(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 37


__ADS_3

Bis sudah sampai di Muktamar, Kediri. Karena jadwal keberangkatan yang aku majukan, banyak santri dan santriwati yang belum datang.


Seharusnya kami datang, para santri sudah bisa langsung masuk, dan melanjutkan perjalanannya. Tapi, karena bis datang lebih awal, pemberitahuan jam di majukan mendadak, mengharuskan kami untuk menunggu.


"Gus, tumben makanan dari mbok Sri banyak?" tanya Sarip saat aku mengajaknya makan terlebih dahulu, sambil menunggu santri berkumpul semua.


Aku mencari tempat, di pelataran depan masjid Al-Hasan. Di sana, kami menggelar alas plastik dan mulai menikmati makanan bersama-sama. Aku juga meminta Sarip untuk mengajak santri lainya, untuk ikut makan bersama kami. Akan lebih nikmat, jika kita makan bersama-sama.


"Jatah kita, cuma ini. Tetep seperti biasanya." Jawab ku.


"Lah, terus yang dua itu?" tanya Sarip penasaran. Dia tadi yang aku suruh untuk memasukkan paper bag berisi makanan dari Mbok Sri kedalam bis. Wajar saja jika dia mengira, kalau makanan itu juga untuk mereka.


"Itu buat seseorang. Nanti juga kamu bakal tahu sendiri,"


"Buat Najwa, ya Gus?" bisik Sarip, tepat di telinga ku.


Aku langsung kesedak makanan saat dia menyebutkan nama Najwa. Iya, Najwa adalah Layla itu sendiri. Para santri biasa memanggilnya Najwa.


"Sttt...Jangan keras-keras. Nanti kedengaran, orang lain." Kata ku mulai panik. Aku melihat sekeliling ku, memastikan jika obrolan kali barusan tidak ada yang mendengarnya.


"Jadi benar, Gus?" tanya Sarip malah berbinar, seakan tidak percaya.


Aku masih memintanya untuk diam, dengan mengisyaratkan jari telunjuk di bibir ku. Mata ku yang melotot tajam ke arahnya.


"Joss, Gus! Lanjutkan, tapi diam-diam Najwa banyak yang suka. Di Grub para santri putra dia yang paling di sukai." Ujar Sarip.


"Mosok, tho? Aku kok, gak tau ngerti."


"Jenengan Mboten ngertos, mboten masuk grub santri. Gawagis mboten pareng masuk, Gus. Khusus santri mawon. (Kamu tidak tahu, tidak masuk grub santri. Para gus-gus tidak boleh masuk. Khusus santri saja)"


"Halah, palingan isinya ya arek-arek dablek koyok awak mu (Anak-anak nakal seperti kamu)."


Sarip menjawab dengan nyengir sambil menganggukkan kepala. Aku menyudahi makanan ku, karena baru saja aku melihat mobil Mas Albi, baru saja masuk gerbang pondok Lirboyo. Aku langsung bergegas bangkit dari duduk ku, mencuci tangan di kran toilet dan mencuci muka ku.

__ADS_1


"Gus, jangan langsung di samperin!" Cegah Sarip yang langsung ikut bangkit tadi, dan mengekor di belakang ku.


"La Kenapa?" tanya ku heran. Dia menghalangi ku, jika banyak santri yang mengincarnya, berarti aku harus melangkah cepat.


"Santai, Gus. Nanti, kalau jenengan langsung sok akrab. Layla malah ilfeel. Kalau menghadapi cewek seperti Najwa, kita harus tarik ulur." Terang Sarip.


Sarip kemudian menjelaskan panjang lebar. Jika Layla tipe cewek yang tidak suka jika banyak orang yang memperhatikan. Dia juga gak suka di ganggu, cuek dan masa bodoh. Banyak teman Sarip yang menelan ludah karena tidak pernah di respon oleh Layla. Tidak hanya satu, tapi beberapa orang yang DM dan menghubungi nomer Layla, tapi tidak satupun yang dia balas. Padahal, dia online.


"Nyakitin, kan Gus. Kita ngirim chat, dengan perasaan. Eh, dianya online tapi lihat chat kita aja Nggak!" Ujar Sarip


Aku malah terbahak setelah mendengar hal itu. Ada perasaan legaa, karena bukan aku saja yang di cuekin Layla. Bahkan DM ku juga sampai sekarang tidak di balas. Tapi, entah bagaimana ceritanya. Saat aku menawarkan rombongan bis, dia langsung menyetujui.


Bagaimana, aku mendapatkan Nomer Layla? Ya, setelah bertemu dengan Layla aku langsung meminta Ning Nada meminta nomer Layla pada Masnya itu. Satu pesan saja dari Ning Nada, langsung di balas oleh Masnya. Alasan ku lagi-lagi soal rombongan, dan juga alasan barang Layla ada yang ketinggalan.


"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya ku pada Sarip. Saat ini sepertinya dia lebih berpengalaman dari pada aku.


"Ya biasa saja, kalau emang pengen di lihat Najwa dan keluarga. Gus, bisa sok ngurusin para rombongan. Wira-wiri, tanya, apa keperluan dan tanya siapa saja yang belum datang. Kayak panitia beneran,lah!" Ujar Sarip.


"Hehehe...Ya intinya, Gus cari perhatian, lah." Balas Sarip.


Aku akhirnya menyetujui usul Sarip. Mulai mendatangi para rombongan dan basa-basi dengan mereka. Hal itu memang biasa yang aku lakukan. Tapi, aku tidak bisa mengelak jika saat ini aku benar-benar ingin terlihat keren di mata banyak pasangan mata. Tujuan ku hanya satu, yaitu ingin mencuri perhatian Layla. Tapi, sepertinya dia tidak terpancing juga. Dari arah berlawanan, dia masih berdiri dengan Mas Albi, di hadapan mereka ada pasangan suami istri. Aku menduga, jika mereka adalah orang tua Layla dan Mas Albi.


Aku berlahan berjalan ke arah mereka, agar aku bisa terlihat oleh mereka. Dan benar, Mas Albi melihat ku. Di susul tatapan Layla dan kedua orang tuanya.


Deg.


Jantung ku tidak bisa di netral kan lagi saat tatapan ku dengan Layla beradu. Di tambah dengan tatapan keluarganya, yang saat itu seakan sedang menyambut ku.


"Dharma?!"


Mas Albi memanggil ku. Dia melambaikan tangannya, dengan segera aku membalas lambaian itu. Tidak apa, sekarang Masnya dulu, nanti suatu saat, juga Layla sendiri yang akan melakukannya.


Seperti kata Sarip. Aku harus menghadapi Layla dengan cara tarik ulur. Setelah lambaian ku selesai, aku kembali ngobrol dengan teman-teman di depan ku, sok asik dan sok penting.

__ADS_1


"Santai, Dharma. Jangan langsung kamu samperin mereka." Kata ku dalam hati, walau mata ku sudah tidak tahan untuk melihat Layla.


Dari ekor mata ku aku melihat, Mas Albi berjalan menghampiri ku. Semakin dekat dengan posisi ku, barulah aku berpura-pura baru saja memperhatikannya. Setelah itu, aku berjalan menghampiri dia.


"Sibuk, ya?" tanya Mas Albi. Dia mengulurkan tangannya, dan aku langsung menjabat tangannya.


"Biasalah, Mas. Ngobrol dengan teman-teman." Jawab ku.


"Oh. Kalau ada waktu aku kenalin sama Ayah sama Ibu. Kemarin, pas di Trenggalek aku di protes mereka karena gak mengajak mu menemui mereka." Ujar Mas Albi.


Pengen langsung mengiyakan. Tapi, kembali lagi aku ingat ucapan Sarip. Jika aku harus tarik ulur. Aku berpura-pura, melihat ke arah teman-teman yang tadi aku ajak mengobrol. Sok menimbang ajakan Mas Albi.


"Bentar, ya Mas." Kata ku, dengan langsung meninggal Mas Albi. Aku kembali kepada teman-teman ku. Ngobrol sedikit, dan meminta mereka untuk menunggu ku nanti. Padahal, mau di tinggal pun tidak masalah.


Baru setelah itu, aku kembali menghampiri Mas Albi.


"Sudah selesai urusannya?" tanya Mas Albi memastikan.


"Sudah, Mas." Jawab ku.


"Ayo! Mereka di sana." Ajak Mas Albi. Dia berjalan duluan dan aku mengikuti dirinya.


Pandangan ku, sebisa mungkin tidak memandang ke arah Layla. Tapi, kepada ke dua orang tuanya yang sekarang sedang menatap ku.


"Khususon untuk calon mertua, Alfatihah." Ucap ku dalam hati. Sebelum aku benar-benar di pertemukan dengan mereka, sebisanya aku merapal Al-fatihah dan sholawat yang aku khususka untuk mereka. Agar saat nanti, beliau berdua, bisa luluh kepada ku, menyukai ku. Setidaknya, tidak menganggap diri ku mengancam anak gadisnya itu.


"Yah, Buk. Ini, Lo Dharma. Teman Albi, dan Layla yang ngasih makanan pas di Trenggalek kemarin." Kata Mas Albi.


"Assalamualaikum, Ayah, Ibu." Salam ku, aku menelan ludah ku karena tidak sengaja langsung memanggil beliau berdua dengan sebuah Ayah dan Ibu.


"Waaikumsalam, Matur suwun nggeh, Le. Masakannya, langsung habis kemarin." Balas Ibu Layla. Dia terlihat berbinar saat bertemu dengan ku. Ayah Layla juga langsung tersenyum, saat aku sungkem pada beliau.


"Oh... Begini ya, rasanya ketemu orang tua, dari orang yang kita sukai. Deg deg serr..." Ungkap ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2