(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Episode 47


__ADS_3

"Buk, besok di pondoknya Layla ada Porseni, dan juga bazar. Albi ke sana ya," tawar ku.


Aku sedang membantu Ibu mencuci peralatan dapur setelah kita semua selesai sarapan. Sudah hampir satu bulan lebih, aku tidak berkunjung ke pondok Layla karena kesibukan ku mengurus skripsi. Dan Alhamdulillah, kemarin aku selesai sidang skripsi dan membuahkan hasil yang memuaskan.


Ingin rasanya bertemu, dan mengabarkan berita baik ini pada adik ku itu. Rindu yang menggebu, juga menjadi alasanku untuk segera menjamu.


"Dari mana kamu tahu? Bukannya Layla sedang sibuk Tryout ya, le?" tanya Ibu. Beliau meletakkan semua piring dan perabot lainya ke tempat semula. Sedang aku sudah mengelap ke dua telapak ku dengan tisu yang berada di meja dapur.


"Sudah selesai, Buk. Tryout lagi satu bulan sebelum ujian nasional. Itupun, kalau waktunya masih ada." Jawab ku.


Aku tetep bertukar kabar dengan Layla lewat telpon. Dia sering tiba-tiba menelepon, untuk sekedar meminta doa dan mengabarkan keadaannya. Bercerita panjang lebar, yang terkadang harus terputus di tengah jalan karena teleponnya berganti dengan temannya.


"Ya gak papa, toh kamu juga lama gak ke sana. Tapi, ingat jangan aneh-aneh. Apalagi sampai nyari kesempatan mencari Salwa." Ungkap Ibu.


Aku menyeringai nakal. Beliau sudah mengetahui jika anak laki-lakinya ini sudah bertukar kabar juga dengan teman putrinya. Beliau juga menasihati, jika aku tidak boleh salah langkah, apalagi sampai mengemban perasaan lainya selain sekedar pertemanan.


"Salwa itu tetap putrinya Kyai. Ya, kita harus tahu dirilah, le. Walaupun benar, jodoh itu di tangan Alloh. Tapi, kalau bisa, sekarang kita jangan terlalu berharap." Tutur Ibu.


Beliau sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dapur sudah kembali rapi, dan bersih. Untuk menghilangkan rasa lelahnya, aku memberikan satu gelas air yang baru saja aku isi lewat galon.


"Albi biasa saja, Buk. Tenang saja, malah Albi yang khawatir, kalau Salwa berharap sama Albi. Hehehe. Putra ne Ibu kan, ganteng." Ujar ku cengengesan, sambil menaik turunkan alias ku.


"Walah... Ganteng ya ganteng. Tapi sampai sekarang belum punya pasangan! Ya percuma, padahal Ibu sudah pengen punya cucu." Balas Ibu.


Hati ku selalu tergelitik saat Ibu ataupun Ayah membahas soal cucu. Bagaimana tidak, itu bagai sindiran tidak langsung untuk ku, agar mau mencari pasangan dan segera memperkenalkannya kepada mereka.


"Halah, Buk. Albi masih pengen seperti ini. Pengen ngembangin bisnis clothing dulu. Baru juga mulai berkembang. Nanti kalau memang sudah mapan, barulah Albi cari pasangan." Bantah ku.


Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda bahwa apa yang aku katakan, tidaklah sewajarnya. Aku mengikuti langkah beliau ke paviliun belakang. Beliau mengambil selang air, lalu mulai menyalakan dan menyiram bunga-bunga di paviliun tersebut.

__ADS_1


Sedang aku mulai mencari aktivitas dengan mencabut rumput liar yang mulai kelihatan.


"Ayah mu dulu, nikah sama ibu ya gak nunggu sukses. Tapi, Alhamdulillah juga bisa menghidupi Ibu. Kamu sekarang, Alhamdulillah udah punya bisnis sendiri, biaya kuliah juga sendiri. Itu sudah termasuk sukses, Bi. Mau sukses kayak apa lagi?" tanya Ibu.


Aku diam mendengarkan. Aku memang sudah di pandang sukses untuk kebanyakan orang. Namun kenyataan, aku masih ingin membangun banyak lagi lapangan pekerjaan. Membahagiakan keluarga, terutama Layla.


Sebentar lagi dia akan kuliah. Dan aku ingin membiayai penuh pendidikannya itu. Tidak lagi, ingin menyusahkan ayah ibu untuk bekerja keras lagi.


"Kamu itu jangan mikirin, Layla terus." Ujar Ibu.


Tidak tahu kenapa, tiba-tiba beliau mengatakan hal itu. Seolah tahu, apa yang sedang aku diskusikan dengan pikiran ku.


"La kenapa, tho Buk? Layla juga tanggung jawab Albi. Apa salahnya tho?"


Ibu melihat ke arah ku dengan menghela nafas kasar. Mungkin saja dia sedang melihat keras kepala ku yang tertular Layla. Aku menyeringai, untuk membuat rasa kesal beliau tidak terlalu besar.


"Pantas saja, Ibu-ibu kompleks ini pada gosipin kalian. Lawong pas pisah kayak gini saja, kalian tetap saling memikirkan." Ucap Ibu.


"Gosip apa lagi, tho, Buk?" tanya ku penasaran.


"Ya kalian, tho. Ibu-ibu itu mengatakan, kalau kalian itu kakak adik yang gak wajar. Kalau barengan, kayak orang pacaran."


Aku tertawa. Barang kali yang menyuarakan gosip seperti itu adalah Bu Eko, dengan kawan-kawannya. Mereka dulu, juga sempat mengatakan hal itu secara terang-terangan.


"Walah, ya biarin tho, Buk. Orang gosip aja, kok." Balas ku.


Ibu memasang wajah kecut, ketika melihat ku sama sekali tidak memperdulikan gosip tersebut.


"Mereka sampai bilang, suruh nikahin kalian berdua Lo. Dongkol ibu sampekan." Tambah Ibu.

__ADS_1


Aku mengangkat alis ku bersamaan. Menepuk jidat ku meski tidak ada lalat atau nyamuk yang menghadang.


Mungkin alasan itu juga yang membuat ibu mengatakan jika aku harus cepat menemukan pujaan hati ku. Untuk mengusir gosip yang merajalela tanpa jeda kebenarannya.


Namun, bayangan orang yang aku cinta tidak bisa kentara. Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Andai, aku berpikir tentang seorang perempuan yang akan aku cinta. Malah wajah Layla yang menyapa.


Adik ku itu sudah memenuhi isi kepala ku dan hari-hari ku. Kalaupun ada yang terbesit, mungkin itu adalah Salwa. Karena gadis itu sangatlah gencar menyapa, terlebih memberikan perhatiannya.


Barangkali, setiap dia memiliki kesempatan untuk menghubungi ku, pasti dia akan melakukannya. Walaupun itu, dengan nomer ponsel yang baru.


Ingin aku mengabaikan, namun ingatan jika dia teman Layla juga, membuat ku urung ku melakukannya. Kadang ada harapan, saat dia sedang menghubungi ku, dia bersama dengan adik ku. Dan aku bisa menerima kabar Layla lewat dirinya.


"Wes tak biarin (Sudah aku biarkan). Ibu sampai malas belanja, jika nanti akhirnya bertemu mereka." Umpat Ibu.


"Ya jangan gitu Bu. Nanti kalau ibu gak belanja, Albi sama Ayah makan apa?" tanya ku jenaka.


Mendengar hal itu aku mendapatkan lemparan balok kayu kecil yang entah dari mana. Untunglah, kayu itu berhasil aku hindari. Jikalau terkena pun tidak akan membuat cidera.


"Besok kamu berangkat sendirian?" tanya Ibu mengalihkan pembicaraan.


"Sama Andre Bu. Dia ngotot mau ikut. Albi gak bisa menolak, karena saat itu Albi sudah janji mau nurutin apa yang Andre mau jika ujian skripsi ku berjalan lancar." Jawab ku.


"Andre, teman mu sing guanteng itu?" tanya Ibu, beliau masih senang dengan tanamannya. Dedaunan yang tadinya kering, kini berubah segar. Aku bisa mencium semerbak harum dari tanah basah berpadu dengan bunga-bunga kecil yang mulai merekah.


"Ya masih ganteng, Albi tho, Buk. Andre mah, bukan apa-apa. Menang putih, tok." Jawab ku tidak mau kalah. Tidak terima rasanya, jika ibu lebih memuji Andre dari pada aku yang anaknya.


"Halah, gitu aja kok cemburu." Celetuk ibu.


"Hehehe. Ngomong-ngomong Andre itu suka sama Layla Lo buk." Ujar ku. Mungkin saja jika ibu tahu, kalau Andre mengincar putrinya. Ibu bisa melarang ku untuk pergi bersama Andre, dan aku bisa memiliki alasan untuk membatalkan permintaan Andre. Dengan dalih, ibu tidak merestui perasaannya Atau takut, jika nanti dia mengganggu Layla.

__ADS_1


"Masak, Bi? Alhamdulillah! Ya, gak papa kalau gitu Bi. Barang kali, Layla juga bisa suka sama Andre. Dia anaknya baik, sahabat kamu juga tho? Pasti dia juga gak jauh beda sama kamu." Ujar Ibu senang. Aku malah terperanjat mengetahui reaksi beliau di luar dugaan.


Angan untuk memisah, malah memapah. Haduh, barang kali kalau Andre mengetahui hal ini, pasti dia langsung melamar Layla. Restu orang tua sudah dia kantongi, dan Layla? Di lihat dari pertemuan pertama dengan Andre di juga cukup tertarik juga. Lalu, bagaimana dengan diriku? Hah. Kenapa tiba-tiba ada rasa sakit di dada ku? Apa aku takut, jika posisi ku terganti?


__ADS_2