
#Arya Dharma
"Astaghfirullah!"
Ku Elus dadaku sebab telah mengetahui sosok yang datang.
"Saya hampir ketiduran sebab menunggu penjenjangan berdua," kata Sarip setelah sepenuhnya terlihat.
"Kenapa kamu disini? Sudah dibilang jangan ikut!"
"Takut jenengan kenapa-kenapa. Kirain saya mau duel! Jambak-jambaan,"
Aku melengos, berbeda dengan Gus Farhan yang langsung tertawa renyah.
"Sudah yuk, gus. Balik ke pondok," ajak Sarip.
Aku menyetujui.
"Aku mau mampir dulu ke warung mak Sri. Jika kalian masih ada waktu, ayo ikut aku. Lapar..." Ajak Gus Farhan.
"Loh, kebetulan saya juga lapar. Ikutkan, Gus?" Sarip meminta persetujuan ku.
Aku mengangguk. Aku masih ingin bicara banyak dengan Gus Farhan. Tentang akan memperkenalkan dia dengan Layla juga. Meskipun aku akan sakit hati nantinya. Namun, aku tidak akan menarik ucapanku.
Laki-laki yang harus dipegang adalah ucapannya. Itung-itung sebagai rasa terimakasih sebab tidak lagi menjadikan Layla sebagai target keamanan.
Kami berjalan keluar area gudang. Posisi warung Mak Sri ada di kawasan pondok. Hanya saja dia orang luar yang kebetulan posisi rumahnya terhimpit area pondok.
Sebab adanya pondok, warung yang ia bangun menjadi salah satu langganan para santri. Masakan disana pun tidak mengecewakan. Enak dan banyak ragam masakan. Hebatnya juga bisa buka non stop dua puluh empat jam.
Di waktu seperti ini warung sepi. Tinggal beberapa santri yang ada. Itupun hanya ngopi.
"Mau makan apa?" Tanya pelayanan laki-laki yang berjaga shift malam.
"Adanya apa?" tanya Gus Farhan.
"Tinggal lalapan, nasi goreng dan mie goreng, Gus."
"Jenengan mau apa, Gus?" tanya Gus Farhan padaku.
"Lalapan saja,"
"Kulo nasi goreng," sahut Sarip tanpa diminta.
"Lalapan dua, nasi goreng satu ya, Mas. Minumnya kopi tiga."
Aku menyetujui. Kopi menjadi andalah santri. Hampir semua santri menyukai kopi.
Kami memilih duduk lesehan. Sambil menunggu pesanan. Gus Farhan menawarkan juga gorengan yang telah disediakan.
__ADS_1
"Soal Najwa, semoga bisa menjadi rahasia kita saja." Kataku
"Sebenarnya bukan rahasia. Ada beberapa orang yang sudah mengetahui hal ini juga. Tapi mereka diam saja," kata Gus Farhan.
Aku menduga itu segelintir orang-orang yang juga menyukai Layla. Jika dibilang sebenarnya dia primadona. Namun sikapnya yang acuh menjadikan hal itu tidak terlalu banyak yang membicarakan.
"Biarkan. Asal tidak menjadikan masalah untuk Layla."
Pesanan kami datang. Dengan bismillah kami mulai melahap makanan tersebut.
"Soal pertemuan dengan Layla. Nanti aku pikirkan lagi. Tapi untuk saat ini, biarkan dia Fokus dengan ujian akhirnya. Aku juga tidak akan menggangu untuk sementara waktu."
"Gus Dharma mau membantu Gus Farhan untuk Pdkt pada Layla,"
"Sebatas memperkenalkan. Aku tidak akan melakukan lebih dari itu," Sahutku.
"Itu sudah cukup. Jodoh tidak ada yang tahu. Bisa jadi nanti Gus Dharma yang menjadi jodoh Layla, tapi bisa jadi pula dia jodoh saya," Aku menatap sinis. Melambungkan lalu menghempaskan. Itulah Gus Farhan.
"Bisa juga jadi jodoh saya," sahut Sarip
"GAK MUNGKIN!!" Seruku berbarengan dengan Gus Farhan.
Sontak membuat beberapa mata yang tadinya khusu' dengan perbincangan mereka menoleh kearah kami.
Sarip sampai menganga tidak juga memasukkan makanannya ke dalam mulut. Matanya bergantian melihat kami berdua.
"Kan gak tahu takdir Gusti Alloh." Katanya.
"Idih, bicaranya Loe, Gue... Kesambet kali ya?" Sindir Sarip.
"Kok kamu jengkelin, sih Rip. Aku baru tahu, Lo..." Komentar Gus Farhan sambil mengunyah makanannya.
"Rasanya aku mau ganti Kodam aja," kataku
"Jangan to, Gus... Ampun pun. Saya gak bakal gitu lagi."
Aku tidak menggubris. Terus makan makananku.
"Hahaha... Kapok kamu, Rip. Nganggur kamu! Kehilangan Barokah Gus, mu." Tambah Gus Farhan
"Kok nambah-nambahin, to Gus jenengan. Apalah saya, kalau bukan karena jenengan berdua,"
"Mangakanya jangan su'ul adzab!"
"Iya... Maaf. Ck CK kalau sudah masalah soal Layla. Ampun dah,"
"Eh, kamu nyebut apa tadi?''
"Salah, Najwa maksudnya,"
__ADS_1
Aku melarang keras Sarip memanggil Layla dengan sebutan Layla.
Gus Farhan geleng-geleng. Makanan kami sudah hampir tandas. Kopi tinggal setengah gelas.
"Kita itu sejak tadi membicarakan satu nama seja. Yang di sebut gak tahu sedang mikirin kita apa nggak,'' kata Gus Farhan.
Ku lihat jam dinding. Sudah setengah satu malam. Para santri yang tersisa di warung ini tinggal santri salaf saja. Tidak ada yang bersekolah formal.
"Janganan mikirin, Gus. Paling ya lagi nyenyak tidur." Balasku.
Teringat lagi, wajah manis Layla saat dia tertidur. Jika diingat kembali, aku beruntung sebab sudah beberapa kali melihat dirinya tertidur. Pertama kali adalah saat di bus. Saat dia menyandarkan kepalanya di kaca bus.
Pertemuan pertama yang langsung membuatku jatuh cinta. Jika ditanya apa itu pertama, maka jawabnya mata. Di mana tidak ada aling-aling diantara kita. Pertama adalah degup jantung yang tiba-tiba merajalela tanpa tahu sebabnya. Pertama adalah Layla, yang belum aku tahu akhirnya tapi sudah aku jadikan segalanya.
"Ngomong-ngomong, awal jatuh cinta pada Najwa itu kapan, Gus?" tanya Sarip pada Gus Farhan.
Aku juga ingin tahu kisahnya. Jika di pikir seperti dia lebih dulu menemukan sosok Layla ketimbang aku.
Entah aku kemana saja waktu lalu. Hingga tidak bisa melihat jika di antara ribuan bunga yang ada di pesantren ini ada sosok bunga mawar yang indah yang ingin aku jaga sepenuhnya.
"Sejak dia MOS. Saat itu saya jadi ketua OSIS."
"Duluan Gus Farhan, Gus berarti. Jenengan yang terlambat," sahut Sarip.
"Biasa diam gak?!" Ancam ku.
"Awalnya dia sama seperti murid lainya. Tidak ada yang istimewa. Hingga tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara dia dan temannya Aisyah."
"Wih, jadi Najwa dan Aisyah sudah berteman lama ya? Pantas, mereka kemana-mana bersama,"
Aku meminta Sarip untuk berhenti berbicara. Dia malam ini seperti kerasukan arwah perempuan saja. Banyak omongnya. Mana gak jelas.
"Kalau begitu, Layla sudah kenal jenengan. Kan saat itu jenengan jadi ketua OSIS?"
"Yah itulah bedanya Najwa, Gus. Saya itu kurang terpampang gimana. Tapi, dia tetep tidak melihat saja. Bahkan pernah sekali saja memberanikan diri untuk ada didepannya. Tapi, dia malah biasa saja. Gak ada takut ataupun sungkan atau ada gelagat mengenal. Dia mengganggap saya santri biasa. Orang biasa yang bukan siapa-siapa." Jelas Gus Farhan.
"Awalnya, Layla juga seperti itu kepadaku." Ujarku.
"Mungkin kesemua laki-laki memang seperti itu, Najwa." Tambah Sarip.
Jika memang seperti itu tidak apa-apa. Tapi, bagaimana sikap dia dengan Andre. Dia terlihat nyaman dengan teman laki-laki kakaknya itu. Bahkan bercanda dan tertawa lepas.
"Entahlah, semakin dia seperti itu. Semakin membuatku penasaran. Dan ingin tahu, laki-laki seperti apa yang ingin ia jadikan suaminya kelak,"
"Kalau begitu, coba DM dia. Tanyakan, bagaimana tipe calon imammu, Najwa?" Saran Sarip.
"Hahaha ... Klasik sekali cara itu. Kalau aku mending langsung gas! Sowan. Minta dia ke Abah yai."
"Mantap itu, Gus!" Seru Sarip dengan menunjukkan dua jempol tangannya.
__ADS_1
Ada ketakutan jika Gus Farhan nekat seperti itu. Apalagi baku tidak bisa melakukan apa yang Gus Farhan lakukan. Harus benar-benar aku pikirkan. Tidak hanya hati, tapi juga kewajiban dan beberapa Hak yang aku harus pastikan dulu.