
#Layla Najwa Fathurrohman
Pagi kita di sibukkan dengan menghias stand bazar. Tidak kesulurah, cukup menyempurnakan. Sebab kemarin kami sudah menghabiskan waktu seharian untuk memasang dekorasi lainya.
Riuh terdengar di mana-mana, apalagi stand kami cukup dekat dengan lapangan utama Porseni. Lalu lalang orang mulai berdatangan. Dari pesantren lain, pun sekolah yang satu kariseden ikut meramaikan.
Stand kami Alhamdulillah, sudah dasar lebih awal. Sebab pesanan makan siang untuk tim futsal juga harus di persiapkan, belum lagi beberapa pembeli yang langsung tertarik dengan menu yang kami sediakan.
Es buah serut, sukses membuat kami kualahan. Laris, tak terhingga sampai kami harus membeli bahan untuk stok lagi.
Buah-buahan kami kupas sendiri, memotong lalu menyusun pada masing-masing wadah.
Di saat seperti ini tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang tadinya tidak aku rasakan. Terik matahari tidak berkurang, hanya saja seperti ada yang menghalanginya.
Sontak aku mengangkat kepala, melihat apa yang menjadi pelindungku saat ini. Mataku terbelalak saat ada sosok yang sedang duduk dengan buku di tangannya. Dia sudah dengan kaos olahraganya, tapi masih santai di atas sana.
"Kang Dharma?!" Spontan aku memanggilnya.
"Layla, Ada apa? Apa aku menganggumu saat aku di sini?"
"Tidak. Terimakasih, aku jadi gak kepanasan," jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Wah, jadi payung dong?"
"Hehehe..."
Aku hanya membalasnya dengan senyum ringan. Ingat jika banyak pekerjaan yang sedang tidak bisa di tinggalkan.
Kenapa juga dia ada di atas sana. Membaca buku, atau memang ada sesuatu yang ia lakukan lainya. Jadi teringat apa yang Aisyah dan teman-teman katakan tadi malam. Dia terlalu misterius jika hanya suka rela membantu kami. Barangkali, memang benar ada seseorang yang membuat dia ingin melakukan ini semua.
Yang pasti salah satu dari kami. Siapa itu, aku pun tidak tahu. Kang Dharma bersikap sama, tidak ada yang terlihat di perlakukan istimewa.
Beberapa hari kami mulai dekat, bukan dekat sebagai seseorang yang memiliki hubungan. Tapi kayaknya teman. Aku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Mungkin kerena dia sudah sering membantu. Walaupun bantuannya pun karena permintaan. Pertama dari Ning Nada, dan terakhir karena Mas Albi.
Setelah itu aku tidak lagi peduli, sebab semakin siang pembeli semakin garang. Kesalnya mereka tidak ingin duduk di tenda, malah pesan lalu ingin kita mengantar ke tempat mereka yang sedang nongkrong. Udah seperti cafe saja.
"Anak futsal udah minta di bikinin, nih. Sebagian buatin buat mereka." Aisyah yang sejak tadi kalang kabut mengatur kami. Wajar saja dia memegang kendali utama saat ini.
"Layla!"
__ADS_1
Deg.
Refleks aku menoleh kearah suara tersebut. Sekejap tubuh dan mataku terpaku.
"Mas Albi!"
Sangking senangnya dengan kehadiran sosok di depanku. Aku menyeru keras.
Segera aku menghampiri, ku ulurkan tangan dan mencium telapak punggungnya. Hal yang selalu aku rindukan.
"Assalamualaikum, Layla," tiba-tiba dari balik tenda menyembul sosok laki-laki lagi. Dia tersenyum menawan.
"Mas Andre juga ikut!" Terkejut, tidak menyangka.
"Oh... Iya. Ayo, silahkan duduk. Maaf ya, tempatnya seperti ini. Riweh banget!" Ujarku dengan membersihkan karpet yang memang di sediakan untuk pengunjung.
Mas Albi dan Mas Andre duduk di sana. Aku masih tidak percaya dengan kedatangan mereka yang secara tiba-tiba. Tanpa memberikan kabar, sungguh kejutan yang menyenangkan.
"Sebentar ya, Mas. Aku buatin es dulu."
Buru-buru aku balik badan. Melihat pelipis mas Albi yang penuh dengan keringat jadi tidak tega. Pasti dia kepanasan di luar sana.
"Nggak kok, Mas. Sebentar saja, Tinggal ambil aja, kok. Sudah siap!"
Teringat jika tadi kami sedang membuat persediaan untuk anak futsal. Tanpa menunggu lagi aku ke belakang tenda. Mengambil dua porsi es buah serut. Sebelumnya aku sudah meminta izin pada yang lain untuk mengambilnya dulu.
"Mas kamu, Najwa?" tanya teman-temanku penasaran.
Dengan senyum bangga aku mengangguk, "Iya, mangakanya aku ambil dulu ya... Buatin lagi buat anak futsal."
Sebelum di tanya lagi, aku kembali ke dalam tenda. Menyuguhkan es buah serut tersebut pada ke dua tamuku.
"Alhamdulillah, Cal_"
Mas Andre, ingin berucap tapi tiba-tiba di cegah oleh Mas Albi. Entah apa yang ingin ia sampaikan.
Di saat mereka akan menikmati esnya. Tiba-tiba ada suara lagi dari luar. Dengan enteng dan kerasnya.
"Layla, apa es ku sudah jadi?!"
__ADS_1
Kang Dharma, dia masuk seperti dalam ruangannya sendiri. Mana dengan ngos-ngosan, lengkap dengan keringat di sekujur tubuhnya, membuat sebagian kaos yang ia gunakan basah oleh keringatnya.
"Dharma?!"
Mas Albi terkejut melihat kehadiran Kang Dharma.
"Mas Albi, kok disini?" Kang Dharma tidak kalah terkejutnya.
"Ini esnya tadi buat kang Dharma, Mas. Aku buatin lagi, ya... Sabar," Sebelum terjadi kesalahpahaman aku segera meluruskan.
"Tidak apa-apa, buat Mas Albi saja. Aku nanti saja gak apa-apa." Sahut Kang Dharma.
Jadi tidak enak. Aku pun bangkit dari tempatku.
"Kang Dharma, sebentar ya aku buatin dulu," kataku.
Tanpa menunggu aku langsung pergi ke belakang.
Di sana aku mengambil satu porsi es lagi. Ternyata teman-teman kang Dharma juga sudah menikmati es tersebut. Hanya saja, tidak datang ke tenda. Minta di antara ke salah satu kelas yang di buat markas mereka. Lalu kenapa juga Kang Dharma sendiri yang datang kesini. Jadi ketemu Mas Albi, kan? Ada Mas Andre lagi.
Terdengar dari belakang jika mereka sedang mengobrol. Entah apa topiknya, kurang jelas aku mendengarnya.
Setelah selesai meraciknya, segera aku membawa es ke dalam. Mempersilahkan untuk di nikmati oleh Kang Dharma.
Sambil menikmati minuman, mereka kembali bercengkrama. Aku duduk di atas kursi, seperti ibu yang sedang melihat anak-anak berkumpul bercengkrama.
Aneh sekali pemandangan ini, aku tidak pernah mengira jika saat ini Mas Albi akrab dengan salah satu santri putra di pesantren ini. Bahkan terlihat lebih akrab dari dugaan.
Kang Dharma, dia menjamu mas Albi layaknya tamunya sendiri. Padahal di tempat lain pasti ada teman-temannya yang sedang menunggu untuk bergabung. Jeda untuk kembali bertanding lagi hanya beberapa menit. Tapi, dia malah memilih duduk berbincang dengan Mas Albi.
Aku tidak tahu, apakah kehadiran Mas Albi akan memicu kegaduhan atau tidak, sebab dia tidak sendirian. Ada Mas Andre yang bukan siapa-siapa kami juga ikut datang. Beberapa kali Kang Dharma menanyakan siapa Mas Andre, dan dengan tegasnya Mas Albi menjawab jika dia juga saudara kami.
Lucu sekali saat mereka berdebat. Mas Albi dengan kegusarannya, sebab Mas Andre terlewat ceplas-ceplos. Sedang Kang Dharma begitu tegasnya, hingga saat menerima jawaban jika dia salah satu saudara kami masih terlihat was-was.
Mas Albi mengatakan hal itu untuk jaga-jaga. Agar aku tidak mendapatkan masalah setelah kunjungan bersama Andre. Sebab di sini, meskipun sedang Free kegiatan tetap saja tidak boleh menerima tamu sembarang. Terlebih yang berkedok teman tapi pacaran.
Selang beberapa menit setelah es tandas. Kang Dharma sudah mendapatkan panggilan dari temannya di luar jika pertandingan sudah akan di mulai lagi. Mau tidak mau dia harus pergi, meskipun terlihat jelas sekali jika di masih penasaran dengan jawaban yang di rasa meragukan itu.
Lagipula, andai dia tahu siapa Mas Andre, apa dia akan melaporkan aku ke sie keamanan? Setega itukah?
__ADS_1