
“Nduk?" Kali ini aku memalingkan muka ku , aku masih mencoba mengambil makanan di depan ku tapi mas Albi mencegahnya kembali. Aku diam, tidak ingin menatapnya.
“Aku capek...Pengen tidur!“ Hanya itu alasan yang keluar dari mulutku.
“Ya, wes,lah... Ayah sama ibu pulang. Kamu baik-baik di pondok.“ Kata Ayah
Aku tidak berani menatapnya. Sebenarnya aku masih rindu mereka. Aku tidak ingin mereka pulang secepat ini. Tapi aku tidak bisa jika harus mendengarkan mereka membicarakan soal Salwa lagi. Hatiku tak Sekokoh itu, lelah meski belum juga berjalan. Pasrah, meski belum di pastikan.
Dewi Aisyah saja cemburu saat Rasulullah menceritakan istrinya Khotijah. Siti Zulaikha juga tidak suka, mendengar para wanita membicarakan Yusuf, apalagi aku yang hanya wanita biasa.
Ibu mengemasi barang-barang. Sedang aku mulai membersihkan ruangan. Mas Albi, dia masih saja menatap ku, mencari tahu apa yang terjadi kepada diriku. Pertama kalinya aku mengeluarkan emosi seperti ini. Mungkin usia ku yang mulai menginjak dewasa, atau memang aku tidak bisa membendung perasaanku lagi, mungkin juga aku masih terlalu labil untuk menghadapi perasaan yang baru saja bersemi.
Saat ayah dan ibu keluar memasukkan barang-barang di mobil, Mas Albi menghampiri ku lagi.
“Ada masalah di pondok? Apa ada masalah sama teman? Cerita o nduk! Jangan di pendam sendiri... Mumpung Mas masih di sini...."
Aku di dudukkan di hadapannya, tangan ku di raihnya dan di elus-elus. Aku tahu dia sangat menyayangi ku, aku tahu dia tidak tahan melihat ku seperti ini, aku tahu dia ingin melindungi ku, aku juga tahu, dia tidak ingin aku terluka sedikitpun. Bahkan, aku tahu, jika ini menyakiti dirinya juga. Tapi, dia tidak tahu tentang diriku yang saat ini. Bahwa aku sedang menjadi Layla yang mencintai Qois. Tapi Qois ku, tidak menyadari hal itu.
“Nggak ada Mas... Aku capek, hehe"
“Bohong! Cerita o nduk! Kalau kamu gak berani cerita di depan Ayah sama ibu, kamu bisa cerita sama aku! Kamu gak biasanya kayak gini...Mas khawatir kalau ninggal kamu kayak gini!“
Aku menangkap ke khawatiran dan kegelisahan dalam nada bicaranya. Aku tidak meragukan itu, Mas Albi memang sedang mengkhawatirkan ku, tapi apa daya ku. Jika pokok permasalahan ku adalah dirinya.
“Nduk!” Serunya getir.
Aku ingin menangis. Tak kuasa melihatnya tersiksa seperti itu. Ku gigit bibir bawahku untuk menahan air mata ku, ku pejamkan mataku sejenak, menikmati setiap tikaman dalam hati ku. Ku lihat tangan mas Albi semakin keras menggenggam. Seakan memberikan kekuatan agar aku dapat melawan rasa sakit ku, tapi ini justru membuat ku sakit.
“Gak papa Mas... Mas pulang saja. Di tunggu Ayah sama ibu.“ Kata ku setelah sekuat tenaga ku tahan air mata dalam kelopak mataku. Aku menggelengkan kepalaku, agar air mata yang terlanjur keluar di pelipis mata, tak sampai jatuh dan tak kasat mata.
“Kenapa di simpan, sih, Nduk? Sejak kapan?"
__ADS_1
Tanyanya menatapku dengan tajam. Ada aura marah dan curiga di dalamnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa, apa yang sedang aku sembunyikan? Apa yang sedang dia maksudkan? Apa yang dia rasakan? Mulai samar aku merasai, hingga takut untuk menyadari.
Aku berdiri, melepas gengaman tanganya dan segera menepis nya saat dia mencoba menggenggamnya lagi. Sedikit berlari, aku langsung keluar dari ruangan sambangan. Menemui Bapak dan Ibu. Menampakkan wajah ceriaku lagi.
“Maaf, ya, Yah, Bu...Jane taseh kangen (Sebenarnya, masih kangen). Tapi nanti kalian kemalaman... Lagipula sebentar lagi aku pulang.“ Alasan ku.
Tidak hanya Mas Albi yang curiga akan perubahan sikap ku, pasti orang tuaku juga. Semoga dengan alasan ini bisa menenangkan mereka, dan tidak berpikir macam-macam lagi.
Ku dengar langkah kaki Mas Albi dari arah belakang. Sedikit ku lirik, dia sudah bersiap. Tas ranselnya sudah di pakainya. Aku memasang wajah ceria ku lagi, memastikan jika tidak terjadi apa-apa.
“Ya wes, Ayah sama Ibu pamit. Jadi diri baik-baik. Ngaji sing sregep(Ngaji yang benar)!“ Pesan ayah dengan menyodorkan tangannya. Aku segera menyambut dan menyalaminya, mencium telapak punggung tangannya, begitupun ibu. Mereka juga mencium kedua pipi ku dan juga kening ku.
“Mas pamit nduk...“ Kali ini Mas Albi, dia sudah terlihat biasa saja.
Aku perlihatkan senyum manjaku seperti biasa, menyodorkan tanganku. Dia menerimanya namun tiba-tiba menarik tubuhku, mendekap ku dalam pelukannya.
Aku terkejut, Bapak dan ibu pun sama terkejutnya. Sudah lama kami tidak berpelukan seperti ini. Aku diam, merasakan setiap detak jantungnya, tarikan nafasnya dan juga aroma tubuhnya. Ku pejamkan mataku, ku harap air mata tidak keluar. Dalam hatiku berkali-kali ku yakinkan, bahwa dirinya adalah kakak ku. Kakak ku. Dan akan seperti itu.
“Apaan, sih Mas!“ Kata ku dengan melepas pelukannya. Aku memasang wajah masam, dan ketidak sukaan.
Ibu dan ayah tidak protes dengan kejadian tadi. Malah mereka tertawa melihat kami. Yah, bukannya wajar kakak dan adik berpelukan. Setidaknya, itu yang terlihat sekarang.
Setelah itu mereka pergi. Dan aku kembali ke sambangan, mengambil beberapa barang dan jajan yang sengaja di tinggal untuk ku dan teman-teman ku di kamar.
Mata ku tiba-tiba terfokus pada sebuah buku notes, aku ambil dan mengingat kembali apakah tadi buku itu sudah ada apa belum? Pelan, mulai ku buka buku tersebut. Terkejut, ada foto ku mengunakan kerudung biru dengan background taman depan rumah. Dalam foto itu akan tersenyum manis. Bagaimana lagi, aku ingat betul siapa yang memotretnya saat itu, Mas Albi.
Kembali ku sibakan halaman pertama buku tersebut. Kosong. Tidak ada apapun. Aku tidak merasa memiliki buku ini, tapi ada foto ku di dalam buku tersebut. Aku kembali membolak-balik buku itu. Tak sengaja membuka lembaran tengah yang di batasi oleh pembatas buku. Baru tersadar, jika ada liontin lempeng di ujung pembatas tersebut. Aku penasaran dan membuka. Seketika aku meneteskan air mata, melihat isi liontin tersebut. Ada foto ku bersama Mas Albi saat kami masih kecil. Ku dekap buku tersebut. Hatiku terasa remuk seketika, kerinduan merajai seketika.
Nduk , nagiso
Tak rungok ne
__ADS_1
Nduk, nagiso
Tak tampanane
Nduk , nagiso
Sak kuate , tapi bar ngunu mesemo .
Bahagio ,
Mas sayang Karo nduk .
Ku baca tulisan dalam lipatan kertas itu. Dia Mas ku, yang selalu mengetahui suasana hatiku. Tapi dia Mas ku, yang tidak tahu akan perasaan ku.
Alloh...Aku tidak kuasa akan rasa ini
Alloh...Aku tak kuasa akan rindu yang Kau titipkan ini .
Alloh...Tubuhku lunglai menahan rasa sakit ini.
Alloh...Aku pasrahkan semua tentang rasaku.
Alloh...Kuatkan aku , seperti engkau kuatkan hati Layla saat merindukan majnun-nya.
Alloh...Kuasakah aku memendam semuanya sendirian?
Kau hadirkan dia dalam jalan hidupku, kau jadikan dia seperti udara yang menjadi nafas untuk ku.
Sedang aku untuknya? Hanyalah tanamam yang harus ia rawat. Tanpa, ingin merengkuhnya.
Ku hapus air mata ku. Segera aku kemasi semuanya dan kembali ke pondok. Aku begitu kacau, mungkin lebih baik aku tak kembali, bahkan tidak lagi bertemu. Aku begitu tak kuasa akan rasa yang merasuki hati ku. Aku membenci keadaan ini.
__ADS_1
Wahai Layla...Pinjaman kekuatan mu
Wahai Robi'ah adawiyah barokahi aku, agar rasa cinta ku hanya untuk Rabb Mu