(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 21


__ADS_3

''Baca apa, Nduk?'' tanya mas Albi


Aku menggeser tempat duduk saat dia datang, dengan entengnya menghempaskan tubuhnya di samping ku.


Secangkir kopi mengepul di tangannya. Beberapa kali, dia meniup agar hawa panas kopi tersebut berangsur-angsur hilang.


''Mau, Nduk?'' tawarnya saat dia mulai menyeruput kopi panas itu.


Aku geleng-geleng. Aku tidak setahan dia, yang bisa dengan nikmatnya menikmati kopi yang masih mengepul seperti itu.


''Nanti sajalah." Jawab ku


''Ok '' Balasnya


Aku kembali membaca buku ku. Menelusuri isi buku ditangan ku. Entah kenapa aku menyukai buku yang berisikan biografi para ulama' dan juga cendikiawan. Kali ini aku sedang membaca biografi para waliyullah yang masyhur dan bersejarah.


Mas Albi menengok judul buku yang sedang aku baca. Dia memiringkan kepalanya, agar bisa membaca sampul buku tersebut tanpa menggangu ku.


''Terkadang tidak semua wali tahu bahwa beliau adalah wali, Nduk. Gusti Alloh ngangkat hambane dados wali nggeh kadang mboten kerono ngibadah e sing terus terusan. Contoh e Abdul Qosim Al Junaidi, beliau di angkat menjadi wali bukan karena wiridannya yang banyak. Tapi karena beliau pernah di tengah-tengah wiridannya berkata ''Ya Alloh, kenapa engkau memberikan rizqi kepada saya. Padahal engkau tidak butuh saya" Masya Alloh!'' Katanya tiba-tiba.


Abdul Qosim Junaidi, bisa di kenal juga sebagai sebutan Al Junaid Al Baghdadi.


Al-Junaid dikenal sebagai tokoh sufi yang sangat menekankan pentingnya keselarasan antara praktik dan doktrin tasawuf dengan kaidah-kaidah syari’at.


Salah satu ungkapan Al-Junaid tentang ilmu tasawuf yang dikutip oleh al-Kūrânī dalam Itḥâf al-dhakī adalah ucapannya: “pengetahuan kami ini terlepas dari al-Qur’an dan al-Sunnah.” Dengan ini mengindikasikan bahwa ajaran tasawuf menurut Al-Junaid haruslah tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.


''Nggeh Mas, kadang kita manusia ngasih sedikit aja udah mikir apa yang akan kita dapat. Hahahaha, masukin infaq masjid doanya udah kayak rel kereta. Minta ini itu, padahal masukin infaq cuma lima ribu rupiah. Haha'' Balas ku


''La, enggeh...Tapi Alloh ya remen di suwuni, remen di ajak curhat nggehan.'' Tambah Mas Albi.


''Tapi jarang nggeh wali perempuan.Hampir semua laki-laki.'' kata ku mengingat bahwa sedikit sekali wali perempuan yang masyhur.

__ADS_1


''Tirose sinten? Ibu niku wali Lo, Nduk, sampyn kalau sudah punya anak besok juga bakalan jadi wali." Bantahnya.


''Iya! Wali murid." Ledek ku


Sontak membuatnya terbahak.


''Kamu Nduk, bisa aja ngelesnya. Tapi ibu Iku wali nduk! Wali buat anak-anaknyaz doa beliau untuk anaknya mustajabah. Kemarahannya, adalah murka Alloh juga. Karena itulah, ibu di sebut wali juga." Terang Mas Albi.


Mataku tak lepas menatap Mas Albi dalam, dia berbicara dengan Lues, penuh makna dan juga didikasi. Setiap ucapan adalah kebenaran, dan mempunyai landasan.


''Sesuk awak dewe nang Trenggalek , wes podo nyiapne barang-barang e (Besok kita ke Trenggalek, kalian sudah nyiapin barang-barang kalian)?'' tanya Ayah, ikut nimbrung bersama kami.


Beliau duduk di depan kami, menatap kami berdua bergantian.


''Sampun, Yah. Ndak sabar pengen ndang besok (udah yah. Gak sabar pengen cepat besok)!" Seru ku.


''Ojo lali waktu. kebiasaan lek ngerti pantai ndak purun mantuk-mantuk (Awas aja sampai lupa waktu, kebiasaan kalau udah ketemu pantai gak mau pulang-pulang)." Wanti-wanti Mas Albi.


Saat di pantai, akan akan lupa waktu. Laut, ombak dan juga pasirnya membuat ku selalu ingin bertahan di sana. Luasnya langit akan menjadi satu-satunya kebahagiaan ku. Indah sekali, sangat indah.


''Awak dewe kayane bakal suwi nak kono. Akung mu kangen sliramu. Ibu mu yo mesti kangen karo bapak (Kita sepertinya akan di sana agak lama, kakek mu kangen sama kalian. Ibu mu juga pasti kangen sama bapaknya.'' Kata Ayah


''Ye...Asyik! Alhamdulillah!'' Teriak ku


''Yo wes, wes bengi. Ndang bubuk (Baiklah, sekarang sudah malam. Lebih baik kalian tidur." Pesan Ayah, dia akan beranjak pergi.


Aku pun sama. Sebelum itu aku mencari ponsel ku yang lupa aku taruh ke mana? Celingukan di bawah kursi dan juga bantal tapi tak juga aku temukan.


''Siapa Arya dharma, Nduk?" tanyaa Mas Albi.


Ternyata dia yang membawa ponsel ku dari tadi. Itupun tanpa mempedulikan aku yang sedari tadi mencarinya.

__ADS_1


''Ck. Ternyata kamu, Mas yang bawa hapeku. Dari tadi aku cariin juga."


Aku akan mengambil hape ku, tapi mas Albi mencegahnya. Matanya fokus dengan layar ponsel tersebut, membuat ku heran.


''Ini lo, aku baca DM man di Ig mu. Kamu gak pernah balas mereka, tho Nduk?" tanya Mas Albi.


''Aku balas, yang aku kenal. Iseng, ya gaklah!'' Kata ku acuh.


''Tapi ini, bukannya santri yang nganter kamu kemarin, tho?" tanya Mas Albi. Di memperlihatkan foto kang Dharma full di layar ponsel ku. Mengunakan kaos oblong army dan juga sarung lorek khas tentara.


''La, terus kenapa?'' tanya ku


''Dia DM kamu, katanya ada barang yang ketinggalan. Apa kamu gak ngerasa kehilangan sesuatu?" taya Mas Albi. Dia mulai mengintrogasi ku.


''Gak,Mas. Aku gak ngerasa kehilangan apa-apa. Paling dia cuman iseng.'' Jawab ku. Aku segera merebut hape ku, dan memasukannya di saku gamisku.


''Di baleslah, Nduk. Kasihan,kan, kemarin juga udah bantuin kamu . Dia juga yang jagain kamu pas perjalanan pulang kemarin.'' Pesan Mas Albi sebelum aku pergi.


Aku tersenyum kecut, dan nyelonong pergi meninggalkan mas Albi sendiri.


''Di bilangi kok, malah gitu. Gak baik, Nduk.''


''Iya mas Albi, nanti Layla balas pesan-pesannya. Tenang saja."


Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan tubuh ku. Langit-langit kamar menjadi wallpaper pandangan ku.


Kata-kata Mas Albi untuk membalas pesan teman-teman Istragram ku masih terngiang di benak ku. Dengan kesal aku melihat pesan-pesan itu lagi. Dan mulai membalasnya dengan asal.


Termasuk pesan dari Kang Dharma. Selain aku tanyakan barang apa yang ketinggalan, aku juga mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga ku saat perjalanan pulang waktu itu.


''Dari pada mikirin mereka, lebih baik aku memikirkan hari esok saja. Ke pantai, jalan-jalan bersama Mas Albi, dan main pasir bersamanya. Ah! So sweet...."

__ADS_1


Bayangan akan pesisir pantai menghujani ku. Aroma lautnya, suara deburan ombaknya, dan juga angin yang berhembus kencang. Ah! ingin rasanya pagi segera datang.


__ADS_2