(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 19


__ADS_3

Kesalahan ku adalah mulai mencintai mu ,


kesalahan ku lagi adalah aku menginginkan balasan akan rasa cinta itu .


Aku bisa apa ?


Kini ku mulai merindukan mu dalam diam ,


tanpa berani mengucap .


Aku bisa apa ?


Selain menyelipkan namamu dalam doa ku ,


ku utarakan keegoisan ku dalam doa itu.


Aku....


''Layla?''


Panggilan itu membuyarkan lamunan ku. Ibu memanggil bersamaan dengan ketukan pintu kamar.


Aku beranjak dari tidur ku, sebelum itu aku menyelipkan buku Diary di bawah bantal. dan segera membuka pintu.


''Sudah siap belum? Di tunggu, dari tadi, Lo!"


''Maaf, buk. Layla lupa, kalau barusan datang bulan'' balas ku dengan nyengir.


''Oalah....Ya, sudah. Tunggu, rumah kalau gitu.''


Setelah mendapat jawaban ku. Ibu kembali ke ruang tamu. Aku mengikuti beliau dari belakang Terlihat, Ayah dan Mas Albi sudah siap dengan pakaian rapi serba putih dan juga sajadah.


''Loh, belum siap, Nduk?" tanya Mas Albi, kaget karena aku masih belum berdandan.


"Hehehe...Malas sholat, Mas."Jawabku sambil menyeringai. Mas Albi geleng-geleng kepala.


Candaan yang selalu aku lontarkan jika sedang di tanya sholat atau tidak saat datang bulan. Mendengar itu, semua sudah faham.


Tanpa menunggu apapun lagi, mereka berangkat untuk menunaikan sholat Ied. Aku mengantar sampai depan rumah.


Di depan, terlihat beberapa tetangga lain juga mulai berangkat ke Masjid. Aku mengalun senyum saat mereka melihat dan menyapa ku, sedikit menundukkan punggung untuk menghormati mereka.


Masjid di komplek rumah tidak lah jauh. Cukup melewati dua rumah dan masuk gang kecil di komplek ini. Jadi, tidak jarang jika banyak orang yang lewat depan rumah.


Sambil menunggu, aku menyiapkan opor ayam dan beberapa makan yang sudah di masak ibu. Sudah menjadi tradisi juga setelah melaksanakan Sholat Ied kami berkumpul makan bersama. Sebelum, setelah itu kami bersilaturahmi dengan tetangga.

__ADS_1


Setelah semua di rasa cukup. Aku menunggu di ruang tengah, dengan menyusuri media sosial yang ada di ponsel.


Yah, semua topik tentang hari raya. Banyak WhatsApp, dan DM masuk berisikan ucapan hari raya. Teman-teman pondo, dan beberapa teman-teman sekolah ku dulu. Ada juga beberapa yang tidak aku kenal, namun tetap aku balas dengan ucapan sama-sama juga.


Tak jarang dari beberapa teman santri putra. Bukan aku sombong, tapi aku juga tidak ingin memberikan harapan apapun kepada mereka. Apalagi memanfaatkan perasaan.


Andai mereka datang sebagai teman, mungkin aku bisa menerima. Tatapi tidak, mereka membawa perasaan dengan harapan yang tidak bisa aku balas nantinya.


Bisa aku hitung teman lelaki ku, dan itu pun hampir semua berhubungan darah dengan ku juga. Alias masih saudara.


Banyak orang yang mengatakan aku terlalu kaku . Hingga membuat lawan jenis takut untuk mendekat. Merasa sungkan terlebih dahulu. Namun meskipun begitu, tetap saja saat liburan seperti ini mereka menghubungi ku.


Tiba-tiba mataku terfokus pada salah satu DM. Nama asing namun, sedikit membuat ku penasaran.


*Dharma


Assalamualaikum Putri Malu ,


Sepertinya kamu meninggalkan barang mu pada ku.*


Aku mengernyitkan dahi. Dengan seksama langsung ku lihat profil Instragram tersebut.


''Kang Dharma?" Kata ku tidak menyangka.


Beberapa feed memperlihatkan fotonya dan beberapa konten lainnya. Tanpa sadar aku mulai membuka satu persatu postingan dia.


Dalam foto tersebut dia menuliskan caption ''Jika aku terlihat hebat, itu bukan karena aku. Tapi karena doa ibu ku ''.


Tak sadar aku ikut tersenyum dengan kalimat tersebut. Aku kira, dia hanya bisa bercanda saja.


Tiba-tiba aku teringat pada saat pertama kali kita bertemu. Melipir, ke hari di mana hari kepulangan ku.


Aku dengan beberapa barang bawaan ku, dia tiba-tiba datang dan menanyakan nama ku.


''Mbak Layla, atau Mbak Najwa?" tanyanya tiba-tiba saat itu. Aku yang tiba-tiba di tanya seperti itu mendadak bingung. Aku tidak mengenal dia, aku juga tidak tau harus menjawab bagaimana. Dia menyebut ke dua nama ku. Matanya tidak hilang, dari wajahku.


''Dua...duanya, namaku.'' Jawab ku


''Oh! Terus, saya manggil nya apa?'' tanyanya lagi.


Aku memandang aneh ke arahnya. Kang santri yang aneh. Tanpa menjawab aku langsung meninggal dirinya menuju Bis.


''Loh, malah di tinggal? Belum-belum aku sudah di tinggal!'' Serunya dengan melangkah mengikuti ku.


Tidak lagi ku hiraukan, karena banyak santri lain, lagipula itu terlihat terang-terangan.

__ADS_1


Baru setelah bis berjalan teman-teman ku, menanyakan perihal Kang Dharma yang tiba-tiba menghadang ku tadi.


''Kang Dharma, tadi ngapain, Mbak? tanya Ifah, dia teman satu bangku dan juga satu kota perjalan pulang kemarin.


''Kang Dharma?'' Aku belum faham, jika kang santri tadi adalah Kang Dharma.


''Iya! Tadi Lo yang menghadang, Mbak pas mau masuk bis'' Ifah, menjawab ketidak fahaman ku.


''Oalah...Namanya kang Dharma? Itu, tho oranganya...." Kata ku. Baru teringat apa yang di pesan Neng Nada saat kapan lalu. Jika nanti aku akan di titipkan kepada Kang Dharma saat pulang.


''Lah, masak Mbak Najwa, gak tahu. Dia itu masih saudara Ndalem, Lo...." jelas Ifah


''Masak?!!'' Seru ku terkejut.


Hal itupun aku juga tidak mengetahuinya. Pantas saja, dia beda sendiri dari santri lainya. Tidak malu juga, saat dia langsung menghampiri ku tadi. Orangnya, juga grusa-grusu.


''Iya, Mbak! Tapi, jangan keras-keras, nanti kedengaran!'' Balas Ifah sambil berbisik lirih, namun jelas terdengar kekhawatiran.


''Iya...Maaf.''


Barulah setelah itu Ifah cerita tentang kang Dharma. Bahwa orang tuanya masih sepupu dari Abah. Rumahnya Trenggalek. Dia sudah dua tahun salaf. Dan membantu mengajar kelas dua Tsanawiyah. Seperti yang aku dengar dari Neng Nada.


Tapi Ifah sedikit menambahkan bahwa dia juga banyak yang menyukai alias banyak fans. Bahkan mbak-mbak khufadz juga tertarik pada dia.


''Wonge atrah nyaman, Mbak (Orangnya memang buat Nyaman, Mbak).'' kata ifah sontak membuatku menaikkan satu alisku.


''Piye, maksudnya nyaman itu?'' tanya ku dengan menahan tawa.


''Piye, Yo...Gak cuek, Grapyaki, sumeh pisan, dadine gak nyungkani (Gamana, ya? Tidak cuek, suka bergaul, murah tersenyum, jadi tidak sungkan).'' Terang Ifah.


''Oalah...Haha"


Perbincangan kami terhenti. Karena tiba-tiba dia lewat bangku kami. Dan tanpa malu, menanyai ku lagi. Saat itu, bis kami sedang berhenti di rest area.


''Mbak, wonten sing di perlu ne mboten?" tanya Kang Dharma langsung. Sontak membuat semua santri di dalam menyoraki.


Aku yang di tanya seperti itu malah diam, dan memalingkan muka. Malu....


''Mboten, Kang." Jawab ku lirih tapi masih bisa dia benar.


''Walah, putri malu....'' Lontarnya dan kemudian pergi. Beberapa santri saat itu mulai berdatangan, setelah istirahat atau sejenak melepas lelah di rest area.


Ifah langsung mencubit lengan ku dengan gamas setelah dia pergi.


''Ya Alloh, Mbak...Mimpi apa kamu semalam, sampai di perhatiin sama kang Dharma?" tatanya dengan gemas.

__ADS_1


Aku hanya mesem-mesem cengengesan. Jika aku menjawab itu karena dia di utus Neng Nada untuk menjaga ku, bisa panjang lebar nanti ceritanya. Dan hasilnya hanya akan pada Mas Albi, Qoisku. Hah, sudah cukup orang yang mengetahui tentang Mas Albi. Aku tidak akan menambah orang lain lagi.


__ADS_2