
#Qois Albifardzan.
Akhirnya kami memiliki waktu untuk bersama. Yah, walaupun tatap ada Andre yang nginti kemanapun kami pergi.
"Layla pengen apa?" tanyaku
"Mau..." Dia mengedar mata. Bingung. Banyak pilihan di depan mata. Semuanya terlihat enak dan mengiurkan untuk di makan.
"Berhubung sudah sarapan cemilan aja," katanya
"Oke. Kita cari camilan,"
Kita melanjutkan langkah mencari stand yang menyediakan makan ringan.
"Eh ... Itu ada lumpia. Pengen deh... Kan rasanya pasti beda sama tempat kita," Sahut Andre pada salah satu stand yang menyediakan jajanan tradisional Jawa tengah.
"Wah... Ide bagus. Ayo kita coba!" Seru Layla setuju.
"Katanya makana ringan. Kok malah cari lumpia?" Protesku.
"Ringan juga, hanya sedikit berlemak." Balas Layla.
Ku hela nafas. Tidak lagi ingin menciptakan kegaduhan lagi. Aku menyetujui perkataannya saja.
Andre dan Layla sudah jalan lebih dulu. Aku sudah seperti orang tua yang sedang menjaga ke dua anak yang asyik mainan.
Sampai di depan stand kami sudah duduk di kursi yang telah di sediakan. Sampai seorang datang membawa pesanan kami.
"Silahkan...."
Aku melongo sebab tidak hanya lumpia yang di suguhkan. Tapi juga menu lainya.
"Apa ini?" Kataku pada sebuah makan seperti martabak. Namun sepertinya beda jenisnya. Ada banyak toping di dalamnya.
"Kue leker. Itu khas juga di sini, Mas." Jawab Layla.
"Manis, renyah!" Komentar Andre yang sudah lebih dulu mencicipinya.
Aku pun akhirnya ikut mencobanya. Memang benar rasanya lezat dan membuat lidah ingin terus mencobanya.
"Nih, cobain juga lumpianya," Layla menyodorkan satu potong lumpia ke arahku. Tanpa aku ambil aku langsung mengigit lumpia yang ia pegang. Menikmati langsung dari tangannya.
"Idih... Manja," sorak Andre tak terima.
"Mau juga dong, Layla di suapin?" Pinta Andre memelas.
"Gak boleh! Lo bukan siapa-siapanya!" Cegah ku.
"Nanti kalau Layla di takzir karena nyiapin mas Andre gimana? Mas Andre tega kalau Layla di hukum hanya karena nyiapin Layla."
__ADS_1
"Ck. Kalau gitu angkat juga dong aku jadi kakakmu. Biar leluasa kayak Albi."
"Gak! Gak butuh saudara kayak kamu!'' Bantahku
"Ye... Barang kali kan Layla butuh. Gak papa sekarang jadi kakak nanti barangkali bisa jadi suami. Hehehe,"
"Pikiranmu! Nyeleneh!" Aku langsung menjitak kepala Andre.
"Sudah-sudah... Makan ini dulu. Kok malah bertengkar," lerai Layla.
"Tuh denger Layla!" Imbuh ku.
"Loe juga," timpal Andre tak terima.
Layla melototi ke arah kami berdua. Akhirnya kami berhenti bertengkar dan menikmati lagi makanan di depan kami.
Selesai di stand pertama kami lanjutkan lagi di stand berikutnya. Kali ini gantian barang-barang.
Di stand ke dua kami di suguhkan dengan cindera mata. Seperti kaos berlogo pesantren, sarung khas Pekalongan, gamis khas ibu-ibu hingga perkataan dapur. Memang kebanyakan barang yang di butuhkan wanita. Wajar saja, barang kali target mereka adalah para ibu-ibu dan santri putri.
"Beliin buat ibu, Mas." Kata Layla. Dia memilih daster berbahan rayon.
"Pilihin, gih. Mas mana tahu yang bagus mana," balasku.
"Kamu juga boleh milih Layla." Kata Andre.
Dia malah ikut-ikutan memilih baju gamis tersebut. Seakan faham dengan fashion saja.
"Ya gak apa-apa. Pilih saja! Sebagai calon suami yang baik kan harus belajar membahagiakan calon istrinya, hehehe"
"Bisa gak halunya di rendahin dikit. Gak usah bayangin yang aneh-aneh!" Sahut ku.
Geregetan banget sama Andre sejak tadi cari kesempatan terus merayu Layla. Mana Layla kelihatan enjoy aja. Gak bantah apalagi marah. Seneng ya, di gituin sama buaya darat?
"Husst! Mas Albi diam saja. Biarkan calon adik ipar mu ini yang ganti menjaga Layla,"
Bukannya kapok Andre malah menjadi. Dia malah mengarahkan tangannya ke arahku untuk pergi.
"Gimana kalau ini, Mas. Warna hijau," kata Layla sambil menunjukkan gamis bercorak abstrak kepadaku.
"Bagus. Bungkus saja. Buat ibu kan?'' tanyaku
"Iya..."
"Sekalian tiga warna saja. Itu masih ada kan mbak yang sama motifnya,"
Lagi-lagi Andre menyela.
"Ada, Mas. Saya ambilkan dulu,"
__ADS_1
"Buat apa? Nanti ibu malah marah kalau mas Albi beli banyak-banyak. Satu saja, sama barang lainya,"protes Layla.
Dia tahu apa yang harus di lakukan. Memang ibu pasti akan ngomel sebab aku membelikan oleh-oleh yang bagi beliau tidak terlalu di perlukan.
"Ini, Mas..." Penjaga stand memberikan tiga warna lagi dengan motif yang sama.
"Warna merah, hitam dan tosca." Andre memilah-milah warna tersebut. Dia tidak menggubris penolakan dari Layla.
"Layla yakin, itu warna yang di pilih untuk ibu?'' tanya Andre
"Iya..."
"Ok baiklah. Mbak bungkus warna hijau, hitam dan merah ya..." Kata andre sambil mengambil tiga gamis tersebut lalu memberikan pada penjaga stand.
''Hai, kok banyak sekali?" Layla protes.
"Buat ibu warna hijau, buat bunda ku warna hitam dan yang merah untuk kamu," jawab Andre sambil menyeringai.
"Ogah ya gua bayarin," sahutku.
"Siapa juga yang mau Lo bayarin. Nih, laki-laki!" Balas Andre sambil menyodorkan uang pada penjaga toko saat dia sudah kembali membawa pesanan kami, tiga setel gamis.
"Terimakasih, Lo mas Andre jadi merepotkan." Kata Layla.
Hah! Salah banget ternyata membawa Andre ikut kemarin. Dia memang buaya darat. Tahu saja waktu yang tepat untuk merayu wanita. Mengerti juga apa yang di sukai wanita. Pantas saja jika banyak wanita yang klepek-klepek sama dia.
Perbuatan Andre tidak berhenti pada itu saja. Dia pun terus membuat Layla tertawa dan nyaman di sampingnya.
Yang terakhir adalah ketika Layla menantang dia untuk bermain panah. Tak ayal hal itu di terima langsung oleh Andre.
Bagaimana tidak Layla menjanjikan sesuatu yang mengiurkan Andre. Andai dia bisa tepat sasaran dengan tiga kali memanah, Layla akan menuruti satu permintaan Andre dan dia tidak akan menolaknya. Akan tetapi jika Andre yang kalah dia yang harus menuruti permintaan Layla.
Seperti ketiban durian runtuh hal itu memicu semangat Andre. Aku mulai resah. Meminta Layla mencabut tantangnya. Sebab Andre jago dalam hal memanah. Jangankan tiga puluhan kali pun aku pastikan Andre bisa lakukan. Sebab sejak dari kecil dia belajar memanah.
Jika Andre berhasil pasti dia meminta Layla untuk jadi kekasihnya. Sedang Layla pasti tidak akan menolaknya. Aku tahu Layla, dia tidak akan ingkar dalam ucapnya.
Atau mungkin ini cara Layla menerima ungkapan cinta Andre. Agar tidak terlalu kentara dan tidak bisa membuatku berkutik nantinya?
Haduh Layla, apa yang sedang kamu inginkan sebenarnya?
Dua kali Andre berhasil tepat sasaran. Tinggal satu lagi dan itu akan menuju kemenangan.
Harap-harap cemas aku beroda dan bersholawat semoga panah itu meleset walau hanya satu senti saja.
Busur di tarik pelan. Dengan penuh konsentrasi Andre membidik pada lingkaran tengah papan. Bersama dengan busur di lepas aku memejamkan mata. Harap cemas semoga doa ku terkabulkan.
"Yah! Gagal!"
Aku membuka mata melihat anak busur itu tidak tepat sasaran. Seperti doaku dia meleset hanya sesenti saja. Aku lega. Tersenyum bahagia.
__ADS_1
Akhirnya Andre tidak mendapatkan peluang dari permintaannya.
Layla pun ternyata ikut lega. Dia tidak kecewa. Berarti ada sesuatu yang dia inginkan dari Andre. Tapi apa?