Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Last Boss


__ADS_3

Sesuatu yg diluar perkiraan terjadi. Entah kenapa, sihir Infinity Chamber milik Osamu tiba-tiba lenyap. Itu membuat kami kembali terbawa ke dunia nyata. Selain itu, aura gelap yg sangat dahsyat muncul seiringan dengan lenyapnya Infinity Chamber. Dan aura itu semuanya berasal dari tempat Kayn dan Rozalia berada.


Aku merasakan firasat buruk disini.


Setelah menyadari ada yg aneh, aku, Zero, Elie, dan juga Elsie segera bergegas ke tempat asal aura mengerikan ini. Tak perlu waktu lama, kami segera sampai disana. Dan apa yg kami lihat sungguh kacau. Bangun hancur di tiap sisi, dan sesuatu seperti monster yg aneh dan juga menjijikan berada tepat ditengah-tengah kekacauan. Sepertinya, dialah sumber aura gelap yg kurasakan tadi.


"Apa ... Itu?" Tanya Elie. Tentu saja, ia tercengang melihat pemandangan didepannya.


"Wah wah, apa-apaan itu? Menjijikkan sekali ...." Ucap Zero. "Bukannya disini seharusnya Rozalia dan Kayn bertarung?"


"Itu, tak salah lagi. Makhluk itu pasti Rozalia," ucap Elsie. "Sepertinya rencana pembasmian Rozalia tak berjalan lancar ...."


Mendengar itu, aku segera teringat tentang orang itu.


"Kayn?! Dimana Kayn?!"


"Tenang lah Zayn, jangan panik dulu. Orang itu tak mungkin terbunuh secepat ini ...." Ucap Zero, berusaha menenangkan ku. " ... Mungkin."


Itu sama sekali tak memberi jawaban yg kuinginkan.


Aku mendecih. Tak ada waktu, aku harus segera mencari Kayn sebelum terlambat. Meskipun menyebalkan, dia tetaplah kakak ku satu-satunya. Jika Kayn terbunuh, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa.


Sesaat setelah aku sedikit mendekat ke arah makhluk itu, aku merasakan hawa keberadaan dan Manna dari empat orang. Dua dari mereka adalah manusia, dan dua lainnya vampir. Tak ambil pusing, aku segera melompat menyusuri bangunan, menuju kearah empat orang itu.


Tentakel-tentakel yg sangat menjijikkan itu bergerak menyerang tiap yg bergerak didekatnya. Aku bahkan hampir saja terkena serangannya. Kalau saja Elie tak membantuku dengan sihir pelindung nya, mungkin aku akan terluka parah.


Dan sesaat kemudian, kami akhirnya menemukan harapan.


"Kayn! Apa kau baik-baik saja?!" Teriakku.


Sontak Kayn yg saat itu sedang terduduk dibalik bangunan menoleh kearahku.


"Zayn?" Tanya Kayn. Dan disaat ia melihat Zero, Elie, dan juga Elsie muncul, ia seakan mendapat jawaban. "Kalau kalian disini, itu berarti vampir yg lain sudah dikalahkan. Apa itu benar?"


"Ya, begitu lah," jawab Zero. "Omong-omong, sebenarnya apa yg terjadi disini?"


"Itu benar! Apa yg terjadi dengan Rozalia dan Zuan? Apa rencananya gagal??" Desakku.


"Ya, seperti yg kalian lihat. Informasi yg kita dapatkan belum cukup, dan tanpa kami sadari Rozalia sudah berubah menjadi seperti itu setelah Zuan menusuk jantung nya," jelas Kayn.


"Sepertinya mustahil untuk kita yg sekarang mengalahkan Rozalia dalam wujud ini."


Suara berat orang yg kukenal muncul dari balik bangunan lain didekat kami. Itu Osamu, dan juga ia terluka parah. Sepertinya hal inilah yg mengakibatkan lenyapnya Infinity Chamber.


"P-pak kepala sekolah Osamu?!" Teriak Elie kaget. Cepat-cepat ia bergerak untuk menyembuhkan lukanya. Sebagai satu-satunya media yg ada saat ini, sudah tugasnya untuk melakukan perawatan pertama.


"Tak perlu memanggil dengan sebutan yg panjang dan merepotkan itu Elizabeth ... Panggil saja aku pak Osamu atau Osamu-sensei ...."


"Jangan banyak bicara dulu, lukamu cukup parah," ucapku.


Dari tempat lain, Zuan dan salah satu bawahan nya, Nebula datang ketempat kami. Nampaknya, ia barusan berlindung di bangunan lain sembari mengamati keadaan.

__ADS_1


"Zuan, apa yg terjadi dengan Rozalia?" Tanya Elsie.


"Yah, ini diluar perkiraan kami. Siapa sangka kalau ternyata Rozalia memiliki Blood Sacrified Grand Orario," jawab Zuan. "Selama dalam wujud itu, serangan fisik dan sihir akan diserap olehnya. Dan seperti halnya Orario, kecepatan regenerasi nya sangat cepat."


"Ugh, ini jauh lebih merepotkan dari yg kukira," gumamku.


Saat ini, benar-benar tak ada yg bisa kami lakukan untuk menghadapinya. Kayn hampir kehabisan Manna, Osamu terluka, dan Zuan tak mampu menghadapi nya. Aku memang masih memiliki cukup banyak tenaga, tapi tak ada yg bisa kulakukan jika serangan fisik dan sihir tak mempan.


Wujud Rozalia yg sekarang terlihat seperti slime raksasa, yg berarti ia menyerap semua serangan yg ditujukan kearahnya sebagaimana slime yg menyerap apapun yg ia lalui. Konsepnya hampir seperti sihir Absorb. Karena itu, menyerang dengan gegabah tanpa pikir panjang hanya akan membuat Rozalia semakin kuat.


"Sepertinya kita memang harus mencari cara terbaik untuk mengalahkan nya ...." Gumamku.


Ini buruk. Sampai kapan kami harus menunggu seperti ini. Jika matahari terbit sekarang, kesempatan Rozalia dikalahkan akan semakin tinggi. Tapi ini masih pukul 8 malam, masih ada sekitar 10 jam lagi sampai matahari kembali terbit. Dan tak ada jaminan kalau kami bisa bertahan sampai selama itu. Kalau pun kami bisa bertahan, kota ini akan rata olehnya.


Disaat kami sedang terpuruk, tiba-tiba saja sesosok wanita yg tak lain adalah vampir muncul ke hadapan Rozalia yg sedang mengamuk. Wanita itu sepertinya bukan salah satu bawahan Zuan. Dan juga, meskipun auranya cukup besar, tapi keadaan tubuhnya cukup kacau.


"Siapa itu?" Tanyaku.


"Rosalia Ousford, salah satu kaki tangan Rozalia ...." Jawab Zuan.


"Ah, ini gawat. Jika ia menghampiri Rozalia dalam kondisi seperti ini, ia pasti akan dimangsa," ucap Nebula.


"Gawat? Bukankah itu bagus? Kita bisa kehilangan satu musuh lagi," ucap Elie polos. Sepertinya ia benar-benar tak tahu apa-apa mengenai kondisi saat ini.


"Tidak. Rosalia adalah vampir murni yg memegang peringkat ketiga diantara para pengikut Rozalia. Yg berarti, dia cukup kuat," jelas Elsie. "Jika orang sekuat itu dilahap oleh Rozalia, bisa kau bayangkan seberapa banyak kekuatan yg didapat olehnya?"


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Elie menemukan titik terang.


"Sudah kubilang itu memang gawat."


Meskipun mengatakan itu, kami tak bisa mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Rosalia. Kami hanya bisa melihat dari kejauhan, apa yg akan menimpa dirinya.


"Nyonya Rozalia!! Tenangkan diri anda!!" Teriak Rosalia.


Dasar bodoh, mana mungkin Rozalia akan mendengar kata-kata mu itu. Bahkan kalaupun ia masih dalam kewarasannya, ia pasti akan lebih mendengar kata hatinya sendiri.


"Hentikan ini nyonya! Jika anda melakukan lebih dari ini, anda bisa dalam masalah—


Dan tanpa kami sadari, tentakel yg muncul dari salah satu bagian tubuh monster menjijikkan itu melesat cepat bagaikan anak panah. Ia menusuk tepat di jantung Rosalia, dan menembus tubuhnya. Perlahan, darah Rosalia diserap habis olehnya, bahkan sampai semua auranya menghilang tanpa sisa.


"Nyo ... Nya ...."


Sosok cantik Rosalia kini menghilang, berganti menjadi seperti mayat kering yg kemudian terbakar menjadi abu.


Disaat yg sama, aura dari monster aneh itu meningkat. Seperti yg diperkirakan, Rozalia benar-benar menjadi semakin kuat setelah memangsa Rosalia yg merupakan vampir kelas atas. Tak hanya semakin kuat, ia bahkan juga semakin membesar.


"Kayn?! Apa kau baik-baik saja?!"


Suara seorang gadis terdengar memanggil Kayn dengan nada khawatir. Siapa lagi kalau bukan Liana. Selain itu, nona Stephanie, Hallen, dan pak Vestine juga muncul setelah nya. Sepertinya mereka juga telah menyelesaikan tugas mereka.


"Aura Rosalia menghilang ... Dimana dia?" Tanya nyonya Stephanie tiba-tiba. Ia juga menatap sosok monster raksasa itu. "Dan juga, makhluk apa itu?"

__ADS_1


"Itu wujud Grand Orario milik Rozalia. Barusan saja, ia telah melahap Rosalia dan jadi semakin besar ...." Jawab Osamu.


"Ah Osamu, ternyata disini kau. Jadi karena ini Infinity Chamber menghilang?" Tanya nyonya Stephanie.


Nyonya Stephanie mengatakan itu dengan sangat santai, seakan-akan Osamu tak terluka sedikitpun. Apa dia ini benar-benar seorang medis?


"Bagaimana dengan yg lain?" Tanya ku.


"Yah ... Sepertinya mereka juga sudah selesai," jawab Zero. "Tapi tetap saja mereka kelelahan. Aku ragu meski kita berkumpul, apa makhluk itu bisa dikalahkan."


"Ya, kau benar. Sepertinya keadaan cukup berat disini," ucap nyonya Stephanie juga.


Lagi-lagi tak ada harapan. Jika terus begini kota mungkin bisa terbunuh, atau tidak kota ini akan hancur lebur.


Saat ini kami benar-benar membutuhkan keajaiban.


Dan tak disangka, keajaiban itu benar-benar muncul.


"Hmmm ... Sepertinya kondisi disini cukup parah ya."


Suara seorang pria paruh baya yg sangat kukenal. Tak lama sosoknya muncul diatas kepala kami. Pria itu melayang diudara, bagaikan sedang mengendalikan udara disekitarnya. Jubah merahnya berkibar, dan rambut merahnya kacau akibat kencangnya angin yg menerpa.


"P-paman Oliver?!"


Aku dan Kayn yg menyadari kemunculan paman Oliver yg tiba-tiba itu kaget bukan main. Bagaimana ia bisa muncul disana tanpa kami sadari? Selain itu, aku baru tahu kalau ia bisa melayang diudara.


Tapi, apa yg paman Oliver lakukan disini? Bukankah ia sedang bertugas di kerajaan Voracity?


"Ah, akhirnya. Apa kau membaca suratku?" Tanya nyonya Stephanie.


"Kau meninggalkan nya di meja kerjaku, mana mungkin aku tak membacanya."


Surat? Apa mungkin yg dimaksud itu surat permohonan dari kerajaan Bluelagoon?


"Sepertinya, aku benar-benar perlu turun tangan disini ya."


Dengan ini, kuharap Rozalia bisa benar-benar dikalahkan.


tapi seketika aku teringat satu hal. paman Oliver bertugas bersama dengan Zatrox. kalau begitu pastinya ia juga ikut kesini bersamanya. tapi meskipun begitu, aku tak melihat nya diamanapun.


"paman! dimana Zatrox?" tanyaku.


"kenapa? apa kau merindukannya?"


"b-bukan, aku hanya heran. bukankah seharusnya dia juga datang bersamamu??"


paman Oliver terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan ku.


"ya, aku tahu kalau kalian sedang membagi kelompok untuk mengalahkan para vampir itu. karenanya aku menyuruh Zatrox pergi membantu yg lain selagi aku melawan boss terakhir ini ...."


begitu ya. kuharap saja dia tak saah mengira para bawahan Zuan sebagai musuh. kalau tidak mereka bisa terbunuh dan itu akan buruk nantinya.

__ADS_1


kalau begitu, saatnya fokus dengan apa yg akan terjadi kedepannya.


__ADS_2