang curiga . Dengan senyum mengembang dan rasa keingintahuan tahuan .
“ Mbak kadang aku mikir kalau kamu itu suka Lo sama Mas Mu. Kamu gak pernah cerita sama sekali tentang Mas Mu . Kayak nya Cuma aku yang tahu soal Mas Albi . Tapi sebenarnya saat pean cerita soal Mas mu itu , kamu gak bisa berhenti. Kayak orang jatuh cinta, kayak aku pas ngomongin Mas Bian saja . Hehehehehe “
“ Masak , aku gak sadar. Paling karena cuman kamu yang bisa aku ajak cerita soal Mas Albi. “
“ Mungkin juga sih , tapi kadang aku ngerasa begitu . “
“ Aku dan Mas Albi , memang beda dari kakak adik lainya . Tapi juga sama , kita juga seperti saudara pada umumnya . Kadang , kita seperti teman ,kadang juga musuh , bahkan kadang aku bisa cerewet melebihi ibu di depannya , kadang di juga mengerikan kayak ayah saat dia lagi marah , apalagi marahnya cuman diem aja . Aku bisa menjadi aku di di depan dia , dia pun seperti begitu . Bedanya , aku dan mas Albi tidak seluasa kakak adik pada umumnya , mereka bisa bergandeng , berpelukan , dan bahkan saling jotos – jotosan . “
“ Tuh kan , Mbak kamu itu kalau pas cerita soal Mas Albi pasti sumringah begitu , galau mu tadi langsung hilang . “
“ Hahaha . Perasaan mu saja . “
“ Di bilang i kok . Lagian mbak , gak papa to ? Jujur saja , sebenarnya mbak Suka sama Mas Albi ? ,”
Aku diam . Memicingkan mata , membuat kerutan di dahi ku . Membaca arah pembicaraan Rayya barusan .
“ Wajar to , kan dia Mas ku . “ kata ku .
“ Bukan itu maksudnya. Suka dalam artian Cinta . Love. “ Jelasnya dengan mempraktekkan pada jemari yang sudah terbentuk hati.
“ Kayak dirimu sama Mas bian ? , “ ledek ku. Aku ingin mengalihkan pembicaraan kami . Aku tidak lagi ingin membuat nya menerka bagaimana perasaan ku dengan Mas Albi .
“ Hehehehe . Iya Mbak , tapi sakit ya jatuh cinta itu . Sayang tapi di larang . Hmm ,, “ keluhnya .
“ Bukannya di larang . Tapi memang belum saat nya tersampaikan . Suatu saat juga pasti terbalaskan , tinggal bagaimana nanti takdir mengiyakan atau lambat laun menghilangkan “
“ Walah , puitis . “
Setelah itu tidak lagi tentang Mas Albi , tapi Bian .Saat kita berbicara tentang seseorang yang di sukai , terkadang kita lupa waktu , yang ada hanya ingin tetap membicarakan . Ghibah hubb , semua orang menyukai hal tersebut . Selalu ada hal yang tersampaikan , selalu ada harapan dan anggan – angan yang melayang . Bahkan bayangan manja yang ingin mereka rasakan . Ah ! Terkadang akan ingin juga mengatakan semua itu . Mengakui perasaan ku , menceritakan kisah ku dan mendiskripsikan setiap momen , rasa dan semua . Sunyi pun seakan gemuruh saat seseorang jatuh cinta.
****
*Assalamualaikum Teman-teman .
Jangan Lupa Like , comen dan Vote yak .
Dukungan kalian sangat berarti bagi Author . Terimakasih*
__ADS_1