
#Arya Dharma
Pagi sekali sehabis subuh aku meneruskan lagi tidurku. Sebenarnya tidak boleh tidur sehabis subuh. Makruh dan itu akan membuat terhalangnya pintu Rizki. Tidak menjadi kebiasaan ku juga. Akan tetapi ingin rasanya mengistirahatkan badan sejenak untuk mengoptimalkan badan saat pertandingan final nanti.
Suasana Dhalem begitu sepi. Tidak ada kegaduhan layaknya di pondok. Rasanya seperti di rumah sendiri.
Baru saja aku aku akan memejamkan mata. Sarip datang dengan tergopoh-gopoh.
"Gus, Najwa pergi!"
Najwa yang dia maksud adalah Layla.
"Pergi kemana? Sama siapa?"
"Sama Aisyah pergi berdua saja,"
"Jalan-jalan kali,"
"Ya kalau jalan-jalan. Kalau balik kepondok?''
"Kok tumben gak ngajak masnya? Jalan-jalan kali,"
Sangking dekatnya dia dengan kakak laki-lakinya aku sangat percaya jika Layla tidak akan pergi kemana pun tanpa pengawasan. Apalagi saat kakaknya ada bersamanya saat ini.
"Tapi dia membawa barang bawaannya. Tas ranselnya ia bawa juga," imbuh Sarip.
Rasa kantuk berlahan menghilang.
"Aku lihat dulu, deh..."
Aku keluar kamar. Sepi tidak seorang pun di rumah besar ini. Langkahku menuju lantai dua. Di saat yang hampir bersamaan Ning Nada keluar dari kamar.
"Ning, apa Layla dan Aisyah tadi pergi keluar?"
tanyaku langsung tanpa menyapa dirinya.
"Mereka pamit balik ke pondok barusan," jawabnya santai sambil menutup pintu kamar.
Ning Nada masih mengunakan kaftan rayon dan juga hijab biasa. Dia belum nampak akan pergi kemanapun.
"Balik kepondok?" tanyaku lagi meyakinkan
"Iya... Barangkali sama masnya," jawabnya.
"Kalau begitu saya boleh pinjam mobilnya, Ning." Kataku.
"Boleh saja. Silahkan, untuk apa memangnya?"
__ADS_1
"Mereka berdua kayaknya jalan kaki. Saya mau menyusulnya."
Ning Nada terdiam. Dia tertegun dengan ke khawatiran ku. Aku sudah tidak sempat bersikap biasa.
"Aku ambil kuncinya dulu," katanya seraya kembali ke dalam kamar. Selang beberapa menit dia sudah membawa kunci mobil lalu menyerahkan kepadaku.
Aku berpamitan lalu tergesa langsung menuju parkiran dan menjalankan mobil seorang diri. Sarip lupa aku ajak. Biarlah, aku lebih mencemaskan Layla yang saat ini berjalan kaki.
Untunglah, mereka belum terlalu jauh. Aku menghentikan mobilnya tepat di depan mereka. Tanpa sengaja aku langsung berseru keras kepada mereka berdua.
"Kenapa gak bilang kalau mau balik kepondok? Kan bisa aku antarin!" Seruku, aku sangat khawatir saat itu.
"Loh, memangnya kang Dharma nawarin?" tanya Aisyah tanpa dosa.
Aku memang tidak menawarkan diri. Tetapi setidaknya jika mereka bilang akan balik.ke pondok aku akan mengantarkan dengan senang hati.
"Ayo masuk!" Seru ku seraya membukakan pintu untuk mereka berdua.
Tanpa menunggu lama mereka berdua sudah masuk kedalam.
"Kang Dharma kok tahu, kami pulang ke pondok jalan kaki?" tanya Aisyah.
"Sarip tadi melihat kalian keluar dari Dhalem. Setelah itu dia bilang ke aku. Aku kira kalian hanya jalan-jalan di sekitar Dhalem saja. Tapi ternyata malah balik pulang ke pondok jalan kaki," jelas ku dengan mengemudi.
"Dari mana tahu kalau kami pulang ke pondok?"
Sepanjang perjalanan ke pondok Layla hanya diam saja. Matanya nanar memandang tanpa arah tujuan. Ada apa gerangan? Bahkan dia pulang tanpa Mas Albi. Itu hal yang tidak bisa diterima oleh akal saat ini.
Tidak mungkin Mas Albi membiarkan Layla pulang sendiri, apalagi jalan kaki. Aku ingin menanyakan perihal tersebut, tetapi aku tidak yakin itu akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Layla terlihat murung, senyuman dari bibirnya tidak lagi selepas biasanya.
Aku melihat dia sampai tubuhnya hilang di balik pintu pembatas pesantren. Di sama sekali tidak membuat ku berpikir jika dia baik-baik saja. Ada apa? Kenapa wajahnya masam?
Selepas dari mengantarkan Layla dan Aisyah aku kembali ke Dhalem timur. Mengembalikan mobil tersebut pada Ning Nada. Setelah itu aku akan pulang bersama Sarip dan bersiap untuk pertandingan. Untuk apa juga aku di Dhalem timur, jika layla ku tidak lagi ada di sana.
Setibanya dia Dhalem timur, aku terkejut saat ada kegaduhan. Baru saja aku masuk ke dalam. Mata Mas albi merah menatapku tajam. Dia seperti marah besar.
"Di mana Layla?!" Serunya
"Dia sudah balik kepondok. Aku tadi mengantarnya,"
"Kenapa tidak ada seorang pun yang bilang padaku kalau Layla balik kepondok?!" Serunya dengan amarah.
Ning Nada yang pasti mengetahui paling jelasnya pun ketakutan melihat kemarahan Mas Albi. Tidak sepatutnya mas Albi marah-marah seperti itu. Apalagi di saat dia di jamu secara istimewa oleh Ning Nada.
"Tenang, Mas... Layla baik-baik saja. Dia sudah ada di pondoknya sekarang. Aman... Barangkali mereka terburu-buru sebab mau nata stand bazar lagi," jelasku Menenangkan.
Aku pun sama khawatir seperti dia tadi. Tetapi aku masih bisa menambah amarahku. Hah! Apakah setiap laki-laki akan kehilangan kontrol jika orang yang dia cintai tiba-tiba menghilang?
__ADS_1
Perkataan Andre malam tadi terngiang lagi. Jika bukan Andre yang menjadi saingannya tetapi mas Albi. Kakak dari Layla sendiri. Barang kali memang benar. Aku melihat ke khawatir yang lebih di mata mas Albi untuk Layla.
"Sekarang mas Albi makan dulu saja. Sarapan sudah siap, kan Ning?" tanyaku pada Ning Nada.
Dia masih ketakutan sebab amarah Mas Albi. Salwa pun dia hanya menundukkan wajahnya.
"Tidak. Aku akan pergi kepondok sekarang." Kata Mas Albi.
Dia mulai bisa mengatur emosinya. Dia sudah merendahkan intonasi bicaranya.
"Kita bereskan barang-barang kita," kata Mas Albi pada Andre.
Andre pun mengangguk. Kedua lelaki tersebut lalu melangkah ke arah tangga lalu pergi ke kamar mereka.
"Ning Nada tenang ya... Barangkali mas Albi tadi sangat mengkhawatirkan Layla. Jadi dia seperti itu. Jangan di ambil hati," Kataku setelah mas Albi hilang dari balik pintu kamarnya.
"Takut aku, kang. Tadi aku langsung yang mengizinkan Layla balik kepondok. Aku kira dia izin juga ke masnya."
"Iya... Sabar saja. Jangan di ambil hati ya... Ning. Maafkan Mas Albi,"
Ning Nada mengangguk. Semoga dia memaafkan mas Albi. Perkara ini tidak menjadikan mas Albi renggang dan membuat perteman mereka hancur berantakan.
Aku jadi bersalah. Di balik jamuan ini ada ku yang menjadi perancangnya. Aku kira akan mulus sebab semua anggota saling berkaitan. Namun ternyata, menjadi ruwet tanpa sebab yang pasti apa penyebabnya.
"Sarapan dulu, Ning..." Ajak ku.
Makanan di meja makan sudah di hidangkan. Mubadhir jika di biarkan begitu saja. Entah nanti Mas Albi dan Andre mau bergabung atau tidak tetapi setidaknya Ning Nada harus sarapan. Dia terlihat tertekan dengan kejadian ini.
Wahai, Layla... Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu membuat kegaduhan di saat seperti ini? Apa yang menjadi penyebab dirimu tidak meminta izin pada siapapun saat pergi tadi, terutama pada Mas Albi mu. Saudara mu, yang kamu percaya.
Barangkali wajahnya yang murung menjadi jawabannya juga.
Mas Albi turun saat kami tengah makan. Serentak kami menghentikan aktivitas makanan kami.
"Sarapan dulu, mas?" tawarku dengan berjalan kearahnya.
Dia memang sudah lebih tenang.
"Tidak. Terimakasih, kalian saja. Aku akan ke pondok sekarang," tolaknya
"Layla mungkin sedang bersiap. Sarapan dulu, nanti kita sama-sama ke pondok," imbuh Salwa.
"Terimakasih. Maaf jika selam di sini aku, adikku dan Andre merepotkan kalian. Lain kali tidak usah repot-repot seperti ini," tolak Mas Albi.
Dia kekeh sekali untuk segera bertemu dengan Layla. Andre pun hanya diam saja sejak tadi. Layaknya mas Albi dia pun pasti juga kecewa dnegan apa yang di lakukan Layla. Hanya saja dia bisa menahan diri untuk tidak emosi.
"Nada, maaf jika tadi kasar dan marah terhadap mu. Aku sangat mengkhawatirkan Layla. Sekali lagi maaf..." Ucap Mas Albi.
__ADS_1
Ning Nada tersenyum memaklumi. Ketakutannya berlahan memudar.