(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 89


__ADS_3

#Arya Dharma


"Jadi umi di jodohkan dengan Abah?" tanyaku penasaran


Umi menggeleng. Tangannya tanpa lelah mengelus kepala ku.


"Abah mu meminta umi pada Mbah Yut mu,'' jawab Umi


Senyum ku pun mengembang. Tidak menyangka jika Abah yang terlihat keras seperti itu bisa seromantis itu.


"Lalu Umi langsung iya kan?" tanya ku lebih penasaran.


"Tidak. Umi menolak,"


Aku terkejut.


"Abah mu dulu sampai sekarang pun ya seperti itu. Terlihat lempeng, gak ada asyiknya sama sekali. Gus yang sama sekali tidak pernah santri lain ingin nikahi. Tidak ada satu pun yang mengidamkan Abahmu. Termasuk Umi,"


"Walah... Sangking menakutkan, ya Abah. Beda sekali sama aku, Buk. Santriwati pada ngantri, hehehe..."


"Lah, iya itu sebab ada darah Umi yang penuh kharisma ini," ujar umi dengan percaya diri.


Aku terkekeh. Barangkali memang seperti itu. Jika buka umi, aku belum tentu memiliki rasa nyaman yang gampang. Penuh dengan kesederhanaan dan bisa di mana saja.


Andai kalau aku nurun banget sama Abah. Pasti aku di jauhi sama teman-teman santri. Kaku dan gak tahu bisa di ajak bercanda. Bercanda pun paling sama keluarga, itu pun jurang pakai banget.


"Terus, Mik... Gimana kok bisa Abah bisa dapetin Umi."


"Kamu pernah dengar, kan. Jika kita itu tidak memiliki hak apapun atas diri kita, kecuali Alloh. Sedang Alloh mewakilkan kita pada orang tua kita sebagai pemilik hak kehidupan kita,"


Aku mengangguk. "Lalu?" tanyaku lagi.


"Abah mu setelah umi tolak tidak lagi terdengar lagi kabarnya. Umi kira beliau sudah mencari wanita lain. Tapi ternyata, mondok di rumah akung mu. Deketin akung mu. Setelah di rasa akung mu suka sama Abah mu. Abah mu minta umi ke akung mu,"


"Wah.... Abah pantang menyerah ternyata,"


"Iya, Le... Itu salah satu yang buat Umi jatuh cinta. Wanita itu suka jika di perjuangkan."


"Kalau sudah sama orang tua, Umi gak bisa nolak dong,"


Umi menggeleng.


"Akung mu sebelumnya juga sudah mengistikhorohi. Mbah Yut mu juga setuju, jadi ya umi nurut. Awalnya niatnya ya sami'na wa atho'na sama orang tua dan guru. Mugi-mugi Gusti Alloh maringi barokah untuk pernikahan tersebut."


"Masya Alloh... Umi Sholehah banget," goda ku.


"Perjalanan tidak semulus itu, le .. soalnya umi bener belum mencintai Abah mu,"


"Lah, ibu kapan mulai cinta sama Abah?''


Tidak sabar mengetahui kapan Umi mulai mencintai Abah. Bagaimana dan kapan? Yang aku tahu, aku lahir setelah tiga tahun pernikahan mereka.


"Saat akung dari Abah mu meminta Abah untuk menikah lagi. Beliau mencari madu untuk umi."


Deg!


Aku tidak pernah mengetahui soal itu. Jadi umi pernah akan di madu oleh Abah.


"Umi menceritakan ini agar kamu tidak faham nantinya jika suatu saat ada orang yang mengatakan hal tersebut. Saat itu, Umilah yang salah,"


Meskipun aku tidak menyangka. Tetapi aku tetap akan menerima. Pasti saat itu umi sangat terguncang.


"Abah mu tidak pernah memaksa umi untuk melakukan kewajibannya sebagai istri. Beliau sabar menerima umi dengan hati yang masih beku tanpa cinta. Abah di depan keluarganya tetap memperlihatkan bahwa Umi adalah menantu yang baik dan Sholehah. Abah selalu membuat Umi di pandang baik di kalangan keluarga. Kami di mata keluarga entah itu dari keluarga Umi atau Abah sangatlah bahagia. Padahal itu semua kebohongan belaka. Setelah di rumah ya kembali anyep lagi kondisinya." Cerita Umi.


Beliau berhenti sejenak. Menarik nafas berat. Kisah masa lalunya pasti cukup menyiksa umi saat itu.


"Hingga akhirnya, karena umi tidak kunjung hamil. Akung mu meminta Abah mu untuk mencari istri lagi. Hal itulah yang membuat hati umi sakit. Antara ingin bertahan atau pun melanjutkan."


"Lalu apa yang di lakukan Abah?"


"Abah mu tanpa menunggu langsung menjawab, jika beliau tidak ingin mencari istri lagi. Dia tidak akan membuat Umi bermadu. Tentang keturunan, kata Abah mu. Biarkan Allo saja nanti yang mentakdirkannya bagaimana. Abah pasrah."


"Oh... Abah jos! Abah ku panutan!" Aku berseru.


Aku langsung merasa bangga dengan Abah saat itu.


"Abah mu memang Jos!" Seru Ibu bangga.

__ADS_1


"Padahal Abah sama Umi belum mendapatkan keturunan memang karena belum pernah membuat. Sama sekali belum. Lawong Abah mu kalau umi di kamar dia tidak berani masuk, kalau belum umi sendiri yang mempersilahkan,"


"Waw! Abah kok bisa tahan ya, Mik. Padahal kan Umi cuantik..."


"Sebab Abah mencintai Umi sebab Alloh, Le... Jadi bagi dia ***** bukanlah sebuah rintangan."


"Masya Alloh...Kenapa Umi baru menceritakan ini padaku. Kalau sejak dulu, aku kan bisa menggoda Abah, hehehe"


"Husst... Jangan goda Abahmu. Nanti Umi di amuk,"


"Palingan Umi yang ngamuk. Kelihatan aja kalau Abah yang serem tapi ternyata Umi yang ulete Masya Alloh,"


Umi nyengir. Kali ini menjitak kepala ku. Tentu dengan pelan.


"Abah mu pernah bilang gini, le..."


Saat itu aku bangkit dari tidur ku. Duduk bersila bersendekap dada. Mataku fokus pada Umi.


"Saya itu seperti ini karena saya tidak ingin di cintai oleh wanita Lain. Sebab saya hanya ingin di cintai oleh satu orang saja, yaitu kamu."


"Huaaa!!! Seriusan, Mik. Abah pernah berkata begitu,


Dengan cepat umi mengangguk. Melebarkan senyumnya yang menambah sumringah wajahnya. Pastilah kisah ini membuat hatinya berbunga-bunga lagi. Aku saja sampai di buat tak percaya dengan aku dengar.


Abah Umar Al Faruq, laki-laki dengan ke garangannya ternyata bucin parah!


"Umi luluh dengan sendirinya. Abahmu kalau sudah cinta ya begitu. Di jaga, di perjuangkan dan di bahagiakan,"


"Hehe... Semoga Dharma nanti juga begitu, ya Mik."


"Begitu bagaimana?"


"Ya dapat menjaga, memperjuangkan, dan membahagiakan."


"Amin... Tapi kapan, Umi tahu calonnya?" tanya Umi.


Aku tersenyum penuh arti. Sebentar lagi pasti bayangan Layla hadir di pelupuk mataku.


Klik


Pintu terbuka. Sosok Layla ada di tengah pintu tersebut. Mata ku terbelalak. Tidak percaya. Sungguh fatamorgana yang terlihat nyata.


"Hei, siapa tadi?" tanya Umi


"Loh, Umi dapat melihatnya?" tanya ku heran. Gawat masa iya ibu dapat melihat khayalan ku juga.


"Ya lihat, to le... Lawong jelas gitu. Udah sana, cari tahu kenapa dia tiba-tiba dia ke sini tadi. Kok kayaknya ada perlu, gitu,"


"Hah! Jadi tadi beneran ada?!"


"Lah, Gimana to?"


Aku pun langsung turun dari tangga. Membuka pintu dan benar saja ada Layla yang sudah akan turun dari tangga.


"Layla!" Panggil ku.


Dia menoleh. Menghentikan langkahnya. Aku segera menghampirinya.


"Kang Dharma, itu_ Maaf_ tadi tidak tahu kalau ada kang Dharma," katanya dengan ketakutan.


"Ti_tidak apa-apa. Kamu kenapa ke sini lagi? Apa mau nginep lagi?" tanyaku


"Tidak-tidak. Saya hanya mau ambil Id Card Mahrom. Ketinggalan di kamar kayaknya. Di laci nakas." Jawabnya.


"Oalah... Ya sudah. Ayo..." Ajakku


"Loh, gak enak. Kang Dharma bisa minta tolong ambilkan saja, saya sungkan tadi kan ada_"


"Beliau Umi ku. Siang tadi baru datang,"


Layla terlihat ragu.


"Siapa le?" tanya Umi. Beliau keluar kamar. Mendapati kami berdua.


Tanpa di minta Layla langsung menghampiri Umi dan sunkem takdzim pada beliau. Sungguh pemandangan yang sangat indah.


Andai aku bisa bilang pada Umi. Bahwa gadis yang ada di depannya lah yang saat ini membuat putranya mabuk cinta.

__ADS_1


"Ngapunten, tadi ganggu Mik. Langsung masuk saja. Tidak tahu, jika ada jenengan di dalam," Ucap Layla.


Desiran hangat kembali datang dalam hatiku saat Layla dengan lantangnya memanggil Umi dengan panggilan yang sama denganku.


"Gak apa-apa. Ada perlu apa?" tanya Umi


"Semalam mbak ini yang tidur di kamar itu, Mik. Sekarang mau ambil Id Card Mahrom yang ketinggalan di laci katanya,"


"Oalah...Ya sudah. Cari saja, gak apa-apa. Gak usah sungkan," ujar Umi mempersilahkan.


Dengan menunduk Layla masuk ke dalam kamar. Aku dan Umi ikut mask juga. Layla langsung menuju laci sebelah kiri.


Hatiku berdebar kencang saat melihat dia dari belakang. Apalagi ini posisinya di kamar. Yah, walaupun juga ada umi di sini. Tapi tetap saja, jantung ku tidak bisa di kontrol untuk berdetak biasa saja.


"Sampun, Mik. Matur suwun. Ngapunten sangat, assalamualaikum..." Layla berpamitan dengan mencium tangan umi lagi. Barang yang ia cari sudah ada di tangannya.


"Waaikumsalam warahmatullahi wa bararokatuh," balas umi.


Mataku masih mengekor hingga Layla hilang dari balik pintu kamar.


"Sopan sekali gadis itu," kata Umi.


Yang di puji adalah Layla, akan tetapi aku ikut bangga mendengarnya. Bak akulah yang saat itu yang mendapatkan pujian tersebut.


Bagi seorang pecinta, pujian untuk sang kekasih adalah pujian untuk dirinya juga. Sebab rasa cinta yang hadir seakan menyatakan jika pilihannya tidak salah.


Aku menuju balkon, dari tempat tersebut aku melihat ke bawah. Di depan Dhalem terparkir mobil putih Andre. Mereka sedang menunggu Layla Keluar dari dalam rumah.


Beberapa saat Layla keluar, tidak sendirian ada Aisyah juga. Di selalu menjaga harga dirinya. Meskipun orang tahu bahwa yang bersamaan dengannya adalah saudaranya sendiri. Dia tetap membawa teman agar tidak mengundang fitnah.


Mereka masih mengobrol, entah apa aku tidak dapat mendengarnya. Aku pun tidak terlalu bisa melihat mereka lebih jelas sebab ada ranting pohon yang menghalang-halangi pandangan. Bagiku cukup tahu, jika saat ini Layla baik-baik saja. Konflik yang terjadi tadi pagi kelihatannya sudah tidak ada. Mas Albi sudah bersikap biasa saja. Lagipula mana mungkin ada orang yang betah mendiamkan Layla. Dia imut seperti itu.


Satu mobil datang lagi ke halaman. Aku kenal mobil tersebut. Milik Ning Nada. Benar saja, setelah mobil itu berhenti dari balik pengemudi sosok Ning Nada dan Salwa muncul.


Mereka sudah terlihat akrab kembali. Syukurlah, aku lega.


"Ada apa, le kok mesem-mesem sendiri?" Umi tiba-tiba sudah ada di samping ku. Matanya melihat ke arah pandangan ku.


"Itu siapa?"


"Itu masnya gadis yang tadi ngambil barang yang ketinggalan, mik." Jawabku


Saat itu yang terlihat jelas Mas Albi.


"Oalah... Yang tadi malam nginep di sini,"


"Nggeh. Mereka teman Ning Nada, dan kabarnya masnya itu mau di jodoh kan dengan Salwa."


"Oalah... Masya Alloh. Salwa udah punya calon! Kok aku baru dengar!" Seru umi. Barang kali karena Salwa masih terlihat kecil saja bagi beliau mangakanya terkejut mendengar hal tersebut.


"Masih wacana. Belum fix kayaknya. Kalau udah fix ya pasti ngasih tahu Umilah,"


Umi manggut-manggut-manggut. Beliau mulai memperhatikan gerombolan mereka.


"Kamu, siapa calonnya?" Umi menanyakan lagi soal calon.


"Hehehe... Kalau misalnya, ya Mik...Ini masih misalnya....gadis itu gimana?" Aku tidak menunjuk langsung pada Layla. Tapi posisi umi bisa melihat Layla dengan jelas saat ini. Sebab dia sedang ada di tengah antara Mas Albi dan Ning Nada.


"Kalau Umi ya senang saja. Sambung keluarga lagi," jawab umi masih dengan melihat ke arah Layla.


Rasanya ingin langsung loncat dan bersorak gembira. Akan tetapi harus aku tahan dulu. Mendapatkan lampu hijau dari umi adalah kabar yang bahagia.


"Kamu suka?" tanya Umi


Aku hanya membalas dengan cengengesan.


"Yah, kalau jodoh ya gak apa-apa. Tapi nanti dulu lah, Mik."


"Kok nanti dulu. Mumpung orang tua mu di sini, ya gak apa-apa langsung minta ke Abah yai."


"Waduh-waduh jangan dulu. Haduh umi!!! Nanti dulu, biar Dharma berjuang dulu. Cari tahu dulu, dianya suka gak sama Dharma,"


"Haha... Ya sudah kalau itu mau mu. Padahal kayaknya dia juga suka sama kamu. Alasan umi ke sin kan memang untuk memastikan itu. Kamu beneran sudah ada pandangan apa belum. Kalau sudah Iya Alhamdulillah. Kalau belum umi sama Abah mau cariin kamu jodoh,"


"Jangan dulu lah, mik. Ini aja sudah...."


"Ya sudah. Pokok umi sudah tahu. Umi tenang,"

__ADS_1


Aku langsung memeluk umi. Beliau adalah ketengan dan penyejuk hatiku yang paling ampuh.


Baru saja umi menceritakan tentang kisahnya dengan Abah dan tiba-tiba Layla datang tanpa di duga. Apakah ini pertanda, Gusti? Aku semakin tidak sabar mengetahui misteri yang Engkau berikan padaku.


__ADS_2