(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 65


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


Cinta tidak pernah salah, yang terkadang salah adalah keadaannya.


Langit masih memperlihatkan wajah masamnya. Entah sampai kapan ia akan membiarkan bumi merasakan hawa dinginnya.


Aku mulai gusar, sebab sudah waktunya aku kembali ke pondok. Lewat magrib itu tandanya aku akan berhadapan dengan tiga keamanan yang siap siaga dengan banyak pertanyaan.


"Aku harus balik ke pondok, Mas. Terjang ajalah, toh sudah mulai reda," kataku.


"Ya sudah kita ikut. Ngapain juga kita di sini," balas Mas Albi.


"Kamu sih, tadi pakai parkir mobil jauh. Jadi gini, kan?" sahut Mas Andre


"Di sini juga bakalan kerepotan! Mau di parkir di mana?" sanggah Mas Albi


"Kan bisa di depan masjid,"


"Tadi kamu juga sudah lihat sendiri, kan gimana suasananya. Banyak orang, di mana-mana tempat penuh."


Mereka malah berdebat. Dasar laki-laki, teman sih, tapi tetap saja berantem.


"Ya sudahlah, ayo! Keburu hujan lagi," Seruku.


Tanpa aba-aba aku turun tangga ke lantai dasar. Melewati koridor dan dengan berlari kecil aku menerobos rintikan hujan.


"Layla?! Hati-hati," Mas Albi dan Mas Andre mengekor di belakang. Jaket Mas Andre yang aku bawa, aku buat untuk payung.


Meskipun begitu, tetap saja kami terkena rintikan hujan. Alhamdulillahnya langit cukup bersahabat. Saat keluar dari wilayah pondok, hujan bener reda. Meskipun jalanan becek, di tambah jalan raya yang tak kenal sepi dengan penghuni.


Sesampainya di depan pondokku. Kami langsung meneduh. Aku tidak mungkin langsung meninggalkan mereka ke dalam pondok.


"Lah terus nasib kita gimana? Mau pulang malam nanti?" tanya Mas Andre


"Tadi, orang tua nelpon. Kita di suruh nginep di sini dulu. Takutnya, nanti kalau maksain terjadi apa-apa lagi," Jawab Mas Albi


"Penginapan pondok ada, Mas. Tapi, apa mas Andre bisa tidur lesehan?'' tanyaku.


"Tidak apa, Layla. Tidur di lesehan tetap nyaman, asal dekat dengan kamu," jawab Mas Andre sambil cengengesan.


Aku tersenyum simpul.


"Layla, ya tidur di pondok lah. Mana mungkin, di biarkan tidur dengan kita. Ngawur aja!" Seru Mas Albi


"Lah, kan saudara..." Sanggah Mas Andre.


"Saudara, saudara... Nyatanya, apa?" sungut Mas Albi

__ADS_1


"Kalau ada Ayah sama Ibu, Layla mungkin bisa ikut tidur di tempat sambangan. Tapi, kalau kalian saja yang ada, ya gak boleh. Aku juga gak bakal mau!'' jelasku


"Oh, gitu ya... Kirain..."


"Kirain, apa?" tanya Mas Albi


"Tapi, kalau Albi saja, yang nyambang dan ingin menginap di sini? Apa kamu, juga boleh tidur di sambang?" tanya Mas Andre tiba-tiba.


Deg!


Tiba-tiba terasa ada yang menimpaku. Entah apa, tapi hal itu langsung membuat berat hatiku. Pertanyaan Mas Andre seakan mempertanyakan hubungan kami yang sesungguhnya. Saudara, namun bukan saudara. Satu namun tidak bisa menyatu. Rumit bukan?


"Aku antar ke sambangan, semoga ada kamar yang kosong untuk kalian," kataku seraya beranjak ke arah bangunan yang sejajar.


Tapi tiba-tiba, seseorang memanggil nama Mas Albi.


"Mas Albi, Layla!" Suara khas itu mulai familiar di telingaku.


Kang Dharma, dia bersama Kang Sarip. Ada apa?


Langkahku terhenti, menanti mereka yang sedang ingin menghampiri.


"Dharma, ada apa?" tanya Mas Albi


"Kalian mau kemana?" tanya Kang Dharma


"Kami mau kesambangan. Rencana hari ini mau nginep di sini saja," jawab Mas Albi akhirnya.


"Oh! Kebetulan sekali. Jika tidak keberatan, menginap saja di dhalem Utara. Di sana lagi kosong," kata Kang Dharma


"Hah!" Aku langsung melongo. Apa gak salah dengar.


Dhalem Utara adalah rumah milik keluarga pesantren. Di sana memang di kosongkan sebab di khususkan untuk tamu kebesaran. Seperti saudara, teman dan tamu-tamu agung lainnya. Tapi, Mas Albi bukan salah satunya.


"Kang, gak usah. Di sini saja, sungkan..." Kataku.


Mas Albi dan Mas Andre tidak faham. Wajarlah, mereka bukan santri sini.


"Tidak apa-apa, Layla. Aku sudah meminta izin Ning Nada, lagi pula mereka berdua kan teman Ning Nada juga, kan?"


Deg.


Jadi apakah kang Dharma sudah tahu, jika ternyata Mas Andre bukan saudara kami?


"Layla juga bisa ikut ke sana. Nanti aku ijinkan ke Ning Nada,"


Aku menelan ludah. Entah berita baik atau buruk saat ini yang aku dengar. Baiknya aku akan mempunyai banyak waktu dengan Mas Albi lagi, buruknya takutnya nanti akan ada masalah sebab Mas Andre bukan saudara kami.

__ADS_1


"Kamu bisa aja temanmu, jika kamu tidak ingin sendirian," tambah Kang Dharma.


Dari matanya, seakan mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Ke sana saja, toh Layla juga bisa ikut ke sana kan nantinya. Bakalan banyak waktu ngobrol nantinya," sahut Mas Andre.


Dia antara kami, dia yang paling tidak mengerti. Sebab itulah dia tidak segan mengatakan hal itu.


"Iya, tidak apa-apa. Tidak perlu izin ke keamanan. Nanti langsung ke Ning Nada saja," kata Kang Dharma.


Aku semakin bimbang. Aku melihat ke arah Mas Albi.


"Terserah Layla, maunya bagaimana. Kalau mas mah, di mana-mana ok aja."


Mas Albi mengatakan hal itu, seakan tahu apa yang sedang menjadi delemaku.


"Aku boleh mengajak teman kan?" tanyaku akhirnya pada Kang Dharma


Dia mengangguk, "Iya, ajak temanmu." Jawabnya.


Kenapa di saat seperti ini ke tiga laki-laki di depanku menatap seperti ini? Mereka seakan menunggu jawaban atas pertanyaan dari sebuah pernyataan saja.


"Ya sudah, kita ke dhalem Utara. Aku ke pondok dulu. Ngajak Ais, ya..." Akhirnya aku memberikan keputusan.


Ke tiga laki-laki itu bersama-sama melepas nafasnya. Ada apa dengan mereka? Entahlah.


"Ya sudah. Mas tunggu di sini," kata Mas Albi.


Aku mengangguk, setelah itu berbalik berjalan menuju pondok.


Sampai di dalam aku mencari keberadaan Aisyah. Hanya dia yang bisa aku ajak sekarang, bukan tidak teman yang lain. Ada, tapi yang bisa menjaga privasi ku saat ini hanya dia.


Apalagi kedatangan Mas Albi bersama Mas Andre, terlebih lagi kang Dharma. Ada apa? Aku masih merasa heran saja dengan dirinya, kenapa dia sepeduli itu terhadap keluargaku. Atau memang benar, itu karena Mas Albi adalah teman Ning Nada, atau ada alasan lainya? Tapi, apa?


Semoga saja benar, jika itu karena Ning Nada. Tidak ada yang lainnya.


Aku sampai di kamar Aisyah, tapi dia tidak ada di sana. Kata teman kamarnya, dia sudah ada di kamar mandi. Memang benar, kurang lima belas menit lagi adzan magrib berkumandang.


Dan Aisyah meskipun kadang cerewet dan menyebalkan di adalah santri yang teladan. Dia tidak pernah sekalipun telat jama'ah. Bahkan posisi jama'ah selalu ada di shaf depan. Insecure sekali sebenarnya aku sama dia. Dia sempurna sebagai teman dan juga perempuan Sholehah.


"Ais?!"panggilku.


Dia sedang menggosok giginya di depan kran. Mendengar panggilanku dia menoleh, wajahnya menunjukkan keterkejutan sebab panggil ku yang keras.


"Ada apa?" Bahasanya lewat mata, dia juga bersuara hanya saja sedikit tidak jelas sebab mulutnya masih berbusa.


Aku tidak mungkin mengatakan hal rahasia ini di depan banyak orang. Akhirnya, aku masuk juga di tempat wudhu. Masih dengan seragam setengah basah, aku angkat rok ku agar tidak kena cipratan air dari kran yang berjajar yang di gunakan santri lainya.

__ADS_1


Beberapa teman santri memang ikut memperhatikanku, tapi mereka kembali acuh saat aku sudah menemukan tujuanku.


__ADS_2