
#Layla Najwa Fathurrohman
Masuk ke dalam pondok semua mata tertuju kepadaku dan Aisyah. Kami seperti borongan yang tertangkap. Bisik-bisik mulai terdengar entah itu sebuah suara yang baik atau buruk. Keduanya jika itu membicarakan hal di belakang aku tetap tidak suka.
"Aku ke kamar, dulu ya Wa!" Seru Aisyah langsung ngancir menuju kamarnya. Entah dia merasakan apa yang aku rasakan atau tidak. Dia happy saja sepertinya.
"Mbak Najwa, baru dari Dhalem timur, ya?" tanya Afi langsung to the poin.
"Iya..." Jawabku sambil senyum.
"Ngapain aja mbak?"
"Gak ngapa-ngapain. Cuman nginep doang,"
Yang bertanya satu orang. Tapi yang siap mendengarkan hampir semua penghuni kamar.
Aku lekas mengambil seragam. Menyiapkan keperluan apa yang seharusnya aku bawa. Berganti pakaian lalu menyiapkan diri. Menurunkan kotak-kotak yang berisikan atribut bazar yang kemarin aku titipkan pada teman yang pulang duluan.
"Langsung ke sekolah, Mbak?" tanya Afi lagi.
"Iya... Nyiapin bazar,"
Semua sudah siap aku langsung keluar kamar lagi. Berpapasan dengan beberapa orang pun aku berbicara seperlunya.
Aisyah sudah siap. Kami pun bersamaan turun kebawah. Masih dengan banyak mata yang memandang. Tetap aku hiraukan.
Sampai di depan pondok sudah banyak santri yang berkeliaran. Hilir mudik silih berganti.
Kami baru saja akan menyebrang. Tiba-tiba mobil Fortuner putih berhenti tepat di depan kami.
"Masuk!" Seru Mas Albi.
Mas Albi setelah turun dari mobil, langsung membuka pintu belakang. Mas Andre ikut terdiam melihat paras Mas Albi yang terlihat dingin.
Marah, kah?
Aku dan Aisyah masuk kedalam. Mobil melaju menuju pondok induk yang berjarak tidak jauh dari pondok. Mencari parkiran tepat di depan masjid.
Mobil berhenti dan terparkir sempurna. Aku dan Aisyah langsung turun tergesa menuju tenda bazar.
Beberapa tenda sudah siap dengan dagangan. Sedang punya kami masih sepi belum siap semua.
__ADS_1
Begitu terkejutnya kami, saat mengetahui tenda sudah ramai oleh para pengunjung. Sejak kapan? Siapa yang menyiapkan semuanya?
"Aisyah, akhirnya kalian datang juga," salah satu teman kelas kami tergopoh-gopoh menyiapkan pesanan.
"Pesanan untuk siapa?" tanya Aisyah
"Club Futsal. Mereka sarapan di sini," jawab mereka.
Pandanganku beralih pada beberapa pemain futsal pondok kami. Tidak ada kang Dharma di antara mereka. Barangkali masih ada di Dhalem timur. Mobil Ning Nada tadi juga belum terlihat.
Aku segera ikut andil mempersiapkan semuanya. Mengantar pesanan satu persatu pada mereka.
"Layla, siapkan untukku juga, ya..." Kata Mas Andre
"Belum sarapan?" tanya ku heran. Bukannya tadi Ning Nada sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Bahkan Mas Albi memasak dengan Salwa.
"Belum, Mas mu khawatir sama kamu. Jangankan sarapan, minum saja aku belum." jawab Mas Andre.
Mas Albi yang sejak tadi berubah dingin hanya sudah duduk di depan tenda kami. Mengutak-atik ponselnya entah untuk apa.
"Ya sudah, aku siapin dulu ..." Kataku.
Aku meminta dua porsi untuk Mas Albi dan Mas Andre lengkap dengan minumannya. Selain mie kami juga menyiapkan ayam bakar lalapan.
Dingin sekali Mas Albi saat ini. Aku memang bersalah sebab tidak meminta izin pada Mas Albi tadi. Tadi ego ku yang menguasai. Hatiku panas melihat dia dan Salwa, mereka begitu dekatnya.
Pelanggan mulai berangsur sepi. Para pemain futsal sudah selesai sarapan. Mereka juga sudah mengembalikan piring dan gelas bekas mereka pada kami. Sebagian teman sudah siap mencuci piring dan gelas bekas mereka.
"Kamu temani mereka sarapan, wa ..." Bisik Aisyah
"Kamu jugalah, tadi belum sarapan, kan?''
"Gak enak aku. Aku tak sarapan sama teman-teman di belakang," Aisyah mengarahkan pandanganku pada teman-teman yang juga sedang menikmati sarapan bersama di depan teras kantor.
"Ya sudah," akhirnya aku mengambil bagian ku lalu bergabung duduk bersama mas Albi dan Mas Andre.
Porsi mas Andre hampir tandas begitu pun Mas Albi. Gelas berisi teh hangat menjadi sasaran berikut mereka.
"Aku kira tadi sarapan di Dhalem timur," kataku
Mas albi diam. Wajahnya masih dingin sekali. Tidak ada keramahan. Mas Andre nyengir, lalu senyum tanpa arti.
__ADS_1
Mereka menungguku sampai makanan ku tandas. Tidak bertanya apalagi mengajak bercanda.
Kesalahanku fatal ya, sebab tidak meminta izin tadi. Aku tidak tahu harus beralasan apa nanti. Apa yang harus aku jelaskan? Gak mungkin juga aku bilang, jika aku pergi sebab melihat Mas Albi dan Salwa berduaan di dapur.
"Mas Albi, mana tumis pepayanya?" tanyaku dengan senyum yang aku buat manis sekali. Semoga saja bisa meluluhkan hatinya yang dongkol sebab perbuatan ceroboh ku.
Kenapa aku tidak berpikir tadi, jika aku pergi begitu saja itu akan membuat mereka semua khawatir.
"Tumis pepaya, apa?" tanya Mas Albi seakan tidak mengerti.
"Tumis pepaya. Bukankah tadi Mas Albi membuat tumis Papaya?" jawabku
"Aku permisi mau ke kamar mandi dulu,"sahut Mas Andre tiba-tiba. Dia mengerti jika Mas Albi mungkin akan memarahi ku.
Kami pun berhenti berbicara sampai Mas Andre meninggalkan kami berdua.
"Kenapa tidak memberitahu Mas jika kamu pulang ke pondok, Layla?" dia tidak meninggikan suaranya. Tetap stabil namun di setiap nada suaranya penuh tekanan dan amarah yang ia pendam.
"Aku kira nanti Ning Nada akan memberitahukan juga jika aku dan Aisyah pulang duluan," jawab ku.
Mas Albi menghela nafas dalam.
"Jadi menurut Layla, meminta izin pada Nada sudah cukup? Dan Mas gak perlu?"
Aku menggelengkan kepalaku segera. Bukan seperti itu. Mataku memanas saat mas Albi marah seperti itu.
"Tadi aku ingin meminta izin pada Mas Albi. Tapi, aku lihat mas albi dan Salwa...." Aku tidak sanggup meneruskan.
Matanya terbelalak sempurna.
"Salwa?" Dia menyebut namanya.
Aku mengangguk.
"Acara jamuan kemarin sepertinya memang di buat untuk mendekatkan kalian," kataku.
"Tidak ada yang seperti itu, Layla. Kamu salah faham,"
"Salah faham apanya? Memang seperti itu kok, semua terlihat jelas!" Kini aku yang malah terbawa amarah.
"Tidak ada. Jamuan kemarin reel dari Nada. Tidak ada maksud apa-apa. Dharma yang merencanakan semuanya,"
__ADS_1
Apa yang Mas Albi katakan. Kenapa dia malah membawa kang Dharma untuk masalah seperti ini. Dia tidak mengetahui apapun tentang ini semua. Dia bahkan yang menyusul ku dan Aisyah tadi.