
Setelah adu mulut akhirnya aku mengalah. Dia sudah mengeluarkan jurus pasrah tanpa serah kepada ku. Mengatakan iya, namun hatinya tetap saja bungkah.
"Ya, wes lek Layla pengen ikut rombongan, ya biarin. Lagian besok kamu juga ada kuliah pagi, ngajuin revisi skripsi mu katanya." Ucap Ayah saat aku sudah berhasil membujuk Layla. Namun dia langsung beringsut pergi membawa dongkol menuju kamarnya.
Ku hela nafas lemah. Kalau Ayah sudah mengatakan hal itu apa kuasa ku? Ku acak rambut ku sebagai pelampiasan rasa kesal ku.
"Terseret pun. Albi nyerah!" Seru ku kesal.
Ayah sepertinya juga kasihan kepada ku. Beliau langsung meninggalkan ku, menuju kamar Layla untuk memberinya dia kabar, jika dia berhasil mendapatkan izin untuk balik sendiri bersama rombongan.
Beberapa menit berlalu. Layla membawa koper dan barang bawaannya keluar. Dia sudah berdandan rapi, sudah siap untuk pulang. Jas Almamater sudah ia tenteng di tangan sebelah kiri. Sedang tangan yang lainya sibuk menyeret koper ke teras depan. Aku tercengang, karena ini masih siang. Aku tidak tahu kapan dia akan di jemput oleh rombongan. Dia hanya mengatakan akan balik bersama mereka saja. Aku cukup mengantarkannya sampai Aula Muktamar.
"Ayo, Mas!" Serunya.
"Kemana? Jadi balik sama aku?" tanya ku. Mungkin saja dia sudah luluh beneran, dan mengurungkan niatnya untuk ikut rombongan.
"Ke muktamar, lah. Bus dari Trenggalek sudah datang katanya." Jawabnya.
Ku lihat jam dinding. Masih pukul setengah tiga. Biasanya kami juga berangkat di jam seperti ini. Ternyata, diapun juga akan pergi saat ini.
Ayah dan ibu juga ikut mengantar. Beliau berdua sebenarnya juga khawatir, namun keras kepala Layla, membuatnya merelakan untuk melepas putri kesayangannya untuk pulang sendirian.
"Ponsel mu mana?" tanya ku.
"Kenapa? Mau ngambil nomer siapa lagi?!" Dia mengatakan seolah aku adalah pencuri yang sudah tertangkap basah saja.
"Ck. Aku hanya meminta ponsel mu. Gak akan ngambil nomer siapa-siapa lagi. Nanti kebawa sampai ke pondok. Mangkanya aku ambil sekarang." Jawab ku dengan nada kesal.
Sejak mengetahui aku menyalin nomer Salwa di ponselku. Dia langsung berubah drastis. Tidak suka jika aku mengotak-atik barang miliknya. Seakan aku akan mengambil hal lainya darinya lagi.
Itu membuat ku curiga. Apa benar, dia sedang memiliki seseorang yang tersayang, hingga ponselnya dia dekap tidak segera ia suguhkan. Mungkinkah juga, kepergiannya saat ini karena ada seseorang yang menawarinya kenyamanan dan keamanan, hingga dia langsung mengiyakan?
__ADS_1
"Mana?" Seru ku meminta ponsel yang sedari tadi ia lindungi di balik tangannya.
"Nanti. Kalau aku akan pergi, baru aku berikan. Sekarang ayo, berangkat!" Balasnya menolak.
Kecurigaan ku semakin menggebu ingin segera mengungkap. Namun, benda pipih itu terus ia simpan erat dalam perlindungannya. Selama perjalanan pun, dia memainkan ponselnya. Mengetuk beberapa kali layar, mengirim beberapa pesan, entah kepada siapa.
Mobil memasuki gerbang pondok Lirboyo. Memperlihatkan beberapa deretan bus yang sudah siap untuk di berangkatkan.
Pandangan ku mengedar mencari sosok yang barang kali sedang menatap Layla. Mungkin saja aku bisa menangkap basah sosok yang telah membuat adik ku memilih pergi bersamanya dari pada bersama ku.
Namun, tidak ada satupun yang terlihat mencurigakan. Malahan pandangan ku menangkap Dharma yang sedang bercengkrama dengan teman sebayanya.
"Dharma?!" teriak ku memanggil seraya melambaikan tangan. Ada sedikit rasa lega saat melihat dirinya ada satu rombongan dengan Layla.
Aku segera menghampiri Dharma karena dia hanya membalas lambaian tangan ku tanpa ingin menemui ku. Saat dia mengetahui langkah ku menghampirinya, dia lantas meninggalkan teman-temannya.
"Sibuk, ya?'' tanya ku sambil mengulurkan tangan. Dia menjabat sambil memberikan senyuman.
Agak sedikit ragu meminta tolong lagi dengan Dharma. Kelihatannya dia sedang sibuk dengan teman-temannya. Apakah mau dia mengemban kewajiban ku menjaga Layla untuk sementara. Jika saat itu dia mau, itu mungkin karena permintaan Nada, yang sebagai putri dari kyainya. Tapi saat ini, aku siapa? Baru juga kami saling mengenal, itupun belum terlalu dalam.
Dengan dalih ingin memperkenalkan orang tua ku, aku mengajaknya bertemu dengan ayah dan ibu. Pasti mereka juga senang bertemu dengan Dharma yang dermawan. Oleh-oleh masakan kemarin, sukses membuat kami senang.
Pertamanya dia merasa canggung. Namun nyatanya dia langsung bisa menyesuaikan dengan gelagat kami sekeluarga. Dia sosok yang sopan dan penuh penghormatan.
Saat itu juga aku utarakan maksud ku untuk menjaga Layla. Namun maksud ku itu, tidak membuat Layla senang. Dia bersikukuh ingin berjalan sendirian. Hal itu di tangkap oleh Dharma. Dia sudah mengiyakan, tapi Layla dengan angkuhnya menolak terang-terangan.
Dharma sampai bilang, jika dia tidak ingin memaksa. Jika iya silahkan, dan jika tidak, itupun tidak apa-apa.
Akhirnya aku terus menerangkan pada Layla, jika dia tidak ingin dalam penjagaan Dharma, maka aku yang akan mengantarkannya.
Itu pilihan yang harus dia pertimbangkan. Aku sendiri tidak apa, jika harus pulang larut malam, jika dia memilih berangkat dengan ku.
__ADS_1
"Aku sendiri. Gak ada Mas Albi, ataupun kang itu!" Jawabnya ketus.
"Nurut sama, Mas. Jika bukan karena dirimu, anggap saja buat Mas!" tegas ku.
Kenapa keras kepalanya itu tidak bisa di singkirkan sama sekali. Aku harus membentaknya hingga dia sadar. Tahukah rasanya? Dia yang aku bentak, aku yang merasakan sakitnya. Hati ku lusuh saat tiba-tiba dia diam tanpa jawaban.
Mendapatkan tamparan kata yang jarang sekali aku hantamkan. Setelah itu dia beringsut melangkah menuju ke arah ayah dan ibu. Tanda jika dia memilih untuk pergi bersama rombongan, dan menyetujui Dharma yang akan melindungi.
Aku mengajak Dharma mengantar kami ke dalam bus dan memberitahukan di mana dia akan duduk nantinya.
Dharma meninggal ku dengan Layla sesaat setelah temannya mengajaknya pergi. Masih ada waktu sedikit, sebelum keberangkatannya. Aku meminta maaf sebesar-besarnya atas bentakan ku, dan perkataan kasar ku. Ku yakinkan jika semua itu untuk kebaikannya.
"Iya, Mas. Aku ngerti, tapi aku tidak suka dengan orang itu." Ungkapnya.
Aku melihat ke arah jendela, yang di maksud Layla adalah Dharma. Entah mengapa, ketidak sukaanya akan Dharma malah membuat hati ku teremas-remas seakan ada ketakutan yang belum jelas.
Bukankah banyak cerita yang awalanya benci kemudian cinta. Mungkin saja itu terjadi pada Layla. Apalagi Dharma sosok lelaki yang sempurna.
"Maksud mu, aku nanti akan menyukai kang Dharma?" tanya Layla penuh tanda tanya, matanya menatap ku lekat. Pertanyaan itu hadir setelah aku mengatakan jika mungkin saja, nanti dia menyukai Dharma. Layla sendiri saat itu tidak pernah berpikir akan perasaannya nanti seperti apa?Tapi tetap saja, hati manusia siapa yang punya?
Dia seperti mencari sesuatu dari mataku. Keyakinan akan kata-kata ku, atau mungkin pernyataan ku yang secara tiba-tiba. Dalam hal suka dan tidak suka, kami jarang membicarakan persoalan itu. Tapi kali ini, aku tiba-tiba merasakan sosok di depan ku saat ini akan menjauh pergi.
"Menurut Mas, apa aku akan menyukai orang seperti dia?" Layla menanyakan hal yang sama lagi. Aku tertegun.
"Lalu orang seperti apa yang akan kamu suka, Layla?" tanya ku balik.
Layla terdiam sambil memutar bola matanya. Dia seakan sedang membayangkan sosok yang ingin ia jabarkan.
"Di kepala ku cuman ada Mas Albi. Gak ada siapa-siapa lagi," jawabnya sambil menyeringai lucu.
Sontak membuat ku langsung tertawa. Senyumannya itu langsung bisa membuatku luluh, dan menghilangkan rasa cemas ku.
__ADS_1