
#Arya Dharma
*Kau boleh mencintai, tapi jangan sampai melukai DIA yang memberikan rasa Cinta. Sebab dia adalah satu-satunya cinta yang tak memiliki pembanding lainnya.*
Layla datang, dia masih memakai pakaian yang sama. Pasti dia menahan dingin saat ini sebab pakaian itu sudah basah sebagian.
Andai dia sudah halal untuk ku pasti aku akan segera meminta dia untuk mengganti pakaiannya. Menyiapkan segala sesuatunya lalu menghangatkan tubuhnya.
Baru saja kami akan memasuki mobil Fortuner putih milik Andre, tiba-tiba Ning Nada datang. Dengan mudah dia mengalihkan segala rencana. Aku yang senang akan satu mobil lagi dengan Layla, harus ikut titah sang putri pesantren. Tak apalah toh berkat dia Layla akan semalaman ada di depan mataku. Berkat dia pula, kami akan satu atap untuk sementara waktu.
Tidak bisa aku bayangkan apa yang kami akan lakukan. Meskipun dengan menahan kesal aku masuk ke dalam mobil Ning Nada. Di sana Salwa juga ada bersama kami.
Wajahnya menahan binar, dia sudah merah jambu saat melihat Mas Albi tadi. Lewat kaca spion aku bisa melihat jika dia sedang memandang jalanan luar. Tapi tetap saja senyuman di bibirnya tidak henti ia pancaran.
Mobil memasuki kawasan Dhalem timur. Rumah dengan desain Belanda kuno menjadi tujuan kita.
Konon, rumah ini di beli oleh Abah yai langsung dari orang Belanda. Mereka cukup terpandang dan kaya raya. Memiliki ribuan kuda yang sebagian kudanya mereka letakkan di belakang rumah ini. Bangunan kandang kuda pun masih kokoh sampai saat ini. Ada di halaman paling belakang.
Di belakang juga ada kolam ikan yang saat ini juga di manfaatkan untuk berternak ikan lele dan gurami. Beberapa qodam memang di minta untuk mengurus itu semua.
Halaman yang luas di tambah dengan bangunan lantai dua. Sudah seperti villa yang ada di pegunungan saja. Di bantu banyaknya pohonan yang rindang membuat pemandangan di Dhalem Timur cocok untuk menjadi tempat peristirahatan.
Sesampainya di sana, aku langsung ngancir ke belakang. Tamu di persilahkan duduk di ruang tamu.
Langkahku langsung ke dapur. Untuk apa coba? Memasak air hangat untuk Layla. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana nanti menyampaikannya. Yang terpenting saat ini dia lekas berganti pakaian.
"Gus, untuk apa air hangat itu?" tanya Sarip
Dia tahu jika jamuan sudah di siapkan oleh santri qodam lainya. Namun aku masih ke dapur menanak air.
"Buat kopi ya, Gus? Sudah ada yang buatin itu," kata Sarip lagi.
"Bukan, Rip mau buat air hangat buat Layla,"
Sarip sontak melonggo.
"Ada apa? Ada yang salah?"
Sarip menggaruk tengkuknya.
"Kan di sini sudah ada air hangatnya di setiap kamar, Gus. Gak perlu buat," jawab Sarip
"Walah, kok gak ngomong. Terakhir aku kesini masih biasa saja kamar mandinya,"
"Pas liburan puasa kemarin baru di pasang,"
__ADS_1
"Jadi udah ada air hangatnya semua dia setiap kamar mandi di kamar?" Aku meyakinkan
"Iya, kecil kamar kecil di belakang. Itu kan buat santri Qodam,"
"Haduh, nanti Layla tidur di kamar mana ya? Masak di sana?"
"Ning Salwa sedang ngajak Layla menuju kamar sekarang. Kayaknya gak mungkin kalau Layla di suruh tidur di belakang, mereka ke lantai dua kok,"
Aku bernafas lega. Saudari sepupu ku itu sepertinya juga sedang mencari hati Layla. Sebab mau tidak mau nanti mereka juga akan menjadi saudara ipar. Kalau memang Mas Albi beneran nikah sama Salwa. Tapi kalau pun gak, mereka tetap akan saudara iparan, sebab aku yang akan menikah Layla. Aku tertawa sendiri membayangkan waktu itu datang.
"Haduh, Gus... Ampun senyum-senyum piambak to(Jangan senyum-senyum sendiri) Perasaan saya gak enak. Semenjak jenengan kenal Layla, jenengan sering ngelamun sendiri, senyum-senyum sendiri. Bahkan lebih agresif, kan saya takut,"
"Kamu kira aku udah gak waras, gitu?"
"Tidak, masih waras. Tapi hampir setengah gak sadar diri,"
"Cinta emang gila, Rip. Kamu belum merasakannya, nanti kalau sudah pasti bakalan tahu gimana nikmatnya setiap kali kamu bisa melihat orang yang kamu cinta,"
"Melihat orang uang kamu cinta? Siapa, kang?" Tiba-tiba Ning Nada datang dari arah pintu dapur.
Aku dan Sarip kelimpungan sebab dia mendengar apa yang baru saja aku katakan.
"Siapa kang, orang yang sedang kamu cintai?" tanya Ning Nada dia penasaran. Namun wajahnya terlihat berseri, entah karena apa.
"Bukan siapa-siapa, aku hanya menjelaskan pada Badrun. Sebab dia tanya terus rasanya gimana kalau jatuh cinta," aku menjawab dengan alasan.
Aku melotot ke arah Sarip. Enak saja dia menganggap ku gila. Awas aja nanti kalau dia lebih gila saat jatuh cinta.
"Hahaha... Kamu bisa menjelaskan, Kang? Berarti kamu juga sedang jatuh cinta?''
Aku hanya mesem-mesem. Aku memang tidak bisa membohongi diriku jika saat ini ada nama Layla di hatiku.
"Langsung lamar aja, kang. Biar gak di tikung orang," tambah Ning Nada, dia malah yang terlihat malu-malu.
Waduh, rona merah di wajahnya itu bertanda apa, ya? Jangan sampai dia mengira jika yang sedang aku cintai adalah dirinya.
Akhir-akhir ini sikapnya memperihatinkan.
"Astaghfirullah, pun umup, (Sudah mendidih)Gus!" Seru Sarip
Dia cekatan mematikan kompor sebab air yang aku masak sudah mendidih sempurna.
"Mau buat apa, kan minuman sudah ada di ruang makan?" tanya Ning Nada
Dia melihat ke arah belakangku. Pada panci yang terisi air yang baru saja mendidih.
__ADS_1
"Tadinya mau buat mandi, tapi ternyata kata Sarip kamar mandi di sini sudah di pasang air hangat juga," jawabku
"Oalah... Alhamdulillah, sudah. Loh, belum mandi to? Kirain sudah, soalnya sudah ganteng plus wanggi,"
Aku cengengesan. Baru kali ini, seumur-umur menjadi saudara sepupu jauhnya aku mendengar Ning Nada memuji seperti itu.
Duh, Gusti... Jangan sampai dia jatuh cinta kepadaku. Sebab Engkau tahu, kan? Bahwa hatiku sudah di penuhi oleh Layla. Hanya Layla.
"Buat saya, Ning... Saya yang belum mandi," sahut Sarip
"Oalah, ya sudah."
Gara-gara air hangat itu tujuan Ning Nada terlupakan. Dia pergi ke dapur sebab di ruang makan sendoknya kurang.
Dia memang putri seorang kyai, tapi bukan berarti dia manja dan meminta semua di siapkan oleh Qodam Abahnya. Bukan berarti dia bisa leluasa memerintah, dan duduk manis saja. Ning Nada termasuk putri yang cukup mandiri, tapi tetap saja hal itu tidak bisa membuatku jatuh hati. Entah mengapa, hatiku malah terpaut pada santri Abahnya, sejak pertemuan kami yang pertama.
"Ayo, kang kita jama'ah dulu, setelah itu baru makan malam," ajak Ning Nada.
"Iya, Ning."
Dia berlalu pergi setelah mendapat apa yang ia cari, wadah dengan isian sendok dan garpu.
Aku dan Sarip juga langsung bersiap untuk jama'ah. Aku tidak tahu, siapa yang nantinya akan menjadi imam. Barang kali Mas Albi, sebab dia yang paling tua dia antar kami.
Di rumah tengah rumah ini ada kamar yang lumayan besar. Kamar itu saat ini di jadikan mushola di dalam rumah. Di renovasi sedemikian rupa hingga membentuk ruangan mushola.
Semua laki-laki sudah berkumpul di sana. Termasuk para Qodam penjaga, semua akan ikut jama'ah. Tinggal menunggu para perempuan yang entah sedang menyiapkan apa.
Jam menunjukkan angka enam lewat lima menit. Waktu akhir sholat magrib.
"Barangkali para perempuan jama'ah sendiri," kata Andre
Aku juga berpikir begitu. Meskipun di sini ada penyekat tapi tetap saja hal itu bisa saja terjadi.
"Aku tanya mereka dulu," kata Mas Albi
Dia akan beranjak dari duduk bersila ya. Tapi ia urungkan sebab dari luar dari segerombolan yang kita nanti sudah datang.
Perempuan-perempuan itu datang dari arah tangga, lengkap dengan mukena yang sudah mereka gunakan.
Duh, aku langsung terpesona dengan langkah ringan seseorang yang berada paling belakang. Layla, wajahnya bersinar bak bidadari surga. Balutan mukena warna pink menambah kecantikannya.
Ya Alloh! Aku akan menuju perintahMu, tapi tetap saja aku tergoda untuk melihat makhluk mu itu.
Aku membaca istighfar berkali-kali. Aku boleh tergila-gila oleh Layla, tapi aku tidak boleh lupa pada sang pencipta. Dialah satu-satunya cinta yang tidak akan ada duanya.
__ADS_1
Astaghfirullah...
***