
Tubuhku terhempas dengan sangat keras. Hentakan yg dihasilkannya itu sampai membuat tembok hancur karenanya. Sementara aku sedang sibuk mengincar Rozalia, sepertinya aku menjadi sedikit lengah dengan keadaan sekitar. Pokoknya, ini melenceng dari apa yg kami rencanakan.
Serangan yg mengenaiku barusan, aku penasaran dari mana asalnya. Itu bukan dari Rozalia, karena ia bahkan sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Dan jaraknya dariku masih sangat jauh. Aku juga yakin kalau dia belum menyadari keberadaan ku. Kalau begitu, itu artinya ada satu vampir bangsawan yg terpisah dari kelompok. Ini membuat keadaan ku semakin berat.
Aku tak boleh sampai lengah disini. Semua perjuangan mereka berada di tangan ku. Jika aku gagal, semua perjuangan ini akan sia-sia.
"Kupikir sudah waktunya kau menunjukkan dirimu ...." Ucapku, masih tetap bersiaga dan menoleh ke sekitar.
"Kita bertemu lagi, Kayn Endarker ...."
Dari balik gelapnya malam hari, sesosok pria bertubuh tegap muncul dari balik bayangan. Lebih tepatnya, ia menampakkan diri dari kamuflase nya yg begitu sempurna.
"Kau ... Chase Argonaut?"
Vampir yg ada dihadapanku saat ini adalah vampir yg saat itu gagal kubunuh. Pendamping setia Vience, Chase Argonaut. Apa yg dilakukan nya disini? Apa Rozalia memerintahkan nya? Apa jangan-jangan Rozalia sudah menyadari kalau aku mengincarnya?
"Senang kau masih mengingatku. Dengan begini urusan kita bisa selesai lebih cepat."
"Urusan?" Tanyaku.
"Aku masih mengingat nya dengan jelas. Saat itu, saat kau dengan kejinya membunuh Vience!" Sepertinya, emosi telah menguasai pikirannya. "Aku akan membunuhmu disini, aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku ini! Dengan begini dendam Vience bisa ku balaskan!"
Dendam? Ah begitu , sepertinya ia berniat untuk membalaskan dendam Vience yg saat itu terbunuh olehku. Tapi, dendam apanya? Aku sangat yakin Vience terbunuh tanpa dendam, karena itu keinginan nya untuk dapat melindungi Chase. Lalu apa yg membuatnya memiliki dendam?
"Hey, bukankah saat itu aku sudah meminta maaf padamu? Aku benar-benar tak berniat melakukan hal seperti itu padanya—
"Berisik! Kau pikir hanya dengan permintaan maaf saja, semua dosamu bisa diampuni?!"
"Dosa? Bukankah kau yg lebih dulu berniat membunuh kami?"
"Dosa tetap lah dosa! Tak ada alasan untuk mu dimaafkan!"
Yg benar saja, sekarang dia berbicara padaku tentang dosa? Dia pikir siapa yg memulai tragedi berdarah itu? Apa membunuh itu baginya dosa untukku, sedangkan tidak untuknya? Jangan bercanda.
"Sebaiknya kau pikirkan ini baik-baik. aku yakin Rozalia sama sekali tak memberimu perintah untuk mengincarku. Apa kau berniat berbuat sesuatu diluar perintah tuanmu?"
"Heh, jangan percaya diri dulu. Nyonya Rozalia memerintahkan kami untuk menghabisi kalian semua. aku kesini untuk membunuhmu. Apa yg aku lakukan sama sekali tak bertentangan dengan perintah nyonya Rozalia!" Balasnya. Yah, yg ia katakan ada benarnya.
"Aku peringatkan sekali lagi. Saat ini aku sedang sibuk dan tak ingin berurusan dengan vampir sepertimu. Aku sarankan agar kau segera menyerah dan pergi sebelum aku membuatmu bernasib sama seperti Vience."
Mendengar ancaman ku, Chase mengeratkan giginya. Sepertinya, kata-kata ku barusan malah membuatnya semakin terprovokasi. Sudah kuduga aku tak ahli dalam hal seperti ini.
"Jangan sombong kau bocah!" Teriak Chase. Seperti yg kuduga, dia malah jadi semakin merah. "Blood Sacrified : Invisibilty!"
Seperti sebelumnya, wujud fisik Chase menghilang bagaikan debu yg ditiup angin. Kemampuan menghilang ini benar-benar sempurna. Bahkan aku tak mendengar suara serangannya. Walaupun aku masih bisa merasakan niat dan hawa membunuhnya, ini tetap saja menyusahkan.
Serangan dari sisi yg berbeda-beda, ia benar-benar berniat menyudutkan ku. Apa mungkin dia juga berniat menguras tenagaku lalu membunuhku disaat aku lengah? Kalau memang begitu, ini cukup gawat. Aku tak boleh kehabisan tenaga sebelum berhasil membunuh Rozalia. Sepertinya pertarungan ini harus segera diselesaikan secepat mungkin.
"Kau membuatku kesulitan Chase. Padahal kau bisa saja hidup dengan tenang setelah pertempuran ini selesai ...." Ucapku. "Insomnia : Mljonir Sword."
Sebuah pedang panjang berwarna perak kebiruan dengan corak kuning muncul di tanganku. Ini adalah salah satu senjata kesukaan ku, karena ia memiliki kemampuan penghancur dan serangan sihir listrik yg kuat biasa. Hanya saja, kecepatan serangan nya terbilang lambat jika tak menggunakan sihir. Tapi jika aku menggunakan terlalu banyak sihir, aku bisa kehabisan Manna. Sepertinya hanya armor yg mampu menutupi kekurangan ini.
"Insomnia : Black Knight."
Seketika, aliran sihir muncul melapisi tubuhku. Aliran sihir itu memunculkan seperangkat armor lengkap di seluruh tubuhku, menutupinya dengan sempurna. Black Knight, sosok ksatria kegelapan yg bergerak tanpa diperintah oleh siapapun.
__ADS_1
Zirah yg ku munculkan kali ini termasuk salah satu yg paling jarang kugunakan. Itu karena pertahanannya lebih rendah dibandingkan armorku yg lain. Tapi dalam kecepatan gerak dan serangan, ia berada di tingkatan yg setara dengan Plaides Knight.
Ia adalah zirah hitam dengan lapisan Orihalcum, dengan campuran Obsidian murni. Dilapisi dengan aura dan sihir bayangan, kecepatan gerak dan serangan zirah ini meningkat drastis di daerah gelap. Karena itu, menggunakannya dimalam hari seperti saat ini adalah pilihan terbaik.
Kecepatan dari Black Knight, ditambah kekuatan serangan Mljonir Sword. Dengan ini, aku dapat menghabisi Chase secepat mungkin.
Aku berusaha untuk menangkis semua serangan yg ia lancarkan. Seperti yg kukatakan sebelumnya, keberadaan nya benar-benar lenyap bahkan sampai ke suaranya. Aku hanya dapat memprediksi serangannya dari hawa membunuh yg ia keluarkan. Tapi itu saja masih belum bisa untuk mengincarnya. Aku mungkin bisa menahannya, tapi aku tak bisa menyerangnya. Menggunakan sihir area di detik pertama pertarungan hanya akan membuang-buang Manna ku. Yg berarti, aku harus mengoptimalkan kekuatan dua atribut dari pedang dan armorku.
Dengan atribut bayangan dari Black Knight, aku mulai berlari mengelilingi tiap bangunan. Kecepatan element dark adalah yg tercepat di malam hari. Karena itu, kupikir aku dapat menemukan keberadaan nya jika aku mengamati tiap arah serangannya.
Dengan atribut cahaya dan listrik dari Mljonir Sword, aku berusaha untuk menganalisa sumber serangannya. Dilihat dari serangannya, nampaknya ia menggunakan senjata dengan jenis belati. Yg berarti, ia memiliki jangkauan serangan yg pendek. Ia harus mendekat untuk dapat menyerangku. Karena itu, aku menyelimuti sekitar tubuhku dengan sihir Listrik untuk mendeteksi tiap pergerakan yg terjadi di dekatku. Dengan sihir itu, semua benda bergerak yg menyentuh area sekitar ku akan terdeteksi dengan mudah.
Namun meskipun begitu, aku masih heran dengan cara bertarungnya. Semua serangan yg ia lancarkan muncul dari tempat yg berbeda. Jika ada jeda waktu, itu hal yg wajar mengingat kecepatan gerak vampir yg luar biasa cepat. Tapi serangan ini berasal dari tempat yg berlawanan, dalam satu waktu yg sama. Rasanya seperti melawan banyak orang sekaligus.
Ini tak bagus. Aku tak tahu teknik apa yg ia gunakan karena ia masih dalam wujud tak terlihat. Tapi jika terus bertahan seperti ini, aku bisa kehabisan tenaga. Ini bukan saat yg tepat untuk menahan diri.
"Insomnia : Shadowgraph!"
Berkat latihan dari kak Marry, kemampuan insomnia ku meningkat drastis. Jika dulu aku hanya mampu menciptakan benda melalui khayalan ku, sekarang aku bahkan dapat menciptakan sihir serta skill dari senjata atau armor yg kuciptakan.
Aku mulai berlari setelah mengaktifkan skill Shadowgraph. Dan tiap kali aku berlari, aku meninggalkan bayangan di jejak yg kulewati. Bayangan itu bergerak sepertiku, dan bahkan akan mengeluarkan sihir yg sama dengan apa yg kukeluarkan.
Setelah memenuhi tempat itu dengan setidaknya 10 bayangan diriku, aku berhenti dan mengangkat pedangku tinggi-tinggi.
"Insomnia : Thunder Spike!"
Pedang ditanganku dialiri aliran listrik yg sangat kuat. Dengan sekuat tenaga, aku menancapkan pedang dengan aliran listrik besar itu ketanah. Hentakan akibat menancapnya pedangku memunculkan lingkaran sihir di bawah tubuhku. Kesepuluh bayangan yg kubuat tadi juga melakukan hal yg sama, dan memunculkan lingkaran sihir di tiap-tiap dari mereka. Seketika, Sambaran petir muncul dari bawah kakiku, tepatnya dari lingkaran sihir yang muncul tadi. Sambaran sihir itu menyambar kelangit sampai dengan jarak 10 meter dari permukaan. Itu membuat tempat ini layaknya sihir area element petir yg begitu terang akibat sambaran petir-petir yg muncul dari bawah kaki kami. Tak lama setelah Sambaran petir itu, sosok Chase muncul didekat salah satu bayangan ku dalam keadaan hangus akibat tersambar petir. Sepertinya, aku berhasil mengenainya.
"Huuh ... Sudah selesai ya—
Sebuah pelindung sihir muncul dibelakang ku. Membuat sebuah serangan tak terduga di belakang ku terpental. Tentu saja aku sangat kaget. Apalagi ini? Bukankah Chase sudah kubunuh?
"Jangan lengah Kayn! Pertarungan ini masih belum selesai!" Suara pak Osamu terdengar dari belakang ku. Sesaat kemudian, ia tiba-tiba muncul sebagaimana Chase yg menghilang muncul. Apa beliau juga memiliki sihir yg membuatnya menghilang seperti itu?
"Pak Osamu? Kenapa bisa disini?!"
"Kesampingkan pertanyaan mu. Lawan yg kau hadapi itu masih belum mati."
"Tapi aku sudah membunuhnya tadi?!"
"Itu hanya Clone," jawab pak Osamu. "Aku telah mengamati pergerakan nya. Dia memiliki dua Blood Sacrified."
"D-dua?! T-tapi tunggu dulu, dari mana anda bisa tahu itu? Dia kan tak terlihat."
"Mataku jauh lebih tajam dari manusia biasa. Kemampuan penghilang seperti ini tak akan berpengaruh padaku," jawabnya.
Hebat sekali, mata macam apa yg sebenarnya ia miliki?
"Blood Sacrified miliknya adalah Invisibilty, dan satu lagi terlihat seperti pembelahan diri."
"Pembelahan diri?"
"Ia memperbanyak jumlahnya dengan membelah diri, seperti clone bayangan milikmu itu," jawabnya.
"Begitu ya ... Dengan kata lain itu adalah Clone ...." Gumamku, masih bersiaga. "Lalu, yg mana tubuh aslinya?"
"Semuanya asli."
__ADS_1
"A-ap—?!"
"Sudah kubilang, dia membelah diri bukan menciptakan Clone. Semua belahan tubuhnya adalah asli. Satu-satunya cara untuk mengalahkan adalah dengan membunuh semuanya sekaligus," ucap pak Osamu. "Tapi, ini cukup sulit dan kau harus melakukannya dengan sangat cepat."
"Kenapa?"
"Karena ia akan terus membelah tiap 5 menit."
Aku sedikit kaget mendengarnya. Kalau begitu kami tak boleh berlama-lama.
"Dimana dan ada berapa mereka sekarang? Biar aku yg mengatasinya."
"Saat ini ada 5 darinya, terbang sekitar 15 meter diatas kita," jawab pak Osamu. Mendengarnya aku sedikit tersenyum.
"Kalau begitu benar-benar kebetulan yg menyenangkan," ucapku. "Insomnia : Thunder Instrument!"
Lingkaran sihir besar muncul di bawah kakiku. Tak seperti Thunder Spike, Thunder Instrument adalah sihir area dengan jangkauan yg jauh lebih luas. Sihir ini memunculkan Sambaran petir layaknya instrumen musik kelangit dalam radius 50 meter. Ini memang beresiko karena dapat memberitahukan keberadaan ku ke Rozalia, tapi karena jaraknya sangat jauh ia tak akan curiga kalau aku datang mengincar nya.
Setelah aktifasi Thunder Instrument, sosok Chase yg hangus terbakar muncul berjatuhan. Ada total 5 Chase, itu berarti semuanya telah terbunuh. Dengan ini sepertinya aku bisa sedikit merasa lega—
"Havania Bullet!"
Tembakan bulu-bulu berwarna merah darah muncul dari arah barat. Serangan ini, Blood Sacrified milik salah satu vampir. Tapi serangan itu tak diarahkan padaku, tapi kebelakang ku.
Perlahan, satu lagi sosok Chase muncul dibelakang ku tepat setelah tubuhnya tertembak oleh puluhan bulu duri itu. Matanya terbelalak seakan tak percaya dengan apa yg ia saksikan.
"K-kau! Apa yg kau lakukan Vanessa!!"
"Insomnia : Thunder Spike!"
Satu lagi Sambaran petir muncul dan menghanguskan tubuh Chase. Sepertinya yg satu itu membelah sebelum Thunder Instrument. Kalau begitu, itu adalah yg terakhir.
"Sepertinya aku berhutang padamu, Vanessa," ucapku tersenyum.
Vanessa muncul dari atap bangunan, terbang dengan sayap merahnya kearahku. Melihat ku tersenyum, ia terlihat sedikit kaget.
"Tak kusangka kau bisa tersenyum seperti itu. Kupikir kau hanya anak yg dingin dan tak memiliki perasaan," ucapnya.
"Eh? Apa benar begitu? Apa kau tak salah membedakan ku dengan adikku?"
"Eh, benarkah?"
Mendengar itu Vanessa tertawa. Tak seperti sebelumnya, ia terlihat seperti gadis yg sangat baik, bahkan walaupun ia seorang vampir.
"Namamu Kayn Endarker kan? Kemampuan mu hebat sekali. Sepertinya aku sedikit menyukai mu."
"Maaf tapi aku sudah punya pacar."
"T-tunggu bukan itu yg kumaksud!! Tentang kekuatanmu! Aku kagum dengan kekuatanmu yg barusan! J-jangan membuatku merasa salah paham dengan ucapanku sendiri!!"
Mendengarnya aku sedikit tertawa. Tak kusangka akan datang saat manusia dan vampir tertawa hangat satu sama lain.
"Cukup sudah bicaranya, masih ada hal yg harus kau lakukan, Kayn," ucap pak Osamu. Aku mengangguk. Vanessa juga meng-iyakannya.
"Semoga beruntung, Kayn," ucap Vanessa. "Dan kumohon, segera kalahkan rozalia."
"Ya, serahkan saja padaku."
__ADS_1