
Vampir bernama Rosalia itu terus mengejar kemanapun kami pergi. Itu bagus, karena aku tak perlu repot-repot mencarinya lagi. Lagipula dari awal aku tak berniat untuk kabur ataupun mengalah. Satu hal yg kuinginkan darinya, bertarung dan menang.
Rosalia memiliki kemampuan Blood Sacrified yg cukup merepotkan. Blood Sacrified Pierce, kemampuan yg dapat mengendalikan darah menjadi bentuk bola yg dapat melayang seperti peluru. Jika itu hanya peluru, kami bisa saja berlindung di bangunan. Tapi kali ini bukan hanya sekedar peluru. bola darah itu dapat dikendalikan sesuka hati. Ia bisa saja memanfaatkan bangunan untuk menyerang kami. Karena itulah, membawanya ke lapangan yg luas adalah ide yg bagus. Dan untungnya aku punya satu orang penyerang jarak jauh disini. Dengan begini, aku bisa bertarung dengannya tanpa masalah.
"Hallen,kau bisa menggunakan sihir api kan?" Tanyaku. Hallen menjawabnya sambil mengangguk.
"Sihir api saya bisa dibentuk sesuka hati. Mau itu panah, pedang, tombak, atau senjata lain. Tapi karena saya berperan sebagai penyerang jarak jauh, saya lebih sering menggunakan bentuk panah," jawabnya panjang lebar.
"Hmmm, sepertinya kemampuan pengendalian bentuk sihirmu lumayan juga."
"Sampai dipuji olehmu yg seorang ahli sihir, saya tersanjung."
"Berhentilah bersikap formal. Lagipula aku ini hanyalah seorang penyihir medis," sanggahku.
"Anda terlalu merendah Nyonya Stephanie."
Sudah berapa lama sejak aku terbiasa bersikap layaknya seorang wanita bangsawan. Bahkan sampai sekarang, mereka yg tak mengenal siapa sebenarnya diriku ini masih menganggapku orang yg spesial. Aku yg dulu pastinya akan merasa senang diperlakukan seperti itu. Tapi sekarang, aku sedikit membencinya.
"Yah berhenti mengatakan yg tak perlu. Sekarang aku akan menentukan posisi kita disini," ucapku. "Kau sekarang berada dibawah pimpinan ku, jadi kau harus menerima semua arahanku. Kau mengerti?"
"Tentu saja. Meskipun anda memerintah saya untuk maju kedepan, saya akan maju dengan senang hati," jawabnya.
"Tidak tidak, kau tak akan maju. Aku akan maju sendirian."
"Baiklah—eh?? Apa yg barusan anda katakan??"
"Kubilang aku akan maju sendirian. Tugasmu adalah menjaga titik butaku—
"T-tunggu dulu nyonya Stephanie! Anda yg seorang penyihir medis ini maju sendirian??"
Sepertinya, dia benar-benar menganggap kalau medis harus selalu dibelakang ya. Itu tak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar.
"Jangan meremehkan ku Hallen. Setidaknya, aku sedikit ahli dalam penggunaan senjata jarak dekat," jawabku. Dan lagi Hallen cukup tercengang.
"A-aku tak pernah dengar ada medis yg bisa menggunakan senjata jarak dekat ...."
"Yah, sekarang kau melihatnya tepat dihadapanmu," ucapku. "karena itu aku akan maju. Aku tak ingin mendengar penolakan."
"B-baiklah, saya mengerti."
Bagus. Dengan ini, aku akan sepenuhnya menguasai pertarungan. Tapi tak kusangka kalau dia cukup penurut. Kupikir dia akan melawan, setidaknya beberapa patah kata.
Saat ini, kami berhenti di sebuah tanah lapang di distrik 5. Ini bukanlah lapangan, tapi alun-alun di tengah komplek kediaman bangsawan. Dihadapan kami, seorang vampir wanita bernama Rosalia Ousford berdiri menatap kami. Sepertinya, ia sudah sadar kalau kami berniat memancing nya menjauh dari vampir yg satunya. Dan saat ini ia terlihat sedikit kesal.
"Kalian benar-benar menggunakan rencana rendahan seperti ini? Aku harap kalian tidak meremehkan ku, manusia," ucapnya.
"Hey hey, aku punya nama. Jadi jangan terus-terusan memanggilku manusia," balasku.
__ADS_1
Saat ini aku tengah berdiri tepat di hadapannya, sekitar 5 meter. Sedangkan Hallen pergi keatas sebuah bangunan bersiap untuk menyerang. Dia benar-benar mengikuti arahan dariku. Padahal tadinya kupikir dia itu tipe orang yg berwibawa dan enggan disuruh oleh siapapun kecuali oleh orang yg lebih kuat darinya.
Atau mungkin aku memang lebih hebat darinya? Tidak tidak, kenapa aku malah berpikir seperti itu. Pastinya itu karena perintah dari Vestine.
"Nah, karena cuma ada kita berdua disini bagaimana kalau kita sedikit bersenang-senang?"
"Apa itu tantangan darimu, manusia?"
"Sudah kubilang kan, aku punya nama ..." Aku memunculkan sebuah pedang jenis Rapier. Ini adalah salah satu senjata yg paling kukuasai. "Namaku Stephanie Grace. Tolong panggil aku dengan nama itu."
"Apa untungnya bagiku?"
Bola darah Rosalia mulai bermunculan. Jumlahnya ada sekitar 15 buah. Dengan Rapier, bisa dibilang percuma aku menahannya. Itu karena bentuk Rapier yg tipis dan pipih tak cocok untuk bertahan. Senjata yg dirancang untuk duel ini benar-benar hanya mengandalkan kecepatan gerak untuk memaksimalkan performanya.
"Senjata itu benar-benar tak cocok untuk melawan ku. Dengan ini kau bisa mati dengan cepat."
"Oh ya? Aku penasaran apa itu benar atau tidak."
"Kau benar-benar bagus dalam provokasi ya, manusia!"
"Namaku Stephanie!"
Sekejap, seluruh bola darah itu melesat kearahku. Kecepatannya benar-benar tak dapat kuikuti. Bahkan dengan pedang dan perisai, aku tak yakin mampu menahan semuanya.
Keringat dingin mulai bercucuran. Kalau begini bisa-bisa aku—
"Bercanda."
Tepat ketika semua bola itu hendak menghantam tubuhku, sebuah pelindung sihir muncul menyelimuti seluruh tubuhku. Semua bola darah itu ditangkis dengan sempurna. Tak ada satupun yg lolos ataupun mengenaiku. Yah, lagipula dari awal mereka tak akan mampu melukaiku.
Dan lihat, wajah Rosalia yg tadinya percaya diri mulai terlihat mengecewakan. Ternyata benar kalau aku ini bukan medis biasa. Ah, jiwa mudaku kembali muncul. Ayo sadarlah Stephanie, kau ini sudah jadi seorang istri berusia 30 tahun-an. Kau sudah bukan gadis muda seperti dulu lagi.
"Jadi, kau bilang aku akan mati dengan cepat tadi kan? Ayo mana bukti perkataan mu??"
"K-kau, kau benar-benar membuatku muak!"
"Ups, sepertinya aku sedikit kelewatan."
Rosalia terus memunculkan bola-bola darah nya. Jika dihitung-hitung, sepertinya ia sudah mengeluarkan sekitar 100 bola darah dalam waktu lima menit. Sepertinya ia benar-benar kehabisan ide.
Wajar saja, yg dia lawan itu aku.
Tapi jika seperti ini sama sekali tak seru kan?
"Hey ... Siapa namamu tadi?—ah, Rosalia ya. Apa kau bisa menggunakan senjata jarak dekat?" Tanyaku.
__ADS_1
"Kau meremehkan ku?! Aku ini adalah salah satu ahli pedang terbaik di kerajaan Archarke!"
"Wah kalau begitu baguslah," ucapku. "Trace."
Aku memunculkan sebuah pedang panjang dengan sihir penciptaan, Trace. Itu adalah pedang dengan kualitas yg sama seperti yg kugunakan saat ini hanya saja, bentuknya yg berbeda jauh.
Setelah muncul, aku melemparkan pedang itu ke hadapan Rosalia. Dan tentu saja, Rosalia menatapku sambil keheranan.
"Apa yg kau lakukan?"
"Ambil pedang itu dan berduel lah denganku," ucapku. "Kalau kau menang, kau boleh membunuhku. Tapi kalau kau kalah, sudah pasti aku akan membunuhmu."
"Kau benar-benar meremehkan ku ya ...."
"Eh? Tapi bukankah kau bilang kalau kau ini ahli pedang terbaik di Archarke? Apa mungkin yg kau katakan tadi semua hanya kebohongan saja??"
Mendengar itu, Rosalia mengeratkan giginya. Sepertinya, aku benar-benar berhasil memprovokasi nya.
"Baiklah ... Jangan menyesal dengan apa yg telah kau lakukan."
"Tak akan," ucapku.
Bola-bola darah kembali bermunculan bertepatan disaat Rosalia mengambil pedang yg kuberikan. Ia telah menerima tantangan ku, itu berarti dia juga menyetujui peraturan yg kubuat.
"Ah satu hal yg lupa kukatakan. Tidak boleh pakai sihir," ucapku.
"Kau pikir aku akan menurut begitu saja hah?!!"
"Disspell Area."
Sebuah area sihir terbentuk mengurung kani didalamnya. Ini adalah ruang sihir yg kubuat dengan Disspell. Didalam ruang ini, tak ada Manna sedikit pun. Yg itu berarti tak akan ada sihir didalamnya. Ini adalah ruang sihir anti sihir.
Seketika, bola-bola darah Rosalia hancur dan jatuh ketanah. Seperti yg kuduga, Blood Sacrified tak jauh berbeda dengan sihir. Dan karena vampir itu sendiri adalah makhluk sihir yg sangat mengandalkan Manna, situasi seperti ini akan sangat merugikan nya. Tanpa Manna, tubuh mereka akan melemah secara perlahan.
Aku sudah pernah menggunakan ini dulu ke vampir. Tak kusangka, aku akan kembali menggunakannya.
"Tak mungkin ... Sihir ini ... Jangan-jangan kau ...."
Wajah Rosalia terlihat cemas, seakan-akan takut pada sesuatu.
"Kau ... Salah satu manusia yg mengalahkan para vampir yg dikirim ke Bluelagoon 10 tahun yg lalu?!" Teriak Rosalia. " ... Anti Magic, Senie?!"
"Itu panggilan lamaku, jadi jangan dipakai lagi oke?" Jawabku.
Rosalia terlihat gemetar dan tak mampu melakukan apa-apa. Entah karena efek hilangnya Manna atau yg lain. Yg pasti, aku tak akan mengasihi nya.
"Nah, ayo kita mulai duel kita Rosalia Ousford."
__ADS_1