(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 102


__ADS_3

#Arya Dharma


Malam itu Abah memberikan banyak nasihat. Seakan beliau tahu, jika anak laki-lakinya itu sedang merasakan jatuh cinta yang pertama kali dan sangatlah dalam.


Hal pertama sangatlah rapuh, rentang dan mudah terbawa arus perasaan. Jika ia tidak benar di pegang, dia akan hilang dan tak terkendalikan. Begitu pula cinta pertama.


Banyak kisah cinta pertama yang kandas sebab ia hadir disaat waktu yang tidak tepat. Pada saat kondisi yang tidak memungkinkan untuk bersama. Atau pada situasi yang andai bisa bersama, maka itu akan berakhir juga.


Layla pun cinta pertama yang diberikan Alloh. Aku bukan pemuda munafik, yang ketika ditanya siapa cinta pertamamu, maka akan menjawab Alloh, ibu, ayah, adik dan keluarga. Lalu menyebutkan rentetan nama yang memang seharusnya dicinta.


Bedakan antara keharusan dan kebenaran. Alloh, keluarga, guru, sahabat, tetangga, manusia lainya hingga penduduk bumi adalah keharusan untuk kita cinta. Sedang kebenaran adalah wujud dari sebuah perasaan yang kadang orang lain tidak miliki.


Jika keharusan memiliki kebenaran maka kebenaran belum tentu memiliki keharusan.


Abah menuturkan, jika seorang pria yang benar mencintai seorang wanita, maka ia akan menjaga kehormatannya. Ia akan mengagungkan perintah Alloh dalam bersikap kepadanya. Sebagai contoh, dia tidak akan duduk berdua dengannya, dia tidak tega menyentuhnya, sebelum ia halal baginya. Dan dia tidak akan memanfaatkan seorang gadis ketika dia terbawa oleh perasaannya. Untuk kemudian mengajaknya melakukan apa yang setiap ia kehendaki.


Aku gigit ujung sarungku sebab hal itu sangatlah sulit. Nafsu pada diriku seringkali tidak terkendali saat aku bertemu dengan Layla. Jangan bertemu, saat sendiri seperti ini pikiranku di penuhi oleh dirinya.


Sulit sekali menjadi putra dari Abah Yai Umar Al Faruq. Rasanya aku ingin jadi orang biasa saja. Tapi, juga tidak rela kalau aku kehilangan ilmu dan adab yang telah ditanamkan oleh orang tuaku padaku sejak dini. Apalagi hanya sebab seorang perempuan saja. Mana mungkin juga, aku bisa mendapatkan Layla, jika aku seorang biasa saja. Menjadi Arya Dharma saja masih belum tentu mendapatkannya.


"Pemuda yang menyatakan cintanya lewat WhatsApp akan kalah dengan pemuda yang mengungkapkannya lewat doa. Pemuda yang selalu memberikan coklat, akan kalah dengan pemuda yang menyebut namanya dalam munajat,"


Itu juga salah satu penuturan Abah. Abah seakan tahu, jika aku pernah memberikan coklat pada Layla. Yah, walaupun dengan cara yang aku atur sedemikian rupa. Tapi, tetap saja aku termasuk pemuda yang mengejar dia layaknya laki-laki normal.


Andai ada laki-laki yang menjaga kesucian cintanya dengan tidak bermain mata dengan lawan jenisnya. Pastilah dia sangat kuat imannya. Aku jauh dari hal tersebut.


Harus bagaimana, aku bersikap dan harus bagaimana pula aku bertindak. Jika tidak aku perlihatkan perempuanku tidak akan faham, andai aku membiarkan hingga takdir menjawab pertanyaan. Yah, jika apa yang kita inginkan kalau diluar dari expetasi. Itu sama seperti ingin namun tidak memperjuangkan diri. Bukankah, usaha tanpa doa bohong dan doa tanpa usaha sombong.


"Gus! Assalamualaikum..." Teriak Sarip dari bawah pohon.


Ya, sejak tadi aku berada di atas pohon sawu. Di antara dahan, ranting dan dedaunan. Tempat paling nyaman dari keramaian.


Udara saat menjelang petang dan di suguhi hilir sungai cukup indah dipandang.


"Gawat! Sini, turun dulu."


"Malas ah! Kami saja yang naik." Balasku.


"Walah, Gus! Jenengan itu kok ya ngerepotne , to (kamu itu kok merepotkan, ya)."


Sarip celingukan. Mungkin mencari tangga. Padahal aku tadi naik tanpa mengunakan tangga.


"Bagaimana naiknya, Gus?"

__ADS_1


"Ya, naik to Rip. Masak iya, laki gak bisa naik pohon."


"Hehehe... Bisanya naik ke gunung kembar, Gus."


Langsung saja aku mematahkan ranting dan aku lempar pada Sarip. Omongan sungguh tidak bisa di kontrol.


Apalagi mengingat dia pernah mengatakan jika pernah memimpikan Layla.


"Haduh, Gus. Jenengan itu, Lo... Turun sini, Lo. Ini penting!" Desaknya.


"Ogah. Kamu yang disini,"


"Nyesel jenengan kalau gak dengerin aku."


"Mangakanya cepat kesini,"


"Susah naiknya."


"Katanya pintar naik gunung. Naik pohon saja gak bisa,"


"Kan gunungnya beda,"


Aku tersenyum kecut. Sarip masih berusaha naik. Dia hampir sampai di dahan yang sedang aku duduki.


"Alhamdulillah... Akhirnya bisa," ucapnya setelah sampai di dahan sampingku. Dia berpegang erat pada ranting besar.


"Ini soal Layla, Gus..."


"Sstt... Kau tidak boleh memanggil dia dengan sebutan Layla. Najwa! Ingat Najwa!"


"Iya... Iya ... Najwa."


"Ada apa dengan Layla?"


"Najwa sedang ada masalah, Gus."


"Iya, Layla kenapa?"


"Najwa, Gus."


"Iih... Iya sama saja kan?''


"Enggak. Najwa_Layla. Beda kan?"

__ADS_1


"Ck. Gak usah basa-basi. Apa masalah Layla Najwa Fathurrohman?"


"Dia jadi kandidat sidang keamanan, Gus."


"Kok bisa?'' Aku kaget.


"Sebab saat bazar kemarin dia terlibat bersama dua orang yang bukan muhrimnya."


"Kok bisa? Siapa yang bersama Layla? Bukankah sejak kemarin dia bersama mas Albi dan Andre saja."


"Itulah penyebabnya, Gus. Setelah diselidiki keamanan putra, ternyata mas Albi bukan mahram Najwa. Dia anak asuh orangtua Najwa."


Aku ternganga dengan apa yang dikatakan Sarip. Andai itu terjadi, pastilah saat ini layla dalam masalah besar.


"Siapa saja yang mengetahui hal ini?!"


"Keamanan putra saja. Untungnya belum sampai di keamanan putri. Rencananya nanti malam mereka akan membahas soal hal ini.''


Dadaku rasanya sesak seketika. Bayangan Layla dengan raut kesedihan membuat ku semakin tertekan saja.


"Dimana, dimana Farhan? Dia kan yang jadi ketua keamanan sekarang?!"


"Tadi sih ada di gazebo belakang, Gus. Sama anak-anak kolam."


Yang dia maksud adalah wilayah pesantren bagian belakang. Dia sana ada kolam lele sebagai budaya.


Tanpa menunggu lama aku langsung meloncat ke bawah. Satu loncat lancar aku lakukan. Kebiasaan manjat pohon, membuat aku lancar juga untuk loncat untuk turun.


"Gus! Gus! Tunggu saya. Kok sudah di bawah saja. Ini bagaimana turunnya?!'' Sarip panik.


Aku mendengus kesal. Merepotkan saja.


"Turun! Cepat! Kalau gak aku tinggal! Kelamaan!" Omel ku.


"Tadi nyuruh naik cepat. Sekarang minta turun cepat. Saya kan gak biasa seperti jenengan, Gus." Runtuk Sarip. Dia mulai merambat, berusaha turun kebawah.


"Kelamaan!" Umpatku dan langsung berjalan cepat meninggalkan dia.


"Gus! Tunggu! Jangan ninggalin saya!" Teriak Sarip. Aku menoleh kebelakang. Aku kira dia sudah turun. Tapi, ternyata dia masih nyangkut di dahan.


Aku tidak bisa menunggu lama lagi. Sebentar lagi magrib dan malam akan cepat datang. Jika tidak aku bereskan sekarang. Itu akan menjadi masalah besar untuk Layla.


Dan apa maksud Farhan hingga melacak orang-orang disekitar Layla. Apa maunya? Bukankah dia juga menyukai Layla? Bukannya menjaga, dia malah membuat Layla dalam bahaya.

__ADS_1


Untuk perihal mas Albi. Apakah benar, dia bukan kakak kandung Layla. Apa ini yang dimaksud Andre. Dengan saingan yang paling berat bukanlah dia, tapi mas Albi.


Kepalaku tiba-tiba pening. Senja yang ingin aku nikmati tiba-tiba sudah pudar begitu saja. Waktu ku semakin sempit saja.


__ADS_2