(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 62


__ADS_3

Selepas kang Dharma pergi, aku menawari Mas Albi dan Mas Andre makan. Tapi, mereka mengatakan jika masih kenyang.


Mas Albi mengajak jama'ah Sholah Dhuhur. Jam sudah menunjukkan pukul dua tiga puluh, lepas itu dia berniat mengajak jalan-jalan berkeliling bazar.


Sengaja aku mengajak Aisyah bersamaku, agar tidak terlalu mencolok padangan. Sebab kedatangan mereka saja sudah cukup membuat gaduh beberapa teman di sekitar, apalagi jika aku sendiri berjalan dengan dua laki-laki yang sejak tadi menjadi incaran mata yang memandang.


"Najwa, kamu biasa di giniin?" tanya Aisyah setengah berbisik.


Aku dan Aisyah jalan di depan. Sedang Mas Albi dan Mas Andre berjalan di belakang kami. Mengikuti langkah kemana kami pergi.


"Apanya?"


"Di kawal seperti ini."


Aku menoleh kebelakang, lalu tersenyum simpul. Yang di maksud Aisyah mungkin di ikuti oleh ke dua laki-laki di belakang kami.


"Gak kok, biasanya kan cuman sama Mas Albi aja."


"Ihh... Iri aku. Pengen deh, punya kakak! Mana cakep, berwibawa, gak bakal malu-maluin di bawa kemana-mana." Greget Aisyah.


"Kata siapa? Kadang di juga nyebelin. Sekarang aja tenang." Bantahku.


"Ngomong-ngomong, kita jadi pusat perhatian sekarang."


"Cuek aja, mau bagaimana lagi?"


"Lah, kamu biasa. Aku gak biasa! Udah kayak putri tahu, di kawal sama pangerannya. Kamu sama Mas Andre, aku sama Mas Albi."


"Idih! Ngarep..."


"Ya eleh, Ya sudah kamu sama Mas Albi, aku sama Mas Andre. Sama-sama gantengnya. Hehehe"


"Ye..."


Sampai di Masjid tanpa menunggu lama kami berjama'ah. Untung antrian di kamar mandi tidak penuh, sebab mungkin sudah lebih dulu mereka jama'ah.


Selesai jama'ah, entah dari mana asalnya. Tiba-tiba awan hitam terpampang gagah di atas awan. Memberikan peringatan jika langit akan menurunkan hujan. Melihat kondisi seperti ini pastilah teman-teman di tenda sedang kalang kabut membereskan barang dagangan.


"Aku balik ke tenda ya Mas. Kasihan teman-teman, pasti beresin tendanya." Pamitku.


"Iya gak apa-apa. Aku bantu kamu, ya..."

__ADS_1


"Gak usah nanti ngerepotin. Teman-teman juga pasti sungkan, jika Mas Albi di sana." Tolakku.


"Ya udah kalau begitu, kami saja yang beresin tendanya. Kamu sama teman-teman mu cukup lihat doang. Sama ngatur barang mau di taruh mana."


"Gak usah, Mas. Beneran dah!''


"Ayok!"


Menolak permintaanku, Mas Albi malah berjalan duluan. Menuju tenda bazar kami. Dengan cekatan dia langsung mengambil alih semua kerepotan teman-teman yang lainya.


Mas Andre tidak kalah sigap. Dia pun menawarkan bantuan dengan senang hati.


Di saat seperti ini dari arah lapangan terdengar banyak sorakan. Bersahut-sahutan, saling berebut mendukung jagoan mereka. Sejak tadi pun, sering terdengar nama Arya yang menjadi sorakan. Siapa lagi, jika bukan Arya Dharma, mantan Cover boy sekolah kami dulu. Meskipun mantan, tetap saja menjadi sorotan banyak kalangan.


"Mas kok lama, tho?" tanyaku


Saat ini Mas Albi sedang mencopot hiasan yang ada di dinding tenda. Entah mengapa dia seakan sedang terpaku dengan sesuatu yang ada di lihatnya.


"Iya... Sudah ini." Balasnya. Satu hiasan lepas dari pengaitnya.


Baru saja Mas Albi turun, terdengar sorakan dari luar.


Goll!!! Menggema ke seluruh penjuru arah.


Barulah aku tahu, apa yang menyebabkan dia lama di atas sana tadi. Lewat pembatas tenda, dia bisa melihat ke arah lapangan. Dia melihat Kang Dharma bertanding di sana.


Tanpa menjawab, aku hanya membalas perkataannya dengan senyuman dan anggukan. Dia pun tidak kalah hebatnya, batinku.


Rintik hujan mulai berjatuhan. Aku menuju belakang tenda, berbicara pada teman-teman. Meminta izin untuk menyampaikan kepada sie keamanan jika aku mungkin balik ke pondok agak sorean.


"Kamu mau ajak mereka kemana, Wa?" tanya Aisyah


"Untuk sementara ke kelas aja, ke pondok juga pasti ramai sama sambangan (Orang Tua yang menjenguk anak-anaknya),"


"Ya sudah, tapi jangan sampai malam, Lo. Dapat masalah entar, mana Masmu bawa teman."


"Iya... Iya... Faham."


Selesai meminta izin aku mengajak Mas Albi dan Mas Andre ke arah koridor sekolah. Angan-angan ingin mengajak Mas Albi ke dalam kelas, tapi aku mendapati sosok yang sedang ada di sekitar kelas. Sosok yang mungkin sejak tadi mengintai langkah kami. Seperti biasa, dia bersama dua teman yang selalu setia di kanan dan kiri_Salwa, dia melihat kehadiran kami.


Akhirnya aku urungkan niat untuk mengajak ke lantai atas.

__ADS_1


"Jadi kita terjebak di sini?'' tanya Andre


"Mau kemana lagi, mau lari kemana lagi?" Jawab Mas Albi.


Aku melihat sekeliling. Hujan semakin deras. Semua mulai mencari tempat untuk meneduh, paling banyak ada di lantai satu.


Pertandingan di lapangan tetap berjalan. Mereka tidak keberatan meski hujan menerjang. Malah terlihat riang.


"Kita di sini?" tanya Mas Albi.


"Gak, apa-apa, kan? Tadinya, mau aku ajak ke dalam kelas. Tapi, kayaknya ada orang di atas. Nanti bahaya kalau ada kalian juga," jawabku


Mas Albi mengangguk mengerti. Dia tidak bertanya apa yang membuat bahaya. Lebih baik seperti itu. Sebab aku juga tidak tahu alasan apa yang akan aku berikan.


"Ayah tidak menelpon?" tanyaku


Mas Albi merogoh hape dalam saku jaketnya. Sedari tadi benda persegi panjang itu sepertinya di biarkan mati.


"Tidak ada sinyal, Nduk."


"Oh...''


Sayang sekali padahal kesempatan berbincang banyak dengan Bapak dan Ibu. Aku kangen dengan mereka, ingin melihat wajah mereka juga.


Keheningan mulai menyelinap. Pertandingan futsal terpaksa di berhentikan karena hujan semakin ganas bercucuran. Lapangan di depan kami berangsur sepi, tak berpenghuni.


"Mereka semua, anak sekolah ini?" tanya Mas Andre. Matanya memandang ke arah gedung berlantai tiga di seberang gedung ini. Di sana, banyak anak yang sama terjebaknya seperti kami. Sebagian besar adalah atlit yang baru saja bertanding.


"Bukan, itu dari pondok lain. Lebih tepatnya, gedung itu di khususkan untuk mereka. Kami sebagai tuan rumah, tidak mungkin juga membiarkan begitu saja," jawabku.


Aku menceritakan, jika acara Porseni ini menyangkut beberapa pondok pesantren di daerah serang. Walau belum seluruhnya, tapi sudah ada sepuluh pondok pesantren yang ikut bergabung. Untuk tempat penyelenggaraan, biasanya di urutkan dari pondok yang tertua. Tapi, sudah tiga periode ini pelaksanaan Porseni ada dia pondok ini.


Penjelasanku aku hentikan, ketika aku menangkap langkah kaki dari arah tangga. Mata kami tertuju, ingin mengetahui siapa yang akan datang di antara kami.


"Salwa," sebutku lirih.


Dadaku tiba-tiba mengeras. Kenapa dia turun, untuk apa? Tatapan mata Salwa dan Mas Albi bertemu untuk pertama kalinya di depan mataku.


Mas Albi mengukir senyum untuk dirinya. Sedang Salwa, dia seperti terpaku melihat kami.


"Hai?!"

__ADS_1


Tiba-tiba Mas Andre memecah keheningan dia antara kami. Ku tarik nafas dalam, hawa dingin tiba-tiba kurasa panas.


Berusaha mengendalikan diri, dan mulai tersenyum di depan Salwa dan teman-temannya.


__ADS_2