
#Layla Najwa Fathurrohman
Kami berkeliling bazar. Mencicipi macam makanan ringan dan juga minuman. Bermain beberapa mainan yang di sediakan.
Ada sebuah stand dari pihak warga yang salah satunya menyediakan permainan memanah. Itu sempurna menarik perhatian kami bertiga.
Ya, aku berjalan bersama Mas Andre dan mas Albi. Aisyah tidak ikut sebab dia harus menjaga stand bazar kami. Kewajiban sebagai ketua kelas tidak biasa ia hiraukan begitu saja.
"Aisyah tanggung jawab banget kayaknya, lay." Kata Mas Andre setelah kami membeli tiket untuk bergiliran main memanah.
"Dia baik banget, cantik, supel, rajin, komplitlah yang terpenting dia sempurna menjadi perempuan," tambah ku
"Mau ganti target lagi?" tanya mas Albi. Aku tersenyum ringan. Tahu maksud yang di katakan Mas Albi.
"Gak lah, masak ganti target tepat di depan target utama," jawab Mas Andre dengan menatap penuh cinta ke arahku. Aku pun membalas dengan ukiran senyum.
"Jadi, kalau gak di depanku bisa dong. Ganti target?" tanyaku menantang.
"Tidaklah. Kamu target utama dan yang terakhir," jawab Mas Andre tanpa keraguan.
Lagi-lagi aku hanya menyunggingkan senyum untuk membalas perhatiannya dan perilakunya.
Aku tidak tahu bagaiman nantinya. Akan tetapi saat ini aku hanya menganggap Mas Andre sebagai kakak saja.
"Silahkan, mas..." Penjaga stand permainan memberikan instruksi kepada Mas Andre untuk megambil permainan.
"Kamu mau apa, lay?" tanya mas Andre
"Mau apa?" Aku tidak mengerti maksudnya.
"Andre jago bermain panah. Dia biasa mendapatkan Hadiah yang ia incar sekarang," jelas mas Albi
"Emmm.... Kalau Mas Andre bisa tiga kali tepat sasaran, boleh deh mas Andre minta apapun dariku. Tetapi kalau kalah Mas Andre harus menuruti permintaanku," kataku
"Heh! Gak boleh. Andre pasti bisa ngelakuin itu," sahut Mas Albi tidak terima.
"Gak apa-apa. Aku siap, kok"
"Diam, Lo bi. Ini urusan dua hati," sergah Mas Andre
"Jangan minta aneh-aneh, Lo!" Ancam mas Albi
"Ya terserah gua. Layla aja mau, kok!"
Mas Andre merasa percaya diri sekali. Tidak apa-apa, jika dia menang. Aku yakin kok Mas Andre orang baik. Dia tidak akan meminta sesuatu yang akan menyulitkan aku. Nyatanya dia selalu ikhlas menunggu mas Albi rela untuk bertemu ku.
__ADS_1
Mas Albi cerita jika mas Andre bisa saja menenui ku sejak dulu. Tetapi mas Albi selalu melarangnya. Aku pun tidak tahu, bagaimana bisa Mas Andre menyukai ku. Dari sejak kapan dan apa yang membuatnya jatuh cinta padaku.
Pernyataan cintanya yang terang-terangan tidak mengusikku sama sekali. Barangkali karena mas Albi juga mempercayai dia sepenuh hati. Malah membuat aku merasa nyaman, sebab seperti mendapatkan kakak laki-laki lagi.
Mas Andre sudah berhasil memenangkan dua ronde dengan sempurna. Tinggal satu lagi, jika dia benar menang. Maka aku siap melakukan apa saja permintaannya.
Dua hadiah sudah di berikan kepadamu. Satu buah kaos lengan panjang berwarna hitam dan satu lagi boneka berukuran besar. Sang pemenang memang di minta untuk memilih sendiri hadiahnya.
"Satu lagi, janji ya ... Sesuai perjanjian tadi," kata Mas Andre mengingatkan
Aku mengangguk. Mas Albi menatap kesal.
"Harus ikhlas, Bi... Kemarin udah aku minta langsung kan, Layla padamu." Kata mas Andre
Aku menatap mas Albi. Dia melengos ke arah pandang lainya. Meminta apa?
"Meminta apa?" tanyaku penasaran.
"Nanti saja. Sekarang selesaiin ini dulu," jawab Mas Andre.
Dengan percaya diri mas Andre mulai ancang-ancang. Menatap fokus pada lingkaran kecil sebagai target panahnya. Matanya menyipit untuk memastikan bidikannya. Berlahan anak panah terlepas dan melayang ke papan.
"Ah! Sial!" Umpat Mas Andre.
Aku tertawa terbahak-bahak di ikuti Mas Albi. Anak panah itu melesat kurang tepat sasaran. Out dari garis yang telah ditentukan.
"Lah, malah senang dia," kata Mas Andre.
"Alhamdulillah..." gantian Mas Albi mengucap syukur.
Mas Andre kesal. Dia menggaruk tengkuknya dengan kasar.
"Tidak apa-apa, lain kali pasti menang," kataku memenangkan.
"Kapan lagi coba?" tanyanya meyanyangkan.
Hadiah dengan bidikan yang hampir tepat di berikan pada mas Andre, sebuah tumber. Itupun juga dia berikan kepadaku.
"Ayo! Kita lanjutkan jalannya," ajak Mas Albi.
"Loh, gak main?" tanyaku
"Tidak. Kasihan penjaga standnya kalau mas main. Yang ada sebuah hadiah kita yang habisin," jawabnya dengan percaya diri.
"Halah, gaya! Bilang aja, takut malu!" Ledek Mas Andre
__ADS_1
"Udah, dah! Terserah lo mau ngomong apa," balas mas Albi seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan stand tersebut.
Mau tidak mau aku dan mas andre mengikuti langkahnya pergi.
"Aku bawain, Layla" tawar Mas Andre saat mengetahui aku kesusahan membawa hadiah dari memanah tadi.
"Masukin mobil saja dulu," ujar mas Albi mengusulkan.
"Ok!''
Kami menuju mobil milik mas Andre. Memasukkan semua barang-barang yang memberatkan untuk di bawa.
Suara riuh dari lapangan futsal terdengar menggelegar. Saat ini pertandingan final. Di mana pesantren kami menjadi salah satu pesertanya.
"Mau kemana lagi, kita?'' tanya ku
"Lah, kita ya ngikut kamu." Jawab mas Andre.
"Beli cilok, habis itu lihat futsal, yuk" ajak ku
"Ok lah! Capek juga jalan-jalan sejak tadi," balas Mas Albi
Sambil menuju lapangan, kami mampir di salah satu penjual cilok. Memesan untuk kita bertiga. Sedang Mas Andre membelikan jus di tempat lain.
"Pedas ya pak," pintaku pada penjual cilok tersebut.
"Jangan terlalu pedas pak. Sambalnya dua sendok saja," bantah mas Albi
Aku cemberut. Padahal aku biasanya meminta lima sampai enam sendok kecil untuk sambalnya.
"Perutnya sakit," kata Mas Albi saat mengetahui aku protes lewat wajahku yang cemberut.
Selang beberapa saat kami sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan. Lalu berjalan lagi menuju lapangan futsal.
Ku arahkan mereka melewati lorong lantai dasar dan mencari tempat yang rindang di bawah pohon Pinus dan dekat tangga lantai dua. Tempat itu juga lumayan sepi. Hampir semua suporter ada di gedung lantai tiga.
"Itu Dharma, kan?" tunjuk Mas Albi dengan dagu yang ia majikan.
"Iya! Semangat sekali dia," balasku.
"Wow! Keren!" Puji mas Andre
Kang Dharma memang sedang mengiring bola. Pandangannya fokus pada bola di kakinya dan berkali-kali beralih pada teman satu timnya.
Mata kami sempat bertemu beberapa detik saja. Setelah itu dia kembali fokus pada pertandingannya. Aku ukir senyum sebagai penyemangat untuk dirinya. Yah, aku belum mengucapkan terimakasih untuk tumpangan tadi pagi. Dia teman yang cukup unik dan lumayan membuatku nyaman. Ini pertama kalinya setelah tiga tahun mondok di sini aku memiliki teman lelaki.
__ADS_1
Kami duduk menikmati pertandingan dengan cilok yang di tangan kami. Satu persatu cilok itu masuk ke mulut kami hingga habis tanpa sisa.